
"Hahahaha … ini benar-benar lucu." Vanessa dan Isabella tertawa terbahak-bahak membaca buku cerita comedy.
"Di mana Vanessa? aku ingin bertemu dengannya," suara teriakan Albert membuat Vanessa terkejut.
"Ba-bagaimana ini? aku akan bersembunyi jadi kakak ja … akh!" Vanessa yang terlalu buru-buru ingin turun dari ranjang, tidak sadar jika kakinya terlilit selimut sampai membuat jatuh dari ranjang.
"Vane …." Saat Isbaella baru saja ingin menolong Vanessa, Albert menerobos masuk ke kamarnya membuat Isabella terpaksa mengurungkan niatnya dan tetap diam di atas ranjang.
"Vanessa." Albert berlari dengan cepat berlari menghampiri Vanessa yang terkapar di lantai.
"Ya ampun, dagu mu terluka dan juga dahimu berdarah. Bagaimana ini?" Albert sangat panik sampai tidak tau harus berbuat apa.
"Kenapa kau sepanik itu? dia hanya jatuh dari atas ranjang bukan dari atas atap. Dasar berlebihan," timpal Isabella memulai sandiwaranya.
"Vanessa terluka? dia berdarah? bagaimana ini? jika lukanya membekas maka … akhhh aku harus membawa Luca ke mari, wajah Vanessa lebih berharga dari berlian. Dia tidak bisa terluka," batin Isabella. Ia jauh lebih panik dari Albert. Tapi entah bagaimana dia bisa menjaga wajahnya untuk tetap tenang, Vanessa sangat kagum dengan itu. Namun Vanessa juga menyadari ada kerutan di dahi Isabella yang menunjukan jika Isabella sangat khawatir dirinya.
"Hanya jatuh katamu? kau benar-benar keterlaluan. Kau pikir siapa dirimu sampai kau berani bersikap seenaknya di sini, Vanessa adalah putri dari duke dan dia adalah tunanganku itu artinya dia seorang putri mahkota. Kau akan di hukum atas sikapmu padanya, aku sudah menjamin hal itu," ancam Albert.
"Hukuman? kau itu lucu sekali. Jika kau sangat ingin menghukum maka hukum saja aku, potong kakiku karena aku menendangnya dari atas ranjang sampai jatuh ke bawah. Tapi, itu salahnya karena dia telah berani naik ke ranjangku tanpa izin."
"Tidak!" teriak Vanessa," Bagaimana bisa kau ingin memotong kaki kakakku? kau harus melewati aku dulu sebelum melakukan itu, aku tidak akan membiarkan kau memotong kaki kakak. Jangan berpikir sedikit saja untuk melakukan hal itu pada kakak."
"Kakak ini bagaimana sih. Padahal kakak tau jika aku benci kakak yang menjadikan keselamatannya sebagai bahan sandiwara," batin Vanessa. Tatapan tajamnya membuat Isabella merinding.
"Bawa aku pergi dari sini," pinta Vanessa mengalungkan tangannya dileher Albert, Albert mengangguk lalu menggendongnya pergi dari kamar Isabella.
"Habislah aku, Vanessa marah padaku," batin Isabella.
Selina baru saja bangun, dan ia langsung turun dari tempat tidurnya yang berada diatas lemari.
"Ada apa denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya Selina melihat Isabella melamun diatas ranjang.
"Aku sepertinya telah membuat kesalahan yang besar. Aku harus bagaimana Selina? cepat berikan aku saran." Isabella balik bertanya pada Selina.
"Lupakan saja itu. Mari kita berjalan-jalan sebentar, aku ingin melihat-lihat taman," ajak Selina. Sebenarnya Isabella tidak mau hanya saja ia tidak tega melihat Selina kecewa, ia juga merasa jika dirinya perlu keluar dari kamar untuk menjernihkan pikiran sejenak dengan udara segar.
Sementara itu di sisi lain sih kembar tengah sibuk merias diri mereka, kedatangan Albert membuat mereka menggila.
"Bagaimana bu? apa aku terlihat cantik?" tanya Carolina memutar tubuhnya didepan Elena.
"Cantik pun percuma karena putra mahkota hanya akan melirikmu saja, dia mana mungkin tertarik padamu," ejek Charlotte.
"Jangan bertengkar. Kalian berdua sekarang sudah sangat cantik, jadi cepat keluar dari tarik perhatian putra mahkota!" perintah Elena. Ia mendorong sih kembar keluar dari kamarnya.
Kedua wanita itu merapikan penampilan mereka sejenak lalu mereka melangkah bersama menuju ke kamar Vanessa, mereka telah menyiapkan rencana besar untuk menarik perhatian Albert.
"Entahlah! mereka menggunakan gaun yang indah dan berdandan cantik, lalu pergi ke arah kamar Vanessa," jawab Isabella kebingungan.
"Apa mungkin kedua wanita itu ingin mencari perhatian dari pria tampan tadi?" dugaan Selina tepat pada sasaran.
"Ah! kau benar juga. Ini tidak bisa di biarkan, apa kau mau melakukan hal menyenangkan? tidak perlu khawatir karena aku akan melindungimu," tawar Isabella.
"Baiklah. Aku juga sudah lama tidak berulah." Setelah mengatakan itu Selian langsung turun dari pelukan Isabella, ia berlari dengan cepat kearah sih kembar lalu dengan kuku kakinya yang tajam ia merobek gaun kedua wanita itu.
"Kyaaaa." Kedua wanita itu menjerit melihat ada kadal yang entah datang dari mana dan langsung merobek gaun mahal mereka.
Amarah Carolina langsung naik karena gaunnya yang rusak paling parah, "Beraninya kadal sialan ini! ku bunuh kau."
Carolina berusaha menangkap Selina. Namun saat tangannya hampir menyentuh Selina, Selina melompat dan menampar wajah Carolina dengan ekor panjangnya.
Setelah menampar wajah Carolina, Selina melompat ke arah Charlotte lalu mengacak-acak gaun indah Charlotte.
"Akhhhh! gaun ku, kadal siapa ini sebenarnya. Kenapa dia bisa di sini? pelayan pelayan pelayan. Di mana kalian semua? tangkap dan buang kadal ini!" Charlotte ikut kesal dan memanggil pelayan yang ada didekat mereka.
"Ada apa nona?" tanya beberapa pelayan yang datang menghampiri mereka.
"Tangkap dan buang kadal jelek itu! Kalian semua ini kerjanya bagaimana sampai tidak sadar jika ada kadal yang masuk ke kediaman Abraham, kalian semua akan di pecat karena lalai dalam bekerja," geram Carolina.
"Untuk apa kau bilang lagi, mereka semua akan di pecat tanpa surat rekomendasi. Kediaman Abraham tidak butuh pelayan yang tidak berguna," ketus Charlotte.
"Kau benar. Mereka juga harus bertanggung jawab untuk gaun kita," sinis Carolina.
Para pelayan yang ketakutan itu langsung bergegas menangkap Selina. Namun mereka gagal, Selina berhasil menghindar lalu berlari menuju Isabella dan duduk dengan cantik dipundak Isabella.
"Ini kadalku. Biar aku lihat siapa yang berani mencoba mengambilnya dariku, apa kalian yang berani?" tanya Isabella membuat semua pelayan mematung di tempat mereka.
"Nona Isabella tidak jahat, kita tidak perlu takut padanya. Itulah kata kepala pelayan dan Tuan Jeremy," batin semua pelayan tersebut.
"Kalian pergilah dan lanjutkan pekerjaan kalian sebelum pikiranku berubah, lalu memecat kalian semua," perintah Isabella. Tanpa menunggu lama semua pelayan itu bergegas meninggalkan lantai 3.
"Jadi adik-adik ku sayang, kalian bilang apa tadi? ingin memecat para pelayan itu karena mereka telah lalai dalam bekerja, apa kalian punya hak untuk itu? terutama kalian berani meminta para pelayan itu menangkap Selinaku. Menurut kalian aku harus bagaimana menghukum kalian?" tanya Isabella dengan seringai yang menakutkan, membuat sih kembar menelan air liur mereka.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘