
"Ibunda." Teriak Babel dengan nafas yang tidak teratur ia berjalan mendekati mereka.
"Pangeran baguslah anda datang." Liliana berjalan menghampiri Babel, "Katakan pada mereka jika kau sangat mencintaiku dan tidak ingin hubungan kita berakhir."
Babel menatap Liliana dengan tatapan tajam lalu ia berakting menjadi pria yang lemah lembut, "Apa yang kau katakan Lili? aku tidak ingin berbohong lagi, aku sebenarnya mencintai putri duchess."
"Sandiwara macam apa yang kalian mainkan? kenapa kau mengatakan omong kosong yang sama dengan ibumu?"
"Ini bukan sandiwara atau pun omong kosong Lili. Aku tidak bisa terus bersamamu dengan menipu diri sendiriku."
"Dulu kau mengatakan kau mencintaiku lalu apa ini? kau sudah tidak waras dan aku tau ini semua rencana ibumu kan?"
Babel menesteskan airmata dan berlutut di depan Liliana lalu menggenggam tangannya, "Ku mohon jangan sakiti hati ibuku dengan cara seperti ini Lili. Ibunda ku adalah korban juga karena selama ini ibunda tidak tau tentang perasaanku, aku yang salah bukan ibunda."
"Menyingkirlah dariku!" Liliana mendorong Babel membuat Elena merasa kasihan pada Babel.
"Pangeran ternyata adalah pria yang selembut ini, hatinya harus terluka bahkan di perlakukan dengan kasar oleh Liliana. Jika dia mencintai seseorang maka dia pasti sangat perhatian pada orang itu," batin Elena.
"Berani sekali kau mendorongku. Liliana awas kau nanti!" batin Babel. Ia tidak senang jika dirinya di hina seperti ini.
"Cukup Nona Liliana. Cinta itu tidak bisa di paksakan, tidak peduli seperti apa kau meminta atau mengamuk jika dia tidak mencintaimu apapun tidak akan ada yang berubah," ucap Elena menengahi perdebatan mereka.
"Kau berkata seperti itu karena yang di jodohkan adalah putrimu. Kau pasti senang karena putrimu menjadi permaisyuri dari Babel. Tapi jangan harap itu akan terjadi selama aku masih ada," balas Liliana.
"Kau ikut aku!" Babel menarik Liliana untuk ikut dengannya sampa di ruang kerja Babel.
"Kenapa kau bawa aku ke mari? kenapa?" kesal Liliana, ia belum puas berdebat dengan Elena.
"Kau terus memaksa ku mengingatkan cinta kita. Aku tidak pernah lupa kalau aku mencintaimu lalu apa artinya cinta sekarang Lili? kau telah membuat reputasi ku jatuh dengan kasus keluarga mu, hanya tinggal menunggu waktu saja keluargamu hancur. Apa kau ingat apa janji kita saat pertama kali bertunangan?"
"Babel janji itu kan …."
"Biar aku ingatkan," potong Babel, "Janjinya adalah kita akan selalu bersama jika keluargamu bisa mendukungku menaiki tahta kaisar. Tapi bagaimana bisa kau menjadi pendukungku saat keluargamu berada di ambang kehancuran? kau melupakan janji kita jadi batalnya perrtunangan ini bukan salahku melainkan salahmu. Aku kecewa padamu."
"Babel, ku mohon berikan aku satu kesempatan lagi. Aku ingin tetap berada di sampingmu, aku akan menyingkirkan semua penghalang di jalanmu. Tolong jadikan aku apa saja dalam hidupmu, pelayan pun tidak masalah asal aku tetap bersamamu."
Babel tersenyum penuh kemenangan lalu ia memeluk Liliana, "Maafkan aku Lili. Aku telah menyakitimu, jika kau ingin tetap di sampingku maka aku akan memberimu tempat di sisiku. Jangan khawatir Lili."
"Semua wanita itu bodoh, tidak ada yang secerdas ibuku. Liliana ku yang malang, Aku akan membuatmu tetap berada di sisiku lalu memanfaatkanmu sebaik mungkin jika kau sudah tidak berguna lagi maka maafkan aku harus membuangmu," batin Babel. Ia ingin memanfaatkan Liliana.
*****
"Kenapa ibu belum pulang? sebentar lagi mereka sampai," ucap Charlotte. Ia tidak bisa berhenti mondar-mandir dalam kamar.
"Bagaimana ini? ayah akan membunuh kita jika ayah sampai tau kita … kita yang merencakan penculikan ini," balas Carolina.
"Kau pikir yang khawatir hanya kau saja, aku juga. Aku sangat takut sampai rasanya aku akan gila."
"Aku akan mengkambing hitamkan kau jika ayah bertanya nanti, aku tidak mau mati."
"Bagaimana jika kita kabur saja?"
"Jangan konyol!" kesal Charlotte.
"Selamat datang kembali Nona Vanessa, Nona Isabella." teriakan para pelayan terdengar sampai ke kamar sih kembar.
Mereka berdiri diantara para pelayan dan menghindari kontak mata dengan Vanessa, melihat sikap mereka itu membuat rasa senang tersendiri di hati Vanessa.
"Ekhen kau … bagaimana kabarmu?" tanya Cedric pada Isabella membuat semua yang ada di sana terkejut termasuk Isabella.
"Ayah bertanya padaku?" Isabella balik bertanya pada Cedric.
Seketika wajah Cedric memerah lalu ia berbalik seraya berkata, "Sesayang apapun kau pada Vanessa, jangan sampai kau lupa menyayangi dirimu sendiri. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat."
Isabella merasa ada sesuatu yang aneh dengan dadanya, ia merasa hangat dan sedikit sesak.
"Terima kasih ayah," gumamnya. Namun terdengar jelas oleh Cedric.
"Ayo kita biarkan kedua nona ini istirahat," perintah Cedric.
"Tunggu dulu!" cegah Isabella, "Aku sudah menahan diri sejak kemarin, kenapa tidak biarkan Vanessa katakan siapa dalang di balik penculikannya."
"Apa kakak sebegitunya ingin tau dalang dibalik ini semua?" tanya Vanessa cemberut.
"Kau sudah janji bukan?"
"Baiklah. Dalangnya adalah …." Vanessa menatap sih kembar membuat sih kembar ketakutan, "Aku tidak tau. Dia adalah kusir yang menggantikan kusir ayah lalu pergi membawa kereta yang aku naiki ke luar ibukota. Tapi pelakunya adalah Baron Martin Kalandra, ayah tenang saja karena sekarang keluarga baron itu telah hilang dari dunia ini."
"Baguslah." Cedric merasa lega karena pelakunya telah di hukum. Namun tidak dengan Isabella, ia tau jika masih ada yang Vanessa sembunyikan darinya.
Setelah itu Cedric meminta kedua putrinya itu untuk istirahat lebih dulu. Tapi bukannya istirahat Isabella malah pergi mengganggu Vanessa, ia ikut Vanessa ke kamarnya.
"Kau tadi bohong kan? coba katakan yang sejujurnya pada kakak?" tanya Isabella.
Vanessa tertawa terbahak-bahak karena ia pikir tidak ada yang curiga dengan ucapannya tadi, "Kakakku memang hebat. Tapi aku tidak ingin membuat masalah lagi dengan mengatakan dalangnya, terlalu banyak masalah yang aku sebakan dan membuat ayah khawatir."
"Mereka itu sih kembar kan?" tanya Isabella lagi.
"Kenapa kakak sehebat itu sampai bisa menebak pelakunya?"
"Malam itu saat kau dibawa kau dalam keadaan terluka, jika menurut ceritamu itu kau tidak di lukai sama sekali jadi kakak tidak percaya pada cerita mu. Tapi petunjuk yang membawa kakak ke pelakunya adalah Baron Martin, dia tidak lain adalah paman dari sih kembar. Terutama kereta yang kau gunakan untuk pulang dab pergi ada di kediaman saat kau menghilang, jadi kakak tau jika kau berhasil pulang dengan selamat malam itu. Kakak berpikir bisa saja kau di serang di dalam kediaman dan sudah kakak pastikan pelakunya adalah sih kembar," jelas Isabella.
"Apa ayah berpikir sama seperti kakak?"
"Tidak mungkin. Ayah tidak akan menggunakan akalnya jika kau yang bicara," jawab Isabella menggelengkan kepalanya.
"Tapi kak, Fil itu siapa? apa kakak tidak sadar saat kakak tertawa bahagia dengan pria itu … Kak Charlize menatapnya seakan dia ingin melahap Fil." Vanessa merinding kala mengingat tatapan dingin Charlize.
"Ah!" Isabella teringata kata-kata Charlize saat ia dan Selina menyelamatkannya waktu itu, "Apa kau tau apa hubunganku dengan Charlize dulu? dia seperti sangat mengenalku."
Vanessa tersenyum menatap Isabella dengan tatapan seperti telan menangkap basah Isabella melakukan sesuatu, "Apa kakak benar-benar tidak ingat dengan Kak Charlize?"
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘