The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 47 Bangunan sebelah timur



Regina terus merasa gelisah sambil  menggigit kuku jarinya, ia tidak bisa duduk dan terus mondar-mandir.


"Ya ampun, Regina. Maafkan ibu telah membuatmu menunggu terlalu lama," ucap Dara. Ia kembali menemui Regina sendirian.


Melihat sikap Dara yang tidak berubah padanya terutama Charlize tidak ikut kembali, Regina yakin jika semuanya baik-baik saja dan sekarang pasti Charlize sedang kesal karena Dara tidak setuju dengan keputusannya.


Regina berjalan mendekati Dara lalu ia menggenggam erat tangan Dara dengan mata berkaca-kaca ia berkata, "Tidak masalah ibu. Tapi bagaimana dengan Charlize? dia mendadak berkata kasar seperti itu sampai menbuatku sakit hati, aku tidak mengerti dengan cara berpikirnya."


"Lupakan tentang dia, dia adalah anak tidak berguna. Kau tidak perlu khawatir lagi tentangnya, tapi kau harus kembali sekarang. Soal pernikahan kalian kau juga tidak perlu memikirkan itu, pulanglah dan istirahat lalu serahkan semuanya padaku," ucap Dara menunjukan perhatian yang palsu.


"Baiklah, sampai jumpa nanti ibu." Regina meninggalkan Dara dengan perasaan lega, ia berpikir Dara berada dipihaknya. Ia tidak sadar dengan sikap Dara yang ingin mempermainkannya, sama seperti dia mempermainkan Charlize.


*****


Setelah makan siang Isabella pergi mencari Jeremy, ia ingin mengetahui sesuatu dari pria lajang itu. Setelah berkeliling cukup lama akhirnya ia menemukan keberadaan Jeremy.


"Selamat siang," sapa Isabella mendekati Jeremy, "Kau sudah makan siang?"


Kedatangan Isabella adalah kejutan tersendiri bagi baginya, terutama saat ini ia sedang berbicara dengan para pelayan jadi kedatangan Isabela membuat suasana menjadi tegang.


"Belum, saya akan makan nanti. Apa nona perlu sesuatu?" tanya Jeremy. Tidak lupa ia memberikan isyarat kecil kepada para pelayan itu untuk cepat pergi, para pelayan yang paham langsung membungkuk dan pergi secepat kilat.


"Bagaimana jika kita makan siang bersama, kau mau?" tawar Isabella membuat Jeremy terkejut.


"Tapi kan nona …." 


"Lupakan itu. Siapa yang bisa makan sampai kenyang jika makan bersama orang-orang aneh, kau tenang saja aku yang akan memasak untukmu," potong Isabella.


"Nona bisa memasak?"


"Kenapa? kau tidak percaya? ck! kau jangan meremahkan aku, selama ini aku tinggal sendiri jika tidak bisa masak maka aku akan makan apa. Ayo tunjukan dapurnya," ajak Isabella.


Jeremy merasa ada sesuatu yang hangat mengalir didalam tubuhnya, tanpa sadar ia yang sudah lama berwajah datar kini kembali tersenyum.


Kedatangan Isabella lagi-lagi membuat suasana tegang, para pelayan yang tengah makan siang seketika mematung saat melihat Isabella.


"Aku tau aku cantik. Kalian tidak perlu terkejut seperti itu dan cepat habiskan makan siang kalian atau aku akan memotong jatah makan siang kalian," ancam Isabella berhasil membuat para pelayan makan dengan lahap.


Namun walau pun demikian tatapan mereka tidak bisa lepas dari Isabella, terutama saat Isabella mengikat rambutnya lalu memakai celemek dan mulai bergulat dengan bahan masakan.


Semua pelayan yang sedang makan saat itu merasa sangat kagum pada keahlian memasak Isabella, bahkan koki sendiri tidak berhenti terkagum dengannya.


"Makan siang siap!" Isabella menyajikan berbagai jenis makanan diatas meja, para pelayan yang saat itu masih sedang makan menjadi lapar lagi karena bau masakan Isabella yang harum.


"Kalian bisa mencicipinya jika kalian mau, asal tidak kalian habiskan. Setelah itu keluarlah karena aku perlu bicara dengan Jeremy sambil makan," tegas Isabella.


Para pelayan tersebut walau pun takut mereka tetap mengambil sedikit masakan Isabella, bahkan masih tersisa sangat banyak padahal telah diambil oleh 15 pelayan.


"Duduk," perintah Isabella, Jeremy mengangguk lalu duduk diseberang Isabella.


"Jadi aku langsung ke intinya saja. Di mana tempat latihan para kesatria?" tanya Isabella.


Isabella mengingat penjelasan itu dengan baik setelah ia benar-benar ingat, Isabella langsung beranjak pergi.


"Nona, anda mau ke mana?" tanya Jeremy sebelum Isabella keluar dari dapur.


"Jalan-jalan. Aku baru ingat jika aku sedang diet jadi kau makan saja semua makanan itu, makan pelan-pelan karena tidak ada yang akan berebut denganmu," jawab Isabella mengedipkan sebelah matanya pada Jeremy dan langsung beranjak keluar dari dapur.


Isabella berjalan ke tempat yang di maksud oleh Jeremy, lalu saat ia berhasil masuk ke dalam gerbang besar itu. Isabella terpesona melihat 2 bangunan besar yang dibangun secara terpisah tersebut.


"Apanya yang bangunan kecil? jelas-jelas ini sangat besar," gerutu Selina.


"Dia benar kok ini bangunan kecil, jauh lebih kecil dari kediaman Abraham," sanggah Isabella.


"Hah? kau benar sih. Lagi pula kediaman ayahmu itu sudah seperti kastil raja saja besarnya."


"Tidak tidak tidak, kastil raja pasti lebih besar lagi. Itu tidak bisa dibandingkan," balas Isabella.


Isabella tidak mau berlama-lama lagi, ia berjalan ke bangunan sebelah timur. Pintu gerbang untuk masuk ke dalam asrama kesatria itu terbuat dari besi, pintu besi ini terlihat sangat berat. Tapi tidak cukup berat bagi Isabella, ia sudah cukup terlatih dalam hal ini.


Isabella memusatkan semua kekuatan yang ia punya pada tangannya, Isabella menghela nafas pelan lalu membuka pintu gerbang tersebut dengan mudah.


"Selamat siang …." teriak Isabella setelah ia berhasil membuka pintu tersebut.


Teriakan Isabella memancing semua perhatian para kesatria dari yang sedang makan sampai yang sedang berlatih, bahkan mereka tidak mengedipkan mata mereka melihat sosom Isabella.


"Woah! lapangan latihannya sangat besar, bahkan di sini banyak sekali senjata," ucap Isabella mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lapangan latihan para kesatria.


"No-nona, anda datang dengan siapa?" tanya seorang kesatria datang menghampiri Isabella.


"Kadalku," singkat Isabella menunjuk Selina yang sedang duduk manis di dipundaknya.


Kesatria itu tersenyum kikuk seraya bertanya, "Siapa yang membukakan pintu itu untuk anda?"


"Aku bisa melakukannya sendiri jadi kenapa harus meminta pada orang lain. Lagi pula diluar tidak ada siapa-siapa."


Jawaban Isabella membuat kesatira yang sedang makan terkejut sampai tersendak, mereka sulit percaya jika Isabella bisa membuka pintu dengan berat 6 ton menggunakan tangannya yang mungil itu..


"Kalian tidak percaya? baiklah aku akan lakukan lagi." Isabella berjalan mendekati pintu gerbang tersebut lalu menutup pintu itu kembali, kali ini mau tidak mau semua kesatria itu harus percaya karena buktinya sangat jelas.


"Jadi anda ke sini mau bertemu siapa?" tanya kesatria itu lagi.


"Aku tidak ingat namanya atau lebih tepatnya aku tidak tau. Aku akan menunggunya di sini, bisa kan?" pinta Isabella. Para kesatria tersebut tidak bisa  menolak, mereka hanya bisa menyiapkan tempat duduk senyaman mungkin untuk Isabella


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘