
"Isabella. Ini pasti ulahmu kan?" hardik Elena, ia kesal melihat putrinya menderita sekaligus kesal karena tidak bisa pergi ke perjamuan.
"Ya ampun ibu, tidak baik menuduh orang sembarangan. Aku datang dengan niat ingin menjenguk adik-adikku, tolong jangan menyalahkan aku hanya karena ibu ingin menutupi kesalahan ibu sendiri. Ibu yang membeli gaun-gaun itu kan?" tanya Isabella memainkan alisnya naik turun.
"Benar. Itu salah ibu, pasti ada salah satu kenalan Liliana yang bekerja di butik itu. Dia melaporkan pada Liliana jika ibu memesan gaun di sana lalu dia menaburkan bubuk gatal di gaunnya, karena dia tidak tau gaun Charlotte yang mana jadi dia taruh bubuk gatal itu di kedua gaun yang ibu pesan. Kesalahan kalian malah membuat aku kena getahnya juga," timpal Carolina.
"Liliana sudah tidak punya koneksi lagi di mana pun, keluarganya sudah di hancur dan gelar bangsawan mereka sudah di tarik. Siapa yang akan membantu dia saat dia sudah tidak berguna lagi, siapa?" bentak Charlotte.
"Ya ampun lihatlah kalian saat ini sangat menyedihkan. Satu ular menuduh ular yang lain, jika begini terus maka bisa-bisa kalian bersaudara saling menggigit satu sama lain. Tadi saat aku lewat hendak ke lantai 3, aku dengar kalian berdua ingin merusak gaun Vanessa. Benarkan?"
"Kau mendengarnya? jadi … jangan bilang jika bubuk gatal ini adalah ulahmu."
"Sekali pun itu memang ulahku kalau tanpa bukti kalian bisa apa, Charlotte?"
"Beraninya kau … apa masalahmu dengan kami? kami tidak pernah punya rencana jahat untukmu," celetuk Elena.
"Aku memang tidak punya masalah dengan kalian. Tapi kalian akan punya masalah denganku, jika kalian berani menyentuh batas kesabaranku yang tidak lain adalah Vanessa. Aku tau jika insiden penculikan yang di lakukan oleh paman kalian itu di bantu oleh kalian. Hanya saja aku tidak memperhitungkannya karena Vanessa tidak mau, tapi aku tidak sebaik dia. Aku memang hanya ingin diam saja sampai kalian melakukan kejahatan lagi, dan aku benar kalian berniat jahat lagi padanya. Maka dari itu aku sudah membulatkan tekadku untuk membalas perbuatan kalian, jangan terlalu menderita dulu karena ini baru awalnya saja waktu kita masih ada banyak jadi mari kita bermain pelan-pelan," jawab Isabella menyeringai.
"Kau telah mengacaukan rencana kami. Padahal malam ini aku akan menarik hati putra mahkota. Tapi kau merusak segalanya, dasar wanita berhati batu," kesal Carolina.
Isabella tersenyum seraya berkata, "Carolina jika kau ingin jadi permaisyuri dan Charlotte juga akan jadi permaisyuri maka itu akan sulit bagi ibu kalian. Kedua putrinya akan menjadi permaisyuri dari kedua pangeran yang bermusuhan memperebutkan tahta, menurutmu jika kalian menjadi permaisyuri maka ibu kalian akan mendukung menantu yang mana untuk naik tahta?"
"Sial! Isabella berniat mempermainkan hati Carolina, ini tidak bisa dibiarkan," batin Elena.
"Isabella kau …."
"Diamlah ibu," Carolina memotong ucapan Elena, "Menurutmu siapa yang akan ibu dukung?"
"Menurutku tentu saja putri paling cantik, cerdas, dan bermartabat seperti Charlotte. Dia tidak mungkin mendukung putri yang sudah mendapatkan julukan ibu dari kebodohan dipergaulan kelas atas," jawab Isabella.
"Yah walaupun tidak mungkin rasanya Albert tertarik pada mu," batin Isabella tertawa.
"Jangan dengarkan dia Carolina, dia sedang meracuni pikiranmu. Abaikan saja ucapannya, karena ibu akan selalu mendukung kita berdua," sela Charlotte.
"Pikirkanlah baik-baik Carolina. Sampai jumpa." Isabella melambaikan tangannya hingga akhirnya meninggalkan kamar sih kembar.
*****
Saat waktu perjamuan tiba, Isabella naik kereta bersama dengan Cedric sedangkan Vanessa naik kereta yang telah Albert kirim khusus untuk dirinya.
"Duke Cedric Abraham dan Nona Isabella Abraham memasuki aula." Teriak penyambut tamu seiringan dengan masuknya Cedric bergandengan tangan dengan Isabella.
Beberapa saat setelah masuk Cedric telah di kerumuni oleh para pria kelas atas untuk membicarkaan bisnis, Isabella terpaksa harus melepaskan gandengannya dari Cedric dan pergi ke sudut ruangan. Sudut ruangan adalah tempat kesukaan Isabella.
"Putra mahkota Albert van Irsyad dan Putri mahkota Vanessa Abraham memasuki aula." Teriak kesatria penjaga.
Semua orang yang ada di aula langsung mengalihkan pandangan mereka keatas melihat Albert berdiri bersama Vanessa, mereka adalah pasangan yang sangat cocok.
"Terima kasih untuk kalian semua karena sudah berkenan meluangkan waktu kalian untuk datang ke perjamuan kembalinya putri mahkota kita yang tercinta, jauh dari lubuk hatiku yang terdalam aku sangat senang karena kalian semua ikut serta bersama kami merayakan kebahagian ini," ucap Albert diringi tepuk tangan yang meriah.
"Saya juga sangat berterima kasih karena kalian sangat peduli dengan saya dan datang ke perjamuan ini, sama halnya dengan putra mahkota saya juga sangat bahagia dengan kedatangan kalian. Rasanya sulit mengungkapkan kebahagian ini dengan kata-kata. Tapi saya berharap kalian bisa merasakan kebahagain itu, dari perjamuan ini sebagai buktinya. Selamat menikmati perjamuan ini, bersulang!" Vanessa mengangkat gelas berisi anggur miliknya diikuti oleh semua bangsawan.
"Bersulang!" teriak semua bangsawan kemudian meneguk habis anggur dalam gelas mereka.
Setelah itu Vanessa melepaskan tangannya dari Albert lalu ia berlari menuruni anak tangga menuju lantai dansa, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Isabella dan Charlize.
"Ketemu!" Vanessa berlari mendekati Charlize kemudian dia menarik tangan pria itu, setelah beberapa saat memperhatikan sekelilingnya ia menemuka Isabella dan membawa saudarinya itu ke tengah lantai dansa tepat di samping Charlize.
"Perhatian semuanya!" Vanessa menepuk tangannya membuat perhati semua orang berpusat padanya.
"Kedua orang ini adalah kakak-kakak saya, mereka telah mempertaruhkan nyawa mereka berdua demi menyelamatkan saya pada kejadian penculikan tersebut. Saya tidak tau bagaimana saya harus berterima kasih pada mereka, tapi jika kalian mengizinkan. Bisakah saya meminta kedua orang ini berdansa untuk membuka acara dansa pada malam ini?" tanya Vanessa mendapatkan persetujuan dari mereka semua.
"Vanessa ini …." Isabella ingin menolak. Tapi, Charlize mengurungkan niatnya.
"Ini keinginan adikmu jangan menolak, lagi pula kita hanya berdansa itu saja," ucap Charlize yang mau tidak mau Isabella harus setuju.
"Vanessa, apa yang kau lakukan? kita tidak membicarkaan hal ini sebelumnya, aku bahkan belum setuju tentang hal ini," bisik Albert. Dia tidak mau dansa pertama dilakukan oleh Charlize bersama Isabella.
Konon dansa pertama yang dilakukan berpasangan pada sebuah pesta, di yakini dapat mengikat pasangan itu untuk bersama selamanya. Dan Albert tidak mau hal itu sampai terjadi pada mereka berdua.
"Sebelumnya anda tidak membicarakan dengan saya tentang mengundang Charlotte ke pesta teh itu, dan saya juga bahkan belum setuju. Jadi tolong kali ini saja jangan hentikan saya, saya ingin melihat mereka berdua bersama," jawab Vanessa membuat Albert gelisah.
"Kenapa kau hanya diam saja Albert, lakukan sesuatu. Jika dansa ini sampai terjadi maka aku akan membuat Vanessa membayar ini semua, beraninya dia merebut pasanganku lalu membuatnya berdansa dengan wanita lain," batin Samantha meremas gelas anggur ditangannya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘