The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 101 Tidak pantas untuk Vanessa



Setelah selesai melepas rindu mereka duduk bersama yang lainnya, lalu Albert menceritakan bagaimana mereka yang terombang-ambing di lautan sampai di temukan di lautan desa elf oleh seorang nelayan.


Mereka tidak bisa kembali karena Charlize belum ingin kembali, ia tidak tau ada bahaya apa yang menanti mereka di luar sana. Mungkin saja orang-orang Babel sedang mencari mereka, dia adalah orang yang licik.


"Apa kau rindu padaku karena kau sudah mencintaiku?" tanya Charlize, ia ingin menggoda Isabella.


"Ya. Aku menyadari perasaanku saat kau menghilang, malamnya saat kau pergi kau mengirim aku telepati. Telpatinya tidak bisa mengkhianati Isabella, aku sangat cemas lalu yang aku dapat adalah kabar hilangnya kau tersebar di ibukota. Ibu bahkan sangat cemas dan selalu murung aku sendiri tidak tau bagaimana menghibur ibu, aku takut kau tidak akan kembali. Charlize menikahlah denganku, kau mau tidak?" tanya Isabella. Wajah Charlize seketika memerah karena Isabella bertanya saat semua orang masih di sini.


"Ah! ayah, sebenarnya tujuan aku datang ke mari karena aku ingin meminta restu ayah. Aku dan Aisnley akan menikah di hari yang sama dengan Isabella," ucap Fil menggenggam tangan Fil.


"Hah? ka-kalian?" Achlys terkejut sama seperti Isabella, lamaran untuk Charlize jadi terganggu karena Fil.


"Maafkan kami, kami berpikir untuk menyembunyikannya karena nanti bisa saja membuat kita jadi canggung. Kami sudah bersama sejak perang diperbatasan," jawab Aisnley tersipu malu.


"Mereka berdua sudah mendahuluimu, kau akan tertinggal paman," ejek Luca pada Bara.


Setelah itu mereka berbincang sambil makan siang bersama, saat makan siang selesai yang lainnya istirahat Isabella pergi ke dalam hutan di sana ada tim penebang pohon yang sedang melepas lelah.


"Woah! cantiknya!" semua elf di sana terpukau melihat Isabella, Isabella mengedarkan pandangannya melihat di mana Mira bersama neneknya. Ia menemukan mereka sedang makan bersama tanpa bergabung dengan yang lainnya, mereka memang suka makan di satu tempat dari pada pindah tempat hanya karena ingin makan bersama.


"Hai Mira, apa kabar?" sapa Isabella tersenyum.


"Hah? siapa?" tanya Mira mengerutkan keningnya.


"Eh! hahahah, wajar saja kau tidak mengenaliku." Isabella memakai cincin penyamarannya menjadi Allred, "Tada. Sekarang sudah kenal kan?"


"K-kakak? ka-kau … tadi itu apa?" Mira kebingungan sampai tidak tau harus apa.


"Allred adalah identitas samaran, yang aslinya adala Isabella. Karena beberapa alasan kakak harus menyamar, apa kabarmu?" tanya Isabella melepaskan lagi cincinnya.


"Kabarku baik, aku merindukan kakak." Mira memeluk Isabella dengan erat, "Nenek kau lihat, kakak sudah kembali bahkan masih ingat kita."


"Lama tidak bertemu Allred, kau terlihat cantik hari ini. Terima kasih masih mengingat orang tua dan cucunya yang nakal ini." Nenek mengelus kepala Isabella.


"Woah! Allred ternyata wanita."


"Allred, kau sangat cantik. Kami pikir tadi bangsawan dari luar desa datang bersantai."


"Hahahah, siapa yang menyangka pria penebas pohon tercepat dan terbanyak adalah wanita cantik."


Karena waktu istirahat telah habis Isabella dan Mira meminta pekerja lain untuk tetap istirahat, lalu keduanya berlomba siapa yang memotong pohon paling banyak dan cepat. Kedua orang itu sangat hebat walau pun Isabella jauh lebih unggul, mereka tetap menghabiskan semua pohon yang harus di tebang hari ini hanya dalam waktu 1 jam saja.


"Lelahnya." Isabella berbaring di rerumputan sedangkan Mira tertidur di sampingnya karena kelelahan.


Albert datang lalu duduk di samping Isabella, "Maafkan aku, Nona Isabella. Semua masalah yang menimpa kau dan Charlize itu karena aku, andai saja aku tidak salah paham padamu dan tidak membawa Samantha mendekati Charlize maka ini semua tidak akan terjadi."


"Maaf pun sudah tidak ada gunanya lagi, Samantha sudah di penggal, Charlotte sudah tiada karena racun bersama Babel," balas Isabella.


"Hukumanku tidak seberat mereka karena aku seorang putra mahkota, aku sadar dirikulah jahat bukan dirimu. Aku akan meninggalkan Vanessa serta gelarku dan hidup di pengasingan selamanya, aku tidak pantas untuk Vanessa."


"Baguslah kalau kau sadar diri. Menilai orang lain saat kau sendiri tidak mengenalnya itu adalah hal yang buruk, maka dari itu lihatnya seseorang dari berbagai sudut pandang. Penjahat tidak selamanya melakukan kejahatan."


"Kelak nanti kita tidak akan bertemu lagi, aku juga tidak berniat kembali ke ibukota. Sampaikan maaf ku pada Vanessa."


"Kalau di sampaikan juga percuma, dia tidak akan mendengarkannya. Aku tau kau sudah salah. Tapi tidak benar kau memutuskan hubungan dengan dia secara sepihak, luka yang kau berikan sudah cukup banyak dan pergi bukanlah solusinya. Selesaikan masalah ini layaknya seorang pria, karena perginya dirimu akan membuat luka baru pada orang-orang tertentu. Makasih sudah menjaga Charlize."


"Vanesaa, biasanya sangat menurutimu. Kenapa dia tidak akan mendengarkanmu? kau adalah kakak terbaik baginya, dan tolong jangan berterima kasih padaku karena semua masalah Charlize memang salahku. Dia adalah sahabatku."


"Seperti kau menyelamatkan Charlize untuk menebus kesalahanmu maka lakukan hal yang sama pada adikku. Dia terkena racun 100 bayangan cinta, walau pun racunnya sudah dihilangkan. Tapi Luca sendiri tidak tau kapan dia akan bangun, sampai saat ini dia belum bangun. Kembalilah bersama kami dan jaga dia seumur hidupmu untuk menebus kesalahanmu pada kami berdua." Isabella bangun dari tidurnya lalu ia beranjak pergi.


"Kakak itu hatinya sangat baik dan selembut awan. Siapa pun akan menyukainya, termasuk aku. Pelan-pelan kau akan mengerti kakak," 


Ucapan Vanessa saat itu dibenarkan oleh Albert saat ini, bohong jika Isabella tidak punya dendam pada Albert. Namun Isabella juga tidak bisa menghakimi Albert karena Vanessa sendiri sangat mencintai pria itu, tokoh utama pria dalam novel ini memang sudah seharusnya membenci antagonisnya.


Isabella kembali ke kediaman Aaron dan duduk bersama Charlize, banyak hal yang ingin Charlize tau seperti apa alasan dia menyamar sebagai Allred. Isabella menjawabnya tanpa ada yang di tutupi, walau pun demikian entah ucapan Isabella bohong atau tidak Charlize juga tjdak akan peduli karena baginya Isabella selalu benar sampai kapan pun.


Beberapa hari kemudian mereka semua meninggalkan desa elf bersama, para warga desa mengantar mereka dengan berlinang airmata. Sayangnya mau bagaimana lagi, mereka harus cepat kembali. Agar jarak tempuh  bisa semakin dekat, mereka naik perahu angin yang membuat lokasi antara desa elf dan ibukota menjadi sangat dekat.


Sesampainya di kediaman Abraham, Cedric mengatakan jika kondisi Vanessa masih belum ada perkembangan. Ia masih tertidur tanpa diketahui kapan ia akan bangun, Luca tetap rutin mengontrol kondisi Vanessa sampai ia memutudkan untuk tinggal di kediaman Abraham tidak bersama Bara dan Fil.


"Cepatlah bangun! jika kau tidak bangun juga maka jangan salahkan kakakmu jika menikah tanpamu, tanggal pernikahan akan tentukan nanti jadi tidurnya jangan lama-lama," bisik Isabella kemudian meninggalkan kamarnya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘