The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 34 Aroma jasmine



Pernikahan antara Duke Cedric dengan seorang Baronees akhirnya tiba, pesta pernikahannya dibuat mewah dan meriah karena akan dihadiri oleh banyak bangsawan dari berbagai kalangan.


Selang 2 hari setelah pesta selesai maka Baronees itu resmi menjadi duchess dan membawa 2 putrinya ke Kediaman Abraham dengan izin Cedric.


"Selamat datang ibu," Sapa Vanessa saat Elena sampai bersama dua putrinya, "Mari, Vanessa akan mengantarkan ibu ke kamar yang akan ibu tempati."


"Ibu? siapa yang mengizinkanmu memanggil ibuku dengan sebutan ibu? kau seharusnya memanggil ibu dengan sebutan duchess," protes Carolina.


"Tapi kata ayah …."


"Sudahlah Carolina," Lerai Elena. "Vanessa antarkan saudarimu saja ke kamar mereka, biarkan ibu diantar oleh kepala pelayan."


Vanessa ragu untuk mengantar sih kembar karena mereka berdua terlihat sangat membencinya, ia takut jika nanti mereka melakukan hal buruk padanya.


Melihat Elena telah pergi bersama kepala pelayan, Vanessa tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa harus mengantarkan sih kembar ke kamar mereka.


Sesampainya di depan kamar mereka, Charlotte ikut menarik Vanesaa masuk ke dalam kamar lalu Carolina menutup pintu kamar tersebut.


"Rapikan semua barang-barang kami," perintah Charlotte kepada Vanessa.


"Itu adalah tugasnya pelayan pribadi kalian, ayah sudah … akh!"


Plak!


Charlotte menampar wajah Vanessa dengan keras, "Apa bedanya kau dengan pelayan? kau itu tidak memiliki darah bangsawan sama sekali, jadi kau sama saja dengan para rakyat biasa di luar sana bahkan para pelayan di sini justru lebih baik darimu karena sebagian dari mereka adalah keturunan bangsawan. Jadi sudah tugasmu mematuhi kami yang merupakan keturunan bangsawan murni."


"Kenapa kalian melakukan hal seperti ini padaku? apa salahku kepada kalian berdua? kita akan menjadi saudari kedepannya, untuk apa saling menghina seperti ini. Aku adalah putri yang diakui duke jadi aku telah resmi menjadi bangsawan seperti kalian, sekali pun aku seorang rakyat biasa kalian tetap tidak punya hak merendahkan aku," balas Vanessa.


Charlotte menendang perut Vanessa membuat gadis malang itu meringis kesakitan, "Kau adalah wanita penggoda. Karena kau tunangan kami memutuskan hubungan dengan kami, jadi itulah salahmu pada kami. Bukan hanya itu saja, Atas dasar apa kau yang tidak memiliki darah Abraham bisa tinggal di sini, kau itu hanyalah putri palsu. Setelah putri yang asli kembali maka kau akan di buang ke jalanan."


"Ayah tidak mungkin melakukan hal itu padaku. Aku adalah putrinya begitu juga dengan kakak."


"Kakak? dasar tidak tahu malu! memangnya putri yang asli telah memberikanmu hak memanggilnya begitu? kau itu hanyalah rakyat biasa rendahan."


"Kalian keterlaluan. Aku akan mengadukan kalian kepada ayah."


"Silahkan saja jika kau mau kakakmu itu mati di tangan ibu kami."


"Apa maksudmu?"


"Jika kau sampai mengadukan hal-hal buruk tentang kami kepada ayahmu, maka ibuku akan mengutus pembunuh untuk membunuh kakakmu yang tidak berguna itu," ancam Charlotte.


Vanessa membeku dengan wajah pucat pasi, ia tidak akan menduga jika keluarga barunya adalah orang yang berbahaya sementara ayahnya tidak tahu akan hal itu.


"Jadi kau harus menurut pada kami. Kau paham kan?" tanya Charlotte lagi, dan Vanessa tidak punya pilihan lain selain mengangguk.


"Kalau begitu cepat rapikan barang-barang kami lalu buatkan kami jus apel," perintah Charlotte di setujui oleh Vanessa.


Kini Vanessa harus menjadi budak sih kembar sampai Isabella kembali, karena jika tidak maka nyawa Isabella akan berada dalam bahaya dan Vanessa tidak ingin hal itu terjadi karena kebodohannya.


******


Tim Isabella berangkat menggunakan kekuatan elemental angin milik Fil menuju perbatasan, sebagai pasukan tambahan untuk guild kelinci. Isabella juga tidak lupa mengirim surat pada Jasper jika dirinya akan pulang terlambat setelah mendapatkan uang yang banyak.


Waktu tempuh 20 hari berubah menjadi 3 hari menggunakan kekuatan Fil, begitulah cara mereka berpergian selama ini.


"Ka-kau …." March terkejut melihat ketua tim Isabella ternyata adalah sahabatnya sendiri, "Ini benar-benar kejutan. Lama tidak bertemu Bara."


"Lama tidak bertemu March." Bara memeluk March selama beberapa detik, ini pertemuan pertama mereka setelah 10 tahun lamanya.


"Allred, kau pergilah melapor pada duke. Tendanya adalah tenda paling besar dengan simbol mawar berduri melilit ular, aku ingin pergi. Tapi pekerjaan masih banyak, tolong yah," pinta March.


"Baiklah!" Isabella mengangguk dan bergegas pergi menuju tempat yang dimaskud oleh March.


Saat Isabella hendak masuk ke dalam tenda besar tersebut, seorang kesatria wanita menariknya menjauh dari tenda milik duke.


"Apa yang kau lakukan di sini? di sini bukan tempat di mana kesatria bayaran busuk seperti kalian bisa masuk dan keluar seenaknya," hina wanita tersebut.


Plak!


Isabella memukul tangan wanita tersebut agar melepaskan tangannya, "Apa yang akan aku lakukan di sini, tidak ada hubungannya denganmu. Sejak kapan bawahan bisa ikut campur urusan atasannya."


"Aku bukanlah bawahan duke. Tapi tunangan duke, jadi urusan duke adalah urusanku juga."


"Tunangan katamu? ppfftt." Isabella tertawa kecil membuat wanita itu merasa terhina.


Isabella mendekati wanita tersebut dan berbisik tepat ditelingannya, "Hanya tunangan saja kan? untuk apa sombong. kata tunangan yang kau bangga-banggakan itu bisa saja lepas darimu saat duke mendapatkan wanita yang lebih baik wataknya darimu."


"Aku telah bersama duke dari kecil, kami menjadi kesatria bersama. Tidak mungkin rasanya duke bisa mendapatkan wanita lebih baik dariku, apalagi aku adalah putri bungsu kesayangan seorang marquees terhormat."


"Hahahahah. Kau itu polos atau bodoh? setelah saudara tertua mewarisi gelar ayahmu, maka kau bukan lagi putri seorang marquess melainkan lady biasa."


"Jika saat itu tiba maka aku telah resmi menjadi Duchess Arsena, Duchess Regina Arsena."


"Ada ribut-ribut apa ini, Regina?" tanya seorang pria tampan yang baru saja keluar dari dalam tenda. Pria berambut hitam dan bermata hijau yang tidak lain adalah Duke Charlize Arsena.


"Salam duke, saya Allred ingin datang melapor jika pasukan tambahan dari pasukan kelinci telah sampai berjumlah 5 orang," ucap Isabella tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Charlize.


"Bau ini ... mirip bau Isabella," batin Charlize mencium aroma Jasmine dari Isabella.


Tanpa sadar ia berjalan mendekati Isabella, Charlize bahkan sampai mendekatkan kepalanya keleher Isabella lalu menghirup aroma menenangkan yang sangat tidak asing baginya.


Melihat itu Regina terbakar api cemburu, sebab Charlize tidak pernah sedekat itu dengannya bahkan saat Regina menggenggam tangannya saja ia tidak akan senang.


"Anu … duke?" panggil Isabella. Ia mematung bahkan tidak berani bergerak sedikit saja karena kepala Charlize tepat dilehernya.


Sesaat kemudian Charlize tersadar dan langsung menjauh dari Isabella, ia berusaha tetap terlihat tenang agar tidak memalukan dirinya sendiri.


"Laporanmu ku terima. Kembalilah!" perintah Charlize yang langsung berbalik dan masuk ke dalam tendanya setelah mengatakan itu.


"Ap-apa yang kau lakukan Charlize," batin Charlize menunduk di meja kerjanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu.


"Tapi aroma itu … mirip sekali dengan aroma Isabella. Aroma unik menenangkan yang selama ini aku cari, aku telah bertemu dengan banyak wanita yang memakai parfum beraroma jasmine. Tapi tidak ada mirip seperti aroma Isabella, dan sekarang aroma itu malah tercium dari seorang pria. Apa sebenarnya hubungan pria itu dengan Isabella ku?" batin Charlize dilanda kekhawatiran.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘