The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 29 Isabella kok di lawan.



"Jangan sentuh kakakku dengan tangan kotormu itu," hina Luca kepada Isabella. 


"Ayo kak, kita pergi dari sini. Kakak harus banyak istirahat," ucap Luca, ia menggendong Zelene dan pergi dari hadapan Isabella.


"Jadi dia itu adalah Zelene? dilihat dari mana pun Luca memang sangat lekat dengan wanita itu," batin Isabella menatap punggung Luca yang mulai menjauh.


"Jika aku tidak datang tepat waktu, kakak hampir saja celaka lagi. Bagaimana bisa kakak begitu ceroboh? jika sampai kakak kenapa-napa maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." Luca mengomeli Zelene saat mereka telah sampai di kamar Zelene.


"Apa kakak tau siapa pria tadi? dia adalah Allred. Dia adalah pria yang telah menghinaku, aku tidak membiarkan dia menyentuh kakak. Jika saja aku tidak kembali maka … aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kakak," lanjutnya.


"Tunggu dan lihat saja nanti. Aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, aku terlalu memanjakanmu sampai kau lupa siapa aku," batin Zelene. Dendamnya pada Luca telah menjadi semakin besar.


*****


Akhirnya hari lelang pun tiba, Isabella dan Bara telah bersiap untuk mengawal Luca. Namun mereka tidak mengawal Luca dari dekat, Sean tidak ingin keberadaan mereka berdua sampai diketahui oleh Luca atau semua rencananya akan gagal.


Lelang berawal dengan baik, sudah 1 jam berlalu. Namun belum ada tanda-tanda penyerangan, bahkan para kesatria bayaran itu tidak ada satu pun yang meninggalkan Luca.


Tiba-tiba saja atap tempat lelang itu meledak, semua orang yang hadir dalam lelang segera berlarian untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan. Dan saat itulah para kesatria bayaran yang ada di samping Luca beraksi. 


"Akh! Lepaskan aku!" teriakan Luca saat para kesatria bayaran itu menyeretnya pergi.


"Mereka sudah membawanya, ayo ikuti mereka," perintah Bara disetujui oleh Isabella.


Para kesatria bayaran itu menyeret Luca bahkan memasukan dirinya secara paksa ke dalam kereta, Luca berusaha menyerang mereka dengan segenap kekuatan yang ia punya. Sayangnya Luca hanyalah seorang ahli ramuan, kekuatannya tidak sebesar kekuatan para kesatria bayaran tersebut.


"Lepaskan aku! berani sekali kalian mengkhianati kakakku dan menculikku seperti ini, aku akan membuat kalian menyesal atas apa yang telah kalian lakukan padaku saat ini," teriak Luca.


Plak! 


Plak!


Oman menampar wajah Luca berkali-kali lalu berkata, "Dasar pria bodoh! kami tidak pernah mengkhianati siapa pun, kami hanya melakukan pekerjaan kami saja. Jadi kau diamlah sampai maut mu tiba."


Cuih!


Luca meludahi wajah Oman. Kesabaran Oman benar-benar sudah habis, awalnya ia ingin membawa Luca dalam keadaan baik-baik saja. Namun sekarang pikirannya berubah, Zelene tidak mempermasalahkan apa yang akan mereka lakukan terhadap Luca selama Luca tidak mati.


Jadi Oman berani menarik Luca dari dalam kereta lalu mengempaskannya ke tanah, ia menginjak-injak bahkan menendang Luca berkali-kali. Tidak hanya sampai di situ saja, ia mencengkram kerah baju Luca lalu menariknya dan memukul wajah Luca sampai ia puas.


Isabella melemparkan satu belatinya menusuk tangan Oman yang mencengkram kerah baju Luca, dan belati yang satunya lagi menusuk tangan yang memukul wajah Luca.


Oman menjerit kesakitan hingga melepaskan Luca dari cengkramannya, jeritannya menjadi tambah kencang saat Isabella menarik belatinya kembali.


"Pria sialan! habisi dia dan titan itu. Kita lihat bagaimana mereka bisa berkutik lagi," perintah Oman kepada semua rekannya.


Mereka semua mengangguk dan langsung menyerang Isabella bersama Bara. Jika saja ini pertarungan satu lawan satu maka, pihak Isabella akan menang. Namun sayang sekali keberuntungan tidak ada di pihak Isabella, melawan mereka cukup menguras tenaga.


"Kenapa nak? bukankah waktu itu kau sangat percaya diri menghantamkan wajahku lantai, lalu kenapa kali ini kau terlihat kebingungan?" tanya Ziva. Ia sudah pulih sepenuhnya setelah minum ramuan dari Zelene, namun luka di wajah Ziva malah meninggalkan bekas.


"Kau salah lihat bibi. Lalu aku hanya membuat bekas luka di wajahmu, tapi sekarang aku menghancurkan wajahmu itu. Tidak perlu berterima kasih padaku nanti," ejek Isabella.


"Berengsek kau." Ziva menyerang Isabella dengan membabi buta. Isabella kewalahan menahan serangan itu, bahkan ia beberapa kali terkena serangan tersebut.


"Bocah! ada apa denganmu? serang balik dia," teriak Bara. Ia menyadari kondisi Isabella yang memburuk.


"Berani sekali kau mengalihkan perhatianmu dari kami," ucap seorang pria menyerang Bara setelah melihat ada celah darinya.


"Sial! apa aku harus menggunakan kekuatan itu di sini? tapi manusia tidak bisa merahasikan kekuatan ini seperti elf, mereka sulit untuk dipercaya," batin Isabella.


Isabella berada di antara 2 pilihan yang sulit, namun melihat kondisi Bara yang terpojok melawan 7 orang sekaligus membuat Isabella tidak bisa diam saja.


"Kekuatan waktu, penghentian waktu satu sisi." Cahaya emas dari tubuh Isabella menyebar luas hingga para kesatria bayaran itu terhenti bergerak.


"A-apa ini? ke-kekuatan suci? bocah, kau …." Entah karena terkejut atau apa, tanpa sadar Bara menjatuhkan pedang di tangannya. Ia gemetar ketakutan melihat kekuatan yang ia percaya hanyalah sebuah legenda ternyata benar-benar ada.


"Hei! pak tua, terkejutnya nanti saja, kekuatan ini hanya bertahan 10 menit sesuai sisa tenaga yang aku punya, jadi cepatlah bunuh mereka," geram Isabella.


Bukannya menyerang sesuai perintah Isabella, Bara malah melakukan sembah sujud selama beberapa kali dan berdoa dengan mata terpejam.


"Apalah salahku sampai harus bekerja sama dengan orang bodoh ini," batin Isabella.


"Berkatilah aku dan pedang ini." Bara mencium pedangnya dan bersujud sekali lagi. Barulah setelah itu ia menebas semua kepala para kesatria bayaran tersebut, Isabella menutup matanya karena adegan berbahaya tidak bisa dilihat oleh anak dibawah umur.


"Ah! efek sampingnya mulai bereaksi," batin Isabella. Ia mulai merasa pusing, bahkan saat ia membuka mata pun pandangannya buram hingga akhirnya semua menjadi gelap.


*****


Setelah 2 hari tidak sadarkan diri, Isabella akhirnya sadar dan seperti biasanya ia telah berada di dalam kamar. Namun saat ini yang berbeda tidak ada siapa pun di dalam kamar ini, kecuali Isabella dan Zelene.


"Anda sudah sadar?" Zelene tersenyum bahagia bahkan ia sampai menggenggam erat tangan Isabella.


"Ke-kenapa anda ada di sini?" bukannya menjawab Isabella malah balik bertanya pada Zelene.


"Saya merawat anda selama 2 hari. Dokter di sini tidak tau apa penyebab dari pingsannya anda, jadi saya memberikan kekuatan saya setiap saat agar anda bisa cepat sembuh. Kebetulan saya adalah seorang ahli ramuan," jawab Zelene dengan raut wajah sedih. Isabella tau itu hanyalah raut wajah yang ia buat-buat.


"Aku ikuti sandiwaramu ini, mari kita lihat wanita seperti kau sebenarnya," batin Isabella.


"Terima kasih atas kebaikan nona. Mungkin saja jika nona tidak ada di sini maka saya bisa saja tiada," ucap Isabella yang bergantian menggenggam tangan Zelene dan menatapnya dengan tatapan lembut penuh cinta, "Entah bagaimana saya bisa membalas budi baik nona."


Deg!


Tatapan Isabella membuat jantung Zelene tidak aman, wajahnya memerah karena malu bahkan ia sampai menyembunyikan wajahnya dari Isabella.


"Nona? wajah anda memerah, apa anda sakit?" tanya Isabella dengan rasa khawatir yang di buat-buat.


"Anda pasti jatuh sakit karena merawat saya selama 2 hari penuh, maafkan saya nona." Isabella menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Ti-tidak. I-ini buk-bukan salah anda, angkatlah wajah anda jangan seper …." Sesaat Zelene langsung terpukau saat melihat ekspresi sedih di wajah tampan Isabella, dan pesonanya bertambah saat airmata Isabella menetes.


"Ancaman. Ini … benar-benar membunuhku," batin Zelene. Ia tidak kuasa lagi menahan pesona Isabella.


"Aku akan kembali lagi nanti," pamit Zelene yang langsung meninggalkan Isabella.


"Hmph … Isabella kok di lawan," batin Isabella dengan bangganya.


*****


Bersambung. 


Silahkan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘