
Charlize menatap tajam Isabella lalu ia menggenggam tangan Isabella seraya berkata, "Apa kau terluka? apa tanganmu sakit? kulit wajahnya itu sangat tebal jadi jangan memukulnya lagi atau tanganmu akan sakit. Beberapa orang sangat tidak tahu malu dalam bertindak, aku selalu berpikir di mana urat malu mereka itu."
"Pffttt," Luca dan Aisnley menahan tawa mereka melihat betapa menyedihkannya Samantha saat ini. Sudah rela menjatuhkan diri sendiri bukannya mendapatakn simpat malah mendapatkan sindiran, harus mereka akui Charlize sampai pandai menunjukan cinta.
"Sayang, aku tidak menyakiti dia. Kau tau kan aku ini adalah wanita yang akan terluka bahkan hanya dengan mencambut sehelai rambut seseorang, lalu bagaimana bisa aku menampar dan mendorong seseorang. Kau percaya padaku kan?" tanya Isabella mengedipkan matanya.
"Tentu saja aku percaya. Bagaimana mungkin tangan kecil yang imut ini punya kekuatan sebesar itu, kau bahkan bisa saja jatuh tertiup oleh angin jadi tidak mungkin bisa mendorong seseorang," jawab Charlize. Ia terlalu antusias menjawab Isabella sampai lupa jika ucapannya membuat Isabella kesal.
"Kau dengar itu? tertiup angin katanya. Hahahah," bisik Aisnley menertawakan Isabella.
"Charlize itu sedikit bodoh, dia punya bakat membuat orang kesal saat dirinya tersipu. Bagaimana mungkin wanita yang biasanya menerbangkan orang hanya dengan sekali tendangan bisa terbang hanya karena angin, Isabella selemah itu di matanya," balas Luca terdengar jelas oleh Isabella.
"Itu kekuatan cinta mungkin," ejek Aisnley.
"Jika memang kekuatan cinta maka tidak ada orang di dunia ini yang mau jatuh cinta lagi," jawab Aisnley.
"Kalian mau ku bunuh? hentikan omong kosong kalian," telepati dari Isabella membuat Luca dan Aisnley langsung bungkam.
"Sudahlah lupakan saja! ayo kembali, para tamu pasti mencari kita. Ayo! cepatlah!" Isabella menarik tangan Charlize dan mereka semua pergi meninggalkan Samantha.
"Charlize membenciku? di-dia? Isabella telah merebut Charlize sepenuhnya dariku. Aku sudah kehilangan dia," batin Samantha merasa sangat sakit hati sebab ucapan Charlize.
*****
"Semuanya sudah selesai. Aku akan memanggil kakak dan kakak ipar kemari, Kak Callix tolong jaga dapur yah," ucap Vanessa. Ia berlari meninggalkan dapur.
"Apa para tamu sudah pulang? seharusnya tinggal beberapa tamu saja yang ada, waktu sudah … akh!" Vanessa terkejut saat ada seseorang yang menariknya secara mendadak.
"Pangeran Albert? apa yang anda lakukan di sini? saya hampir mati karena takut," kesal Vanessa mengusap dadanya.
"Bisakah kau berhenti menggunakan bahasa formal? sebelumnya kau tidak pakai bahasa formal saat kita hanya berdua saja. Ada apa denganmu?" tanya Albert dengan raut wajah sedih.
"Saya kecewa dengan anda. Saya ingin mengakhiri hubungan kita, bagaimana bisa anda menutup mata anda dari kebenaran tentang Nona Samantha? apa jika saya yang jatuh malam itu anda akan diam saja sama seperti ini? anda dulu tidak seperti ini. Anda telah banyak berubah, sekarang anda dengan Pangeran Babel tidak ada bedanya di mata saya." Vanessa menumpahkan semua kekecewaan akan sikap Albert.
"Vanessa, kau harus mengerti aku. Gadis suci adalah identitas Samantha yang tidak bisa di sentuh oleh kaisar, kekaisaran kita sangat membutuhkan dia. Jika dia di hukum maka tempat suci akan menjadi musuh keluarga kerajaan, aku bukannya tidak mau memberikan Isabella keadilan."
"Anda jangan berpikir saya tidak tau jika selama ini anda berniat menjauhkan Kak Isabella dan Kak Charlize, lalu anda ingin menjodohkan Kak Charlize dengan wanita busuk bernama Samantha itu. Di mata anda kakak saya itu wanita jahat kan? jika anda tidak suka dengan kakak maka jauhi saya, itu baru benar anda tidak …." Vanessa tidak menyelesaikan ucapannya karena Albert meneteskan airmata.
"Albert, kau …." Vanessa ingin menyentuh Albert. Namun, dia menghindar dari Vanessa.
"Tidak ada orang yang mau membuat berita atas kebaikan seseorang, mereka butuh berita buruk tentang seseorang agar surat kabar mereka laku keras. Kakak bersandiwara selama ini, aku juga salah karena tidak mengatakan itu padamu. Maafkan Albert, aku tidak suka ada yang bicara buruk tentang kakak. Maafkan aku!" Vanessa memeluk Albert begitu pun sebaliknya.
*****
"Kau mau bawa aku ke mana? lepaskan aku Albert!" Samantha berusaha melepaskan genggaman tangan Albert darinya.
Albert menarik Samanatha tanpa mengatakan apapun, ia menarik Samantha sampai ke ruang kerja kaisar lalu ia mengempaskan Samantha begitu saja di lantai.
"Sikap macam apa ini Albert? apa masalah mu denganku?" bentak Samantha.
"Kau lah masalahku." Singkat Albert.
Lalu Albert beralih menatap kaisar dan berkata, "Ayahanda. Aku akan menghukum Samantha atas apa yang dia lakukan pada Isabella, bukan menghukumnya sebagai wanita suci melainkan sebagai seorang bangsawan. Ini keadilan yang akan aku berikan atas nama putra mahkota."
Senyum kecil terukir di wajah kaisar, akhirnya Albert bisa melakukan apa yang harus dia lakukan, "Baiklah. Countess Samantha gelar bangsawanmu aku cabut, kau selamanya akan menjadi wanita suci dan tidak bisa meninggalkan tempat suci. Hartamu akan di tarik lalu kami sumbangkan ke rumah panti asuhan. Ini titah kaisar."
"Paman, tidak. Paman tidak bisa melakukan ini padaku, ku mohon aku tidak mau tetap di sana," pinta Samantha beralih pada Albert, "Katakan sesuatu Albert. Kau bilang kau ada di pihakku, ku mohon hentikan titah paman."
"Ayahanda. Kau melupakan aku, aku siap menerima hukuman apapun." Albert berlutut. Ia ingin menebus semua kesalahannya.
"Baiklah untukmu. Kau akan di kurung selama sebulan di aula leluhur kita untuk merenungi kesalahanmu, jangan berpikir bisa keluar sampai waktu yang di tentukan," perintah Kaisar.
"Terima kasih atas kebaikan hati kaisar." Albert menunduk lalu tidak lama para kesatria masuk, yang lain membawa Samantha pergi ke tempat suci dan membawa Albert ke aula leluhur.
Aula leluhur adalah tempat di mana keluarga kerajaan meninggalkan gelar bangsawan mereka di istananya, bukan hanya itu mereka harus meninggalkan semua kemewahan. Di aula leluhur mereka akan di bekerja seperti para pelayan, tidak ada makanan mewah, tidak ada minum apapun selain air, bekerja keras agar bisa dapat jatah makanan. Itulah kehidupan yang akan Albert lalui selama sebulan.
"Tunggu aku kembali Vanessa. Aku kali ini tidak akan mengecewakanmu," batin Albert saat kereta kudanya meninggalkan kerajaan menuju pegunungan.
Vanessa yang tidak tau apapun tentang hukuman Albert kini tidak bisa melihat tunangannya untuk waktu yang sedikit lama, ini pertama kalinya Albert pergi ke aula leluhur sebab ini adalah hukuman pertamanya serta kesalahan pertamanya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘