
Hari ini Babel datang mengunjungi Charlotte, sebenarnya itu hanya alasannya saja agar bisa melihat Isabella. Namun sudah sejak tadi dia berkeliling kediaman Abraham, tidak ada tanda-tanda Isabella di kediaman ini.
Saat Babel bertanya pada salah satu pelayan mereka bilang jika Isabella pergi saat hari masih pagi bersama Charlize, hal itu membuat Babel sangat kesal.
"Tidak bisakah kau lebih hati-hati lagi, Vanessa?" kesal Charlotte saat ia tidak sengaja menabrak Vanessa dan cipratan kaldu dari masakan Vanessa mengenai gaunnya.
"Matamu ada di mana kak?" tanya Carolina. Sikapnya berubah sejak malam mereka kena serbuk gatal, "Jelas-jelas kakak sengaja menabrak Vanessa lalu kakak menyalahkan dia."
"Apa-apaan kau Carolina? kau berpihak padanya, aku adalah saudarimu. Selama ini aku selalu membantumu dan sekarang kau ingin memusuhiku. Ketahuilah di mana posisimu."
"Bersama denganmu aku tidak pernah merasa damai, mungkin karena aku bodoh aku selalu dapat masalah karena kau. Tapi sekarang cukup sudah, semuanya sudah jelas jika harus memilih antara kau dan aku maka ibu akan memilihmu lalu membuangku. Yang paling menyesakkan ibu akan bilang ini semua demi kebaikan aku, cih!"
Plak!
Elena yang baru datang langsung menampar Carolina, ia sudah tidak tahan melihat putrinya yang bodoh semakin berulah.
"Begitu banyak masalah yang ibu dapatkan, lalu kau masih ingin menambah masalah itu? sadarlah! tidak ada yang lebih memahami dirimu selain keluargamu sendiri, di saat kau susah yang akan berpihak padamu hanya kami. Tidak dengan orang asing," ucap Elena menatap tajam Vanessa.
"Putuskan saja ikatan darah diantara aku dan ibu, kelak kita tidak punya hubungan lagi. Vanessa mengerti sekali denganku, selama seminggu bersama mereka aku jadi sadar jika kebaikan yang tulus seperti dari Vanessa tidak akan aku dapatkan dari ibu dan kakak, selamanya tidak akan," balas Carolina.
"Ayo Vanessa!" Carolina berjalan mendahului Vanessa.
Prang!
Elena melempar nampan berisi kaldu panas itu kearah Carolina, hampir saja kaldu itu mengenai tubuhnya jika saja Taylor tidak menariknya lebih cepat.
"Ini baru awal Carolina, ibu akan membuatmu menyesal memihak mereka dan kembali ke tempatmu yang seharusnya," ancam Elena.
Prok prok prok
Aisnley menepuk tangannya karena sejak tadi ia menyaksikan pertengkaran mereka. Namun, ia tidak tahan jika hanya bersembunyi saja.
"Harimau mana pun tidak akan tega menyakiti anak sendiri. Tapi di sini ada manusia yang lebih buruk dari harimau, itu artinya derajatnya lebih rendah dari hewan kan? Miris sekali," ejek Aisnley.
"Dasar pelayan rendahan. Beraninya kau …" Charlotte mengayunkan tangannya ke wajah Aisnley. Namun gagal, tangan Aisnley lebih cepat menahan tangannya.
"Tanganku ini akan mengeluarkan racun jika aku mau, dan tanpa sengaja aku telah mengeluarkan racun itu." Ainsley melepaskan tangan Charlotte, bekas genggaman tangan Aisnley meninggalkan tanda biru.
"Haish! jika tidak berendam selama 24 jam maka tanganmu akan membusuk, air dingin adalah penawar racun ku itu" ucap Aisnley.
"Kau … ibu, bagaimana ini?" Charlotte menjadi sangat panik, Elena sendiri tidak tinggal diam ia langsung membawa Charlotte ke pemandian untuk berendam.
"Aisnley, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" tanya Vanessa.
"Tidak akan terjadi apapun padanya, itu bukan racun hanya pewarna yang akan hilang setelah 24 jam. Salah mereka yang percaya itu racun," jawab Aisnley yang berhasil membodohi mereka.
"Ayo! kejutannya sudah hampir selesai!" ajak Aisnley. Mereka pun bergegas menuju kamar Isabella.
"Orang-orang di samping Isabella sangat pandai. Memang hanya mereka yang pantas ada disisi Isabella ku," batin Babel yang menguping pertengkaran itu dari awal sampai akhir.
*****
"Tidak usah minum lagi jika rasanya buruk." Dara mengambil cangkir teh milik Isabella. Namun, Isabella menahan tangannya.
"Rasanya sangat enak, aku menangis karena setelah sekian lama akhirnya aku menemukan rasa teh susu yang sama dengan buatan temanku. Kedepannya harus merepotkan ibu lagi," ucap Isabella tersenyum.
Setelah menghabiskan waktu yang lama bersama Dara, Charlize mengajak Isabella untuk pulang. Dalam perjalanan pulang pun mereka mampir ke kedai makanan, untuk melanjutkan sarapan Isabella barulah setelah itu mengantar Isabella ke kediaman Abraham.
"Terima kasih untuk sarapannya, kapan-kapan kita ke sana lagi aku sudah merindukan teh buatan ibu. Kalau begitu sampai jumpa." Isabella melambaikan tangannya lalu ia membuka pintu kereta.
Sayangnya sebelum pintu kereta terbuka Charlize menarik tangan Isabella dan memeluknya, Isabella sampai terkejut karenanya.
"Char-Charlize. Kau baik-baik saja?" tanya Isabella.
"Tidak. Melihatmu akan pergi aku merasa sangat sesak, aku takut akan ada orang lain yang merebutmu dariku. Bisakah kita menikah dan tinggal bersama saja? aku tidak mau kau pergi," jawab Charlize mempererat pelukannya.
"Omong kosong apalagi ini. Kau ambil dari mana lagi kata-kata itu?"
"Aku serius." Charlize melepaskan pelukanya lalu menatap Isabella dengan mata berkaca-kaca.
"Ka-kau menangis? Char …."
"Jangan katakan apapun." Charlize memotong ucapan Isabella lalu menundukan kepalanya di pundak Isabella.
"Aku mencintaimu," gumam Charlize yang terdengar jelas oleh Isabella.
"Hei! kapan kau keluar? masih ada hari esok untuk bermesraan, kami sudah menunggu di luar. Cepatlah turun! ini panas matahari bukan terang bulan," teriakan Aisnley membuat Isabella tersipu malu.
"Berisik!" balas Isabella dari dalam kereta.
Charlize mengusap airmatanya lalu tersenyum menatap Isabella, "Ciuman sampai jumpa."
"Kau meminta padaku?" tanya Isabella, Charlize mengangguk membuat wajah Isabella memerah.
Isabella malu-malu lalu mengecup dahi Charlize, hal itu membuat Charlize tersenyum bahagia.
Brak!
Aisnley membuka pintu kereta secara tiba-tiba lalu berteriak, "Kalian mau tinggal di dalam kereta? kami sudah menunggu sampai baju kami basah karena keringat. Ka … umph"
Vanessa dan Taylor dengan cepat membungkam mulut Aisnley dengan tangan mereka lalu menariknya menjauh, setelah itu mereka menutup kembali pintu kereta.
"Datanglah kunjungi aku besok, jika aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku kau juga harus membantuku sedikit. Yah?" pinta Charlize dengan tatapan memelas
"Ya, aku akan datang besok. Ingat untuk menyambutku," jawab Isabella.
Setelah itu barulah Charlize melepaskan Isabella keluar dari dalam kereta, Charlize tersenyum bahagia sampai Isabella masuk ke dalam rumah. Lalu tatapan berubah menjadi datar.
"Putar balik kereta ke pegunungan. Di sana ada bandit yang harus aku lenyapkan, besok Isabella akan datang ke kediamanku jadi semua pekerjaan besok harus di selesai hari ini," perintah Charlize kepada kusir kudanya yang tidak lain adalah seorang kesatria handal.
Babel mengepalkan tangannya saat melihat di dalam kereta Charlize berpelukan mesra dengan Isabella, nafasnya memburu serasa ia ingin menebas kepala Charlize saat itu juga.
"Berbahagialah kau sekarang Charlize, cepat atau lambat Isabella akan kembali kepada pria yang ditakdirkan untuknya yakni aku. Kau bersamanya hanya untuk sementara, aku akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping saat Isabella menjadi milikku," batin Babel. Ia benar-benar kehilangan akal sehatnya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘