The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 98 Isabella dalam mimpi



Isabella yang sedang duduk merasakan ada hal buruk yang terjadi, ia menduga ini firasat buruk itu berasal dari liotinnya. Serbuk dalam tabung buah dari liotin itu adalah serbuk pelindungi, jika tabungnya pecah lalu serbuknya tumpah maka serbuk itu akan menghilang menjadi asap. Tapi asap itu akan melindungi pemakai liotin dari bahaya seperti racun jika menghirup asap itu.


"Charlize, ada apa denganmu?" batin Isabella.


"Isabella, tidak bisa mengkhianati Isabella." telepati dari Charlize sampai pada Isabella, membuat Isabella semakin gelisah.


"Ak-aku harus pergi," batin Isabella berdiri dari kursi dan berlari mencari keberadaan Selina.


"Isabella, kau mau ke mana?" Aisnley mencekal tangan Isabella yang hendak menuruni anak tangga.


"Aku harus pergi men …."


"Apa itu penting sekarang? Vanessa tidak berhenti memanggil namamu sejak tadi. Kau pergi ke dalam kamar dan jaga dia," potong Aisnley.


"Isabella." Selina berlari mendekati Isabella, "Sisa racun itu ada di kamar Charlotte. Dia belum membuangnya karena takut bau racun itu menempel padanya."


"Serahkan Charlotte pada kami, kau pergilah jaga Vanessa. Pergilah!" Aisnley mendorong Isabella kembali ke kamarnya, lalu ia membawa Selina pergi bersama menangkap Charlotte.


"Kenapa malam ini banyak sekali masalah?" batin Isabella tidak tau harus berbuat apa.


Ia menatap Vanessa yang tidak sadarkan, dan Vanessa terus menyebut namanya. Isabella tidak bisa meninggalkan Vanessa dalam keadaan seperti ini, ia memutuskan untuk tinggal di samping Vanessa sambil sesekali mengusap keringat Vanessa.


"Kau harus baik-baik saja," batin Isabella memegang tangan Vanessa.


Dalam mimpi Vanessa terus berlari karena dirinya di kelilingi oleh kegelapan, Vanessa sangat takut dengan kegelapan hal itu membuatnya tidak bisa berhenti mencari cahaya.


"Kakak. Kakak kau di mana? kakak!" Vanessa terus berteriak memanggil Isabella berharap wanita itu datang dan membawanya pergi dari kegelapan itu.


"Cahaya? itu pasti pintu keluar." Vanessa berlari dengan cepat saat melihat ada cahaya tidak jauh darinya. Dan saat ia sampai di tempat bercahaya itu, ia malah berada di tempat yang asing.


"Apa ini?" Vanessa berjalan mendekati tirai, lalu ia menyikap tirai tersebut.


Vanessa terkejut saat ia melihat Isabella terbaring di atas bangsal rumah sakit dengan wajah pucat pasi, di tubuh Isabella terpasang banyak alat-alat aneh di mata Vanessa dan ada banyak orang yang menangis di samping Isabella. 


"Kenapa kakak?" batin Vanessa menyentuh wajah Isabella. Sayangnya tangannya malah menembus wajah Isabella, ia tidak bisa menyentuh Isabella.


"Kapan dia akan sadar ayah? sudah 100 hari berlalu dan dia masih belum membuka matanya," ucap seorang pria seusia Vanessa, ia yang terlihat paling sedih.


"Jika saja aku tidak mengabari kepulanganku lewat media maka Isabella akan baik-baik saja, dia tidak akan koma sampai sekarang," lanjutnya.


"Berhenti menangis Andre. Kita sudah cukup sakit melihat kondisi Isabella, apa kau pikir yang terluka hanya kau? tidak pernah tenang setiap kali kemari, lain kali jangan ajak dia," kesal seorang wanita yang sedikit tua.


"Hentikan Camelia. Jangan kau buat dia semakin terluka lagi. Isabella akan semakin terluka jika dia tau kalian bertengkar karena dia," lerai seorang pria tua yang tampan.


"Cih! jika dia bangun nanti maka aku akan memukulnya, berani sekali dia belajar dansa lain untuk pesta penyambutan Andre dan malah berakhir di rumah sakit. Dasar bodoh! apa gunanya kebal racun mu itu sekarang. Dasar!" wanita bernama Camelia itu akhirnya meneteskan airmata.


"Aku diajari oleh seorang wanita yang dingin dan berwajah datar. Dia sangat cantik namanya Camelia, Nyonya Camelia."


Tiba-tiba ucapan Isabella saat itu teringat oleh Vanessa, lalu ia menatap wanita bernama Camelia itu. Vanessa memang melihat tadi dia menyebut kata dansa.


"Apa ini tempat jauh dan letaknya ada di sisi lain dunia yang kakak maksud? kakak pernah ke sini? aku ingin kebenarannya, kakak! di mana kau? jawab aku!" teriak Vanessa. Namun tidak ada jawaban, ia meringkuk di sudut ruangan sambil menangis. Setelah kamar kosong Vanesaa kembali mendekati bangsal Isabella, ia menatap lekat-lekat wajah yang pucat pasi tersebut.


"Ini kakak, dia benar-benar kakak. Tidak ada perbedaan antara mereka sedikit pun. Tapi kenapa kakak ada di sini? yang terkena racun aku bukan kakak lalu kenapa yang terbaring tidak sadarkan diri di sini adalah kakak. Bangunlah! mari kita pulang ke rumah, ayo!" ucap Vanessa menangis menatap wajah Isabella.


"Saat kakak tidak sadarkan diri karena jatuh dari ketinggian saat itu, wajah kakak tidak seburuk kakak saat ini. Kenapa? kenapa malah berbaring di sini? jika berbaring di rumah kita maka Kak Luca bisa mengobati kakak. Ayo kak, bangunlah. Ku mohon," pinta Vanessa. Namun tidak merubah apa pun, Isabella tetap tidak sadarkan diri karena jiwanya tidak ada di dunia itu.


"Selamat malam Isabella." Seorang pria masuk membawa buket bunga, "Apa kabarmu hari ini? kau jadi lebih jelek seperti ini, di mana tentara bayaran yang hebat tidak terkalahkan sekarang? berbaring diam di sini bukanlah gayamu. Cepatlah bangun, aku menunggumu."


Pria itu mengecup kening Isabella lalu ia pergi, Vanessa tidak tau siapa mereka. Karena penasaran Vanessa mengikuti pria itu sampai keluar rumah sakit, dan dia benar-benar melihat dunia yang berbeda.


"Indah sekali." Vanessa terpesona dengan lampu-lampu yang menyala dari bangunan disekitar rumah sakit.


Vanessa melihat kendaraan, orang yang berlalu lalang dengan pakaian aneh, serta ia melihat ada orang berjualan kue yang bentuknya mirip dengan kue-kue di toko kue kenangan milik Isabella.


Tidak lama tubuh Vanessa bercahaya dan kesadarannya hilang, saat ia membuka mata kembali kini ia terbaring di ranjang di kamar yang tidak asing.


"Ini kamar kakak," batin Isabella mengenali ruangan tersebut.


"Isabella, tunggulah aku. Aku janji tidak akan berulah lagi," rengek Aisnley yang terdengar dari dalam kamar oleh Vanessa.


Tidak lama Isabella masuk ke dalam kamar bersama Aisnley yang terus merengek di belakangnya, "Ayolah Isabella! ajak aku juga, jangan memonopoli hadiah sendirian."


"Apanya yang memonopoli? itu kan dari calon suamiku, jadi itu milikku," jawab Isabella.


"Percuma kalau kau merengek padanya. Kau ikut juga percuma, kau tidak akan mendapatkan gaun karena mereka pergi memesan gaun pengantin. Apa kau juga ingin gaun pengantin?" tanya Selina, ia baru saja masuk.


"Kakak," panggil Vanessa membuat perhatian ketiga wanita itu teralihkan ke ranjang.


"Vanessa. Ka-kau sudah sadar?" Isabella tersenyum bahagia melihatnya, "Ayah! ayah, Vanessa sudah sadar."


Isabella terus berteriak memanggil Cedric, sesaat kemudian Cedric bersama Jeremy berlari masuk ke dalam kamar Isabella. Melihat Vanessa telah membuka matanya dan tersenyum pada mereka membuat mereka semua menangis bahagia.


*****


Bersambung.


Silahkan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘