
"Hiks Kak Kesha, aku mau menemui Kak Taylor. Kenapa mereka membawa Kakak kita? apa salah kakak kita?" tanya Cony berlinang airmata.
"Cony sayang." Kesha mengangkat Cony agar duduk dipangkuannya, "Kak Taylor akan segera pulang, mereka membawanya hanya untuk sementara saja. Dengarkan kakak baik-baik, kau tidak boleh menangis lagi agar Kak Taylor akan cepat pulang. Ya?"
"Tidak mungkin Kak Taylor akan kembali. Pria berbadan besar itu telah membawanya seperti membawa burung, kata paman jika ada seseorang membawa burung dalam sangkar maka burung itu telah menjadi milik orang itu jadi kakak kita sudah menjadi milik pria itu. Kenapa pria itu menginginkan kakak kita? dia kan bisa membeli burung sungguhan di pasar burung."
"Tidak, Cony. Yang kau katakan itu hanya berlaku untuk burung, seperti katamu kakak kita bukan burung sungguhan lalu sangkar itu … untuk burung raksasa yah untuk burung raksasa, mereka membawa kakak karena kakak kita ahli dalam menangkap burung itu."
"Sungguh? kakak kita akan pulang lalu memasak makanan enak?"
"Ya, tentu saja atau begini saja. Cony akan kakak antar ke rumah paman lalu kakak akan pergi membantu Kak Taylor menangkap burung besar itu, kakak akan membawa paha burung itu untuk kita panggang lalu kita akan makan bersama. Kau mau kan?"
"Ya, kakak pergilah bantu Kak Taylor dan paman berbadan besar bersama paman tampan itu." Cony yang polos akhirnya setuju dengan ucapan Kesha.
Setelah mengantar Cony ke rumah pamannya, Kesha pun langsung bergegas meninggalkan permukiman tua. Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, ia tidak tau harus mencari Taylor di mana lagi.
"Seharusnya aku menurut pada kakak untuk meninggalkan ibukota, bodohnya aku," batin Kesha berlari dalam keadaan menangis.
*****
"Kau sudah mau pergi?" tanya Charlize saat ia melihat Aisnley mendorong kursi roda Isabella di lorong menuju pintu keluar istana.
"Ya. Sudah merepotkan selama sejak semalam. Entah bagaimana caraku membalas semua itu," jawab Isabella.
"Pelaku penyerangan itu sekarang ada di penjara, apa kau menemuinya?" tanya Charlize lagi.
"Duke, apa kau bercanda? dia masih belum pulih jika ber …."
"Aku akan menemuinya. Aku akan lihat wajah dari orang yang berani menyentuh batas kesabaranku, aku akan membunuh pelakunya dengan tanganku sendiri," jawab Isabella memotong ucapan Aisnley.
"Aku tau kau sangat khawatir pada Vanessa. Tapi ke penjara bukanlah pilihan yang bagus saat ini, kita harus pulang dan Luca harus merawatmu. Ku mohon," pinta Aisnley.
"Duke Arsena!" panggil Babel berjalan mendekati mereka, "Apa yang kau lakukan di sini? kau ada pertemuan dengan para pendukung kakak yang lain. Rapat akan segera mulai 10 menit lagi, kau mau membuat kakak menunggu?"
"Pangeran Babel itu urusanku, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Jika aku ingin maka aku akan datang, terlambat 10 menit atau 10 jam apa bedanya? kau fokus saja pada pekerjaanmu," ketus Charlize.
"Charlize." Kali Samantha yang datang, "Kenapa kau masih di sini? rapat akan segera di mulai. Apa kau tidak mau menghargai Albert? dia akan menunda rapat sampai kau datang, hal ini akan membuat bangsawan lain merasa tidak dihargai."
"Duke, anda bisa pergi. Jangan membuat orang lain kesal hanya karena anda ingin menemani saya, saya akan pergi bersama Aisnley atau kita bisa pergi bersama lain kali. Jika anda …."
"Charlize." Samantha memegang tangannya membuat ucapan Isabella terhenti, "Ayo! jangan membuang waktu lagi, ayo."
"Charlize, pergilah. Besok aku akan mengundangmu ke kediamanku, kita bisa pergi bersama nanti. Kau mau kan? tolong kali ini saja jangan membuat aku merasa bersalah karena menunda rapatmu. Ya?" pinta Isabella dengan tatapan memelas, membuat Charlize tersipu malu.
"Ya, sampai jumpa nanti." Charlize langsung beranjak pergi bersama dengan Samantha.
"Seberapa dekat mereka sebenarnya? aku sengaja menyebut nama Charlize secara langsung untuk membuat dia cemburu akan kedekatan kami. Tapi ternyata dia malah menyerang balik, dasar rubah!" batin Samantha tidak tahan melihat Charlize tersipu.
"Bagaimana jika saya mengantar anda pergi ke penjara? kebetulan saya tau di mana penyerang itu di kurung," tawar Babel ingin membuat kedekatan dengan Isabella.
"Terima kasih. Tapi saya rasa itu tidak perlu," tolak Isabella dengan nada datar, "Aisnley dorong kursi rodanya ke penjara, kau tau kan?"
"Y-ya nona." Aisnley langsung mendorong kursi roda Isabella karena ia merasa suasana hati Isabella mendadak jadi buruk.
****
"Bagaimana ini? jika aku dapat hukuman mati maka apa yang akan terjadi pada adik-adikku. Putra mahkota membuatku tidak bisa menyebut nama Nona Samantha, walau pun kaisar menyerahkan hukuman ke tangan korban dari ulahku. Apa yang akan berubah?" batin Taylor yang terus merasa gelisah sejak semalam.
"Jadi kau adalah pelakunya dari insiden itu rupanya," ucap Isabella menatap tajam Taylor, mendengar suara seseorang Taylor pun langsung mendongkak menatap siapa pemilik suara itu.
"Seorang wanita yang kurus, lemah, dan penakut. Bagaimana bisa kau melakukan kejahatan saat semua sikap itu ada padamu? ck! pasti ada seseorang di balik ini semua kan?" lanjut Isabella membuat Taylor gemetar ketakutan, masalahnya kaisar dan putra mahkota saja tidak bisa menebak secepat itu jika dirinya adalah suruhan seseorang. Putra mahkota sendiri tau, itu pun karena Taylor yang memberitahunya.
"Biar ku sebutkan nama musuh-musuhku. Elena? Regina? Charlotte? atau Carolina?" tanya Isabella. Lalu ia teringat seseorang lagi, "Ah! ada seseorang yang membenciku padahal aku tidak mengenalnya, namanya Samantha."
Mendengar nama Samantha reaksi Taylor menjadi sangat aneh, ia menjadi lebih gemetar bahkan ia nampak terkejut dan itu terlihat dari matanya.
"Sepertinya aku benar. Kau adalah pelayan Samantha kan? wanita suci itu tidak mungkin bisa menyewa pembunuh karena takut identitasnya terungkap, jadi dia menggunakan salah satu pelayannya yang mungkin dia anggap tidak berguna. Hhmmm, apa untungnya bagimu melakukan ini semua? apa mungkin karena nyawa keluargamu terancam?" Isabella terus mengucapkan apa saja yang ia pikirkan.
"Jangan katakan lagi. Semua yang anda benar, jika anda ingin membunuh saya maka bunuh saja saya. Saya telah melakukan kejahatan besar." Taylor tidak ingin mendengar apa pun yang Isabella katakan, karena semuanya tidak akan berubah.
"Tidak tidak tidak. Kau bukan penjahat, penjahat yang sesungguhnya adalah orang yang meminjam tanganmu untuk melakukan kejahatan, dan aku akan menghukum orang itu agar kau bisa mendapatkan keadilan. Tapi bukan berarti kau bisa bebas, kau akan bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan padaku. Aku ingin sesuatu darimu hanya saja itu bukan nyawamu karena nyawamu milik tuhan biarlah itu menjadi urusanmu dengan tuhanmu," ucap Isabella tersenyum.
Taylor tidak menyangka akan ada orang yang memberikan seorang pelayan keadilan, ia tidak tau apa itu benar atai tidak. Namun ia ingin percaya pada harapan itu, tidak peduli itu kebenaran atau tidak.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘