
Wajah tampan Isabella terus terbayang-bayang di kepala Zelene, sulit baginya melupakan wajah Isabella terutama setelah kejadian tadi.
Bug!
Zelene tidak sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa tumpukan pakaian kotor, awalnya ia ingin marah. Namun suasana hatinya sedang baik hari ini jadi ia tidak mau kebahagiannya sirna hanya karena seorang pelayan.
"Maafkan saya. Karena pakaian yang menumpuk, saya tidak bisa melihat ke depan dengan baik," ucap pelayan tersebut.
"Tidak masalah. Ini bukan salahmu juga, aku juga tidak melihat jalan dengan baik karena terus memikirkan keadaan Luca," balas Zelene.
"Anda sungguh nona dan kakak yang baik," puji pelayan tersebut.
Zelene hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya, sebenarnya ia sudah bosan dengan pujian yang setiap hari ia dengar.
Pergi ke dapur adalah tujuan Zelene. Ia ingin meracik teh hangat khusus untuk Isabella, ia ingin tau seperti apa reaksi Isabella setelah meminum teh racikannya. Zelene dikenal sebagai Ratu sosialita karena teh racikannya yang diakui oleh permasyuri secara langsung.
Para pelayan berpikir teh itu untuk Luca karena jika Zelene meracik teh secara langsung itu hanya untuk Luca. Oleh karena itu, para pelayan wanita selalu merasa kagum dengannya.
Saat keluar dari dapur Zelene langsung berjalan kearah kamar tempat Isabella dirawat. Namun tanpa ia sadari, Luca muncul entah dari mana dan mencegat Zelene.
"Ini bukan arah kamarku 'kan?" tanya Luca.
Zelene terkejut melihatnya telah sembuh total bahkan tidak ada sedikit pun lebam atau bengkak diwajahnya, padahal baru kemarin Zelene melihat Luca terbaring dengan wajah lebam dan bengkak. Melihat kondisinya sekarang membuat Zelene merasa iri, karena kemampuan Luca sebagai ahli ramuan telah berada jauh diatasnya.
"Kakak memang bukan mau ke kamarmu, karena teh ini kakak buat untuk pasien kakak," jawab Zelene yang berusaha mengontrol nada suaranya.
"Kenapa kakak tidak datang menemui aku? kenapa kakak malah merawat orang lain saat aku sendiri sedang sakit? padahal kakak sendiri yang bilang bahwa aku jauh lebih penting dari apa pun bagi kakak di dunia ini."
"Kau adalah ahli ramuan jadi kakak tidak terlalu khawatir padamu. Lagi pula ayah ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu, jadi kakak tidak mau mengganggu. Kakak merasa senang melihat keadaanmu membaik."
"Kakak berbohong padaku. Kakak telah jatuh cinta pada pria itu 'kan? kakak mengabaikan aku demi dia 'kan? kenapa kakak tega melakukan ini padaku? para tentara bayaran itu melukaiku dan kakak bukannya merawatku, tapi malah merawat orang lain. Kesatria bayaran itu dibawa oleh kakak untuk mengawalku, seharusnya kakak merasa bersalah karena orang-orang yang kakak bawa itu aku hampir tiada."
"Apa kau juga berpikir jika kakak yang mengirim kesatria bayaran itu untuk membunuhmu? kakak sama sekali tidak tau tentang pengkhianatan mereka itu. Lagi pula jika kakak yang meminta mereka melakukan hal itu, maka untuk apa kakak tetap ada di sini, huh? Kakak merawat Allred karena dia telah berhasil melindungimu, kakak tidak mau berhutang budi pada orang lain dan menjadikan perawatan ini sebagai penebusan atas kebodohan kakak sekaligus balas budi kakak atas jasanya."
"Maaf, aku tidak bermaksud melukai hati kakak. Tapi walau pun begitu kakak juga salah, dia di bayar untuk melindungiku jadi kakak tidak perlu balas budi atau sejenisnya karena itu risiko yang harus ia tanggung."
"Cukup Luca! kau sudah kelewatan. Selama ini kau selalu patuh pada kakak, lalu kenapa sekarang kau membangkak, huh? ah! atau jangan-jangan kau sudah tidak menghormati kakak lagi?"
"Bu-bukan seperti itu kakak, aku …."
"Pergilah ke kamarmu dan jangan berani menemuiku jika aku tidak memanggilmu. Renungkanlah apa kesalahanmu baru kau bisa keluar dari kamar," tegas Zelene memotong penjelasan Luca.
Luca tidak mengatakan apa-apa lagi, ia langsung berlari meninggalkan Zelene begitu saja.
"Aku harus menambahkan dosis obatnya nanti, dia mulai tau cara membangkak. Ini akan merugikan aku nanti," batin Zelene. Ia bergegas ke kamar Isabella sebelum teh yang ia bawa dingin.
******
"Zelene itu sudah jatuh cinta padamu, cih! aku tidak akan menduga wanita penyihir sepertinya ternyata masih punya perasaan," ejek Bara.
"Kau ini sangat keterlaluan, paman. Tidak baik membicarakan seorang gadis sampai seperti itu, lagi pula Zelene itu adalah gadis yang manis."
"Hah? manis katamu? apa mata mu buta? dia adalah wanita yang kejam, bahkan dia berniat membunuh adiknya sendiri. Tapi setelah ditanya dia masih berani mengelak, dia memanfaatkan kebaikan Luca untuk hal yang salah."
"Paman, di dunia tidak ada orang yang kejam. Semua orang itu baik, yang menjadikan mereka jahat atau pun kejam itu adalah rasa sakit. Orang menjadi jahat bukan tanpa alasan, aku rasa Zelene pun demikian. Suatu saat nanti dia pasti akan berubah lagi pula kebaikannya pada Luca itu murni dan tulus," terang Isabella.
Zelene meneteskan airmata mendengar apa yang Isabella katakan tentang dirinya, ia tidak akan menduga jika Isabella adalah satu-satu orang yang akan mengerti dirinya tanpa harus dimanipulasi.
Karena Zelene tidak kuat untuk masuk ke dalam, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya terlebih dahulu.
"Dia sudah pergi." Bara tidak lagi merasakan adanya kehadiran Zelene.
"Semoga itu akan membantu," ucap Isabella.
Ternyata mereka berdua memang merencakan pembicaraan itu agar terdengar oleh Zelene, setidaknya ucapan itu bisa membuat hati nurani Zelene terluka agar ia berhenti mendendam. Namun mereka salah besar, justru karena pembicaraan itu Zelene menjadi sangat benci pada ayahnya, karena ayahnya tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Isabella serta Zelene juga menjadi sangat tergila-gila pada Isabella.
*****
Kediaman Duke Abraham.
Cedric mengambil keputusan untuk menjemput Isabella seperti yang diinginkan oleh Vanessa, ia tidak bisa melihat Vanessa pergi meninggal dirinya hanya karena rasa takut yang ia miliki tentang Isabella.
"Jeremy. Aku akan menikah agar urusan rumah tangga kediaman ini tidak akan jatuh ke tangan Isabella, Vanessa memang sudah mengurus semuanya selama ini. Tapi Vanessa itu lugu jadi besar kemungkinan dia akan menyerahkan urusan rumah tangga pada Isabella nanti, dari pada melihat kediaman ini hancur di tangan Isabella maka aku terpaksa harus melanggar janjiku pada Penelope," ujar Cedric.
"Apa anda sampai sebegitunya tidak percaya pada putri anda sendiri? apa anda tidak tau jika tindakan anda ini akan melukai hati 2 wanita?" tanya Jeremy. Ia mulai risih dengan semua sikap Cedric.
"Aku tidak akan melakukan ini jika tidak terpaksa. Ini juga berat bagiku, tapi apa aku punya pilihan lain? aku ingin percaya pada putriku, hanya saja itu sangat sulit," jawab Cedric.
"Jika saja anda mencarinya lebih awal maka nona tidak akan memiliki reputasi seburuk ini, lagi pula rumor itu hanyalah rumor. Kita tidak bisa mempercayainya semudah itu, tapi anda tidak akan mengerti karena anda tidak mau menerima hal itu."
"Apa kau belajar menentang dari Vanessa atau sebaliknya? kau harus ingat Jeremy, aku mengatakan hal ini bukan untuk meminta saran darimu, jadi lakukan apa yang sudah menjadi tugasmu."
"Anda akan menyesali ucapan anda hari ini," ucap Jeremy, lalu dengan perasaan kecewa ia meninggalkan Cedric.
"Aku tidak akan menyesal. Setelah Isabella datang ke kediaman ini maka saat itulah mata kalian akan terbuka, dan kalian yang akan menyesal nanti," batin Cedric tertawa dalam hatinya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘