The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 90 Gula atau bubuk cabai



Berbeda dari hari-hari biasanya, hari ini Isabella melayani dirinya sendiri. Ia tidak tau entah ke mana Aisnley, Taylor, dan Selina sejak tadi.


"Kakak," panggil Cony seraya membuka pintu kamar Isabella, melihat senyum anak itu membuat Isabella merasa ia akan melewati hari yang baik.


"Ada apa Cony? Cony mau makan kue? kau bisa makan kue setelah sarapan. Mengerti kan?" tanya Isabella berjalan menghampiri Cony. Namun secara tiba-tiba Cony malah keluar dan menutup kembali puntu, Isabella mengerutkan keningnya melihat hal itu.


"Cony, ada apa denganmu? kenapa kau …."


"Kejutan!" teriak Cony memotong ucapan Isabella, kejutannya adalah Charlize berlutut didepan pintu kamar sambil memegang buket bunga yang besar.


Isabella tersenyum ia tidak akan menduga jika begini cara Charlize membuktikan cintanya, "Apa ini?"


"Bunga. Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik, ah! bukan, bahkan bunga ini malu jika di samakan kecantikannya denganmu," goda Charlize.


"Dari mana kau belajar semua kata-kata itu? apa di medan perang?" Isabella berbalik menggodanya.


"Aku belajar kata-kata manis dari novel cinta yang aku beli di toko buku semalam. Di medan perang tidak ada wanita jadi  mana mungkin aku belajar itu dari sana."


"Jadi jika ada wanita di medan perang kau akan menggodanya dengan kata-kata yang sama?"


"Ti-tidak. Sebelum ini aku tidak tau apapun tentang kata-kata manis, karena aku baru belajar itu semalam."


"Dasar payah. Itu saja masih harus belajar dari buku." Isabella merebut buket bunga itu dari Charlize.


"Aku sudah ambil bunganya. Sekarang kau kembalilah," ketus Isabella tidak menatap Charlize.


"Aku datang kemari karena ibuku mengundang mu ke kediaman kami, mau pergi bersama?" tanya Charlize.


"Baiklah. Ayo!" jawab Isabella.


"Cony pergilah ke kamar Kak Vanessa. Kita akan makan bersama saat makan siang lalu kakak akan membelikan kau banyak kue," ucap Isabella, Cony pun mengangguk dan langsung berlari ke menuju ke kamar Vanessa.


*****


Saat kereta muda Isabella dan Charlize keluar, kereta kuda Vanessa baru saja masuk. Tidak ada yang tau dari mana Vanessa saat itu.


Setelah menempuh perjalanan yang jauh akhirnya mereka sampai di kediaman Dara, para pelayan menyambut kedatangan Isabella dan Charlize.


"Ibu, lihat siapa yang datang." Charlize menarik Isabella dengan lembut mendekati Dara yang duduk membelakangi pintu masuk rumah kaca.


"Apa ibu marah karena aku tidak datang sarapan bersama ibu? tapi ibu tenang saja karena aku dan Isabella belum sarapan, kami akan serapan bersama ibu," ucap Charlize lagi.


Dara pun lalu berbalik menatap putranya, "Baguslah. Kemari dan makan buahnya, ibu sudah hampir tertidur tadi karena menunggumu beruntung kau bawa menantuku ke mari."


"Maafkan aku nyonya, mungkin karena Charlize mampir untuk menjemputku dia jadi terlambat. Kelak hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," sesal Isabella.


"Nyonya? aku bukan nyonyamu. Panggil aku ibu, kemarilah dan duduklah di sampingku. Kita akan makan buah untuk sarapan." Dara mempersilahkan Isabella duduk di samping kanan dan Charlize di samping kiri.


"Makan buah saja? apa itu cukup untuk menahan lapar sampai jam makan siang?" tanya Isabella membuat Dara dan Charlize tercengang.


"Kau makan apa saat sarapan?" tanya Dara menatap tubuh Isabella yang tidak kurus dan tidak gemuk.


"Kau makannya banyak juga yah," goda Dara.


"Banyak? itu hanya sedikit. Sebelum datang ke kediaman Abraham aku makan 15 porsi makanan sendirian, itu pun masih kurang karena aku cepat sekali lapar," balas Isabella.


"Kau harus membeli banyak daging dan beras kelak, ingat calon istrimu suka makan. Entah ke mana semua makanan yang dia makan itu pergi," bisik Dara memperingatkan putranya.


"Makan buahmu. Setelah ini kita akan makan yang lain, untuk sekarang kita makan buah dulu." Charlize memberikan buah apel yang telah ia potong pada Isabella.


"Minumlah teh hijau, ini baik untuk kesehatan." Dara menuangkan teh ke cangkir Isabella, "Charlize tidak suka teh ini. Tapi aku suka, dulu jika Regina datang berkunjung dia juga suka teh ini. Kau cobalah rasanya siapa tau kau suka."


Prang!


Charlize menjatuhkan garpunya karena Dara menyebut nama wanita lain saat bersama Isabella, walau pun Isabella terlihat biasa saja. Namun Charlize tidak tau apa yang Isabella pikirkan, ia takut Isabella membatalkan pertunangan mereka.


"Aku tidak suka teh hijau." Isabella mendorong pelan cangkir tersebut menjauh darinya, "Aku suka teh bunga melati dengan sedikit susu."


"Eh! rasa yang kau suka itu sama seperti ayah Charlize, dia suka teh susu dari teh melati. Aku jadi teringat masa lalu." Mata Dara jadi berkaca-kaca, sudah bertahun-tahun ia tidak membuat teh susu di kediamannya.


"Biar aku buatkan untukmu. Tunggu sebentar yah." Dara berdiri dari kursinya, Isabella dengan cepat mencekal tangannya.


"Biar aku saja ibu. Maka mungkin aku biarkan ibu mem …."


"Ssttt." Dara menutup mulut Isabella dengan jari telunjuknya, "Ini tradisi keluarga kami, duduk dengan patuh dan tunggu aku kembali."


Saat Dara pergi ke dapur Charlize mengambil alih tempat duduk Dara. Ia menatap sekelilingnya kemudian bertanya pada Isabella, "Kenapa kau berbohong? di acara kita kemarin kau minum teh hijau kan?"


"Ya, aku suka semua jenis teh. Tapi aku paling suka teh susu, dulu seorang temanku sering membuatkan teh susu untukku dan rasanya sangat nikmat. Sayangnya setelah dia pergi aku tidak pernah lagi mencicipi teh susu dengan rasa yang sama, jadi aku memutuskan untuk berhenti minum teh susu," jelas Isabella, ingatannya lagi-lagi kembali ke kehidupan sebelumnya.


"Cobalah rasa teh susu buatan ibu, rasanya sangat nikmat bahkan aku pernah membuat dengan resep yang sama hanya saja rasanya berbeda. Ayahku selalu bilang jika ibu menuangkan banyak cinta saat membuat teh itu jadi rasanya berbeda."


"Dia juga mengatakan hal yang sama," batin Isabella.


Tidak lama kemudian Dara kembali bersama pelayan yang membawa nampan berisi poci serta cangkir teh, Dara meletakan cangkir itu di depan Isabella lalu ia menuangkan teh susu khas buatan Dara. Setelah itu barulah Dara duduk kembali di tempatnya, Charlize sudah pindah saat mendengar langkah kaki mendekati rumah kaca.


"Cicipilah!" perintah Dara, Isabella ragu karena takut kecewa lagi dengan rasanya. Namun ia tidak mungkin menolak, ini adalah pemberian dari ibu Charlize bahkan ia sendiri yang menuangkannya.


Isabella pun mencicipinya sedikit, dan saat teh susu itu menyentuh lidahnya Isabella kembali merasakan rasa dari teh yang ia rindukan, saking senangnya Isabella sampai meneteskan airmatanya.


"Hiks … Lucy, ini rasa teh yang sama dengan Lucy …." Isabella meletakan cangkir tersebut, ia tidak mampu minum lagi jika ia minum lagi maka airmatanya tidak akan bisa berhenti.


"Ada apa? apa rasanya seburuk itu?" tanya Dara terserang rasa panik, ia pertama kalinya ada yang menangis meminum teh susu buatannya.


"Apa rasanya aneh? tadi aku taruh gula atau bubuk cabai yah? akh! habislah aku, aku telah membuat dia menangis dihari pertama kunjungannya. Dia bisa saja membatalkan pertunangan dengan Charlize," jerit Dara dalam hati, Charlize sendiri tidak kalah paniknya dengan Dara.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘