ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Sang ketua



Di lapangan kampus para mahasiswa berkumpul untuk merayakan diterimanya mereka di universitas GAZ. Mereka saling menyapa dan mengobrol bersama teman seperjuangan mereka membicarakan hal-hal yang telah mereka lalui untuk bisa sampai hingga tahap akhir.


Namun lain halnya dengan Luzi, ia terduduk di sebuah kursi dengan perasaan bingung. Alasannya karena ia tidak dapat menemukan namanya tertulis di papan pengumuman mahasiswa baru di universitas itu.


"Ka, tunggu." Panggil Luzi saat melihat seorang mahasiswa senior yang waktu itu membacakan kuis.


Wanita itu pun berhenti, menatap kearah Luzi yang berpenampilan seperti anak kecil. Dengan rambut panjang yang berantakan tapi pakaianya tidak terlalu buruk. Sebelumnya akhirnya wanita senior itu bertanya, "kenapa?"


"Anu.. mmm, kenapa nama saya tidak ada di papan pengumuman?" Tanya Luzi tanpa basa-basi.


"Memangnya siapa namamu?"


"Luzi Riana, Aku mahasiswa baru sama seperti mereka." Jelasnya


Wanita itu terdiam Sampai akhirnya menjawab, "mungkin ada sesuatu yang membuatmu tidak lulus."


"Eh," Luzi terkejut mendengar hal itu, "Apa itu?"


"Entahlah, aku akan mencoba menanyakannya untukmu." Wanita itu pun kini pergi meninggalkan Luzi.


Luzi yang masih mematung ditempatnya memperhatikan senior wanita itu hingga menghilang dari pandangannya.


"Jika aku gagal jadi mahasiswa disini, bagaimana dengan tugasku?" Gumam Luzi.


Jika boleh jujur sebenarnya ia tidak masalah gagal masuk ke universitas itu, toh dirinya sudah memiliki penghasilan dan akan segera naik jabatan saat promosi untuknya dimulai bulan depan. Hanya saja cara untuk dapat promosi itu ia harus bisa memecahkan kasus menghilangnya mahasiswa universitas GAZ yang belum terpecahkan.


"Ahh,, aku gagal promosi jika begini." Luzi memukul kepalanya menggunakan tangannya berkali-kali.


"Kau sepertinya hobi memukul kepalamu," Celetuk seorang pria hingga membuat Luzi menghentikan perbuatannya itu.


"So tahu." ketus Luzi. ia lalu berjalan menghindari pria dengan topi itu karena tak mau lanjut mengobrol dengannya.


Namun ternyata pria itu malah mengikuti Luzi hingga membuatnya merasa tidak nyaman. "Sial. Dia malah mengikutiku,"


Luzi mempercepat langkahnya namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Luzi menoleh kebelakang dan pria bertopi itu ternyata sudah tak ada.


"Iya?" Luzi menghentikan langkahnya lalu berjalan menghampiri sumber suara.


"Kau dipanggil ketua organisasi mahasiswa," ucap wanita tadi yang bertemu dengan Luzi.


"Kemana aku harus pergi?" Tanya Luzi yang tak tahu herus menemui ketua itu dimana.


"Saat ini dia sedang berada di lapangan, kau bisa menemuinya disana." Kata wanita itu lalu pergi setelahnya.


Dengan semangat yang membara dalam darahnya Luzi melangkahkan kakinya menuju lapangan tempat acara terakhir diadakan.Tanpa tahu nama Bahkan bagaimana wajahnya ketua itu Luzi dengan percaya diri berlari mencari sang ketua.


Sesampainya di lapangan dengan begitu banyaknya orang membuat Luzi tersadar bahwa ia hanya membawa informasi harus bertemu ketua, hanya ketua. Dengan bingung Luzi mematung mengitari seluruh lapangan untuk mencari ketua dengan ciri-ciri yang ia baca disebuah novel.


Lelah dengan keadaan banyaknya orang membuat Luzi akhirnya memutuskan untuk bertanya pada seseorang.


"Anu permisi, apa kalian tahu siapa ketua organisasi di kampus ini?" Tanya Luzi pada seorang pria yang berdiri didekat tiang.


"Kau cari saja pria yang mengenakan topi hitam," jawab pria itu.


"Ohh, pria bertopi ya, terimakasih." Ucap Luzi lalu pergi meninggalkan pria itu untuk mencari sang ketua.


Setelah mengelilingi lapangan untuk mencari sang ketua, Luzi akhirnya melihat seorang pria bertopi hitam tengah duduk dikelilingi beberapa temannya hingga wajahnya tak telihat. Luzi pun menghampiri pria itu untuk meminta penjelasan atas keputusannya tidak mengakui Luzi sebagai mahasiswa di kampus ini.


"Permisi," Luzi menerobos lingkaran orang-orang yang sedang berdiskusi itu.


Para pria yang sedang berdiskusi itu langsung terdiam seraya menatap Luzi heran, tak terkecuali sang pria bertopi. Ia menundukkan kepalanya fokus pada sebuah kertas tanpa peduli apa yang terjadi.


"Kita perlu bicara," ucap Luzi namun lagi-lagi pria bertopi itu tetap fokus pada kertas ditangannya, tanpa menghiraukan ucapan Luzi.


Luzi menghembuskan napasnya kasar, lalu menarik tangan pria itu untuk ikut bersamanya berbicara empat mata. Teman-teman sang ketua yang tadi mengelilingi nya terkejut dan memperhatikan Luzi yang sangat berani menarik sang ketua.


"Siapa kau?" Pria itu berteriak seraya menghempaskan tangan Luzi dari tangannya.


Luzi pun berbalik, "Aku... Mahasiswa yang kau suruh untuk menemuimu," ujar Luzi. Ia tidak mengetahui kebenaraan bahwa wanita tadi hanya memberikan sebuah kebohongan untuk mengerjainya.


Pria itu mengerutkan alisnya, "Menemuiku? Aku bahkan tidak ingat memiliki janji dengan seseorang." Tegas pria bertopi itu.


"Ta-tapi tadi seorang senior bilang begitu padaku." Luzi berbicara gugup. Ia baru menyadari bahwa dirinya menjadi korban kejahilan senior. Dan kini menjadi tontonan gratis para mahasiswa.


"Sial, aku tertipu."Luzi mengepalkan tangannya.


"Apapun alasannya kau sudah membuang waktuku!" Teriak pria itu hingga membuat seluruh mahasiswa yang lain kini mulai menggunjing Luzi atas tindakannya kepada sang ketua.


"Maaf, ka." Luzi mencoba mendongakkan kepalanya untuk melihat sang ketua yang bertubuh tinggi.




Di sebuah hotel bintang lima seorang pria tengah berendam di bathtub sambil memejamkan matanya untuk menghilangkan penat yang tengah dirasakanya.



Tring...



Pria itu membuka matanya lalu membuka sebuah pesan di layar ponselnya.


^^^ "*Bagaimana menurutmu*?^^^


^^^ *Berapa yang sanggup* ^^^


^^^*kau tawarkan untuknya* ? "^^^


^^^ *Ujar sang pengirim* ^^^


^^^*disertai sebuah Poto wanita* ^^^


^^^*dengan rambut*^^^


^^^ *blonde nya*.^^^



Pria itu menyunggikan senyuman sebelum akhirnya menyimpan kembali benda itu tanpa membalasnya. Ia lalu keluar dari bathtub untuk menikmati sebuah sampanye yang telah tersedia di ranjangnya.



"Sudah berapa lama kau mengabaikanku Ren?" Gumam pria itu lalu meneguk kembali minuman itu.



Di lorong kampus Gino melihat ada sesuatu yang aneh terjadi dilapangan sehingga membuat para mahasiswa berkumpul di pinggir-pinggir lapangan membuat sebuah lingkaran. Penasaran, Gino pun ikut barisan dan melihat kejadian yang membuatnya kaget.



"Apapun alasannya kau sudah membuang waktuku!" Teriak pria itu hingga membuat seluruh mahasiswa yang lain kini menonton Luzi dan sang ketua.



"Maaf, ka." Luzi mencoba mendongakkan kepalanya untuk melihat sang ketua yang bertubuh tinggi.



"*Jadi, dia ketuanya*?" Gumam Luzi tak percaya dengan apa yang matanya lihat.



"*kapala bata*? " gumam pria bertopi itu. Tentu saja sang ketua yang dicari-cari Luzi adalah orang yang mengikutinya tadi juga yang selalu memergokinya saat sedang memukuli kepalanya.



"Maaf? Kau bilang maaf? Tidak bisa. Kau membuat aku kehilangan waktu untuk berpikir hanya karena kau mudah tertipu!" Tegas pria itu menggelegar hingga kepercayaan Luzi yang tadi memuncak kini menciut.



Luzi terkejut mendengar ucapan sang ketua itu. Ia tak menyangka bahwa lidahnya begitu tajam dan berbanding terbalik dengan wajahnya yang ramah saat mereka bertemu sebelumnya.



"Ren, acara akan segera dimulai." Seorang pria berbisik pada Eren hingga akhirnya pria itu meninggalkan Luzi yang mematung.



Gino yang menyaksikan itu, merasa iba pada Luzi. Namun ia tidak membantunya karena itu mungkin saja urusan pribadi, lagi pula mereka hanya saling tahu nama saja.Bukan berarti bahwa dia berhak mencampuri urusan orang lain.