The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 93 Segala kemungkinan yang ada.



Burung itu kembali lagi pada Charlize bahkan dia tidak berhenti berkicau, suaranya sangat keras karena ketakutan dengan Isabella.


Melihat itu Charlize tersenyum lalu ia mengusap kepala burung tersebut, "Kenapa? apa kau salah tingkah karena Isabella mengecupmu? aku iri denganmu, aku juga ingin mendapatkan kecupan."


Edmund menatap Charlize dengan wajah datar, "Duke, dia terlihat seperti dia mendapatkan kecupan. Apa anda tidak lihat dia seperti ketakutan?"


"Jangan konyol!" jawab Charlize, "Tidak ada yang ketakutan setelah melihat Isabellaku, aku yakin burung ini jatuh cinta padanya. Sayang sekali dia adalah milikku."


"Tuhan tolong kembalikan tuan ku yang waras," batin Edmund mengalihkan tatapannya dari Charlize.


*****


Selesai sarapan Isabella bersiap pergi ke kediaman Arsena, sesuai janji kemarin ia akan datang menemui Charlize.


"Begitu cantik diwaktu sepagi ini mau ke mana?" tanya Cedric mengusap kepala Isabella.


"Apa yang ayah lakukan?" Vanessa menurunkan tangan Cedric dari kepala Isabella, "Aku susah payah menata rambut kakak, jangan di rusak."


"Apanya yang merusak? ayah hanya mengusap kepalanya saja. Lagi pula untuk siapa dia berdandan secantik ini?"


"Yang pasti bukan untuk ayah."


"Vanessa kau … Isabella kau lihat adikmu itu, jangan terlalu memanjakan dia," kesal Cedric.


"Sudahlah!" lerai Isabella, "Aku akan pergi ke kediaman Charlize, aku akan pulang saat makan malam."


"Pulang saat makan malam?" tanya Elena yang datang entah dari mana, "Apa kata orang nanti jika wanita pulang malam dari rumah pria, nanti akan ada rumor buruk."


"Untuk apa aku hanya membuat rumor saja? aku akan masuk berita panas lagi nanti, contohnya berita Nona Besar Abraham mengusir Duchess Abraham bersama putrinya dari kediaman Abraham. Itu pasti berita  yang akan laku keras."


"Tuanku, anda dengar itu? dia sudah tidak sopan pada saya. Karena anda sudah sayang padanya dia malah semakin lancang," rengek Elena pada Cedric.


"Isabella." Teriak Cedric, "Berita itu pasti akan mengguncang pergaulan kelas atas, jangan buat berita tanpa bukti. Setidaknya carilah alasan bagus agar reputasi mu tidak menjadi buruk."


"Siap ayah." Isabella memeluk Cedric dan mengejek Elena.


"Aku pergi dulu ayah, sampai jumpa nanti malam Vanessa." Isabella melambaikan tangannya lalu naik ke dalam kereta kuda.


"Isabella itu semakin keterlaluan, duke juga malah mendukungnya, sial!" Elena membanting pintu kamar Charlotte.


"Hachiu hachiu hachiu. Ibu, panggilkan ahli ramuan ke mari. Aku merasa semakin panas," pinta Charlotte, akibat berendam terlalu lama sampai malam ia malah kena demam.


"Haish. Kapan hidupku akan menjadi lebih baik, Charlotte harus cepat menikah karena jika seperti ini terus gelar duchessku bisa terancam akan hilang kapan pun," batin Elena yang tidak tahan lagi dengan semua masalahnya.


*****


Sesampainya di kediaman Charlize, Isabella berjalan mencari lokasi ruang kerja tunanganya tersebut. Saat bertemu pelayan Isabella bertanya di mana Charlize, pelayan itu menjawab jika Charlize masih ada di kamarnya akan keluar saat pukul 9 tepat.


Isabella tidak peduli ia langsung bergegas ke kamar Charlize.


Brak!


Isabella langsung membuka pintu kamar Charlize seraya berteriak, "Charlize selamat lagi, kau sudah bangun?"


"I-I-Isa-Isabella! Apa yang kau lakukan di sini?" Charlize terkejut karena Isabella masuk saat dirinya masih memakai baju mandi.


"Pertanyaan macam apa itu? kan kau yang minta aku datang. Apa aku pulang saja?" 


"Kenapa harus ke tempat lain? kau saja datang kemarin langsung ke kamarku. Kenapa? apa yang kau sembunyikan di kamarmu? apa kau menyimpan wanita lain?"


Tatapan Charlize langsung berubah mendengar pertanyaan Isabella. Ia mendekati Isabella, lalu menariknya ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.


"Ada apa denganmu?" tanya Isabella pada Charlize.


"Apa aku seburuk itu di matamu? apa aku terlihat seperti pria hidung belang? apa kau pernah melihat aku membawa wanita lain ke kamarku? kau tidak tau jika kau wanita pertama yang masuk ke dalam kamar ini." Charlize menggenggam tangan Isabella, "Tolong jangan curiga padaku, aku tidak pernah membawa Regina atau siapa pun ke dalam kamar ini."


"Charlize." Isabella merasa bersalah dan langsung memeluk Charlize, "Aku hanya bercanda, kenapa kau malah terluka? maafkan aku."


Tidak ada respon apa pun dari Charlize, Isabella merasa ada yang aneh ia pun mendongkak menatap Charlize.


Ternyata wajah Charlize menjadi sangat merah dan hidungnya berdarah, saat Isabella melepaskan pelukannya Charlize seketika langsung tumbang.


"Charlize, ada apa? bu-buka matamu! Charlize ku mohon jangan mati," teriak Isabella.


*****


Edmund menghela nafas menatap Isabella dan Charlize secara bergantian, ia tidak akan menduga Charlize malah membuat dirinya sendiri menjadi terlihat memalukan di hadapan Isabella.


"Saya tinggal dulu." Edmund meninggalkan kedua orang itu, masih banyak pekerjaannya yang tertunda karena Charlize mendadak pingsan hanya karena di peluk.


"Maafkan aku, kau memeluk secara mendadak tadi jadi aku … begitulah!" Charlize tidak dapat menggambarkan apa yang terjadi lewat lisan.


"Siapa yang menduga Duke Arsena yang gagah perkasa dan suka menggoda tunangannya, pingsan hanya karena mendapatkan pelukan. Kemarin kau tiba-tiba memeluk kenapa tidak pingsan?"


"Karena tadi itu aku hanya pakai baju mandi, jadi sedikit berbeda. Aku ter-terlalu bahagia hingga tidak sadarkan diri."


"Hahahahah, alasan macam apa itu? bodoh!" tawa yang ia tahan sejak tadi kini pecah.


"Tapi Isabella, sebenarnya bau parfummu juga membuatku merasa sangat malu." Charlize tiba-tiba teringat bau parfum yang sama dari Allred, "Bisakah aku bertanya?"


"Bertanya apa? tentu saja bisa."


"Kau, apa hubunganmu dengan Allred? kalian punya parfum yang sama persis baunya. Aku bukan curiga padamu, hanya sedikit penasaran."


"Sial! kenapa bisa menyadari hal sekecil itu?" jerit Isabella dalam hati.


"Kau ke-kenal bau parfumku?" tanya Isabella.


"Ya, bau yang unik dan menenangkan. Tidak ada bau parfum jasmine yang sama dengan bau parfummu. Itulah kenapa aku mengenalnya."


"Tentu saja bau parfum kami sama. Dia sering membeli parfum itu dariku karena suka dengan baunya, itu parfum buatanku sendiri. Tapi kau mengenalnya?"


"Ya. Dulu saat kecil aku pernah bertemu denganmu, kita menghabiskan waktu bersama dan bau parfum itu satu-satunya petunjuk yang bisa membawaku padamu. Aku berpikir aku akan menemuimu melalui bau itu sampai kau mencium bau yang sama dari Allred, saat itu aku sangat frustasi memikirkan apa hubungan antara dia dan kau. Sayangnya aku tidak punya kesempatan bertanya padanya." Raut wajah Charlize terlihat sedikit sedih.


"Tapi kenapa bisa bau parfum kami sama? Isabella yang asli juga pernah membuat parfum? bagaimana mungkin bisa? saat aku pertama kali merasuki tubuhnya, tidak ada satu pun alat untuk membuat parfum di kediamannya. Aku membeli alat itu sendiri dan membuat parfum kesukaanku, itu pun karena aku tidak bisa memakai parfum sembarangan gara-gara alergi kulit. Semua ini membunuh otakku," batin Isabella otaknya mulai berputar memikirkan segala kemungkinan yang ada.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘