The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 61 Charlize tumbang.



"Uhuk uhuk." Kondisi tubuh Charlize semakin memburuk, angin malam yang dingin membuatnya semakin lemah.


"Kita berhenti di depan kediaman Abraham dulu. Di sana ada putra mahkota bersama dengan duke," usul Edmund sengaja agar Charlize bisa beristirahat untuk sementara waktu.


Saat Kaisen berhenti didepan kediaman duke, Charlize hampir saja jatuh. Namun beruntung itu tidak terjadi, karena Charlize berusaha untuk mengendalikan tubuhnya dengan baik.


Ternyata di depan kediaman Abraham bukan hanya ada Albert dan duke. Tapi seluruh pelayan serta Azar juga ada di sana, mereka terlihat sedang berdebat sampai tidak menyadari kehadiran Charlize.


"Ini pasti rencana Isabella. Kita tidak bisa percaya pada wanita jahat itu," kesal Albert. Ia sangat yakin jika Isabella dalang dibalik semua ini.


"Aku tau kau sangat khawatir pada Vanessa. Tapi bisakah kau tidak menunduh sembarangan, Isabella tidak akan melakukan hal ini lagi pula dia tidak akan ada di kediaman malam ini," jawab Cedric. Sulit baginya untuk percaya Isabella adalah dalangnya setelah melihat kedekatan diantara Isabella dan Vanessa.


"Tapi kan kak Isabella selalu membuat Vanessa berada dalam bahaya, mungkin saja ini juga ulah kakak. Tidak akan pulang malam ini mungkin saja adalah bagian dari rencananya." Charlotte mulai menuangkan minyak ke dalam api yang berkobar.


"Dia benar," ucap Albert, "Ini bukan pertama kalinya Isabella berulah, dia sengaja membuat alibi agar saat rencananya berhasil dia bisa selamat dari tuduhan sebagai tersangka. Buktinya dia tidak ada di sini saat ini."


"Selama ini ayah selalu curiga juga padanya. Kenapa mendadak ayah membela dia? apa ayah tau sesuatu tentang kakak?" tanya Carolina pada Cedric.


"Aku kenal putriku dengan baik. Isabella memang jahat dan ia selalu berbuat jahat, tapi Isabella adalah penjahat yang melakukan kejahatannya secara terbuka. Bermain sembunyi-sembunyi seperti ini bukan gayanya," jawab Cedric kepada mereka semua.


"Kalau begitu ke mana nona sekarang? nona baru 3 bulan di ibukota lalu jika nona  bilang dirinyatidak akan pulang malam ini, nona bisa ke mana? apa nona punya teman dan menginap di rumah teman?" tanya Azar. Dia juga sangat suka membuat suasana menjadi seru sesuai versinya.


"Nona pergi menemui saudaranya dan mereka adalah keluarga nona yang nona bawa dari Kota Batu Hitam. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan toko kue, saya sudah mengirim surat ke toko itu dan saya yakin Nona Isabella sudah membacanya, mungkin saja saat ini nona langsung bergerak mencari Nona Vanessa," jelas Jeremy.


"Bergerak mencari? kau pikir aku akan percaya?" sinis Albert pada Jeremy.


"Cukup! fokuskan diri kalian mencari Vanessa, karena setelah kita menemukannya maka kita bisa tanya langsung pada Vanessa siapa pelaku di balik ini semua," bentak Cedric.


Tiba-tiba ada sebuah cahaya berwarna biru memancar ke langit, melihat cahaya itu Kaiden menggigit kerah baju Charlize lalu melempar Charlize ke punggungnya kemudian Kaiden berlari dengan sangat cepat menuju lokasi tempat cahaya itu berasal.


"Ikuti Kaiden!" teriak Albert. Ia dengan cepat menunggangi kuda dan langsung memacu kudanya mengikut Kaiden, Cedric juga bergerak bersama para kesatria Abraham dan Azar.


"Semoga anda cepat di temukan Vanessa," batin Jeremy.


*****


"Kembalilah kalian ke kediaman. Aku akan menemui kalian nanti," telepati Isabella ke pada Jasper, Jasper tidak menjawab. Namun, terlihat Jasper membawa Callix dan Audrey pergi.


"Mereka mau ke mana itu?" tanya Selina pada Isabella saat melihat banyak orang berkuda yang mengikuti Kaiden.


"Bisakah kau berubah jadi kuda? aku ingin tau ke mana mereka pergi," pinta Isabella. Selina setuju lalu ia berubah menjadi kuda biasa, dan turun ke tanah kemudian berbaur dengan orang berkuda yang lain.


Saat Kaiden berhenti semua orang yang berkuda menghentikan kuda mereka, Albert dan Cedric turun dari kuda kemudian berjalan mendekati Kaiden.


"Ini …." Albert memungut secarik kertas yang telah robek di atas tanah.


"Ini kertas yang dilengkapi dengan kekuatan teleportasi. Itu artinya orang yang telah menculik Vanessa telah …."


Bruk!


Ucapan Charlize terpotong karena seketika tubuhnya langsung tumbang, suhu tubuhnya naik dratis lalu ia mulai berkeringat dingin.


"Bawa dia ke kediaman Abraham," perintah Cedric, saat ini kediaman Abrahamlah yang jaraknya paling dekat.


Setibanya di keidaman Cedric menyerahkan pencarian Vanessa pada Azar, sementara tanggung jawab perawatan Charlize ia berikan pada Jeremy. Sedangkan Cedric? ia pergi menemui kaisar untuk meminta izin pada kaisar untuk menggunakan kekuatan pelacak agar Vanessa cepat di temukan.


Mereka semua tidak menyadari kehadiran Isabella sampai ia tiba di kediaman, ia ingin meneruskan pencarian Vanessa hanya saja Selina memaksa dirinya untuk memeriksa keadaan Charlize. Isabella tidak punya pilihan lain lagi pula Charlize sudah membantu pencarian Vanessa, menolongnya sekali bukanlah pilihan yang buruk.


Setelah Selina berubah kembali ke wujud kadal, ia bersama Isabella mengikuti Jeremy yang menuntun Edmund agar membaringkan Charlize di kamar tamu lantai 1.


"Panggilkan dokter kalian secepatnya! suhu tubuhnya semakin panas," cemas Edmund.


"Dokter itu pulang ke kediamannya jadi butuh waktu untuk kembali ke sini. Tolong tunggu sebentar," pinta Jeremy.


"Butuh berapa lama lagi? kondisinya semakin buruk."


"Mungkin 1 jam."


"Selama itu? apa kau bercanda? nyawa tuanku bisa terancam," bentak Edmund.


Isabella tidak bisa tinggal diam mendengar Edmund membentak pria sebaik Jeremy, tanpa menunggu lama Isabella meminta Selina mengambilkan ramuan tingkat tertinggi yang ada di kamarnya. Tanpa menunggu lama Selina langsung pergi, tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali bersama botol ramuan tersebut.


Isabella menerima botol itu kemudian ia segera membawa botol tersebut ke dalam kamar tempat Charlize di baringkan.


"Nona? apa yang anda lakukan di sini?" tanya Jeremy terkejut.


Isabella tidak menjawab pertanyaan Jeremy. Ia mendekati Edmund dan menyodorkan botol ramuan tersebut, "Ini botol ramuan pemulihan tubuh dan tenaga, kau buat dia minum ini."


"Aku tidak sudi menerima barang dari wanita kejam seperti mu. Kau …."


Ucapan Edmund terpotong saat Isabella menarik tangannya lalu memberikan botol itu secara paksa, "Kau bisa tidak sudi nanti. Jika kau lebih mengutamakan egomu itu maka Charlize bisa mati sebelum dokter tiba di sini."


"Bau parfum jasmine ini …." Edmund menghirup bau parfum  dari tubuh Isabella, bau itu sama dengan bau di dalam gua tempat ia menemukan Charlize.


"Cepatlah!" tegas Isabella.


Edmund enggan menerima botol ramuan ini. Namun ia tidak mau membahayakan nyawa Cedric, baginya tidak ada yang lebih penting dari keselamatan Cedric.


Saat ia membuka tutup botol tersebut, tercium bau khas ramuan yang tidak asing baginya.


"Ini ramuan buatan Master ahli ramuan kan?" tanya Edmund pada Isabella. Ia mengenali bau ramuan ini karena ramuan ini yang selalu mereka minum selama perang di perbatasan.


"Minumkan dulu!" tegas Isabella lagi.


Edmund mengangguk lalu ia menuangkan sebotol ramuan itu dengan baik ke dalam mulut Charlize, sesaat kemudian rona wajah Charlize terlihat jauh lebih baik, suara nafasnya tidak terdengar sesak lagi,  dan yang paling utama suhu tubuhnya telah kembali normal.


"Terima ka … eh! ke mana Isabella?" tanya Edmund pada Jeremy saat ia menoleh ke belakang tidak mendapati sosok Isabella lagi.


"Baru saja pergi," jawab Jeremy. Ia melihat Isabella pergi saat Edmund sibuk meminumkan ramuan itu pada Charlize.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘