
"Hei, tunggu! Aku ada perlu dengan—"
Brugh.......
Belum menyelesaikan ucapannya Luzi tiba-tiba tersungkur ke lantai karena ia menginjak tali sepatunya sendiri. Suara orang terjatuh membuat Gino lantas berbalik dan mendapati Luzi tengah tengkurap dilantai. Dengan segara ia menghampiri wanita malang itu untuk membantunya berdiri.
"Kau ini selalu saja celaka saat aku tinggalkan," ujar Gino hingga membuat Luzi menatap retina mata indah pria itu untuk mencerna maksud dari ucapannya.
"Mana ada begitu, yang ada aku selalu sial setelah bertemu denganmu!" Cetusnya setelah ia terduduk dilantai dan menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan debu yang menempel lalu mengikat kuat-kuat tali sepatu yang telah membuatnya tersungkur.
"Meskipun begitu, tapi akhirnya akulah yang membantumu!" Ujar Gino yang lima ratus persen benar, karena setiap masalah yang menimpanya pasti Gino selalu muncul diakhir untuk membantunya.
"Terimakasih," ucap Luzi setelah dibantu untuk berdiri.
"Mau ke UKS?"
"Tidak usah, aku tidak luka." Ucap Luzi tanpa tahu bahwa bibirnya mengeluarkan darah karena tadi terbentuk keramik lantai.
"Itu, bibirmu berdarah." Gino menunjuk bibir Luzi.
Ucapan Gino lantas membuat tangan Luzi memegangi bibirnya untuk mengecek kebenaran dari perkataan pria itu. Setelah melihat tangannya, ternyata benar bibirnya mengeluarkan darah.
"Eh..." Gino terkejut saat Luzi akan mengelap darah itu dengan ujung pakaiannya, "pakai ini!" Lanjut Gino seraya menyodorkan sapu tangan miliknya.
"Ohiya," ucap Luzi lalu mengambil sapu tangan miliknya sendiri, "terimakasih sudah mengingatkan." Ucap Luzi pada Gino yang tengah menarik kembali sapu tangannya itu untuk masuk kedalam sakunya.
Ia kini mengelap bibirnya yang masih mengeluarkan darah itu. "Masih ada?" Tanya Luzi seraya menunjukan bibirnya pada Gino.
Gino terkejut hingga terdiam sesaat sebelum akhirnya melihat bibir merah muda milik wanita kusut itu, "bagaimana? Masih ada tidak?" Sergah Luzi karena Gino begitu lama menjawab pertanyaannya.
"Hem? Ti-tidak." Gino menggeleng cepat.
Luzi menatap tajam ke arah mata indah Gino dengan wajah yang sedikit maju, "kenapa wajahmu gugup begitu?" Ucap Luzi.
"Aku? Tidak." Elak Gino
"Benarkah?"
"Sudah. Berhenti menatap wajahku!" Tegas Gino lalu pergi meninggalkan Luzi.
"Kenapa dia marah?" Luzi mematung memperhatikan punggung Gino yang menjauh darinya.
"Astaga, aku lupa." Luzi memegang kepalanya dan segara menyusul Gino.
"Hei, tunggu!" Teriak Luzi saat berlari mengejar Gino.
Pria bermata indah itu kembali berhenti setelah menengok kebelakang dan melihat Luzi tengah berlari ke arahnya.
"Kenapa mengikutiku?" Gino memasang wajah dinginnya yang berbeda dari sebelumnya.
"Astaga, dia benar-benar memiliki dua sifat." Tutur Luzi dalam hatinya.
"Aku.... Ada perlu denganmu." Ucap Luzi setelah beberapa saat mematung dihadapan Gino. Setelah berpikir keras saat didalam kelas tadi, akhirnya Luzi tahu orang yang tepat untuk ia tanyai dan langsung menghampiri orang itu ke kelasnya yang tak lain adalah Gino.
"Aku tidak bisa katakan disini,"
"Kenapa?" Tanya Gino semakin penasaran.
"Disini terlalu ramai." Ucap Luzi dan segera menarik tangan Gino untuk ikut bersamanya.
Meski memiliki tubuh yang lebih besar tak membuat Gino sulit untuk ditarik oleh Luzi karena sepertinya pria itu pasrah dan penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh wanita itu. Ia hanya diam membisu sambil menatap punggung yang tertutup oleh rambut hitam lebat yang sedikit kusut dan berantakan.
"Kita bicara disini saja." Luzi melepaskan tangan Gino yang ia genggam dari tadi, "Duduklah!" Luzi menepuk tempat duduk disebelahnya.
Gino mendaratkan tubuhnya didekat Luzi karena memang hanya itu kursi yang tersedia ditaman yang cukup besar samping kampus.
"Bagaimana kau tau tempat ini?" Tanya Gino yang baru tahu jika ada tempat seperti ini di area kampus.
"Saat aku berkeliling dan tersesat hingga menemukan tempat ini." Jelas Luzi.
"Oh, kau mau bicara apa padaku?"
"Pak Rendi itu orangnya seperti apa?" Tanya Luzi tanpa basa-basi.
Gino mengangkat sebelah alisnya, "kenapa kau bertanya tentangnya?" Ia mulai curiga pada Luzi karena pertanyaan yang terucap dari mulut Luzi tak pernah ia duga sebelumnya.
"Jawab saja, aku menyuruh mu menjawab bukan bertanya." Tegas Luzi yang tak sabar mendengar jawaban dari Gino.
"Aku tidak mau berbicara tentangnya!" Tegas Gino hingga membuat Luzi cukup panik karena takut jika Gino akan meninggalkannya tanpa sepatah katapun tentang pak Rendi.
Tanpa pikir panjang Luzi langsung berlutut didepan Gino sambil mengatupkan kedua tangannya, "Aku mohon, katakan padaku semua yang kau tahu tentangnya."
"Ah, sial. Harga diriku jatuh didepan pria ini." Gumam Luzi dalam hatinya. Tapi apa boleh buat, demi meyakinkan Gino bahwa dirinya sangat ingin tahu tentang dosen itu.
"Hei, jangan berlutut untuk orang itu!" Gino terkejut karena Luzi memohon padanya untuk diberitahu tentang dosen Rendi. "Duduklah, aku akan mengatakan yang aku tahu." Bujuknya pada Luzi dan segera wanita itu turuti.
Gino menghela napasnya sebelum akhirnya menjawab, "aku dan Bima sejujurnya tidak terlalu menyukai orang itu,"
"Kenapa? Bukannya dia dosen yang baik?" Luzi berkata asal karena ia tidak tahu bagaimana pendapat orang-orang tentang pak Rendi.
"Baik kau bilang?" Gino mendengus disertai sebelah bibir yang melengkung, "Siapa bilang? Dia bahkan beberapa kali terlibat sebuah hubungan dengan beberapa mahasiswa hingga beberapa dari mereka tidak pernah kembali ke rumahnya," Tutur Gino
"Hah? Tidak kembali? Maksudmu hilang?" Kedua mata Luzi terbuka lebar mendengar penuturan Gino padanya.
"Hem," Gino mengangguk, "Namun anehnya ia tidak pernah bisa masuk bui karena tidak ada bukti yang kuat untuk polisi menjebloskannya ke penjara, beberapa diantara mereka hanya bisa mengintrogasinya dan kasus itu tidak pernah tuntas hingga sekarang."
"Ah, pantas saja saat itu seorang mahasiswi tiba-tiba marah saat aku bertanya tentang kasus di kampus ini,"
"Itu karena dia salah satu perempuan yang mengagumi dosen itu, beberapa dari mereka bahkan tutup mata dan telinga soal kasus itu." Lanjut Gino.
"Begitu ya,"
"Itulah alasannya mengapa saat itu aku menyuruhmu menjauhinya!"
Jangan lupa like nya ya..