
Saat Isabella membuka pintu kamar kelopak bunga langsung berjatuhan di iringi dengan sorakan penghuni kamar, "Kejutan!"
Isabella tidak tau apa yang terjadi. Tapi kamarnya telah penuhi dengan kotak hadiah yang menggunung, ia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Apa semua ini? dari mana datangnya kotak hadiah sebanyak ini?" tanya Isabella.
"Ini …"
"Biar aku saja yang menjawabnya." Aisnley mencegah Vanessa yang ingin berucap, "Apa ritual sampai jumpanya sudah selesai? apa sudah puas berpelukan? "
"Jawablah dia. Kami sudah menunggu sejak tadi, dari mana saja kau?" kesal Selina.
"Maafkan aku. Tapi sebelum itu jawab dulu aku ke mana kalian sejak pagi? aku bangun dan kalian malah menghilang. Ke mana?" kini Isabella yang berbalik bertanya.
"Tentu saja pergi mengambil semua hadiah untuk membuat kejutan. Tapi saat kami sampai Cony bilang kau sudah pergi bersama Charlize, padahal Vanessa kembali tiba lebih awal dari kami sayangnya kau sudah pergi," ketus Aisnley.
"Baiklah. Karena hadiahnya terlalu banyak untukku bagaimana jika kita bagi? Taylor, kau, aku, Carolina, Selina, dan Vanessa. Anggap saja ini sebagai hadiah dariku. Lagi pula siapa pengirimnya? kalian ambil ini dari mana?"
"Sebagai dari kaisar sebagian lagi dari tempat suci. Samantha menerima hukumannya begitu juga Albert dia menerima hukumannya dan pergi selama sebulan, itu ucapan dari ayah. Dia sadar telah salah paham padamu dan bekerja sama dengan Samantha," jawab Vanessa. Raut wajahnya terlihat sedikit sedih.
Isabella pun memeluknya, "Dia akan segera kembali, jangan khawatir karena ini bagus juga untuknya."
"Ya. Kalau begitu ayo kita pilih hadiah kita masing-masing," ucap Vanessa. Mereka pun melanjutkan aktivitas memilih apa yang ingin mereka ambil.
*****
Saat hari sudah gelap Charlize baru selesai dengan pembasmiannya, mereka berhasil menangkap pemimpin para bandit dan mengirimbya pada kaisar. Tidak lupa harta mereka semuanya di sita, lalu kaisar kembalikan semua pada pemiliknya.
"Daniel, apa kau punya pena dan kertas?" tanya Charlize setelah dia selesai membersihkan darah di tubuhnya dan berganti pakaian.
"Ada, ini duke." Daniel memberikan selembar kertas dan pena pada Charlize.
"Kau sudah menikah kan? jika kau rindu pada istrimu apa yang akan kau lakukan? maksudnya saat kau menulis surat apa yang akan kau katakan padanya?"
"Anda ingin menulis surat untuk Nona Isabella?"
"Ya, aku sangat merindukannya. Rasanya dia tidak akan pernah lepas dari pikiranku."
"Seorang wanita itu pada umumnya akan sangat senang jika pasanganya menulis surat berdasarkan isi hati mereka, jika anda meniru atau bertanya pada orang lain. Bagaimana Nona Isabella bisa sadar akan cinta anda? karena saat seseorang menulis surat untuk orang lain maka orang itu harus berusaha agar perasaan sampai pada orang yang ia tuju. Anda tidak akan tau betapa bahagia pasangan anda saat dia membaca surat yang anda tulis dari hati anda."
"Kau tau banyak yah soal itu, pasangan suami istri memang beda."
"Hahahah, itu yang dikatakan oleh ibuku." Daniel tersipu malu karena terlalu banyak bicara.
Charlize berpindah tempat, ia duduk dibawah pohon dan menulis surat di sana. Ia mencurahkan semua isi hatinya dalam surat itu lalu mengirimnya lewat merpati pos.
Isabella yang saat itu sedang minum teh bersama Vanessa di kamarnya tiba-tiba mendengar suara ketukan di pintu ke balkon kamar, seketika Vanessa langsung memeluk Isabella.
Teng teng teng
"Apa itu kakak? seseorang mengetuk pintu pada jam 12 malam. Ada legenda yang mengatakan jika suara ada ketukan di pintu balkon, lalu saat kita lihat ada burung merpati membawa surat itu merupakan pertanda buruk. Surat itu berisi kutukan dan harus dibakar bersama burungnya untuk menghindari kutukan," ucap Vanessa.
"Kau dengar omong kosong itu dari mana? itu tidak mungkin," balas Isabella.
"Jangan bilang itu Charlize, kenapa dia harus datang malam ini saat aku akan tidur bersama Vanessa. Bagaimana jika Vanessa melihat dia?" batin Isabella merasa panik.
"Kakak tidak percaya padaku? biar aku lihat apa itu." Vanessa merangkak turun dari ranjang.
"Tidak usah." Isabella dengan cepat menarik Vanessa naik lagi ke atas ranjang.
"Ada apa? kakak takut itu burung pembawa kutukan? kakak bilang tadi omong kosong, tidak ada waktu untuk takut sekarang. Jika itu benar-benar burung merpati maka kita harus membakar dia bersama surat itu atau dia akan kembali setiap malam," tegas Vanessa.
"Kakak bukan takut … itu pasti ranting, jangan di buka tirainya. Kita tidur saja," jawab Isabella.
"Tidak mau!" Vanessa melepaskan tangan Isabella darinya, lalu ia membuka tirai tersebut.
"Kyaaaa." Vanessa berteriak saat melihat burung merpati mengetuk pintu balkon sampai meninggalkan bekas retakan pada kaca, tatapan tajam dari burung itu membuat Vanessa ketakutan.
"Itu kan, aku benar. Lihat! ada surat di kakinya, dia burung pembawa kutukan. Dia harus membunuhnya, ayo cepat tangkap dia," ajak Vanessa.
"Oh hanya burung itu toh. Cih! sebenarnya apa yang aku harapkan. Eh! ada apa denganku? kenapa aku harus memikirkannya dasar Isabella," batin Isabella memukul kepalanya.
Kemudian ia turun dari ranjang dan langsung membuka pintu tersebut, ia menangkap burung itu lalu Vanessa yang mengambil surat pada kakinya dan tanpa menunggu lama ia membakar surat itu dengan api lilin.
"Kakak, burungnya kita lepaskan saja. Kasihan juga kalau di bunuh, ayo kak lepaskan," pinta Vanessa.
Namun Isabella tidak tertarik melepaskannya malah perutnya berbunyi karena burung itu, "Apa kau yakin? jika di panggang untuk sarapan besok ini lumayan."
Seolah mengerti ucapan Isabella burung itu langsung memberontak berusaha melepaskan dirinya, Vanessa sendiri merinding karena ucapan Isabella.
"Kakak jangan konyol! mungkin saja burung pembawa kutukan ini beracun. Lepaskan saja yah." Vanessa berusaha melepaskan burung itu dari tangan Isabella.
"Tapi kan, kakak kebal akan racun. Ini enak jika di panggang, biarkan kita simpan dia untuk … akh!" Isabella menjerit kesakitan, spontan ia melepaskan burung itu karena tangannya di patuk.
Lalu burung itu terbang secepat kilat seolah dirinya di kejar oleh hantu, Vanessa sendiri bernafas lega karena akhirnya burung itu bisa bebas.
"Perutku lapar. Aku akan pergi ke dapur mengambil camilan." Isabella pergi dengan raut wajah sedih sambil memegang perutnya, Vanessa hanya tersenyum lalu menutup kembali pintu ke balkon tidak lupa dengan tirainya.
"Aku lengah tadi. Sial! nanti aku harus minta Taylor untuk membeli burung di pasar lalu minta Audrey panggang, itu pasti enak," batin Isabella mengusap air liurnya yang menetes.
Ia tidak tau jika surat yang ia bakar adalah surat cinta dari Charlize, entah apa yang akan terjadi besok jika ia tau burung merpati itu adalah merpati pos keluarga Arsena.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘