
Setelah kekacauan yang terjadi di kantor polisi, kini semuanya telah mengikhlaskan akan hilangnya kartu as mereka. Begitupun dengan Luzi, setelah usaha mati-matian yang ia lakukan untuk mencuri rekaman itu bahkan Sampai harus melakukan adegan ciuman bersama Gino terpaksa ia ikhlaskan.
Setelah beberapa hari ia melakukan banyak hal, baik di kampus maupun di kantor polisi. Kini saatnya Luzi menikmati istirahatnya dengan menghadiri sebuah acara.
Private party. Acara yang digelar di sebuah gedung mewah yang diselenggarakan oleh ketua organisasi kampus yang entah akan ada berapa banyak tamu yang diundang. Setelah memilih-milih pakaian yang cocok dan nyaman untuk ia gunakan malam itu, Luzi mengambil ponselnya lalu menekan nomor sebelum akhinya memasangkan benda itu ke daun telinganya.
"Kau sudah siap?" Tanya Luzi.
"Tentu saja, ready." Jawabnya.
"Aku akan berangkat sekarang." Ucap Luzi lalu mematikan panggilan itu.
Dengan setelan dress selutut berwarna hitam bercorak putih-putih motif melati, Luzi keluar dari rumahnya menuju private party menggunakan mobil Sona. Ya, setelah mendengar bahwa Luzi akan menghadiri sebuah pesta, sontak kedua temannya itu mengajukan diri untuk membantu Luzi bersiap.
"Kau sangat anggun menggunakan dress itu," puji Aara yang bangga akan dress pilihannya yang digunakan oleh Luzi kini.
Luzi tersenyum, "itu karena dress ini cantik." Katanya tersipu.
"Sudahlah, saatnya kita antarkan tuan putri kita ini ke pesta." Saran Sona.
"Baiklah, ayo." Seru Aara dan menarik tangan Luzi untuk segera keluar dari rumah dan menuju mobil.
"Kalian tidak usah berlebihan begini terhadapku, " ucap Luzi merasa tindakan kedua temannya itu terlalu berlebihan berlaku padanya.
"Kau diam dan ikuti saja apa yang kami katakan!" Ucap Sona yang sudah duduk dibelakang kemudi.
"Baiklah," pasrah Luzi. "Tapi cukup antarkan aku sampai depan. Jangan sampai masuk!" Titah Luzi dan disetujui oleh kedua temannya itu.
Disebuah ruangan dengan dekorasi yang mewah, beberapa orang yang baru mulai masuk tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Ini sungguh mewah," ucap salah seorang wanita.
"Kau benar," timbal wanita yang lainya. "Aku tidak pernah berpikir bahwa Eren adalah orang kaya."
"Kau benar. Dia memang tampan, tapi tidak terlihat dari penampilannya bahwa dia adalah orang kaya."
Perkataan-perkataan yang dilontarkan untuk Eren tak berhenti dilakukan oleh para mahasiswi hingga beberapa pria yang melewati kerumunan mereka sedikit terganggu.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa party yang Eren adakan akan semewah ini." Bima berkata pada Gino yang sepertinya tidak mendengar apa yang diucapkan olehnya. Karena mata hitamnya tengah berkeliling mencari sesuatu.
"Gin!" Bima menaikkan nada suaranya, "Kau dengar aku tidak?" Tanya Bima setelah Gino melirik kearah nya.
"Apa?" Tanya Gino.
Bima menghembuskan napasnya kasar. "Lupakan! Lebih baik aku berkeliling sendirian." Kesal Bima. Ia memilih berjalan meninggalkan pria itu karena meskipun bersama, rasanya akan percuma karena pikiran Gino tidak searah dengan raganya yang berada disamping Bima.
Tak peduli temannya pergi meninggalkan dirinya, dengan setianya Gino berdiri didekat sebuah karangan bunga sambil terus mencari seseorang yang sedang ia tunggu-tunggu kedatangannya.
Perasaan bosan kini mulai melanda karena dirinya benar-benar kesepian ditengah keramaian yang melanda ruangan itu. "Apa dia bertugas?" Tebak Gino sambil mengecek jam yang melekat ditangannya.
Tiba-tiba suara seorang pria mengalihkan semua pandangan orang-orang yang ada disana pada sebuah podium kecil, begitupun dengan Gino.
"Selamat malam, hadirin semuanya..." Sapa sang pria dengan tuksedo berwarna hitam yang merupakan seorang pembawa acara malam itu. "Malam ini pastinya semua sudah tahu alasan berkumpulnya kita diruangan ini adalah untuk merayakan ulang tahun Eren Wiguna," Tutur sang mc, "saudara Eren dipersilahkan menaiki podium." Lanjut sang MC mengajak Eren untuk naik ke podium.
Penampilan yang rapi dan senyuman yang menawan ditampilkan Eren sambil berjalan kearah podium dengan Lampu yang mengiringi langkahnya.
"Semuanya, saya Eren Wiguna. Terimakasih telah menghadiri undangan saya." Eren menundukan sedikit kepalanya sebagai rasa terimakasih karena orang-orang yang ia undang berkenan hadir. "Saya adalah kedua organisasi kampus di universitas GAZ, dan juga seorang pebisnis. Tujuan saya mengadakan acara ini seperti yang dikatakan olehnya, yaitu untuk merayakan ulang tahun saya bersama kakak saya yang sepertinya masih dalam perjalanan menuju ke sini." Tutur Eren karena ia memang belum menemui kakaknya sejak memasuki ruangan itu.
"Juga untuk mempererat hubungan bersama rekan kerja saya. Sekian pembukaan dari saya sebagai orang yang mengadakan pesta ini," ucap Eren lalu kembali turun dari podium.
Prang...
"Kau tidak apa-apa nyonya?" Tanya pelayan itu pada seorang wanita yang berdiri disebelahnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab wanita berdress warna cream itu.
"Kau kenapa?" Tanya Gino yang tiba-tiba ikut kedalam kerumunan pelayan dan tamu undangan.
"Saya tidak sengaja menabraknya karena lampu tadi sempat Gelap," jelas sang pelayan. "Saya mohon maafkan saya atas kecerobohan tadi." Lanjutnya disertai tubuh yang setengah membungkuk.
"Kau tidak usah membungkuk..."
"Ada apa ini?" Potong Seorang pria yang tak lain adalah sang pemilik acara, Eren.
"Tidak ada," jawab Gino ketud. "hanya masalah kecil." Lanjutnya lalu menarik tangan Luzi supaya ikut bersamanya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan tangan yang ditarik layaknya sebuah benda, Luzi mengikuti kemana pun Gino membawanya dengan mulut yang tak henti bergerak. Jelas saja dia mengumpat pada pria itu karena malah membawanya ke sebuah lorong yang hanya dilalui sebagai menuju ruangan lain.
"Kenapa kau membawaku kemari?" Kesal Luzi.
"Aku hanya tidak mau kau menjadi pusat perhatian semua orang lagi." Jawab Gino.
Lagi? Luzi terdiam saat mendengar ucapan Gino. Apa maksudnya dengan kata lagi? Apakah dia pernah melihat kejadian saat dirinya dibentak pada acara kampus? Atau maksudnya adalah kejadian saat bersama Abel?
"Aku hanya ingin mengeluarkanmu dari sorot mata mereka." Ucap Gino lagi setelah beberapa saat kedua orang itu terdiam.
Luzi kemudian menatap mata indah milik pria itu cukup lama hingga keduanya saling bertatapan. "Aku harus kembali." Ucap Luzi dan lantas pergi meninggalkan Gino.
"Jam berapa kakaknya akan tiba?" Tanya Luzi yang pada orang yang memang sudah siap dibalik ponselnya.
"Dia sudah tiba." Jawab wanita yang sama-sama berada ditempat itu.
Segera Luzi mempercepat langkahnya menuju acara yang memang sudah dimulai beberapa saat yang lalu itu. Suasana didalam begitu hening saat satu orang tengah berbicara diatas podium membuat Luzi bergegas untuk ikut duduk bersama tamu lainnya.
Ucapan demi ucapan terimakasih dilontarkan oleh Eren yang lagi-lagi berbicara diatas podium sebelum ia mengajak sang kakak untuk ikut naik ke podium bersamanya dan merayakan ulang tahun mereka.
"Siapakah kakakmu itu?" Gumam Luzi dalam hatinya. Kedua matanya tak lepas menatap Eren yang berdiri didepan para tamu dengan sorot lampu yang hanya meneranginya.
"Sebelum aku mengajak kakak ku untuk ikut naik ke podium, aku ingin kalian menyaksikan sekilas masa kecil kami hingga dapat tumbuh seperti sekarang." Tutur Eren seraya menunjukkan sebuah layar yang sudah siap diterangi oleh sinar dari proyektor hingga semua mata para tamu beralih pada layar itu.
"Kenapa jadi begini?" Panik Luzi, "Seharusnya ia memanggil kakaknya dulu supaya bersanding dengannya." Ucap Luzi.
"Kau benar." Kata Gino tiba-tiba yang ternyata duduk di kursi belakang Luzi. "kenapa tidak sekalian kau ajak kakakmu bergabung bersamamu disana?" Teriak Gino hingga orang-orang langsung menarik kepalanya untuk melihat sosok dibalik teriakan itu.
Eren terdiam. Mana mungkin ia menolak saran yang memang akan disetujui oleh semua tamu. "Kau benar." Ucap Eren dengan tersenyum yang sedikit terpaksa. "Baiklah, mari kita sambut kakak pertamaku..."
Semua orang begitu penasaran dengan sosok kakak dari Eren yang terkenal dikampus sebagai ketua organisasi yang tampan dan betubuh indah. Bahkan banyak yang menerka-nerka bahwa kakak Eren tak kalah tampan dari adiknya atau bahkan lebih tampan.
Sorot cahaya yang semula hanya satu yang berpokus pada Eren kini memecah menjadi dua dan menyoroti seorang pria berjas berwarna navy dengan rambut hitam yang ditata rapi. Bahkan wajahnya tak kalah tampan dari Eren.
Kedua mata Luzi terbuka lebar saat ia melihat sosok kakak Eren yang tak asing baginya, "David..." Gumam Luzi tak percaya.
"Ja-jadi Eren adiknya?" Kali ini dia benar-benar merasa mendapat kejutan luar biasa di party itu sebagai tamu. Dan tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang menjadi kacau akhir-akhir ini.
David pun berjalan menghampiri sang adik yang tengah menunggunya diatas podium. Sedangkan Luzi, ia segera berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun sebuah tangan tiba-tiba mencengahnya, "Kau mau kemana?" Tanya Gino dengan pandangan yang lurus kedepan.
"Toilet." Jawab Luzi singkat. Ia terpaksa berkata demikian karena satu-satunya tempat yang tidak akan didatangi oleh Gino adalah toilte wanita.
Gino beralih menatap Luzi, "oh, jangan lama-lama." Pesannya lalu melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Luzi.
"Baiklah." Jawab Luzi disertai anggukan.