The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 27 Jatuh dari ketinggian



Salah satu pelayan Zelene menguping pembicaraan di ruang kerja Sean, dan melaporkan apa yang ia dengar pada Zelene.


"Ayahku yang polos, lihat bagaimana aku akan mengagalkan semua rencanamu," ucap Zelene sambil memainkan kuku jarinya yang cantik.


"Nessa, pergilah ke kamar Luca dan lakukan yang biasanya kau lakukan," perintah Zelene kepada pelayannya.


Nesaa langsung bergegas pergi ke kamar Luca, sementara Zelene mempersiapkan akting terbaiknya untuk menipu Luca.


Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Zelene, Zelene tersenyum senang lalu duduk di lantai dengan wajah tertunduk.


"Kakak." Luca membanting pintu kamar Zelene dan berlari mendekati sang kakak, "Apa yang terjadi? Nessa bilang kakak menangis sejak tadi. Katakanlah padaku apa yang terjadi!"


"Hiksss a-ayah …. hiksss." Zelene tidak bisa bicara dengan baik karena terus menangis.


"Sudah ku duga ini semua pasti ulah ayah lagi. Ayah sangat keterlaluan, Aku tidak memgerti kenapa dia terus menyakiti kakak lagi dan lagi," geram Luca.


"Ini semua salah kakak hiksss. Jika saja kakak tidak pernah ada di dunia ini sejak awal, maka …."


Luca langsung memeluk erat Zelene dan berkata, "Ini bukan salah kakak, jika kakak tidak ada di dunia ini maka aku akan ikut tiada bersama kakak."


"Cih! drama menjijikan. Siapa juga yang mau tiada denganmu," batin Zelene.


Zelene melepaskan pelukan Luca. Lalu dengan raut wajah sedih ia berkata, "Tapi … ayah mengatakan jika kakak selalu menghalangimu. Ayah juga mengatakan jika kesatria bayaran yang kakak bawa untuk melindungimu itu, sebenarnya kakak bawa untuk melenyapkanmu. Sampai ayah sendiri telah memilihkan kesatria bayaran Allred dan Bara untuk mengawalmu."


"Ayah sangat keterlaluan. Kakak jangan khawatir karena aku percaya pada kakak, dan untuk 2 orang itu … jangan harap mereka bisa berada di dekatku. Nanti aku akan memberikan mereka uang lalu meminta mereka untuk pergi dari sini," balas Luca.


Luca memegang pundak Zelene dengan lembut seraya berkata, "Kakak istirahat saja, masalah ini biar aku yang tangani."


Zelene hanya mengangguk lalu Luca menuntunnya agar berbaring di atas ranjang, tidak lupa Luca menyelimuti Zelene setelah itu ia bergegas keluar dari kamar Zelene.


Setelah memastikan Luca benar-benar pergi, Zelene bangun dan meminta pelayan untuk membuang selimut serta gaun ia kenakan, sekaligus menyiapkan air mandi untuknya. Semua itu Zelene lakukan karena ia merasa jijik dengan semua barang yang pernah Luca sentuh.


Sementara itu Luca kebetulan berpapasan dengan Isabella saat ia hendak menuju ruang kerja ayahnya, tanpa basa-basi Luca langsung mencegat Isabella.


"Kau kesatria bayaran yang bernama Allred kan?" tanya Luca, dan Isabella hanya mengangguk.


"Ambil ini!" Luca melempar kantong berisi uang pada Isabella, "Itu bayaranmu. Pekerjaan di sini telah selesai jadi pergilah dari sini!"


Bukannya mengambil, Isabella malah melempar kantong berisi uang itu ke lantai, "Ambil saja uang itu kembali, anggaplah itu sebagai hadiah dari saya."


"Kau baru saja menghinaku? apa kau tidak tau aku ini siapa?" kesal Luca.


"Bagi saya tidak penting anda itu siapa, tuan. Yang penting saya hanya membalas apa yang anda lakukan, jika anda tidak suka hal itu dilakukan pada anda maka jangan lakukan itu pada orang lain," jawab Isabella dengan raut wajah tanpa dosa.


"Ingatlah satu hal tuan, kesatria bayaran itu tidak punya etika bangsawan. Dan saya bekerja bukan untuk anda, anda tidak perlu repot-repot memberikan saya bayaran," bisik Isabella saat melewati Luca.


Luca mengepalkan erat kedua tangannya sampai kuku jarinya memutih. Ia benar-benar marah karena ini pertama kalinya ia dihina secara tidak langsung, terutama oleh seorang kesatria bayaran yang tidak punya etika.


*****


Sean terkejut saat pintu ruang kerjanya dibanting oleh Luca. Awalnya Sean ingin meneriaki orang yang membanting pintunya, tapi setelah melihat siapa pelakunya Sean malah tersenyum.


"Ada apa, nak? masuk dan duduklah," ucap Sean dengan nada suara yang lembut.


"Tidak perlu," tolak Luca, "Aku datang bukan untuk duduk. Aku datang karena aku ingin ayah mengusir kesatria bayaran bernama Bara dan Allred dari kediaman kita."


"Mereka adalah kesatria yang akan mengawalmu, jadi ayah tidak bisa …."


"Kenapa ayah menambahkan kesatria bayaran saat kakak sudah mendapatkannya? apa ayah tidak percaya pada kakak? ah! konyol sekali aku ini. Buat apa aku bertanya sesuatu yang sudah dipastikan jawabannya," potong Luca.


"Ayah memang tidak percaya pada kakakmu. Tapi ini semua bukan tanpa sebab, kakakmu itu …."


"Yah! ayah selalu mengatakan itu setiap ayah ada kesempatan, lupakan saja!" Lagi-lagi Luca memotong ucapan Sean.


"Ayah hanya perlu tau satu hal, aku tidak akan mengizinkan kedua kesatria bayaran itu mendekatiku," lanjut Luca.


"Bahaya sering datang tidak terduga, tolong dengarkan ayah sekali ...."


"Jika ayah tidak mau mendengarkan aku, maka aku tidak akan mendengarkan ayah. Sikap ayah yang seperti inilah membuat aku ingin menjauh dari ayah," ucap Luca. Dengan perasaan kecewa ia beranjak dari ruang kerja Sean.


Sean mengempaskan tubuhnya ke atas kursi, ia menghela nafas sambil memijat kepalanya yang terasa sedikit pusing. Luca terlalu keras kepala dan egois sampai tidak mau mendengarkan ucapannya.


Sementara itu di sisi lain Zelene pergi menemui para kesatria bayaran yang ia sewa untuk mengawal Luca, mereka duduk bersama dan menyusun rencana untuk membunuh Luca.


"Apa kita bisa mengalahkan mereka berdua? Bara adalah kesatria bayaran tingkat berlian, dan Allred itu mungkin bukan kesatria tingkat tinggi. Tapi dia bisa mengalahkan Ziva dalam sekali serang, ini tidak akan mudah," ucap ketua kesatria bayaran, Oman.


"Jangan bercanda. Kalian ada 10 orang kesatria tingkat permata, kekuatan kalian sudah melebihi kesatria tingkat berlian jika digabungkan, jadi harus takut apa? Kalian jangan lupa singa saja akan mati jika diserang oleh sekelompok rusa," ucap Zelene.


"Anda bener juga. Kita pasti bisa mengalahkan dua orang itu, dari jumlah saja kita sudah menang. Dua orang itu memangnya biasa apa? lagi pula jika kita berhasil mengalahkan Bara maka nama kita akan terkenal, akan ada banyak orang yang segan serta takut pada kita nanti," ucap Oman membangkitkan rasa percaya diri dari rekannya. Sulit di percaya hanya karena sedikit ucapan manis dari Zelene telah membuat mereka besar kepala.


"Cih! dasar orang-orang bodoh. Berbahagialah kalian saat ini, dan aku akan lihat sampai di mana rasa bahagia itu akan bertahan," batin Zelene. Ia sangat pandai dalam hal menipu orang lain.


Setelah pembicaraan mereka selesai, Zelene langsung meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya. Sebelum tidur Zelene  menikmati angin segar di balkon kamar sambil minum anggur, ia tidak sabar menunggu hari kematian Luca datang.


"Ini adalah balasan untukmu ayah. Kau memisahkan aku dari ibuku, maka aku akan memisahkan kau dari putramu. Seandainya kau memiliki sedikit saja sifat baik Luca maka ini semua tidak akan terjadi," batin Zelene memainkan gelas anggur ditangannya.


Prang!


Zelene tidak sengaja menjatuhkan gelas anggurnya ke lantai. Saat ia berniat ingin masuk ke dalam untuk meminta pelayan membersihkan lantai tersebut. Namun ia malah tergelincir, dan jatuh dari balkon.


Teriakan sangat kencang Zelene terdengar jelas oleh para pelayan, spontan para pelayan berlari hendak menangkapnya. Namun sayang sekali mereka terlambat, para pelayan itu tidak berhasil menggapai tangan Zelene yang telah jatuh dari lantai 4.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘