The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 49 Penghancur hadiah



"Apa maksudmu Azar?" Cedric terkejut dengan apa yang dikatakan Azar .


Azar memalingkan wajah dari Cedric sebab dirinya tidak sanggup melihat wajah majikannya, "Saya … saya telah membuat kesalahan besar, pria ini telah menuduh Nona Isabella yang tidak tidak."


Cedric mengerutkan keningnya, ia masih tidak paham dengan apa yang Azar katakan.


"Jelaskan dengan benar Azar," bentak Cedric.


"Pria ini tadi tiba-tiba menantang rekannya untuk berduel, lalu dia kalah dalam duel tersebut. Setelah kalah bukannya kesal ia malah senang, dan saya tidak akan menduga jika ia memanfaatkan kekalahannya itu untuk menuduh nona jika telah nona menyakitinya. Itu semua tidak benar, dia hanya sakit hati atas perlakuan nona pada pelayan wanita ia cintai. Padahal pelayan itu hanya memanfaatkan dia, dan dia dengan bodohnya percaya pada pelayan itu," jelas Azar.


"Itu tidak benar," sanggah kesatria tersebut, "Nona menyakiti saya itu adalah sebuah kebenaran."


"Kebenaran katamu? apa kau berpikir aku buta? aku jelas-jelas melihat kalian dari jendela sedang bersorak dan aku tidak melihat ada nona di sana, bahkan semua kesatria di lapangan saat itu juga mengatakan hal yang sama."


"Itu tidak benar. Nona jelas-jelas datang bahkan …."


Bug!


Azar memukul kesatria itu lagi sebelum ia membuat masalah semakin besar, jika masalah menjadi sangat besar maka Azar agar dipermalukan sebagai komandan yang tidak bertanggung jawab.


Cedric memijat kepalanya yang mulai merasa pusing. Setelah itu Cedric menjatuhkan hukuman pada kesatria itu dan Yulia, mereka diusir dari kediaman tanpa surat rekomendasi dari duke.


Isabella meregangkan tangannya sambil berjalan menyusuri lorong di lantai 3, lorongnya sangat gelap karena minimnya pencahayaan.


"Nona Isabella," panggil Azar dari balkon. Isabella berhenti melangkah lalu mengalihkan pandangannya ke balkon.


"Kau masih punya muka memanggilku? dasar tidak tahu malu," ejek Isabella.


"Masih punya muka? apa maksud anda? apa anda masih kesal karena ulah kesatria itu?" 


"Kau benar-benar lupa? pedangmu itu pernah menusuk pundakku." Isabella menujuk pedang Azar lalu menujuk pundaknya.


"Anda punya ingatan yang cukup baik. Saya saat itu hanya melakukan tugas yang …."


"Seorang kesatria menyerang gadis yang sedang tidur, menurutmu berita itu akan menjadi berita panas atau tidak?" tanya Isabella memotong ucapan Azar.


Azar tersenyum canggung seraya menjawab, "A-apa yang anda bicarakan? saya kan saat itu hanya melalukan tugas saya saja."


"Hhhmmm," Isabella nampak berpikir selama beberapa saat, "Kalau begitu berita itu akan semakin panas, aku dengar kau sangat terkenal di kalangan nona bangsawan. Jika aku bicara sedikit saja tentang kejadian waktu itu maka apa yang akan terjadi yah? apa pun itu pasti menyenangkan."


"Dasar bodoh! anda pikir ini adalah desa tempat tinggal anda? anda terlalu naif. Gadis cantik yang telah masuk berita panas dihari pertama ia menjadi bangsawan, siapa yang akan percaya pada ucapannya? hahahaha, Nona Vanessa yang anda sakiti itu adalah ratu sosialita. Banyak bangsawan yang mendukung Nona Vanessa dan anda tau apa yang terjadi jika para pendukungnya itu melihat anda? anda akan dipermalukan seumur hidup anda," cemoh Azar. Ia memperlihatkan sikap aslinya.


Isabella tersenyum lalu memperlihatkan batu rekaman miliknya pada Azar, saat batu itu diketuk maka batu tersebut akan memperlihatkan adegan yang direkam olehnya.


"Bagaimana? ini bukti bagus kan?" tanya Isabella. 


"Bagaimana bisa dia mendapatkan batu yang hanya ada 2 dikekaisaran ini? batu itu hanya ada didesa para elf, sulit untuk mendapatkannya," batin Azar.


Azar dengan cepat merampas batu tersebut lalu menghancurkannya dalam sekejab, "Maafkan saya nona, tangan saya terlalu licin sampai merusak batu nona."


"Licin yah? haduh tanganku juga licin," Isabella sengaja mengeluarkan banyak sekali batu rekaman yang memiliki rekaman adegan tersebut didalamnya.


"Bagaimana? aku ini gadis naif atau tidak?" tanya Isabella mengukir senyum manis dibibirnya.


"Aku pergi dulu yah, selamat malam." Isabella langsung beranjak pergi sambil bersenandung.


Azar terkulai lemas dilantai lorong itu, ia tidak akan menduga jika Isabella sangat jahat. Azar menghancurkan semua batu itu dengan pedanganya, ia akan mencari cara untuk membicarakan tentang batu itu dengan Isabella.


Seminggu kemudian.


"Hiks hiks hiks hiks," Vanessa hari ini lagi-lagi menangis karena Isabella, Isabella telah menghancurkan lukisan potret yang ia buat dengan susah payah.


Beberala menit yang lalu.


Selesai sarapan Isabella tidak punya pekerjaan lain, jadi ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Tapi karena sih kembar ada di sana ia tidak mau masuk, baginya sih kembar itu adalah pengganggu. Ia ingin bermain dengan Selina sayangnya Selina tidur sejak tadi, tidurnya sangat nyenyak sampai Isabella tidak tega membangunkannya.


"Tolong bawa ke sini." Vanessa memerintah para pelayan membawa sebuah kanvas yang besar ke dalam kamarnya.


"Apa itu?" tanya Isabella pada Vanessa.


Bukannya menjawab Vanessa malah diam saja, ia meminta para pelayan untuk bergegas membawa kanvas itu masuk.


"Sebentar!" Isabella menahan kanvas tersebut lalu ia membuka kain yang menjadi penutup kanvas.


"Apa ini? lukisan keluarga bahagia? siapa yang memberimu izin untuk melukisku, huh?" Isabella bertanya pada Vanessa yang terdiam dengan wajah pucat.


"Jawab aku!" bentak Isabella membuat Vanessa tersentak.


"Karena kau tidak jawab. Aku berhak bukan mengambil lukisanku, karena kau telah melukis diriku tanpa izin," lanjutnya lagi.


"Jangan kakak!" Vanessa menahan tangan Isabella agar tidak merusak lukisan tersebut, "Ini hadiah ulang tahun untuk ayah."


"Dia ayahmu bukan ayahku jadi pakai saja lukisan kalian berdua. Kalian berdua tidak pantas berdiri disamping ku bahkan dalam lukisan sekali pun." Isabella memukul kanvas tepat dibagian lukisannya, seketika Vanessa langsung terduduk di lantai. Sekujur tubuhnya gemetar menahan isak tangis, Isabella telah merusak kerja kerasnya selama seminggu.


"Maafkan aku Vanessa. Jika aku tidak merusaknya sebelum hari ulang tahun ayah, maka orang suruhan duchess yang akan merusaknya tepat dihari ulang tahun ayah. Kau yang tidak menyadari jika lukisan tersebut telah rusak lalu akan menyerahkannya pada ayah. Ayah akan membuka lukisan itu dihadapan banyak orang, dan kau akan dipermalukan karena itu. Aku tidak mau itu terjadi," batin Isabella yang berlalu meninggalkan Vanessa begitu saja.


Tangisan Vanessa akhirnya pecah dalam pelukan pelayan pribadinya Jovanka, ia tidak berhenti menangis sejak sejam yang lalu saat mengingat bagaimana Isabella menghancurkan lukisannya tersebut


Prang!


Vanesaa dan Jovanka dikejutkan dengan bunyi sesuatu yang pecah dari luar, karena penasaran Jovanka mengajak Vanessa melihat apa yang terjadi di luar.


"Apa yang kakak lakukan? itu hadiah untuk ayah," teriakan Carolina dari lantai dua terdengar sampai ke lantai 3, mendengar itu Vanessa dengan cepat menyusuri lorong lantai 3 lalu menuruni setengah anak tangga untuk mendengar apa yang terjadi.


"Untuk apa kesal begitu kan bisa beli yang baru. Lagian ini hadiah ulang tahun ayah jadi jangan pelit-pelit," jawab Isabella.


"Kakak begini karena tidak punya hadiah untuk ayah kan? jadi kakak sengaja merusak hadiah orang lain agar … umph" Carolina tidak bisa bicara lagi karena Charlotte menutup mulutnya.


"Kakak jangan khawatir. Ini hanya vas bunga saja, kami bisa beli yang lebih bagus lagi," ucap Charlotte, ia memang pandai memperbaiki suasana.


"Baguslah. Setidaknya otakmu tidak sedangkal otak suadari kembarmu, ya sudah aku pergi dulu." Sama seperti pada Vanessa, kali ini Isabella juga langsung pergi begitu saja tanpa perasaan bersalah sedikit pun.


"Kau harus tenang. Kata ibu kita harus memenangkan hatinya, jika ibu tidak peduli padanya maka ibu sudah menghukumnya sejak dulu," Charlotte menasehati Carolina yang tidak bisa menahan diri didepan Isabella.


"Kakak merusak hadiah mereka juga. Kenapa kakak begitu?" batin Vanessa yang tidak habis pikir dengan sikap Isabella.


****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘