ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Misi Tim Aplomb



Hembusan Angin menerpa rambut hitam gaya cepak milik seorang pria yang tengah terduduk dibawah pohon mangga. Ia menundukan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan diatasnya.


"Boleh aku ikut duduk?" Ucap seorang pria yang tengah berdiri disamping bangku tempatnya duduk.


Five menatap pria itu kemudian menganggukan kepalanya. Lalu pandangannya kembali memandang lurus ke depan.


"Kenapa kau melakukan itu?" Cetus Three setelah tubuhnya mendarat diatas bangku besi itu.


"Aku hanya melakukan yang aku inginkan." Ucap Five.


"Aidan..." Ucap three memanggil nama asli dari rekan satu timnya, Five. Hingga pria itu menatap ke arahnya dengan tatapan sendu.


"Dengarkan aku... Apa kau melakukan itu karena kau belum ikhlas akan kepergian One?" Tebak Three yang ikut memandang lurus jauh kedepan.


Five membuang wajahnya kemudian bangkit dari duduknya.


"Tunggu dulu, Five." Three memegang tangan temannya itu lalu menariknya untuk kembali duduk.


"Jawab pertanyaanku tadi, ya atau tidak? Alasan kau melakukan itu." Lanjut Three.


"Ya." Tegas Five.


Three sedikit tersenyum dengan kepala yang menggeleng. " Kau tidak sadar diri, Five!" Ucapnya. "Apa kau lupa kejadian itu?" Tanyanya.


Saat itu 19 Maret pukul 21.00 ....


"Aplomb are you ready?" Ucap seorang pria yang tengah berada di depan pintu masuk.


"Yes." Jawab semua anggota tim serentak.


"Oke, aku akan membuka pintunya." Ucap Six, pria digarda depan yang merupakan ketua tim aplomb.


Semua anggota mengangguk menyetujui. Usai melihat situasi, mereka pun satu persatu masuk kedalam dan segera menuju posisinya masing-masing.


Six di dekat pintu sebuah ruangan, nine dan three berada dilantai atas sebuah gedung disebelah tempat Six berada, Five berada di titik dekat lokasi dimana para bandar berada, serta Zero dan One berada tak jauh dari lokasi Five dan juga Six.


Three dengan senjata Laras penjangnya membidik sebuah jendela untuk melihat kedalam ruangan yang temaram itu. Setelah melihat keadaan di dalam, ia lantas melaporkan kepada rekannya.


"Aplomb tim, didalam ada sekitar sepuluh orang. Satu diantara mereka perempuan," Three memberitahu rekannya itu melalui earphone yang masing-masing sudah terpasang pada telinga mereka.


"Apa perempuan itu sandera?" Tanya One.


Three memutar-mutar lensa pada pistolnya untuk melihat lebih jelas yang terjadi didalam ruangan itu. "Bukan. Sepertinya dia anggota mereka ." Ucapnya kemudian.


Bukan tanpa alasan dia menyebutkan hal itu. Pasalahnya ia melihat jika wanita itu seperti seorang raja bagi para pria di sana, Minum dan tersenyum bahagia. Yang jelas sudah pasti jika perempuan itu bagian dari kelompok ini.


"Baiklah, hitungan kelima kita bertindak!" Perintah Six.


" Siap!" Ucap mereka serentak.


"Satu, Dua, Tiga, empat—"


"Tunggu!" Teriak Nine hingga membuat semua anggota tak jadi bergerak.


"Ada apa?" Tanya three melihat Nine yang satu tempat dengannya tengah berdiri menggunakan teropong kearah yang berlawanan dengannya.


"Ada sorot cahaya dari arah sana. Sepertinya akan ada tambahan orang." Ucap Nine yang kembali memunggungi Three untuk melihat sorot cahaya yang berasal dari sebuah mobil. "Kembali ke posisi! Dia akan tiba dalam 2 menit!" Tegasnya.


Semua anggota yang sudah siap bergerak kembali sembunyi dan menunggu orang yang dimaksud Nine masuk kedalam area gedung.


Berjalan dengan hati-hati karena kondisi jalan yang buruk mobil berwarna hitam itu melewati gedung yang didiami oleh Three dan juga nine. Tak melewatkan kesempatan untuk melihat sosok didalam mobil itu, Nine segera memasang kembali teropongnya yang ia arahkan kepada mobil itu.


"Sulit bagiku untuk melihat sosok didalam mobil hitam yang menuju ke tempat kalian karena kacanya diatur gelap." Ujar Nine.


"Apa jenis mobil itu?" Tanya One.


"Kenapa kau malah menanyakan jenis mobil itu?" Celetuk Zero pada partner-nya.


"Mercedes Benz." Jawab Nine dari balik earphone.


"Supaya mudah ditemukan saat ia kabur." Jawab One dan dijawab mulut yang membulat oleh zero.


"Aku dapat melihat mobil yang kau maksud." Lapor Six yang berada didekat pintu masuk ruangan namun tidak akan terlihat karena situasi disana minim penerangan.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Five.


"Tunggu beberapa saat, kita lihat siapa didalam mobil itu." perintah Six.


Seorang pria dengan dandanannya yang rapi karena balutan tuksedo biru yang melekat di tubuh pria itu serta tak lupa kacamata hitam yang menutupi kedua matanya menambah kesan yang meyakinkan bahwa pria itu adalah bos dari para bandar.


"Dia masuk ke dalam ruangan yang terdapat pada bandar." Ucap Five.


"One, cepat panggil bantuan!" Perintah Six dan langsung dilakukan oleh One.


"Alpomb tim here... Alpomb Tim here.... Kami butuh bantuan, kirimkan pasukan sebanyak mungkin ke lokasi!" Tegas One menggunakan handy talky.


"Unit bantuan... unit bantuan... Siap segera kesana." Jawab pasukan yang memang sudah disediakan untuk membantu tim aplomb.


"Mereka akan tiba sekitar 10 menit." Ujar One.


"Apa tidak akan terlalu lama menunggu sepuluh menit? Sedangkan mereka bisa saja menyelesaikan urusannya mereka lebih cepat?" Ucap Zero.


"Lalu bagaimana, Six?" Tanya one.


Six terdiam sebelum akhirnya menjawab, " kita tunggu dua menit jika mereka belum tiba kita akan sergap mereka." Perintah sang kapten, Six.


Dua menit berlalu namun bala bantuan belum juga tiba hingga membuat anggota tim aplomb berpikir keras cara untuk melumpuhkan para bandar karena sudah tentu mereka kalah jumlah. Meskipun mereka membawa senjata, tapi tetap saja mereka tidak diizinkan menembak sembarangan.


"Kita gunakan rencana awal. Kalian siap?" Ucap Six setelah berpikir cukup lama.


"Siap." Ucap semua anggota.


Three dan nine yang berada di gedung sebelah tempat kejadian segera mendekati pinggir gedung untuk membantu anggota lainnya menghadapi para bandar dari jarak jauh.


Senjata Laras panjang telah terpasang dan siap digunakan jika diperlukan dengan penembak handal yang berada dibaliknya, yaitu three.


Zero dan One berjalan beriringan dengan hati-hati karena khawatir jika tiba-tiba sesuatu yang tak terduga menghampiri mereka.


Masing-masing dari mereka membawa senjata api ditangannya untuk jaga-jaga. Akhirnya Zero dan One bergabung bersama Five yang memang berada tak jauh dari lokasi mereka bersembunyi.


Zero dan One berjalan duluan sedangkan Five berjalan dibelakang mereka berdua untuk menjaga kedua wanita didepannya itu hingga akhinya mereka berpisah.


Five berada di pintu belakang bersama Zero, sedangkan One segera berjalan mendekat pada Six.


"Semua siap?" Tanya Six ditempat yang sama di dekat pintu masuk utama ruangan.


"Aku segera sampai ditujuan," ucap Five yang berjalan tanpa suara namun tetap cepat.


"Siap ditempat." Ucap Five kemudian.


"Hitungan ketiga, kita dobrak!" Six memberi aba-aba.


"Satu..... Dua..... Tiga..."


Brak!!


"Siapa kalian?" Tanya Salah seorang anggota pengedar narkoba itu yang panik karena semua jalan keluar telah didiami oleh masing-masing dua orang.


"Kami polisi. Angkat kedua tangan Kelian diatas kepala karena kalian sudah terkepung!" Perintah Six yang berjalan perlahan mendekat kepada orang-orang itu.


Orang-orang yang semula ricuh hendak melarikan diri lantas berkumpul ditengah-tengah ruangan dengan kaki yang ditekuk karena keempat orang itu sudah mendekati mereka dengan senjata ditangan mereka yang siap untuk melepaskan timah panas kapanpun saat mereka berontak.


"Bantuan sudah datang." Ucap Nine yang terdengar melalui earphone ditelinga mereka.


"Five, kumpulkan semua bukti!" Perintah Six yang masih menodongkan senjata kepada para pelaku.


Five mengangguk lalu memasukan pistolnya ketempat yang ada dibagian pinggangnya. Dengan tangan yang sudah dibalut oleh sarung tangan Five mengambil obat berwarna kuning yang entah apa jenisnya karena ini kali pertamanya ia melihat narkoba jenis itu selama karirnya sebagai divisi pemberantasan narkoba.


"Apa kalian masih memiliki narkoba jenis ini ditangan kalian?" Tanya Six dengan tegas.


Orang-orang yang terduduk dengan kedua tangan diatas kepala hanya terdiam dan baru menjawab saat Six Membentak mereka untuk menjawab. Itupun hanya dengan anggukan kepala saja.


"Apa kau satu-satunya perempuan disini?" Tanya Zero pada salah seorang pelaku.


"Tentu, memangnya wanita mana lagi yang berani sepertiku." Jawab wanita itu tersenyum dengan rasa bangga yang sangat tidak tepat itu.


Zero hanya tersenyum getir mendengar jawaban wanita itu sambil terus memegang pistol ditangannya.


Beberapa saat kemudian bantuan dari kantor telah datang dan mereka segera memborgol para tersangka yang berada ditengah-tengah ruangan.


Tim aplomb pun kembali memasukan senjata mereka saat satu persatu dari mereka dibawa oleh polisi yang baru saja tiba disana.


"Apa ini narkoba jenis baru?" Tanya Six yang menghampiri Five yang sedang mengumpulkan bukti berupa obat-obatan dan alat untuk menggunakan narkoba itu.


"Entahlah, aku baru melihat jenis ini." Jawab Five dengan tangan yang diangkat ke atas untuk melihat obat berwarna kuning itu dengan jelas karena tersorot cahaya.


"Akhirnya setelah berbulan-bulan kita mengintai mereka." Gumam Six bangga karena usaha dirinya dan juga anggota aplomb berhasil tanpa hambatan.


"Ternyata menangkap mereka sangat mudah." Celetuk Three yang sedikit kesal karena ia hanya menyaksikan kejadian itu dari atap gedung sebelah.


Plak!


"Jangan bicara sembarangan! Bersyukurlah kita berhasil tanpa hambatan." Kesal Nine.


"Sudah! kalian jangan bertengkar." sindir Six melalui earphonenya. Ia lalu berjalan sedikit menjauh dari Five untuk melapor pada komandan mereka bahwa misi terlah berhasil.


"Satu, dua , tiga......... Tujuh, delapan, sembilan, sepu—" Zero menautkan kedua alisnya saat ia menghitung para tersangka yang tidak sama seperti yang dilaporkan oleh Three.


"Three, kau tadi bilang ada berapa orang di dalam?" Tanya Zero.


" Sepuluh, ditambah satu yang datang dengan mobil Mercedes Benz. Memangnya kenapa?" Tanya three.


Mendengar ucapan Three, lantas membuat Zero segera melaporkannya pada semua anggota.


"Alpomb tim!... Alpomb tim!... Masih ada dua orang yang belum tertangkap!" Seru Luzi.


Namun sepertinya hanya Three dan nine yang masih menggunakan earphone ditelinganya karena hanya mereka yang merespon Perkataan Zero.


"Zero, aku akan mencari dari sini. Kau segera beritahu mereka langsung!" Titah Three yang segera mengedarkan penglihatannya melalui teropong yang terdapat pada senjata Laras panjangnya. Namun sialnya karena didalam ruangan cukup gelap, ia tidak dapat melihat ke semua sudut ruangan.


Seperti yang disuruh oleh Three, Luzi segera berlari menghampiri One, Six dan Five yang tengah berada ditempat bukti-bukti dikumpulkan untuk dibawa ke kantor.


Namun sebuah suara tarikan pelatuk yang siap dipetik membuat Zero berhenti, kemudian mengikuti arahnya. Sebuah senjata api yang tersorot cahaya bulan dari jendela mengarah pada Five dan juga Nine yang sedang mengumpulkan barang bukti.


Dengan segera Zero mengeluarkan senjatanya dan segera membidik kaki sang pria yang juga memegang senjata api itu hingga ia terjatuh ke lantai.


Suara tembakan lantas membuat semua orang kembali waspada, dan segera mengeluarkan senjata mereka. "Siapa yang menembak?" Tanya Five.


"Bukan aku." Jawab Six begitupun dengan One yang menggeleng.


"Zero.." lirih mereka


Earphone yang semula mereka lepas kembali mereka pasang. "Three apa yang terjadi?" Tanya six.


"Zero menyadari bahwa pelaku yang ditangkap baru sembilan orang bukan sebelas." Jelas Three.


"Astaga," kejut ketiga orang itu.


Zero yang yakin jika pelaku sudah tersungkur di lantai dan kehilangan senjatanya lantas menghampirinya dan memborgol tangan pria yang meringis kesakitan pada kakinya itu.


"Tunggu, jika Zero menembak satu pelaku.... Jadi masih ada satu pelaku lainnya." Ucap One yang segera berlari menghampiri Zero diikuti kedua orang pria yang tadi bersamanya.


"Zero!..." Teriak One yang berlari menghampiri Zero.


Dor!


Satu tembakan lagi-lagi terlepas entah dari mana. Namun bidikannya jelas karena One langsung tersungkur ke lantai dengan darah yang bersimbah.


Zero yang melihat kejadian didepan matanya itu lantas berlari menghampiri One yang terluka di bagian dadanya.


"One, bertahanlah!" Zero menutupi sumber mengalirnya darah dari tubuh One menggunakan tangannya.


Dor!


Lagi-lagi sebuah tembakan terdengar namun entah dari mana asalnya. Six yang melihat keadaan semakin kacau lantas meminta bantuan para polisi tadi untuk segera kembali ke dalam ruangan dan membawa Kedua pelaku yang tersisa.


Tiga polisi datang menghampiri Six yang menunggu mereka di depan pintu.


"Satu pelaku tewas, dan satunya lagi terluka dikakinya." Jelas Six.


Orang yang menembak One telah ditembak oleh three tepat setelah ia melepaskan timah panas pada one karena takut orang itu akan melarikan diri. Ternyata ia malah pergi ke alam lain.


Five yang tak percaya jika one telah tertembak lantas mendaratkan tubuhnya disamping wanita itu.


Ia lalu memegang nadi ditangannya untuk mengetahui apakah wanita itu masih hidup. "Minggir!" Tegas Five hingga Zero yang menidurkan one dipangkuannya tersungkur karena Five sedikit mendorongnya.


Five mengangkat One dan segera berlari membawa wanita itu ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Diikuti anggota lainnya di mobil yang berbeda dengan Five dan One.


"Bagaimana? Siapa menurutmu yang berkorban dan dikorbankan?" Tanya Three kemudian setelah mereka saling membisu beberapa waktu untuk kembali mengingat kejadian saat itu.


Five tidak menjawab. Ia malah menundukan kepalanya hingga hanya puncak kepalanya saja yang terlihat oleh three.


"Aku yakin kau tahu yang sebenarnya terjadi. Enzy tidak menjadi korban, dialah yang mengorbankan dirinya untuk teman terbaiknya, Luzi." Tutur Three.


"Tapi jika dia tidak menembak orang itu Enzy tidak akan mati!" Tegas Five.


"Lalu jika ia tidak melakukan itu?" Tanya Three. "Kau dan Enzy juga six yang bisa saja mati saat itu." lanjut Three.


"Tapi...."


"Jangan membuat pengorbanan Enzy sia-sia karena hatimu yang tidak ikhlas." Kata Three sebelum akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan Five untuk mencerna ucapannya.


✍️


Jika ceritaku adalah selera kalian jangan lupa berikan dukungan untuk karya ini🤗


Sangkyu😘