The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 59 Kesempatan dalam kesempitan



Isabella meninggalkan kediamannya tanpa menggunakan kereta kuda milik duke, ia tidak ingin ada yang tau ke mana tujuannya. Namun ditengah jalan kereta kuda sewaannya itu rusak, lebih buruknya lagi kereta itu rusak di tempat yang tidak ada orang di sana karena jalan tersebut bersebelahan dengan hutan.


"Seharusnya aku tidak ikut jalan pintas," batin Isabella. Ia membayar sewanya dan langsung beranjak pergi.


Isabella berjalan tanpa menggunakan alas kaki, berjalan dengan sepatu tinggi membuat tumit Isabella sakit.


"Stop!" perintah Selian tiba-tiba melompat  turun dari pundak Isabella.


"Apa? kenapa?" tanya Isabella kebingungan.


"Aku mencium bau darah," jawab Selina. Ia berubah ke wujud manusia kemudian berlari menyelusuri hutan, Isabella tidak sempat menghentikannya dan terpaksa ia harus mengejar Selina.


Langkah Selina terhenti didepan sebuah gua, "Baunya dari sini!"


"Baunya dari dalam gua? kau itu anjing atau naga sampai bisa mencium bau darah dalam gua sejauh ini, kalau pun benar-benar bau darah sudah pasti itu hewan buas yang terluka. Biasanya beruang tinggal di dalam gua bukan? sudahlah! kita kembali saja," ucap Isabella. Ia enggan terlibat dengan hewan buas.


"Jangan konyol! mana ada beruang di hutan yang letaknya ada di ibukota. Jangan banyak bicara lagi dan pergilah ke dalam."


"Apa kau gila? namanya hutan pasti ada hewan buas tidak peduli letak hutan itu di mana, aku tidak mau masuk."


"Jika itu adalah manusia maka dia bisa saja tiada."


"Kenapa malah memintaku yang pergi? kau saja yang pergi jika kau sangat ingin memeriksanya. Kau kan tinggal di gua jadi kau lebih ahli dalam hal ini dari pada aku, kalau aku sih tidak mau," tolak Isabella lagi.


Selina berdecak kesal kemudian ia berlari ke dalam gua tersebut, tak lama kemudian ia berteriak memanggil Isabella. Karena dia terus berteriak Isabella terpaksa harus ikut masuk ke dalam.


"Dia … dia pria dalam berita panas pagi ini, Duke Arsena. Lihat! dia terluka sangat parah," ucap Selina.


Isabella dengan cepat memeriksa lukanya, ternyata itu luka tertusuk panah bahkan ini 5 anak panah sekaligus. 


"Menyingkirlah!" Isabella mendorong pelan Selina  untuk menjauh dari Cedric, lalu Isabella mengangkat sedikit kepala Charlize agar  ia bisa dengan mudah memasukan ramuan penyembuhan luka ke mulutnya.


Namun sayang sekali ramuan itu tidak bisa masuk ke dalam mulut Charlize, dan setengah botol ramuan itu harus terbuang sia-sia.


"Berikan padaku!" Selina merampas ramuan itu dari tangan Isabella lalu ia memasukannya ke dalam mulut setelah itu ia mendekatkan wajah ke wajah Charlize.


Melihat hal itu Isabella sudah bisa menebak apa yang ingin Selina lakukan, spontan Isabella memukul pelan kepala Selina sampai ramuan itu tertelan olehnya.


"Apa yang kau lakukan? ramuannya malah tertelan," kesal Selina.


"Kau gila yah mau memberikan ramuan itu dari mulut ke mulut. Pada orang sekarat saja kau masih ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan," gerutu Isabella.


"Aku kan hanya berbuat baik, Pamela pernah melakukan hal yang sama jadi aku menirunya lagi pula pria ini tampan jadi aku tidak rugi," balas Selina.


"Tidak semua hal harus ditiru, kau ini memang benar-benar kehilangan akal sehatmu. Lihat caraku ini!" kesal Isabella yang mengeluarkan ramuan baru dari kantongnya.


Lalu tanpa rasa belas kasih Isabella membuka mulut Charlize dengan paksa lalu ia menuangkan semua ramuan itu kedalam mulutnya, Selina jadi merinding melihat hal itu bahkan pada orang sekarat saja Isabella tidak bisa bersikap lebih lembut.


"Wow! dia mengigau dengan namamu, apa semua manusia sekarat seperti itu? dia sampai meminta mu berjanji untuk  menyusulnya mati. Khaisat ramuan mu itu memang sempurna," goda Selina.


Namun Isabella tidak yakin ini semua karena ramuan itu, Charlize mungkin mengenal Isabella yang asli dengan sangat baik jika tidak maka ia pasti tidak akan mengigau seperti itu. Isabella tidak bisa tinggal diam saja, ia harus menyelidiki hal ini karena novel ini telah berjalan tidak sesuai lagi dengan alurnya.


"Ayo, kita harus pergi!" Isabella menarik Selina secara paksa meninggalkan gua itu, ia tidak bisa bertemu atau membiarkan Charlize melihatnya saat ini. Bisa saja hal itu akan membahayakan hidupnya karena Charlize diceritakan dalam novel hanya pada bagian perangnya saja, selebihnya nama Charlize tidak pernah dituliskan oleh Pamela lagi.


*****


"Akkhhh! ini membuatku gila. Aku tidak percaya ini," teriak Aisnley karena tidak kunjung menerima kabar dari Allred setelah waktu libur mereka selesai.


"Ini memang gila. Rumah yang ia katakan milik adiknya mendadak kosong, orang-orang di sana bilang mereka pindah. Apa Allred juga pindah bersama mereka?"  tanya Bara.


"Jelas-jelas ada yanga aneh di sini. Mungkin saja saat ini dia sedang sibuk sampai tidak sadar jika waktu telah berlalu," jawab Fil.


"Mungkin kita dibuang," tambah Luca yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Aisnley.


"Jangan membual! jika ada di dunia ini hal yang mustahil Allred lakukan, maka salah satunya adalah membuang kita. Aku yakin itu," ucap Ainsley.


"Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanya Bara. Ada sedikit keraguan dihati akan Isabella, "Selama waktu libur kita semua sempat bertukar kabar. Tapi apa ada diantara kalian yang mendapatkan kabar dari Allred?"


Pertanyaan itu mendapatkan kebisuan sebagai jawabannya, karena pada kenyataannya Isabella adalah satu-satunya anggota yang tidak pernah memberikan kabar.


"Tapi walau pun demikian aku yakin Allred tidak akan setega itu, aku yakin dia tidak seperti itu," ucap Aisnley. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri.


"Keyakinan itu baik. Tapi jika alasan dari keyakinan itu tidak ada, maka itu sama saja dengan kebodohan. Kita memang harus percaya padanya karena adalah kepercayaan itu kekuatan tim, aku bertanya seperti itu bukan karena aku tidak percaya pada Allred. Hanya saja aku khawatir, setelah kematian Martini dia menjadi agak aneh. Kemungkinan dia mengakhiri hidupnya sendiri karena perasaan bersalahnya sangat besar, kalian sendiri tau kan dia memisahkan diri dari kita tanpa ragu dan tidak menoleh kebelakang," terang Bara. Ia menutupi satu kegelisahan dan membuka kegelisahan yang lebih besar.


Seketika rasa khawatir langsung menghantui tim tersebut, semua pikiran buruk mulai terbayang-bayang dalam otak kecil mereka.


"Jadi apa mungkin adiknya pindah dari rumah itu karena Allred telah tiada?" tanya Fil memancing pikiran buruk yang lainnya.


"Ya, mungkin saja. Adiknya mungkin terlalu sedih lalu dia pindah dari sini karena kenangannya tentang Allred di desa ini sangat banyak, ia tidak bisa menahan rasa sedihnya dan pergi memulai hidup yang baru," timpal Aisnley.


"Itu benar. Jadi sekarang sudah jelas, kita harus mencari adiknya itu dan mendapatkan lebih banyak informasi tentang Allred," usul Bara.


"Huwaaaa, Tuan Allred kenapa anda pergi begitu cepat." Luca terisak membuat yang lainnya jadi ikut menangis.


Ainsley langsung mendekap Luca seraya beerkata, "Sudah sudah sudah, tenangkan diri kalian. Kita harus kuat dan mencari tahu kebenerannya."


Setelah itu mereka bergegas meninggalkan kedai makan tersebut, lalu mencari informasi sebanyak mungkin tentang Isabella.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘