ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Tim yang kembali disatukan



Dering ponsel yang mengema didalam ruangan membuat Luzi yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk lantas menghampirinya.


"Halo..." ucapnya setelah benda pipih itu menempel di telinganya.


"Rapat kedua akan dimulai pukul 10.00!"


"Baiklah, aku akan tiba dalam tiga puluh menit." Ujar Luzi lalu menyimpan kembali ponsel itu.


Usai mengerikan rambutnya, Luzi lantas mengambil hairdryer untuk membantu rambutnya agar segera kering. Seperti biasa, ia selalu mengeringkan rambutnya sambil bercermin.


"Cih, Rambutku jadi jelek sekali. Apa aku potong saja?" Luzi bertanya pada dirinya sendiri.


Usai rambutnya rapi serta seragam kebanggaannya telah melekat, Luzi bergegas keluar melalui pintu belakang karena takut ada orang yang akan memergokinya dengan seragamnya itu.


Menggunakan sepeda motor yang biasa ia gunakan untuk ke kantor, Sebelum berangkat ia mencoba menghangatkan mesin motor itu karena takut ada kerusakan akibat ia tidak menggunakannya setelah sekian lama.


Untungnya mesin itu baik-baik saja dan segera Luzi menaikinya lalu berangkat usai ia mengenakan helm.


Di kantor beberapa polisi terlihat keluar masuk gedung itu seperti hari-hari biasanya. Setibanya di area kantor, Luzi memarkirkan motornya lalu berjalan menuju gedung itu dengan sebuah baret yang ia bawa ditangannya.


Senyuman ia limpahkan kepada orang-orang yang berpapasan dengannya.


"Pagi, pak sipir." Sapa Luzi pada seorang polisi yang baru saja masuk ke kantor pusat.


Sipir itu tersenyum malu-malu. "Beberapa orang sudah berada didalam." Ucapnya seraya mempersilahkan wanita yang cukup dikenal di kantor itu masuk kedalam.


Luzi membungkuk lalu melangkah mendekatkan tubuhnya ke pintu. Sebelum masuk ia terlebih dulu mengenakan baret yang semula ia bawa ditangannya dengan begitu hati-hati.


Sebelum mendorong pintu, Luzi menghirup napas panjang untuk menetralkan rasa gugup pada dirinya.


"Lapor! Luzi Riana divisi 1 perlindungan perempuan dan anak, Siap." Ucapnya lantang disertai tangannya yang membentuk segitiga sampai menyentuh alisnya.


Orang-orang yang tengah duduk lantas berdiri lalu membalas hormat dari seorang polwan berkode nama Zero itu.


"Selamat datang, Zero." Sapa semua orang setelah hormat mereka akhiri.


Luzi tersenyum lalu menyambut sambutan hangat dari rekan-rekan satu timnya itu. Terdapat lima orang yang sudah berada disana yang terdiri dari satu perempuan dan empat laki-laki.


"Aku merindukanmu, nine." Sapa Luzi seraya memeluk satu-satunya perempuan diruangan itu selain dirinya.


"Aku juga." Balas nine yang juga merangkul teman satu timnya.


"Sepertinya rekan kita ini sudah lupa pada kawan yang lainnya." Sindir Six halus.


Luzi berhenti memeluk nine dan segera beralih pada tiga pria yang merupakan rekan satu timnya itu. Ia menjabat tangan mereka bergantian sambil tertawa.


"Bagiamana promosimu?" Tanya three. "Aku dengar kau harus menyelesaikan satu syarat dulu sebelum itu terjadi." Lanjutnya.


"Kau benar. Dan itu lumayan sulit," keluh Luzi.


"Eh, Zero Kau mengeluh?" kata Six.


"Bukan mengeluh, aku hanya bercerita pada kalian." Ucap Luzi.


"Memangnya sesulit apa itu?" Tanya three.


Luzi menghela napasnya. "Aku bingung harus memulai darimana."


"Semangatlah serumit apapun misi itu!" Ucap six memberikan semangat.


"Terimakasih," jawab Luzi. "Apapun itu aku harus mendapatkan promosiku!" Luzi ikut menyemangati dirinya sendiri dalam hatinya.


"Sepertinya rapat akan segera dimulai." Ujar Nine kemudian mendekati kursi yang memang sengaja disediakan.


Zero, three, dan six lantas mengikuti apa yang dilakukan oleh nine yaitu duduk menunggu kedatangan atasan mereka.


"Hai, Five." sapa Luzi pada seorang pria yang sedari tadi hanya duduk di kursi.


"Hai." Jawab Five singkat.


Tak lama, tiga orang pria masuk kedalam ruangan itu dan disambut sebuah hormat dari orang-orang yang awalnya terduduk. Tiga orang itu tak lain adalah komandan Jo, Areksa, dan seorang divisi keamanan masyarakat.


Komandan Jo menatap setiap wajah yang tak asing lagi baginya. Sebuah tim gabungan dari semua divisi dengan keistimewaan yang masing-masing mereka miliki hingga terbentuklah tim aplomb. Setelah puas menatap mereka ia lalu mendaratkan tubuhnya dan menyuruh Areksa untuk mulai menjelaskan semua gambar yang muncul dari proyektor.


"Untuk lebih jelasnya, kalian bisa melihat buku laporan jilid pertama. Disana sudah tertulis bahwa misi kali ini adalah untuk menguak kebenaran dibalik hilangnya perempuan di sebuah universitas ternama di kota ini." Jelas Areksa.


"Ini sudah sangat rinci." Gumam Three cukup keras.


"Three? Kenapa?" Tanya Areksa.


"Siap. Tidak!" Jawabnya tegas.


"Kebiasaan three, kalo komen pake suara." Batin Nine dalam hatinya.


"Lapor! Darimana semua ini? Bukannya kita baru memulai?" Tanya Six dengan suara lantang.


Seraya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Areksa, mereka membuka lembaran demi lembaran hingga menemukan sesuatu yang menggelitik perut mereka.


"Tunggu dulu, apa ini?" Batin Five. Dia adalah orang pertama yang menemukan sebuah denah yang digambar tangan.


Karena mereka duduk saling bersampingan akhinya apa yang five lihat juga terlihat oleh Three dan juga six.


"Aku tahu siapa yang menggambar ini." Batin Six. Ia kemudian melirik Luzi yang tengah membaca buku yang tengah dijelaskan oleh Areksa.


Ternyata, semua orang memang langsung melirik Luzi setelah melihat gambar itu. Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu melainkan karena memang Luzi tidak bisa menggambar dan paling buruk diantara mereka jika disuruh gambar-menggambar.


"Kali ini, kalian akan kembali bersama sebagai tim untuk melanjutkan misi ini." Kata komandan Jo hingga semua orang yang semula memperhatikan Areksa beralih ke arahnya.


"Melanjutkan? Memangnya siapa yang memegang misi ini sebelumnya?" Tanya Three penasaran.


Tak menjawab, Komandan Jo lantas mengarahkan pandangannya pada seorang wanita yang duduk di dekat Areksa berdiri.


"Zero?" Ucap semua orang terkejut. Pasalnya ia belum pernah memegang misi seorang diri karena sebelumnya ia selalu menjalankan misi berdua.


"Kalian meragukanku?" Ucap Luzi, kemudian memandang semua orang disana.


"Tidak." Ucap Nine menggeleng.


"Tentu saja aku ragu, kau itu ceroboh. Karena kecerobohamu itu kau dipasangkan dengan one!" Seru Five mengebu.


"Five..." Ujar Three yang duduk disamping five. Ia mencoba menghentikan ucapan selanjutnya Five yang akan membuat Luzi kembali bersedih.


"Memang benar kan?" Kekeh Five.


"Tidak. Ia adalah Zero, polisi wanita terbaik di akademi kepolisian yang sangat—"


"Ceroboh." Potong Luzi. "Aku tahu kekuranganku, dan —"


"Bukan, kau siswi terbaik di akademi." Ucap Nine memotong perkataan Zero.


"Percuma menjadi siswi terbaik jika dia ceroboh!" Cela Five.


"Hentikan! Aku menyuruh kalian kesini untuk menjadikan kalian tim. Bukan saling mencela!" Tegas Komandan Jo hingga membuat ruangan itu kembali hening.


"Lanjutkan!" Perintah Jo kepada Areksa.


Areksa pun menjelaskan semua informasi mengenai universitas itu seperti yang sudah Luzi laporkan.


"Rapat hari ini selesai. Terimakasih atas waktunya." Pamit Komandan Jo diikuti hormat oleh semua orang diruangan itu.


Setelah kepergian komandan Jo, suasana ruangan itu tampak hening. Semua orang yang awalnya gembira karena dapat kembali bertemu, tiba-tiba saja berubah.


"Aku tidak akan ikut misi ini." Five lantas berdiri lalu meninggalkan ruangan itu.


"Five tunggu!" Three ikut berdiri. "Aku akan mengurusnya." Ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.


"Aku harus pergi." Pamit Luzi dan segera meninggalkan ruangan itu untuk pulang ke rumah hingga menyisakan dua orang yaitu nine dan juga six


Namun saat ia hendak keluar kantor, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seorang pria dari ruangan tempat warga sipil melaporkan suatu kejadian. Penasaran Luzi pun lantas mendekat untuk mendengarkan pembicaraan yang membuatnya cukup tertarik.


Agar tidak ada yang menyadari bahwa ia sedang menguping, Luzi pura-pura memainkan ponselnya seraya bersandar pada dinding.


"Tenang pak, tenang!" Ucap seorang polisi divisi layanan masyarakat.


"Bagaimana aku bisa tenang. Putriku tidak pulang kerumah selama tiga hari dan kau malah menyuruhku melakukan banyak hal. Tidak bisakah kau membantu rakyat jelata seperti ku ini?" Tutur seorang pria yang saat Luzi lihat wajahnya begitu tidak asing baginya.


"Aku sepertinya pernah melihat orang itu," gumam Luzi saat ia mengintip.


Ia mencoba mengingat-ingat wajah orang-orang yang pernah ia temui sebelumnya. "Nah, bukankah dia pria yang kemarin datang ke kampus?"


Luzi kembali memastikan bahwa pengelihatannya berpungsi dengan baik. Dan ternyata benar, pria itu adalah orang yang ia temua kemarin bersama sang istri. Namun hari ini sepertinya pria itu hanya datang sendiri, hal itu telihat dari kursi duduk disebelahnya yang kosong.


"Baiklah, Pak. Siapa nama anak anda dan katakan dimana kau terakhir kali melihatnya." Ujar polisi.


"Lila. Nama anakku Lila, dia kuliah di universitas GAZ." Ujar pria tua itu.


"Universitas GAZ? Bukannya ini universitas yang sama dengan universitas yang tahun lalu dilaporkan?" Batin Polisi itu.


"Universitas GAZ? Jadi dia datang kemarin untuk mencari anaknya? lalu mengapa malah menemui Dosen Rendi bukan teman-temannya?" Batin luzi heran.


"Lalu, kapan kau terakhir menemuinya?"


"Tiga hari lalu, tepatnya siang menuju sore karena waktu itu dia datang meminta izin untuk bekerja. Kemudian paginya saat akan berangkat. Setelah itu ia tidak kembali." Papar seorang ayah yang kehilangan anaknya itu.


"Baiklah, kami akan menyelidiki hilangnya anakmu dan untuk tindakan selanjutnya kami akan menghubungimu." Tutur polisi yang tengah membuat laporan itu.


"Terimakasih, Aku berharap kalian dapat segera menemukan putriku." ucap pria itu lalu pergi.