
Samantha berjalan dengan sangat cepat menuju ruangan master pusat penelitian, ia tidak bisa menerima ada wanita aneh dekat dengan Charlize terutama dia adalah wanita pemabuk yang aneh.
"Salam Nona Samantha, suatu kehormatan anda datang ke sini. Saya akan mengantar anda ke …."
"Tunggu!" Samantha memotong ucapan Wyne, "Aku tidak ingin bekerja sama dengan seorang wanita pemabuk, wanita itu bertindak lancang padaku."
"Tidak ada pemabuk di tempat kami ini. Mungkin saja itu adalah orang lain," sanggah Wyne.
"Orang lain katamu? coba tanya pada Nona Joice, dialah yang datang menjemput orang itu," balas Samantha.
Wyne mau tidak mau harus menuruti apa yang Samantha katakan karena mau bagaimana pun sikap Samantha dia adalah wanita suci, kekuatannya sangat perlukan oleh kaisar dan jika mereka membuatnya tidak nyaman bisa saja kaisar menutup pusat penelitiannya.
Tidak lama setelah dipanggil Joice pun datang, ia berdiri dengan wajah tertunduk dihadapan Wyne serta Samantha.
"Apakah benar di sini ada wanita pemabuk?" tanya Wyne pada Joice.
"Sebenarnya nona bukan wanita pemabuk. Kami sedang melakukan uji coba racun pada nona karena nona kebal dengan berbagai jenis racun, master ahli racun memberikan nona racikan dari bahan-bahan paling beracun lalu nona memakannya. Setelah memakan itu kekebalan nona semakin bertambah dan nona menjadi mabuk," jawab Joice.
"Mana mungkin setelah minum racun dia hanya mabuk saja, kekebalan tubuhnya sangat tinggi. Siapa dia sebenarnya?" tanya Samantha.
"Nona Isabella Abraham putri kandung Duke Abraham," jawab Joice.
"Ternyata kakak dari Vanessa. Aku harus bersikap baik padanya lalu memanfaatkannya menjadi bahan eksperimenku, dengan meneliti tubuhnya aku bisa saja membuat wanita itu makan semua racun yang akan ku buat nanti. Lalu aku akan membuat ramuan terbaik karena aku punya wadah racun terbaik," batin Samantha.
"Baiklah. Maafkan aku karena aku sudah bersikap kasar padamu Master Wyne, aku akan pergi ke ruangan peracik ramuan sekarang. Joice antar aku yah," pinta Samantha dengan sangat ramah, dengan senang hati Joice mengantarkan Samantha menuju ruangan yang ia maksud.
Sesampainya Samantha di sana semua orang yang ada di ruangan peracik ramuan langsung antusias menyambutnya, hanya Luca saja yang tetap diam dan sibuk memeriksa herbal.
"Ini semua herbal yang tidak akan membantu. Ramuan buatan lebih berkelas dari semua herbal berkualitas bagus ini, mereka hanyalah sampah di tanganku," batin Luca meletakan semua herbal itu.
"Itu kan … mas-master ahli ramuan. Aku bisa bertemu dengannya di sini? ini adalah tempat yang tidak layak untuknya," batin Samantha. Ia merapikan penampilannya lalu berjalan mendekati Luca tanpa memperdulikan orang-orang di sampingnya.
"Herbal itu hanyalah sampah di tangan seorang ahli ramuan seperti anda," ucap Samantha mengalihkan perhatian Luca padanya.
"Siapa kau?" tanya Luca pada Samantha, "Aku tidak kenal kau. Tapi kau benar, herbal ini sama sekali tidak akan membantu jika di jadikan penangkal racun."
"Saya adalah Samantha, seorang wanita suci. Saya datang khusus membuatkan ramuan karena akhir-akhir muncul racun yang aneh, di ruangan peracik racun juga sedang meneliti racun itu kan?"
"Ya. Jika kau wanita suci bagaimana kalau bekerja sama denganku, mungkin saja gabungan kekuatan kita bisa membantu."
"Baiklah. Saya sudah pernah menyelamatkan seorang kesatria yang terkena racun itu dengan kekuatan saya serta ramuan yang saya racik."
"Ramuan biasa saja tidak akan membantu. Ramuan itu mungkin bisa bekerja karena ada kekuatanmu di sana, ayo kita mulai gabungkan kekuatan kita. Kebetulan bagian dari racunnya sudah di sini, aku telah meneliti sedikit. Tapi itu tidak bisa membantu karena aku bukan ahli dalam tanaman beracun," ucap Luca disetujui oleh Samantha.
"Akhirnya aku bisa bekerja sama dengan Tuan Luca," batin Samantha.
*****
"Dasar pemalas! pergilah bekerja sana!" ketus Selina memukul kepala Isabella.
"Kakak, ada surat untukmu." Vanessa membawakan surat dengan lambang permaisyuri disana.
"Dari siapa? kalau itu surat untuk undangan pesta teh maka buang saja," jawab Isabella tetap berbaring diatas ranjang.
"Bangunlah, kita akan membaca surat ini bersama. Surat dari permaisyuri." Vanessa duduk disofa menunggu Isabella bangun dari ranjang.
"Ya tuhan. Karena terlalu antusias dengan isi surat ini aku jadi lupa dengan kue yang ku panggang, aku akan kembali secepatnya." Vanessa meninggalkan surat itu diatas meja lalu ia berlari keluar dari kamar Isabella.
"Surat apa itu memangnya sampai dia sangat ingin membacanya," batin Isabella. Ia bangun dari ranjang lalu berjalan menghampri meja, baru saja ia ingin mengambil surat itu tangan Elena jauh lebih cepat dari tangannya.
"Ini surat dari permaisyuri untuk Charlotte bukan untukmu. Jennie salah memberikannya," ucap Elena memainkan surat ditangannya.
"Jennie tidak mungkin salah. Aku telah mendidiknya dengan baik, justru yang salah adalah ibu karena masuk ke dalam kamarku tanpa izin lalu mencuri suratku," balas Isabella.
"Sekarang Jennie pelayanmu jadi semua sikapnya dicerminkan darimu, terutama sikapmu yang suka mengambil barang orang lain."
"Padahal dulu ibu sayang sekali padaku sekarang ibu seperti jadi orang lain saja, ada apa?"
"Aku memang begini dari dulu, kau saja yang terlalu polos sampai berpikir aku sayang padamu. Di masa depan sebaiknya kau menjaga jarak dariku, karena aku akan membalas apa yang telah kau lakukan kepada kedua putriku," ancam Elena yang langsung berbalik hendak meninggalkan kamar Isabella.
"Ibu mungkin lupa, jika ingin menjadi permaisyuri maka seorang wanita harus punya latar belakang yang kuat. Walau pun pangeran mencintai putrimu itu. Tapi jika posisinya tidak kuat dan tidak jelas maka cinta tidak ada artinya, maka nasib putrimu akan sama dengan wanita bernama Liliana," ucap Isabella membuat langkah Elena terhenti.
Elena berbalik lagi menghadap Isabella seraya berkata, "Cinta lebih kuat dari apapun. Bahkan seorang pengemis saja bisa jadi ratu jika seorang raja mencintainya, pria rela memberikan apapun demi wanita yang dia cintai."
"Tentu saja jika itu memang anda. Tapi bagaimana jika cinta itu hanyalah sandiwara? kata aku mencintainya atau mencintaimu bisa dikatakan siapa saja."
"Kau tidak pernah menerima cinta yang murni selama ini, jadi kau tidak tau apapun tentang itu."
"Ibu. Bukankah kau pernah di tipu oleh sandiwara yang terlihat nyata? kau pernah kan? atau kau sudah lupa? perlu aku ingatkan tentang sahabatmu?" tanya Isabella mengingatkan Elena pada pengalam terburuk dalam hidupnya.
Elena tidak mengatakan apapun, ia langsung pergi begitu saja. Isabella merasa menang melihat bagaimana reaksi Elena tadi. Setelah perdebatan ini Isabella merasa sangat bersemangat lagi, ia mengambil cincin penyamaran lalu berpamitan pada Selina untuk pergi melakukan tugasnya bersama Fil dan Bara.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘