
Samantha melangkah dengan sangat cepat menuju pusat penelitian, karena kaisar memanggilnya tadi jadi ia terlambat ke pusat penelitian.
"Tuan ada di mana yah?" batin Edmund. Ia datang ke kerajaan karena Charlize melupakan bekal makan siangnya.
"Edmund? kau kah ini?" tanya Samantha yang sengaja menghampiri Edmund, melihat Samantha membuat Edmund sakit hati.
"Sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Kau masih jadi pelayan?" tanya Samantha lagi dengan tatapan mengejek.
"Salam nona, lama tidak bertemu." Edmund membungkuk hormat pada Samantha.
"Kenapa kau menjadi kaku begitu? padahal dulu kau tidak sekaku ini saat menyatakan cinta padaku." Samantha mengingatkan Edmund lagi akan luka lamanya, padahal Edmund sudah berusaha melupakannya luka itu.
"Itu adalah kesalahan saya di masa lalu, nona tidak perlu mengungkitnya lagi," balas Edmund.
"Kesalahan katamu? apa kau baru saja menghinaku? dasar tidak tahu malu. Kau itu hanyalah orang rendahan yang mengemis hidup di bawah kaki Charlize, padahal aku sudah memerintahkan mu menjauh darinya. Tapi rupanya kau mengabaikan perintahku, mau sampai kapan kau menjadi benalu di kediaman Arsena?"
"Nona tolong jangan menghina saya. Saya adalah orang yang sangat setia padaku duke, mau sampai kapan pun saya akan tetap berada di sisi duke. Anda tidak berhak memerintah saya karena anda dan saya tidak punya hubungan yang membebaskan anda bertindak sesuka hati pada saya."
"Kulit wajahmu semakin tebal rupanya, padahal kau hanyalah bangsawan kelas rendah. Jika kau tidak berdiri di sisi Charlize maka gelar itu tidak akan pernah ada, tunggu setelah aku jadi duchess akan ku buat kau menderita," ancam Samantha membuat Edmund merasa tidak aman.
"Edmund!" panggil Charlize yang berlari menghampiri mereka, "Seperti yang di harapkan darimu, kau selalu ingat denganku."
"Anda selalu ceroboh dan meninggalkan sesuatu yang penting, ini bukan pertama kalinya anda melupakan bekal makan siang anda." Edmund memberikan bekal tersebut pada Charlize.
Charlize menerima bekal tersebut lalu ia menatap Samantha, "Maaf kan aku karena mengganggu kalian yang sedang mengobrol."
"Tidak masalah lagi pula aku tadi hanya menyapanya saja karena sekian lama tidak bertemu dengannya. Lalu dia bertanya di mana kau, aku baru saja mau mengantarnya ke tempat latihan kesatria kekaisaran unit 3. Tapi kau muncul, sungguh kebetulan yang konyol," ucap Samantha berbohong.
"Tertangkap!" Sorak Isabella memeluk Charlize dari belakang, seketika tubuh Charlize tidak bisa ia gerakan karena mendadak dapat pelukan dari wanita yang ia cintai.
"Bau makanan, apa itu makanan untukku?" tanya Isabella mengendus kotak bekal milik Charlize.
"Y-ya in-ini milik-milikkmu," jawab Charlize yang merasa gugup.
Isabella tersenyum lalu ia melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Charlize dari depan, "Apa isinya? aku ingin makan hik sekarang."
"I-ini is-isinya …." Tangan Charlize gementaran membuka tutup kotak bekal miliknya.
"Sayang, cepatlah sedikit aku lapar," rengek Isabella yang bersikap manja. Seketika wajah Charlize berubah menjadi merah seperti tomat, ia merasa ada asap keluar dari kepalanya.
"Bukakan kotak bekalnya, cepatlah! Isabella kelaparan," perintah Charlize dengan nada suara yang tinggi pada Edmund lalu ia beralih pada Isabella dengan suara yang lembut, "Tunggu sebentar Edmund akan membukanya."
"Huwaaaa." Isabella tiba-tiba menangis sangat kencang, "Kau bukan … bukan suamiku, suamiku tidak akan menggunakan nada tinggi didepanku saat berbicara. Dasar kau peniru kembalikan suamiku! aku akan membuat suami ku memenggalmu karena bersikap kasar pada Edmund kami."
"Bu-bukan seperti itu … ini … itu …."Charlize berusaha keras menjelaskan pada Isabella yang sebenarnya. Namun, ia bisa mengucapkan apa yang ingin ucapakan karena Isabella tidak berhenti menangis.
"Duke seperti itu karena khawatir anda kelaparan. Duke menggunakan nada tinggi saat bicara bukan hanya karena marah saja. Tapi karena duke malu, nona tiba-tiba memeluknya membuat duke tidak bisa mengendalikan diri dengan baik," jelas Edmund membuat Isabella berhenti menangis dan Charlize bernafas lega.
"Aku tau, suamiku yang terbaik. Kan?" Isabella memasang ekspresi imut diwajahnya membuat jantung Charlize seakan meledak, ia hanya menjawab dengan anggukan karena tidak bisa bersuara.
"Charlize, siapa wanita ini? dia sepertinya mabuk, biarkan pelayanku mengantarnya ke tempat istirahat. Kau sibuk kan? mari berikan dia padaku!" Samantha mengulurkan tanganya kearah Isabella.
"Menjauhlah dariku dasar wanita penggoda!" ketus Isabella memukul keras tangan Samantha yang berusaha meraihnya.
"Pffttt." Edmund tertawa pelan mendengar apa yang Isabella katakan, ia merasa dendam dihatinya untuk Samantha telah dibalas oleh Isabella.
"Apa maksud wanita ini? dia sangat kurang ajar! memeluk orang lain sembarangan sekarang malah …."
"Hentikan!" tegas Charlize memotong ucapan Samantha, "Aku kenal Isabella dan kami dekat jadi wajar saja dia datang padaku saat mabuk."
"Sialan! Charlize membela wanita itu? selama ini Charlize tidak pernah membela wanita mana pun bahkan tunangannya sendiri sampai seperti ini, siapa wanita ini sebenarnya?" batin Samantha menahan rasa sakit dihatinya.
"Hik … suamiku aku lapar, ayo kita makan ini sudah waktunya makan malam," ucap Isabella membuat Charlize tersenyum.
"Ini masih siang jadi …."
Isabella menjadi cemberut seraya berkata, "Kau bilang apa yang ku katakan selalu benar, suamiku kau berbohong lagi."
"Nona …." Teriak Aisnley, dan Joice histeris melihatnya ada di pelukan Charlize.
Beberapa saat yang lalu.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya mereka setelah Isabella berhenti muntah darah.
"Kekuatan kebal racunku semakin kuat karena racikan itu hik … aku jadi wanita paling hebat di dunia hik … berilah salam padaku," jawab Isabella. Semua orang di ruangan peracikan racun merasa ada yang aneh dengan Isabella, terutama dia terlihat sedikit berbeda.
"Kalian patuhlah pada ibu. Cepat beri salam atau ayah kalian akan memukul kalian semua," lanjut Isabella lagi.
Tiba-tiba Charlize berlari melintas di depan gedung pusat penelitian, matanya jadi berbinar saat Isabella melihat sosok Charlize dari jendela.
"Suamiku … aku datang." Isabella membuka jendela lantai 2 lalu melompat turun.
"Nona!" teriakan semua orang dalam ruangan itu melihat kebawah jendela, mereka bernafas lega saat Isabella baik-baik saja. Tapi mereka menjadi cemas saat ia berlari kearah yang sama dengan Charlize, tanpa menunggu lama Joice, dan Aisnley bergegas menyusulnya. Mereka berputar-putar mencari Isabella dan berhasil menemukannya sedang memeluk Charlize.
"Nona lepaskan duke, ayo kembali bersama kami." Joice dan Aisnley menarik Isabella agar melepaskan pelukannya dari Charlize.
"Tidak mau. Dasar kalian anak nakal, bagaimana bisa kalian hik … ingin memisahkan kedua orang tua kalian," ucap Isabella.
"Kami bukan anakmu!" tegas mereka berdua serempak.
Karena tidak ada tanda-tanda Isabella akan menyerah, Aisnley mengambil jalan pintas yakni memukul belakang kepala Isabella yang membuatnya pingsan lalu mereka dengan mudah membawa dia kembali.
Charlize sedikit tidak rela Isabella yang manis itu pergi. Tapi ia tetap harus menjaga reputasi Isabella, jika ia berani menahan Isabella maka apa yang akan Joice pikirkan tentangnya. Charlize dengan berat hati harus merelakan Isabella dan menunggu pertemuan berikutnya, walau pun ia tau kondisi Isabella tadi sangat aneh.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah membantu😘