The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 62 Baron gemuk



Vanessa tidak bisa berhenti menangis di dalam kereta, ia berharap siapa saja datang menyelamatkannya secepat mungkin.


Ia duduk dalam kereta yang terus melaju dengan kencang, rasa sakit di tubuhnya tidak terasa lagi karena dikalahkan oleh rasa takutnya saat ini. Namun, pada akhirnya ia tertidur karena kelelahan.


"Bangun!" kusir kereta itu membangunkan Vanessa yang tertidur.


"Ck. Dasar lambat!" kusir itu masuk ke dalam kereta lalu ia menarik Vanessa untuk turun padahal mata Vanessa belum terbuka sempurna.


"Matahari terbit?" batin Vanessa melihat cahaya matahari pagi.


"Ayo!" kusir itu menarik Vanessa dengan paksa masuk ke dalam sebuah kediaman yang tidak lain adalah milik paman sih kembar. Yakni Baron Martin Kalandra.


"Oh! akhirnya sampai juga." Seorang pria bertubuh gemuk menyeringai saat melihat kusir yang ia kirim untuk sih kembar telah kembali bersama Vanessa.


"Maaf, karena beberapa alasan kami tiba sehari lebih lambat," ucap kusir tersebut.


Pria gemuk itu tidak mendengarkan apa yang kusir itu katakan, ia malah berjalan mendekati Vanessa.


"Jadi ini wanita cantik yang di kirim keponakanku sebagai hadiah." Pria itu menatap Vanessa dari ujung kaki sampai ujung rambut, "Sangat cantik."


"Bawa dia ke kamar yang ada di atap. 2 jam lagi kediaman ini akan mengadakan pernikahan yang meriah," perintah pria tersebut kepada para pelayan.


Para pelayan langsung menarik Vanessa menuju tempat yang pria gendut itu maksud, Vanessa saat ini tidak berani memberontak karena ia takut di lukai oleh mereka.


Para pelayan itu cukup ramah, mereka memandikan Vanessa dengan baik, membantunya berpakaian, dan mereka juga membawakan Vanessa makanan. Tapi rasa takut Vanessa tetap tidak bisa hilang, ia tidak mau menikahi pria gendut itu. 


"Bisakah aku bertanya tanggal berapa hari ini?" tanya Vanessa kepada para pelayan.


"Tanggal 20 bulan 4 Kekaisaran Irsyad," jawab salah satu pelayan.


"Aku di bawa kesini malam hari pada tanggal 18, jadi perjalanan hanya berselang 2 hari saja. Itu artinya ini tempat yang tidak jauh dari ibukota, semoga mereka bisa menemukanku secepatnya," batin Vanessa menatap keluar jendela kamar tersebut.


Setelah jam makan selesai para pelayan meninggalkan Vanessa sendirian, dan Vanessa tidak berhenti menatap keluar jendela.


"Ah!" Vanessa teringat ucapan Albert, "Albert pernah bilang jika ingin melalukan telepati. Aku harus mengosongkan pikiranku, lalu pusatkan pikiran pada sosok yang ingin kau kirimkan telepati. Setelah itu panggil namanya dalam hatimu."


Vanessa melalukan arahan itu dengan sungguh-sungguh, dia duduk didepan jendela dengan mata terpejam.


*****


Sudah 2 hari sejak menghilangnya Vanessa. Namun belum ada titik terang dari keberadaannya, selama 2 hari juga kediaman Abraham selalu sepi sementara Isabella terus berpikir alur cerita apa yang ia lewatkan untuk mendapatkan petunjuk tentang hilangnya Vanessa.


"Kakak." Suara Vanessa tiba-tiba saja masuk ke kepala Isabella membuat dirinya terkejut.


"Telepati? tapi bagaimana bisa? Vanessa kan tidak punya kekuatan apa pun untuk melakukan telepati," pikir Isabella.


"Tolong aku, kak." Lagi-lagi suara Vanessa masuk ke dalam kepalanya.


"Aku bisa mendengarmu." Isabella menjawab telepati dari Vanessa. Namun setelah 5 menit kemudian tidak ada jawaban dari Vanessa, Isabella tidak bisa menunggu lama karena ia harus mengatakan hal ini pada Albert.


Isabella dengan cepat berlari menuju keluar kediaman sayangnya langkah Isabella terhenti, saat ini Albert ada di kediaman Charlize jadi Isabella berpikir mungkin dirinya tidak akan di izinkan masuk ke kediaman Charlize. 


Sekali pun bisa masuk juga percuma karena Albert tidak akan semudah itu percaya pada Isabella, dan bisa saja Charlize akan mengusir Isabella langsung dari kediamannya karena Albert sangat membencinya.


Wosh!


"Mereka ke mari? kenapa? sial! aku lupa jika masa liburan kita sudah lewat," batin Isabella tersadar jika waktu telah berlalu lebih dari 3 bulan.


"Angin … tunggu! Mungkin saja Fil bisa membantu menemukan keberadaan Vanessa dengan angin. Ya, ini sudah waktunya untuk mengungkapkan identitasmu demi Vanessa." Isabella langsung naik ke atas kuda lalu memacu kudanya menuju toko kue, itu mungkin tujuan utama anggota timnya datang ke ibukota.


Dan benar saja saat Isabella sampai didepan toko kue, ia melihat ke 4 anggota timnya baru saja masuk ke dalam toko kue. Tanpa menunggu lama Isabella juga langsung masuk kedalam toko lalu menghampiri mereka.


"Isabella? kau … hiks." Aisnley langsung memeluk Isabella tanpa melanjutkan lagi ucapannya.


"Kau adalah gadis kecil yang kuat. Semoga kepergian Allred tidak membuat semangat hidupmu hilang," tambah Bara.


"Kami datang khusus datang untuk bertemu denganmu. Apa kau bisa menceritakan apa yang telah terjadi sampai Allred tiada?" tanya Fil membuat Isabella kesal.


Isabella melepaskan pelukan Aisnley lalu menatap wajah mereka satu persatu, "Apa sebenarnya yang kalian pikirkan sampai kalian mengira aku tela tiada? ini tidak lucu."


"Hah?" Luca yang sejak tadi menangis dengan wajah tertunduk tiba-tiba mendongkak.


"Kau bertingkah seperti Allred itu baru tidak lucu. Kenapa kau begitu?" Tanya Aisnley.


"Aku memang Allred. Saat itu …."


"Apa kau senang membuat emosi orang lain naik turun? Allred itu keberadaannya sangat berarti untukku. Jangan mengatakan omong kosong jika kau hanya ingin menghibur kami," potong Luca.


"Bukan begitu aku …."


"Cukup nak! Allred menjadi aneh setelah Martini tiada bahkan dia pergi tanpa menoleh pada kami saat kami berpisah, dia mungkin saja merencanakan bunuh diri untuk menebus rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Martini. Kami kenal Allred dengan baik," potong Bara.


"Benarkah? lalu bagaimana dengan ini? apa kalian tau jika identitas Allred itu …." Isabella memakai cincinnya, "Adalah penyamaran Isabella."


"Ya tuhan." Aisnley terkejut saat Isabella memakai cincinnya dan berubah menjadi Allred didepan mereka semua, beruntung lantai 2 saat itu hanya ada mereka saja.


"Al-Allred, ternyata kau Isabella." Bara terkejut sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


"Huwaaaa, ternyata kau masih hidup. Aku sangat takut sejak awal." Luca memeluk Isabella lalu menangis dalam pelukan mereka.


Setelah itu mereka duduk bersama dan Isabella menceritakan semua tentangnya, mereka merasa ini seperti mimpi karena sulit bagi mereka untuk percaya kenyataan sebesar ini. Tapi mereka senang, sebab apa yang mereka pikirkan tentang Isabella itu ternyata tidak benar.


"Jadi, tolong bantu aku Fil. Aku tidak akan mengungkapkan identitas ini jika bukan demi Vanessa, aku tidak mau terlambat melakukan sesuatu untuknya sama seperti pada Martini. Kau mau membantuku?" tanya Isabella. Fil tersenyum lalu menjentik dahi Isabella.


"Tentu saja, Tuan Allred." Fil bergegas meninggalkan toko bersama Isabella.


"Sulit di percaya ternyata Allred yang hebat, tenang, dan tampan itu ternyata hanyalah samaran. Bahkan di balik identitas Allred ternyata adalah wanita cantik yang memiliki banyak reputasi buruk," ucap Bara menatap Isabella dan Fil yang menuruni anak tangga.


"Tapi setelah mengenal dia sebagai Allred, lalu tau jika dirinya ternyata adalah Isabella. Aku jadi tau jika reputasi buruk itu hanyalah omong kosong saja," tambah Aisnley.


"Ya. Tuan Allred tidak mungkin jahat dan aku percaya itu," lanjut Luca.


Mereka akhirnya bertukar cerita saat pertama kali bertemu Isabella sambil menunggu dua orang yang sudah pergi itu kembali lagi.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘