
Semua orang yang terlibat dalam kasus yang sama dengan Luzi telah berkumpul didalam satu ruangan. Setelah mendengar kabar bahwa Luzi berhasil mendapatkan rekaman cctv, semuanya lantas gembira karena kasus yang selama ini begitu sulit dibuka kini akan terbongkar.
"Kemana dia? Kenapa begitu lama?" Tanya komandan Jo pada semua orang diruangan itu.
Namun semua orang yang ada diruangan itu serentak menggelengkan kepalanya
. Begitupun dengan pria yang duduk disamping komandan Jo, pria itu kini menundukan kepalanya dengan tangan yang mulai basah karena keringat.
"David!" Sergah komandan Jo hingga David yang biasanya santai tiba-tiba terhenyak. "Siap, komandan." Jawab David.
"Hubungi dia! Atau jemput saja sekalian." Perintah Komandan Jo dan dilaksanakan oleh David.
Segera pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi Luzi, namun ternyata wanita itu tak kunjung juga menjawab panggilan darinya. Padahal sebelumnya Luzi tidak pernah membiarkan ponselnya berdering lama jika tahu orang yang memanggilnya adalah David.
"CK, selalu saja begini." Kesal David dan segera pergi menuju parkiran untuk menjemput Luzi yang sepertinya berada dirumahnya.
"Selalu saja seperti ini," gerutu komandan Jo. "ini mengapa aku tidak pernah mengijinkannya melakukan apapun sendiri." lanjutnya komandan Jo.
"Jadi itulah sebabnya kau selalu menunjuk Luzi bersama Enzy?" Celetuk three. Enzy adalah nama asli dari one, rekan Luzi.
Komandan Jo lantas melirik kearah three, begitupun dengan semua orang yang ada disana. Memang dalam hati kecil mereka ingin menanyakan hal yang sama dengan three, namun mereka urungkan karena saat ini bukan waktu yang tepat. Tetapi three, ya begitulah dia. Selalu ingin tahu dan sembarang bertanya.
"Ceritanya panjang." Jawab Komandan Jo kemudian hingga semua orang kini beralih menatapnya.
"Kenapa kalian menatapku?" Heran komandan Jo kemudian mengambil napas dalam-dalam. "Lainkali aku akan ceritakan." Ucapnya.
"Kenapa tidak cerita sekarang?" Seru three. Memang benar-benar dia seorang yang super ingin tahu dan pemaksa. Semua mata para polisi yang berada dalam ruangan itu kini menatap Three. "Bukankah kita dapat mendengarkannya sebelum Luzi tiba?" Lanjutnya.
Komandan Jo menatap semua anggota dan menghela napasnya sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Dulu Luzi tidak di ijinkan untuk lulus masuk kepolisian." Ujar komandan Jo hingga semua orang yang berada disana terkejut mendengarnya.
"Benarkah?" Seru nine tidak percaya yang baru saja dikatakan oleh komandan Jo. "Bukannya dia peserta akademi terbaik wanita?" Lanjutnya.
"Ya, kau benar. Tapi itu semua tertutup oleh kecerobohannya yang sungguh luar biasa." Kata komandan Jo dan dibenarkan oleh semua orang.
"Lantas Kenapa dia masuk sekarang?" Tanya six.
"Itu karena Enzy keberatan jika Luzi dikeluarkan hanya karena sifatnya yang ceroboh. Terlebih lagi Luzi ada diperingkat kedua setelah Enzy. Lalu setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya kami semua memutuskan bahwa Luzi dan Enzy akan menjadi duo polisi." Jelas komandan Jo.
"Duo polisi?" Heran semua orang.
"Ya, duo polisi." Timbal Areksa.
"Mengapa begitu?"
"Itu karena keduanya pernah satu tim dan cukup menutupi kekurangan mereka masing-masing." Jelas Areksa. "Enzy yang terlalu pokus dapat diatasi oleh Luzi. Begitupun dengan Luzi yang selalu ceroboh dapat diperbaiki oleh Enzy." Lanjutnya.
"Jadi itu alasannya mengapa mereka diberi kode yang berdekatan?" Seru six.
"Hem."
Disebuah rumah, seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya. "Kenapa perutku sakit begini?" Gumamnya.
Bunyi jam membuat Luzi mengangkat wajahnya untuk melihat benda itu. "Astaga, sudah setengah jam aku disini." Luzi segera mencabut kabel-kabel yang sebelumnya terpasang di laptop.
Dengan buru-buru ia segera keluar dari kamar menuju kantor untuk mengadakan pers. Namun saat ia membuka pintu seseorang ternyata sudah berdiri disana hendak mengetuk pintu.
"Da-david..." Gumam Luzi. "Sedang apa kau disini?" Tanya nya.
"Menjemputmu." Jawab David hingga hati Luzi terkejut.
"Apa? Dia menjemputku?" Batin Luzi.
"Komandan Jo menyuruhku menjemputmu karena kau begitu lama tiba di kantor." Lanjut David hingga bunga yang semula berterbangan dihati Luzi jatuh secara tiba-tiba.
"Ternyata dia disuruh." Batin luzi kesal.
"Maaf, perutku tiba-tiba sakit." Ucap Luzi.
"Memangnya kau makan apa tadi?" tanya David.
"Mmmm, entahlah. aku lupa." jawab Luzi.
"Yasudah lebih baik kita berangkat sekarang, semuanya sudah menunggu." Kata David kemudian memimpin menuju mobilnya yang terparkir didepan rumah Luzi.
Luzi menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia hembuskan dengan kasar hingga bibirnya berkerut. "Apa aku benar menyukaimu? Atau hanya sebatas kagum semata?" Pikir Luzi seraya mengekori David masuk kedalam mobil.
Begitu Luzi dan David duduk dalam mobil, dering ponsel tiba-tiba berbunyi hingga keduanya sibuk mencari ponsel masing-masing.
"Ponselku." Ucap David seraya memperlihatkan benda pipih itu pada Luzi.
"Oh," ucap Luzi. "Kenapa deringnya sama dengan milikku?" Heran Luzi dalam hatinya.
"Halo?"
"Aku sudah menyebarkan undangannya. Kau juga jangan lupa datang ke acara ku!" Ucap seseorang.
"Aku akan datang." Sanggup David lalu memutuskan panggilan itu.
"Komandan Jo sudah kesal menunggu, ya?" Ucap Luzi yang mengira bahwa orang yang menelpon David berasal dari kantor.
"Mungkin." jawab David.
Kening Luzi berkerut, "mungkin?"
"Iya mungkin saja, karena aku tidak tahu." Jelas David lalu melajukan kendaraan roda empat berwarna hitam mobilkmya.
Setengah jam kemudian akhirnya Luzi dan David tiba diparkiran kantor polisi dan segera masuk kedalam ruangan dimana para anggota yang terkait dengan kasus itu berada.
"Mana benda itu?" Tanya Areksa menyodorkan tangannya meminta rekaman cctv yang telah berhasil Luzi ambil.
Kini semua orang melihat kearah layar yang tengah menampilkan rekaman kejadian demi kejadian di universitas negeri itu hingga semua orang yang terlibat dalam kasus terekspos dengan jelas.
"Apa David sakit? kenapa wajahnya begitu pucat?" Gumam Luzi sambil. memperhatikan wajah David yang memang terlihat agak pucat dan berkeringat.
Lebih dari satu jam mereka menonton rekaman cctv yang merupakan bukti terkuat untuk menguak kasus yang sudah beberapa tahun ini membuat para polisi kewalahan.
"Untuk saat ini kita beristirahat sejenak, kemudian dilanjutkan kembali setelah lima belas menit." Lanjut Areksa setelah pemutaran rekaman cctv berakhir.
Ditempat lain, Gino masih berada dikampus karena kelasnya yang semula dilaksanakan siang hari tiba-tiba digeser menjadi sore.
Bosan dengan keadaan kelas yang begitu hening dan pembelajaran yang begitu membosankan membuat Gino yang duduk di bagian tengah membuka ponselnya lalu mengetik beberapa kalimat.
^^^"Bolehkah aku ^^^
^^^mampir ke^^^
^^^ rumahmu?"^^^
Ketik Gino lalu mengirimkan pesan itu pada orang yang baru saja berakting mesra dengan dirinya.
Tak lama getaran membuat Gino tersenyum bahagia dan segera membuka ponselnya.
^^^"Aku sedang ^^^
^^^diluar." ^^^
^^^Balas Luzi.^^^
^^^"Aku akan ^^^
^^^menunggu sampai ^^^
^^^kau pulang."^^^
Balas Gino dengan semangat.
Namun setelah beberapa menit semangat yang sebelumnya membara perlahan menghilang karena orang yang ditunggu-tunggu balasannya tak kunjung juga tiba.
Gino menarik napasnya dalam-dalam, "Sepertinya dia sibuk." Ucap Gino lantas kembali menutup ponselnya dan kembali pokus pada dosen yang berdiri didepannya.
Duduk berhadapan diruangan yang tertutup dengan dua gelas yang sudah terisi sebuah minuman didepan mereka. Suasana canggung yang sudah lama tak pernah menyertai tiba-tiba menyerang. Entah mengapa perasaan itu mengekori pertemuan kedua pria yang merupakan bukanlah kali pertama.
"Minumlah dulu supaya rasa tegangmu berkurang." Ucap pria yang selalu mengenakan topi itu.
Mengikuti apa yang dikatakan oleh pria muda yang merupakan bosnya, pria itu lantas meminum habis cairan beralkohol itu dengan sekali tegukan.
"Bagaimana?" Tanya pria bertopi itu yang hendak mengambil gelas miliknya. "Lebih tenang bukan?" Lanjutnya lalu ikut meneguk habis minuman yang sama.
"Bagaimana nasib kita, Bos?" Tanya pria berusia kepala tiga itu.
Pria yang bergelar bos itu lantas menghentikan aktivitasnya yang hendak menuangkan kembali cairan beralkohol itu. "Mengapa kau bertanya tentang nasib, Ren?"
"A-aku hanya takut bangkai yang sudah kita kubur dalam-dalam tiba-tiba menimbulkan aroma." Katanya dengan maksud disetiap katanya.
"Jika kau bisa menyembunyikan bangkai, tapi tidak dengan aromanya. Maka lakukanlah begitu, sembunyikan buktinya dan biarkan aroma diluaran sana menyebar." Papar sang Bos.
"Tapi.. aku tidak yakin dapat selamanya menyembunyikan bangkai itu. Cepat atau lambat akan ada suatu hal yang membuatnya muncul kepermukaan secara mendadak." tutur Rendi dengan wajah yang risau.
"Sebelum bangkai yang terkubur kembali naik kepermukaan, lebih baik kita kubur bangkai yang lain." Tutur sang bos dengan nada dingin. "Minggu depan aku mengadakan private party, jadi Sebelum itu terlaksana aku ingin melakukan transaksi." Ucap Sang bos.
"Kapan kau ingin transaksi itu terjadi?" tanya Rendi.
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Bagaimana jika besok saja?" Saran Rendi
"Jangan besok. Aku ada urusan, lusa saja kita bertindaknya." Lanjutnya.