
"Kalian lihat itu?" tanya Diana kepada 3 pelayan yang akan menjadi pelayan pribadi Isabella, Diana juga adalah pengasuh sih kembar yang sangat membenci kedatangan Isabella.
"Kalian bertugas untuk menyakiti wanita itu, lalu buat dia menderita sampai memohon belas kasih pada kalian. Kita mungkin tidak bisa berbuat apa-apa pada Vanessa karena duke, tapi kita bisa berbuat macam-macam pada wanita kelas rendah itu karena tidak ada yang berpihak padanya. Kalian harus ingat baik-baik ini, Jenni, Marry, dan Yulia," ucap Diana dipatuhi oleh ketiga wanita tersebut.
Vanessa sangat antusias dengan keramahan Isabella padanya, Isabella pun tidak bisa menolak Vanessa setelah melihat betapa manisnya gadis berusia 17 tahun tersebut.
Vanessa mengantarkan Isabella ke kamar yang akan ia tempati, tidak lupa Vanessa juga memperkenalkan ketiga pelayan yang akan melayani Isabella ke depannya.
"Kakak selamat istirahat. Aku akan datang memanggil kakak untuk makan malam nanti, kita akan makan malam bersama ayah karena kebetulan ayah sedang dalam perjalanan pulang. Sampai jumpa lagi saat makan malam." Vanessa melambai pada Isabella kemudian berjalan keluar dari kamar, bahkan ia tidak lupa menutup pintu kamarnya.
"Lelah sekali …." Isabella langsung berbaring diatas sofa, karena duduk untuk waktu yang sangat lama membuat punggungnya sakit.
Bugg!
Suara koper Isabella yang terjatuh, mendengar suara itu Isabella langsung bangun dan mendapati Marry bersama Yulia hendak membuka kopernya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Isabella yang mendapatkan tatapan tajam dari kedua gadis tersebut.
"Kami hanya ingin merapikan barang bawaan anda saja, kenapa? apa anda berpikir kami akan mencuri? anda tenang saja karena kami tidak akan melakukan itu pada rakyat biasa yang baru saja menjadi bangsawan," sinis Yulia.
"Lagi pula apa yang bisa di curi dari anda, anda kan hanya baroness yang jatuh miskin," ejek Marry.
"Mereka bukan orang yang pilihkan oleh Vanessa," batin Isabella. Ia merasa hidup di kediaman ini tidak akan mudah, di hari pertama saja sudah bertemu dengan pelayan yang menujukan kebenciannya.
Brak!
Diana membanting pintu kamar Isabella membuat pemiliknya terkejut, ia tidak tau jika seorang pelayan bisa juga bersikap selancang itu pada majikan mereka.
"Bersiaplah untuk mandi. Kediaman ini tidak bisa kotor kalau ada yang kotor harus cepat dibersihkan agar kotorannya tidak merambat ke mana-mana," sindir Diana.
Isabella kali ini diam saja, ia tidak mau membuat keributan di hari pertama kedatangannya lagi pula di kehidupan sebelumnya ia sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan saat tiba di kamar mandi, para pelayan di sana juga sangat kasar padanya. Mereka memijat tubuh Isabella sampai membuatnya meringis kesakitan tidak hanya itu saja, cara mereka menggosok tubuh Isabella tidak benar sampai meninggalkan bekas memerah. Namun sayangnya Isabella harus sabar, cepat atau lambat ia akan membuat perhitungan dengan para pelayan ini.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Isabella akhirnya bisa tidur di kasur yang empuk. Para pelayan kasar itu sudah pergi dari kamar sejak tadi, mereka bahkan tidak melayani Isabella saat berganti pakaian.
"Kakak, bangunlah! ayo bangun." Vanessa mencolek pipi Isabella untuk membangunkannya, Isabella yang merasa terganggu berniat ingin membentak orang yang sudah berani mengganggunya. Namun saat melihat siapa pelakunya, Isabella tidak bisa membentaknya karena Vanessa terlalu menggemaskan untuk dibentak.
"Kakak sangat cantik." Vanessa tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Isabella, sebenarnya sudah sejak tadi Vanessa terpesona dengan wajah Isabella yang tetap cantik bahkan saat tidur. Perilaku Vanessa yang terlalu dekat dengan Isabella ini justru membuat ketiga pelayan itu merasa khawatir, mereka khawatir jika nanti Isabella menendang Vanessa dari atas ranjang karena merasa terganggu.
"Terima kasih. Katakan padaku kenapa kau membangunkan aku?" tanya Isabella. Ia membelai lembut rambut Vanessa.
"Ayah ingin menemui kakak, ayo pergi bersama," jawab Vanessa masih tetap memeluk Isabella.
Isabella mengangguk lalu ia melepaskan pelukan Vanessa dan turun dari ranjang, melihat hal itu ketiga pelayan tersebut akhirnya bisa bernafas lega. Namun mereka kembali tegang saat Isabella menggendong Vanessa dari atas ranjang, berjalan sampai ke sofa. Ketegangan mereka hilang saat Isabella menurunkan Vanessa dengan lembut ke atas sofa.
"Kakak sangat kuat. Apa kakak sering berolahraga?" tanya Vanessa pada Isabella yang sedang merapikan penampilannya di depan cermin.
"Jika kuat mungkin saja aku memang sedikit kuat, kata orang-orang di desa aku jauh lebih kuat dari anak-anak pria yang seusia denganku," jawab Isabella.
"Kehidupan seperti apa yang sudah kakak jalani, ini semua terjadi karena aku. Jika saja aku tidak minta untuk diadopsi mungkin saja kakak bisa hidup bahagia," batin Vanessa kembali dihantui perasaan bersalah.
"Ayo kita pergi." Uluran tangan Isabella membuat Vanessa tersadar kembali.
"Ya, aku akan menebus kesalahan itu dengan membuat kakak menjadi duchess. Saat itu kakak akan mendapatkan kembali kehidupannya yang aku rebut darinya," batin Vanessa tersenyum bahagia, dan menyambut uluran tangan Isabella.
"Nona Vanessa dilarang masuk. Duke hanya ingin bertemu dengan Nona Isabella," ucap para kesatria yang menjaga di depan pintu ruang kerja Cedric.
"Tapi kan …." Vanessa ingin membantah. Namun Isabella memberinya isyarat untuk tetap tenang, barulah setelah itu Vanessa setuju menunggu Isabella didepan ruang kerja Cedric.
"Eh! ada apa ini? kenapa kau tidak masuk? dilarang yah?" tanya Carolina yang memang sejak tadi ingin menghampiri Vanessa setelah Isabella masuk.
"Ayah hanya ingin bertemu dengan kakak. Mungkin saja ayah …."
"Sudah membuangmu," sambung Carolina memotong ucapan Vanessa, "Kasian sekali kau. Di hari pertama putri asli datang sudah terlihat tanda-tanda dirimu akan dibuang, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai kau benar-benar diusir dari kediaman ini."
"Ayah tidak akan melakukan itu. Aku kenal ayahku dengan baik, ayah sudah mengatakan jika dia sangat menyayangiku. Jika ayah adalah orang kejam seperti yang kau pikirkan maka ayah sudah lama mengusir kau bersama Charlotte dari kediaman ini, karena kalian berdua tidak memiliki hubungan darah atau pun hati dengannya."
"Kau salah Vanessa. Kami memang tidak punya hubungan seperti itu dengan ayah, tapi cepat atau lambat hubungan itu akan terjalin. Ayah tidak akan bisa mengusir kami karena dibelakang kami ada ibu. Tapi di belakang Isabella ada siapa? tidak ada. Dia hanyalah gadis kelas rendah yang bahkan tidak diakui oleh ayahnya sendiri."
"Kakak memiliki aku dibelakangnya dan darah keturunan Abraham ada di dalam tubuhnya, jika dia ingin maka dia bisa mengusir ibu bersama dengan kalian dari kediaman ini. Sampai saat itu terjadi bahkan ayah sendiri hanya bisa memalingkan wajahnya dari kalian," ucapan Vanessa membuat Carolina terdiam. Semua yang ia katakan memang ada benarnya, dan untuk mencegah hal itu terjadi Elena ingin sih kembar menjalin hubungan baik dengan Isabella.
"Aku berharap ibu benar jika Isabella itu adalah wanita yang jahat. Aku harus memenangkan hatinya dan meminjam tangannya untuk mengusir Vanessa dari sini, berapa hari terakhir Vanessa mulai menunjukan taringnya pada kami jika Isabella berada dipihaknya maka balas dendam kami akan sepenuhnya gagal," batin Carolina yang menunggu Isabella keluar dari dalam ruang kerja Cedric.
*****
Bersambung
Silakan tinggal jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangat berarti😘