
Hari ulang tahun pun tiba, aula kediaman Abraham dipenuhi banyak bangsawan dari berbagai kalangan. Para wanita mengenakan gaun-gaun yang indah dan para pria tidak mau kalah karena mereka juga berpakaian mewah.
Isabella mengenakan gaun yang diberikan oleh Jovan. Namun ia berdiri sendiri disudut ruangan, ia tidak mau berbaur dengan orang asing.
Bahkan saat waktu dansa tiba tidak ada yang mengajak Isabella berdansa, sungguh malang nasibnya yang tidak dianggap sama sekali.
Setelah semuanya acara selesai akhirnya acara terakhir tiba yakni pemberian hadiah, semua hadiah dari berbagai bangsawan sangat mahal. Namun tidak ada yang semahal hadiah Isabella, Vanessa memberikan pakaian kualitas terbaik sebagai hadiah, lalu sih kembar memberikan kanci lengan baju khusus dilengkapi dengan permata. Karena ini hasil buatan tangan sih kembar jadi hanya ada satu didunia.
Tidak lama kemudian Jovan datang membawa satu kotak kecil dan pelayannya membawa kotak besar, kotak kecil itu berisi pena bulu merak saat itu bulu merak harganya sangat mahal. Lalu hadiah kedua yakni pedang bulan sabit dengan harga 300.000 keping emas, berhasil mengguncangkan aula tersebut. Isabella tersenyum kecil dan langsung berlalu meninggalkan aula, sebab alasannya untuk tetap di aula itu sudah tidak ada lagi.
"A-apa itu asli?" batin kaisar, pedang itu 2 kali lipat lebih mahal dari pedangnya.
"Kau membawa 2 hadiah semahal ini. Apa yang kau pikirkan?" gerutu Cedric. Ia enggan menerima pedang tersebut.
"Pedang ini sebenarnya bukan dariku, dia bilang jangan katakan jika ini pemberiannya hanya saja aku tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini. Sebenarnya pedang ini bukan hadiah ku melainkan dari Isabella," jawab Jovan.
Semua orang yang hadir menjadi lebih terkejut karena itu hadiah tidak terduga dari nona bangsawan yang terkenal kejam, semua mata di aula itu langsung mencari di mana keberadaan Isabella. Namun sayang sekali, karena Isabella sudah pergi saat Jovan datang.
"Pedang semahal itu dia dapat dari mana? Isabella ini bukan wanita sembarangan, aku harus membuat wanita itu berpihak pada Babel," batin permaisyuri.
*****
"Akh! segarnya," sorak Isabella meneguk habis anggur langsung dari botolnya, "Minum anggur setelah mandi memangnya yang terbaik. Kau mau Selina?"
Selina menata Isabella dengan ekspresi jijik, Isabella dibuat tertawa terbahak-bahak oleh ekspresi itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Isabella mengusap airmatanya yang menetes karena terlalu banyak tertawa.
"Kau serius menawarkan anggur dari botol bekasmu? dasar jorok," kesal Selina.
"Jorok? apanya yang jorok? apa kau tidak mau minum dari botol yang sama dengan gadis cantik sepertiku?" canda Isabella yang sukses mendapatkan lemparan bantal dari Selina.
"Aku akan pergi mengambil camilan." Selina langsung pergi begitu saja dari kamar Isabella.
"Mengambil? bagaimana bisa kau mengambilan camilan dengan wujud kadalmu itu, dasar Selina," batin Isabella.
Isabella membuka pintu ke teras balkon, di sana ia duduk sambil menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Ceklek
Suara pintu kamar Isabella terbuka, Isabella mengira yang masuk itu adalah Selina karena para pelayan sedang sibuk dengan pesta.
"Apa kau dapat camilanmu, Selina? aku minta beberapa potong," ucap Isabella. Namun tidak jawaban dari siapa pun, "Selina? apa kau tidur?"
Masih tidak ada jawaban seketika Isabella merasa ada yang aneh, dengan sangat hati-hati Isabella bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan pelan-pelan dan mengintip ke dalam kamar.
"A-ayah?" batin Isabella terkejut, ia tidak akan menduga jika Cedric akan datang ke kamarnya.
Isabella menghela nafas pelan sebelum ia melangkah masuk kedalam kamar, "Apa yang anda lakukan di kamarku?"
Cedric menatap Isabella dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kekecewaan, kesedihan, dan sedikit kasih sayang dari tatapan Cedric.
"Jika anda ingin mengatakan sesuatu maka katakan saja jika tidak maka kekuarlah," lanjutnya.
Cedric tidak mengatakan apa pun lalu meletakan pedang bulan sabit diatas meja rias Isabella.
"Apa ini?" tanya Isabella.
"Aku tidak menerima hadiah apa pun darimu. Kata Jovan itu hadiah darimu, dia tidak akan pernah bisa berbohong walau pun kau memaksanya," jawab Cedric.
"Membuangnya? pedang mahal seperti ini hanya akan kau buang? kenapa kau sombong sekali?"
"Aku beli itu pakai uangku bukan uang anda jadi anda tidak berhak mengatakan saya sombong karena membuang pedang itu, lagi pula itu pedang rongsokan yang hanya merusak keindahan koleksiku. Ambil kalau mau kalau tidak maka buang saja, lagi pula kehilangan satu pedang murah tidak akan membuatku miskin."
"Apa ini? apa pembicaraan antara kami akan selalu seperti ini? kenapa rasanya menyakitkan," batin Cedric merasakan sesak didadanya.
"Terima kasih untuk hadiahnya." Cedric memgambil kembali pedang tersebut lalu pergi begitu saja.
Selina yang diam-diam menguping pembicaraan mereka ikut merasa sedih untuk Cedric, bahkan setelah perdebatan itu Selina melihat Isabella menutup pintu ke teras balkon lalu mematikan semua lilin di kamarnya dan naik ke atas ranjang bahkan menyelimuti dirinya sampai ke kepala.
"Apa yang sebenarnya ia rasakan? apa dia sakit hati?" batin Selina yang tidak berani masuk ke dalam kamar, ia memutuskan untuk masuk setelah Isabella tertidur.
*****
Keesokan harinya Carolina dan Charlotte mengadakan pesta teh di gazebo, Isabella yang sedang jalan-jalan di taman malah tertarik bergabung dipesta tersebut.
"Wah, apa ini adik-adik? pesta teh?" tanya Isabella membuat perhatian para nona bangsawan tertuju padanya.
"Kakak? apa yang kakak lakukan di sini? tidak sopan mengganggu pesta teh yang diselenggarakan orang lain apalagi kakak tidak di undang," celetuk Charlotte.
"Aku di undang kok. Pesta teh ini diselenggarakan di mana? di kediaman ayahku jadi kediaman ku juga kan, maka aku bisa bergabung. Apa ada yang merasa terganggu?" Isabella menatap para nona dengan tatapan tajam, tentu saja mereka tidak bisa menolak karena mereka semua takut dengan Isabella.
Dengan senang hati Isabella duduk di kursi kosong yang pemiliknya tidak bisa hadir, kehadiran Isabella mengubah suasana pesta yang tadinya ceria menjadi tegang.
"Tuangkan teh!" perintah Isabella pada pelayan yang berdiri di belakangnya. Namun pelayan itu diam saja, ia bertindak seolah tidak mendengar perintah Isabella.
"Hei! tuangkan teh!" ulang Isabella.
Isabella memukul meja lalu ia berdiri menghadap pelayan tersebut, "Apa kau tuli? aku tadi bilang apa?"
"Maafkan saya nona. Tapi saya bukan pelayan anda, saya di sini hanya untuk melayani Nona Carolina," jawab pelayan itu seenaknya.
"Ya ampun kakak, kenapa kakak suka sekali mencari masalah? kakak datang tanpa di undang lalu sekarang ka …. akh! panas panas panas." Spontan Carolina langsung melompat-lompat karena teh panas yang mengenai kulitnya. Isabella tadi merebut teko ditangan pelayannya lalu menyiraminya pada Carolina untuk membungkam mulut gadis itu.
Para nona bangsawan semua langsung bangkit dari tempat mereka, mereka gemetar ketakutan menyaksikan secara langsung kekejaman Isabella.
"Kalian kemari!" panggil Charlotte kepada kesatria yang sedang berjaga, "Bawa nona ke kamarnya dan panggilkan dokter."
"Baik nona." Para kesatria itu bersama semua pelayan yang ada di gazebo pergi bersama.
Charlotte pun berbalik menatap Isabella dengan ekspresi penuh kebencian, "Apa yang kakak lakukan kali ini benar-benar kelewatan, selama ini aku selalu sabar dengan sikap kakak. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak diam saja melihat sikap kakak yang seperti ini."
"Aku melakukan itu bukan tanpa sebab. Kau sendiri melihat bagaimana sikap pelayannya itu kepadaku, lalu kenapa kau malah marah?"
"Yang salah adalah pelayannya bukan majikannya, jadi wajar saja jika aku marah kepada kakak karena kakak tanpa perasaan bersalah malah melukai kakak ku."
"Aku tidak melukainya melainkan menghukumnya, karena dia tidak bisa mendidik pelayannya dengan benar. Sikap seorang pelayan mencerminkan sikap majikannya."
"Jika 1 pelayan aku hukum maka akan ada 10 pelayan tidak sopan yang bergantian, karena majikan mereka tidak bisa mendidik mereka dengan benar. Dari pada aku lelah menghukum semua pelayan itu satu persatu, lebih baik langsung pada majikannya saja agar lebih mudah cukup sekali," lanjut Isbaella.
"Hmph!" Charlotte tidak berkata apa-apa lagi, semua yang Isabella katakan masuk akal. Dan jika ibunya tau dia berdebat dengan Isabella karena Carolina yang bodoh itu, maka dirinya juga akan di hukum juga.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘