The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 81 Tertangkap.



Semua dokter dan ahli ramuan berusaha keras untuk menyembuhkan Isabella. Namun hasilnya sama,  tidak ada ramuan yang bekerja dan kondisi Isabella semakin memburuk.


"Kenapa tidak bekerja? tidak ada ramuan yang tidak bisa bekerja selama ini," kesal Cedric, ada rasa aneh di hatinya melihat Isabella terbaring tidak sadarkan diri karena biasanya dia selalu berulah.


Wush!


Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang membuat pintu teras balkon yang ada di kamar Isabella terbaring langsung terbuka, bahkan tirai berterbangan.


Ternyata angin itu adalah angin milik Fil, mereka turun dari udara  tepat di teras balkon. Setelah kaki mereka menginjak lantai mereka pun langsung berlari ke dalam kamar dan menghampiri Isabella.


"Siapa kalian? kenapa kalian …."


"Kekuatan Elemen, akar pengikat." Fil menggunakan kekuatannya untuk mengikat tubuh semua kesatria yang berniat menangkap mereka.


"A-apa ini? Isabella terluka parah? bagaimana bisa seperti ini?" tanya Luca menyentuh wajah Isabella yang pucat pasi.


"Aisnley. Siapa mereka semua ini? kenapa mereka datang bersamamu?" tanya Cedric, ia mengenal hanya Aisnley seorang sebagai pelayan Isabella.


"Kita bicarakan itu nanti," singkat Aisnley. Saat ini ia tidak ingin fokusnya teralihkan dari Isabella.


"Apa kau bisa mengobatinya Luca? tulang kakinya patah, kepalanya terluka parah, dan dia kehilangan banyak darah. Jangan sampai kondisi lebih memburuk lagi," ucap Bara memeriksa luka di tubuh Isabella.


"Siapa yang bisa melukai Isabella sampai separah ini? pasti pelakunya menggunakan trik," tambah Fil.


"Apa kalian bisa menyembuhkannya? aku tidak ingin dia kenapa-napa. Aku akan melakukan apapun yang kalian minta dengan segera asal dia baik-baik saja," ucap Charlize.


"Duke Arsena?" Bara terkejut melihatnya, "Anda tidak perlu berkata sampai seperti itu, Isabella adalah teman kami jadi kami akan melakukan apapun agar dia baik-baik saja."


"Itu percuma. Segala macam ramuan dan kekuatan penyembuh dari ahli ramuan tidak bekerja padanya, kami sudah mencoba tadi," ucap dokter yang bertugas.


"Bodoh! tentu saja ramuan kalian tidak bekerja padanya, dia ini kebal akan racun dan ramuan biasa saja hanya akan sia-sia dalam tubuhnya karena terlalu banyak racun didalam tubuhnya yang akan menekan ramuan yang masuk, lalu dengan kemampuan kalian ahli ramuan yang belum diasah dengan baik hanya akan membuang-buang tenaga kalian," jelas Luca.


Luca meletakan tangannya di kepala Isabella lalu ia memejamkan matanya, "Kekuatan penyembuhan, berkah dewa."


Cahaya hijau dari tangan Luca membuat luka di kepala Isabella langsung sembuh, bahkan  tulang kakinya patah dalam sekejab membaik. Hanya saja Luca tidak bisa memulihkan tenaga Isabella, wajah Isabella tetap pucat serta belum terlihat tanda-tanda Isabella akan sadarkan diri.


"Dia akan sadar besok. Aku akan merawatnya sendiri sampai dia sembuh karena hanya aku yang tau seperti apa tubuh Isabella," ucap Luca. Membuat  semua orang yang ada di sana merasa lega.


Setelah itu Fil dan Bara pergi ke tempat Isabella jatuh, di sana ada beberapa kesatria yang sibuk mengangkat bebatuan dari lantai yang runtuh.


"Katanya petir menyambar tempat itu. Aku merasa ini bukan petir biasa, aku akan mencari petunjuk di sekitar sini." Fil berjalan menunduk melihat apa saja yang mungkin merupakan jejak penyerangan.


"Fil, aku mendapatkan jepitan rambut." Bara memberikan sebuah jepitan yang tidak lain adalah milik Taylor.


"Kekuatan Elemen, perahu angin." Fil bersama Bara dengan cepat mengambang di udara, "Angin ku mohon tuntunlah kami ke tempat pemilik jepitan ini berada."


Jepitan itu langsung melesat dengan cepat di udara sementara Fil dan Bara mengikuti jepitan itu, mereka terbang ke tempat yang jauh dari pusat kota sampai ke permukiman tua. Jepitan itu jatuh tepat di depan rumah Taylor, dari dalam rumah tersebut Fil dan Bata mendengar ada suara tangis anak kecil dan suara perdebatan.


"Kakak membunuh seseorang lalu kakak ingin kita pergi meningglkan rumah ini, aku tidak mau. Rumah ini adalah rumah orang tua kita, jika kakak ingin pergi maka pergilah sendiri jangan ajak aku dan Cony," teriak Kesha.


"Aku tidak mau meninggalkan rumah ini dan semua kenangan orang tua kita, jika kakak ingin menebus kesalahan kakak maka kakak harus menyerahkan diri pada kakak orang yang kakak sakiti itu."


"Aku … aku tidak bisa, aku melihat yang jatuh dari lantai itu bukan orang yang ku incar. Tapi orang lain, kakak takut."


Brak!


Bara membuka pintu rumah Taylor membuat penghuni rumah itu terkejut, lalu Fil muncul dari belakang Bara.


"Kau ingin pergi setelah melukai saudari kami? aku tidak tau apa masalahmu dengannya. Tapi aku tidak akan membiarkan kau pergi, kau harus diadili oleh saudari kami." Fil menggunakan kekuatannya untuk membuat Taylor terkurung dalam penjara berbentuk sangkar burung itu.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Kesha, ia berusaha membuka pintu sangkar tersebut. "Lepaskan kakakku, tolong jangan sakiti kakak."


"Kakakmu melakukan kesalahan maka dia harus di hukum. Nyawa orang yang ia celakai berada dalam bahaya, dia harus bertanggung jawab. Keluarga Abraham tidak akan mengampuni kakakmu sama halnya dengan kami," balas Fil.


"Bara, tolong bawa sangkar itu!" pinta Fil, Bara mengangguk lalu ia mengangkat sangkar itu dengan tangannya yang besar.


"Jangan bawa kakak! lepaskan dia, lepaskan dia." Cony memukul kaki Bara. Namun Bara tidak merasakannya, suara tangisan Cony menjadi sangat kencang saat Fil dan Bara terbang kembali ke kerajaan.


*****


Jasper kembali ke kediaman Oswald setelah melihat keadaan Isabella, ia merasa semua tenaganya hilangnya melihat betapa buruknya Isabella yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Jasper, kau dari mana saja? apa orang-orang aneh itu sudah kembali? mereka sangat khawatir dengan Isabella seperti Isabella tidak bisa menjaga diri sendiri saja," ucap Callix. Ia menghampiri Jasper yang duduk diam di teras depan kediaman mereka.


"Masuklah! ini sudah waktunya tidur, aku harus menutup pintu sekarang," ucap Audrey menguap.


"Ayo masuk Jasper, ini sudah larut." Callix berjalan lebih duku masuk ke dalam. Tapi tidak dengan Jasper, ia masih tidak bergerak dari tempatnya.


Melihat itu Audrey pun bertindak, ia meraih tangan Jasper dan berusaha menariknya agar berdiri, "Jasper berdirilah! aku tidak punya banyak waktu untuk kau yang suka berulah, ini sudah waktunya tidur dan kita harus tidur awal karena besok harus bangun sebelum matahari terbit."


"Cepatlah Jasper! ada apa denganmu? apa Isabella memarahimu sampai kau bersikap seperti ini? kami tidak punya waktu meladenimu. Aku sangat mengantuk," tambah Callix.


"Tidur dan mengantuk, apa hanya itu yang ada di otak kalian?" teriak Jasper, ia berdiri seraya melepaskan tangannya dari genggaman Audrey.


"Kenapa kau? jika kau dapat masalah di luar sana jangan bawa ke dalam rumah, kami bukan tempat kau melampiaskan amarahmu," jawab Callix dengan nada suara meninggi.


"Melampiaskan amarah katamu? kalian tidak tahu apa yang telah terjadi pada Isabella, di saat semua orang khawatir dengan kondisi Isabella kalian malah memikirkan jam tidur dan mengantuk," balas Jasper.


"Kenapa kalian khawatir dengan Isabella? apa yang terjadi padanya? dia hanya ke perjamuan saja kan, apa yang perlu di khawatirkan. Lagi pula apa hubungan orang-orang aneh itu dengan Isabella? hanya karena Isabella menganggap Allred sebagai kakaknya bukan berarti mereka juga dekat dengan dia," timpal Audrey.


"Kalian tidak tau jika Allred itu adalah identitas samaran dari Isabella, mereka khawatir pada Isabella karena Isabella dan Allred adalah dua orang yang sama. Lalu sekarang Isabella sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan kondisi yang buruk sebab dia jatuh dari ketinggian, Luca sudah mengobati semua lukanya. Tapi terlihat seperti tidak ada yang berubah, Isabella masih saja pucat pasi dan belum sadar," jelas Jasper membuat 2 pria yang bersamanya terkejut, ini adalah kabar tidak terduga bagaikan petir di siang bolong. Jasper membongkar identitas Isabella yang lain karena terlalu kesal, ia tidak sadar dengan ucapannya karena saat ini pikirannya sedang kacau.


****


Bersambung


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘