The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 95 Berada dalam bahaya



Seminggu kemudian.


Charlize sedang mempersiapkan keberangkatannya ke kekaisaran Diamond untuk mengirim bantuan pangan sebab mereka yang mengalami wabah, Kaisar Damian Irsyad dan Kaisar Andra Diamond adalah sahabat sejak kecil dan menjaga hubungan baik mereka sampai sekarang.


Perjalanan kali ini tidak akan muda karena mereka harus menyebrangi lautan, dan Charlize sebagai keponakan kaisar akan mendapatkan kepercayaan untuk hal ini.


"Kita tidak akan bertemu untuk waktu yang lama, bisakah kau berikan aku sesuatu untuk mengobati rinduku?" tanya Charlize pada Isabella.


"Bagaimana ini? jika kau pergi lebih dari sebulan maka bagaimana aku bisa jatuh cinta? tapi kau ingin barang ku? kalau begitu yang ini saja." Isabella melepaskan liotinnya dengan buah berbentuk tabung, di dalam tabung itu ada serbuk berwarna ungu.


Isabella memakaikan liontin itu pada Charlize, "Itu barang berharga, liontin yang hanya ada satu di dunia karena itu buatan sendiri. Aku tidak pernah melepaskannya selama ini, jadi jaga dengan baik."


"Barang berharga? apa kau sudah memiliki sedikit perasaan padaku sampai kau memberikan ini?" Charlize menatap Isabella dengan tatapan berbinar.


"Ya, aku sedikit mulai mencintamu. Mungkin dari 1 sampai 10 nilai perasaannya 2."


"Tidak masalah, walau pun sedikit setidaknya kau telah nencintaiku. Jangan melirik pria lain dan tunggu aku pulang." Charlize menempelkan dahinya dengan dahi Isabella.


Setelah itu Charlize naik ke atas kudanya, raut wajah bahagia dengan tatapan lembut penuh cinta seketika berubah saat dia menaiki kudanya. 


"Bergerak sekarang!" perintah Charlize, kemudian kudanya berjalan diikuti oleh pasukan Arsena yang lainnya. Edmund tidak pergi bersamanya karena harus menjaga kediaman Arsena sampai Charlize kembali.


"Kau tidak akan bisa kembali Charlize. Kau akan tiada di tengah lautan, kedepannya aku akan menjaga Isabella dengan baik. Jadi pergilah dengan tenang," batin Babel, ia telah meletakan orangnya di kapal yang akan berlayar nanti. Tidak ada yang tau kekacauan macam apa yang akan Charlize dapatkan dari ulah Babel.


*****


Malamnya di kediaman Oswald Luca bersiap bersama dengan Fil, mereka akan menyerang Zelene untuk mencegah dirinya menggila.


"Aku akan tetap di sini mengecoh Isabella. Kalian hati-hati, kembalilah sebelum hari terang," ucap Bara, ia mengantarkan kepergian dua rekannya sampai didepan kediaman. Tidak lama kedua orang itu melesat menuju gunung.


Sementara itu di sisi lain Charlotte diam-diam masuk ke dalam dapur, ia mendekati teh yang Taylor buatkan untuk Vanessa dan Isabella.


"Isabella mungkin kebal akan racun. Tapi Vanessa tidak kan, jadi malam ini Vanessa akan tiada lalu besoknya Carolina juga akan ikut tiada. Maafkan aku Carolina sayangnya aku tidak butuh kau lagi." Charlotte memasukan racun ke dalam cangkir teh Vanessa. Cangkir antara Vanessa dan Isabella berbeda, Isabella selalu menggunakan cangkir yang lebih besar karena ia suka apa saja dalam porsi banyak.


"Malam ini Vanessa akan tiada begitu juga Charlize. Rencana Pangeran Babel membalaskan dendam sangat bagus," batin Charlotte berjalan meninggalkan dapur.


Sesampainya Luca dan Fil di pondok Zelene, mereka langsung mendorbak pintu pondaknya. Terlihat Zelene yang sudah selesai merias dirinya menggunakan gaun pengantin.


"Luca, di mana Allred? kami akan menikah malam ini, aku sudah menyediakan semuanya. Allred pasti terpesona padaku," ucap Zelene dengan tatapan penuh keinginan.


"Tidak ada Allred. Selamanya dia tidak ada, Allred adalah wanita bukan pria. Kakak sudah salah paham selama ini," bentak Luca.


"Omong kosong." Aura hitam mulai berada di sekeliling Zelene, "Aku tau dia itu pria, kalian berusaha memisahkan kami? maka aku akan melenyapkan kalian berdua, hanya aku yang mengerti Allred selamanya."


Kuku Zelene mulai menghitam itu dan bentuk tubuh berubah, muncul tanduk di kepalanya bahkan matanya menghitam.


"Tentu saja. Aku tidak keberatan." cahaya hijau keluar dari tubuh Luca, melihat itu Fil sudah merasakan jika mereka akan bertarung habis-habisan.


Zelene menyerang mereka berdua dengan gerakan membabi buta, dia tidak pernah berlatih seperti petarung. Tapi serangannya tidak bisa di anggap remeh, serangannya sangat kuat dan sangat berbahaya jika tersentuh oleh kukunya yang beracun.


"Matilah matilah matilah," racau Zelene tidak berhenti menyerang, Luca dan Fil beusaha bertahan mati-matian.


Kali ini harus Fil akuin Zelene adalah lawan yang tangguh, tidak peduli berapa kali Fil menendang bahkan sampai Zelene terjatuh dengan keras ia tetap bisa bangkit. Bahkan sayatan dari bilah angin Fik seolah tidak ia rasakan.


"Kau lengah!" Zelene mencabut kukunya lalu melemparkannya ke arah Fil, sebelum Luca berhasil menyelamatkannya kuku itu telah tertancap di tangan Fil membuat pergelangan sampai siku Fil menghitam.


"Aku tidak bisa menggerakan tangan kiri ku lagi. Sakit!" Fil merasakan rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan selama ini pada tangannya.


"Tanganmu akan membusuk bersama seluruh tubuhmu. Bagaimana rasanya? jika Allred datang maka aku akan berpikir untuk memberikan kau penawarnya," ucap Zelene tersenyum bahagia.


"Aku tidak bawa penawar racunnya, bagaimana ini?" batin Luca, ia tidak bisa memikirkan apa pun.


"Bawalah Allred kemarin lalu aku selamatkan temanmu itu," hasut Zelene pada Luca.


*****


"Uhuk uhuk uhuk uhuk." Vanessa memuntahkan banyak darah dari mulutnya, Isabella menjadi panik dan langsung memanggil Aisnley.


Aisnley dengan cepat datang bersama Taylor, Taylor pun mengeluarkan ramuan penawar racun tingkat tinggi pada Vanessa. Tapi ramuan itu tidak membantu sama sekali, kondisi Vanesaa memburuk sampai Cedric datang ke kamar Isabella.


Cedric meminta Jeremy memanggilkan ahli ramuan keluarga Abraham untuk merawat Vanessa, sementara itu Aisnley memeriksa cangkir teh Vanessa.


"Ini bau racun 100 bayangan cinta. Penawarnya sampai saat ini tidak ditemukan dan orang yang membuat racun ini telah tiada, racun ini sangat langkah karena harganya mahal. Bagaimana bisa ada racun itu di kediaman ini? lebih buruknya lagi setelah menderita 100 hari korban dari racun ini akan tiada," ucap Aisnley, ia sendiri gemetaran saat mencium bau racun itu.


"Tidak mungkin. Pelayan yang membuat teh ini adalah Taylor, dia tidak mungkin punya racun semahal itu," balas Isabella. Taylor sendiri jadi ketakutan karena ia yang  telah membuat teh itu.


"Selina, aku akan memberikan kau gaun yang banyak dan mengizinkan kau menunjukan wujud manusia di mana pun. Tapi cari tau siapa yang punya racun ini di kediaman ini dan jangan lepaskan orang itu," perintah Isabella, tatapan Isabella membuat Selina merinding. Ia merasa siapa pun pelakunya tidak akan selamat.


"Aku pergi menemui Luca. Kalian tetaplah di sini dan kau Taylor." Isabella berjalan menghampiri Taylor, "Jangan salahkan dirimu, kami percaya padamu."


Taylor senang Isabella percaya padanya. Namun ia masih belum tenang karena ia lengah saat membuat teh tadi, sekarang Vanessa berada dalam bahaya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘