
"Setimpal atau tidak itu tidak bisa di putuskan oleh anda duchess," sela Albert, "Anda sendiri dengar tadi apa yang wanita jahat itu katakan, luka kecil didahi Vanessa bisa jadi luka yang parah jika dia mau. Dia bahkan mengancam duke dihadapan kita semua, jika anda sayang padanya maka anda seharusnya memberikan dia hukuman agar dia tidak berani memiliki niat buruk didalam hatinya untuk Vanessa."
"Ini masalah keluarga kami, putra mahkota. Saya tau anda adalah tunangan Vanessa jadi anda berpihak padanya, jika Isabella yang ada di posisi Vanessa anda mungkin akan tetap membela Vanessa. Seseorang yang telah dibutakan oleh cinta tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah," balas Elena.
"Beraninya anda …." Albert mengepalkan kedua tangannya hingga kuku jarinya memutih.
"Cukup! aku ingin istirahat, lupakan saja kejadian hari ini." Vanessa berbalik lalu berjalan meninggalkan mereka semua, kata-kata Elena membuatnya sadar jika sandiwara ini harus diakhiri sebelum Isabella membuatnya menjadi semakin buruk.
Semua orang langsung bubar saat itu juga, Cedric pergi bersama Albert menyusul Vanessa. Sedangkan Elena bersama sih kembar kembali ke kamar mereka, kini tinggalah Isabella didepan pintu kamarnya.
"Nona anda …." kedua pelayan Isabella terkejut melihat wajah Isabella membengkak.
"Keluarlah!" perintah Isabella pada keduanya. Mereka enggan untuk keluar, hanya saja raut wajah Isabella terlihat sangat buruk sampai membuat mereka takut.
Begitu kedua pelayan tersebut keluar dari kamar, Selina yang ada di atas lemari langsung turun dan berubah ke wujud manusia. Ia ternyata telah menangis sejak tadi dan itu terlihat dari matanya yang membengkak.
"Kau …." Isabella baru saja mau bicara. Namun, Selina malah menutup mulutnya.
"Ayo pergi! tinggalkan saja kediaman ini, karena percuma saja kau bertahan di sini. Kau terluka, menderita, diabaikan, dan disakiti. Apa untungnya bagimu ada di sini? mereka bukan keluargamu dan sampai kapan pun tetap bukan," ucap Selina.
Isabella menurunkan tangan Selina dengan lembut. Ia senang karena Selina sangat peduli padanya, "Kau benar mereka bukan keluargaku, mau sampai kapan pun juga tetap bukan. Tapi mereka adalah keluarga raga ini, dan sekarang raga ini milikku jadi aku tidak mau diriku atau raga ini berakhir menyedihkan. Ada takdir yang ingin ku ubah."
"Tapi …."
"Aku tau kau sangat khawatri padaku, tapi Selina tolong beri aku kekuatan seperti yang selalu kau lakukan untukku. Jangan minta aku menyerah dalam hidup ini, kau percaya aku kan?"
Selina dengan ekspresi cemberut memukul pelan Isabella lalu memeluknya, "Aku selalu percaya padamu."
Isabella membalas pelukan hangat Selina dan setelah itu sembari menunggu jam tidur mereka saling bertukar cerita, sesekali mereka tertawa bahagia.
*****
Tidak terasa waktu telah berlalu dengan cepat kini sudah 3 bulan berlalu, selama 3 bulan ini banyak hal yang terjadi. Terkadang Vanessa datang sambil merengek agar sandiwara mereka dihentikan saja. Namun berkat Isabella yang selalu menyakinkan Vanessa, sandiwara itu tetap berjalan hingga kini.
Sudah tidak terhitung berapa banyak luka yang Isabella alami selama 3 bulan terkahir. Namun ia seakan bodoh, dari pada menunjukan kebaikannya secara langsung ia malah memilih jalan sulit yang hanya akan menoreh banyak luka dihatinya.
"Berita di surat kabar pagi ini sangat bagus. Coba lihat!" Selina memberikan surat kabar tersebut pada Isabella.
Isabella mengambil lalu membaca berita panas yang terbit hari ini, "Sudah ku duga duke Arsena akan membatalkan pertunangan dengan Regina, gadis sombong yang malang."
"Kau kenal pria itu?" tanya Selina.
"Nanti akan ku ceritakan sambil makan kue di toko," jawab Isabella. Selina mengusap air liurnya yang menetes karena kata kue.
Brak
Vanessa membuka pintu lalu ia melompat ke dalam pelukan Isabella sembari berteriak, "Kakak."
Isabella menangkap tubuh Vanessa dengan baik, "Selamat pagi Vanessa, kau sudah rapi mau ke mana?"
"Kenapa bertanya? memangnya kakak mau ikut? hmph. Kakak selalu menolak pergi bersamaku."
"Hahahah, nanti kita akan pergi bersama."
"Nanti? kapan? 10 tahun lagi?"
"Entahlah. Tapi, usahakan jangan sampai selama itu."
"Kau harus pergi bersama ayah jadi aku tidak bisa ikut. Lagi pula jika kau ingin keluar bersama ayah jauh lebih aman," jawab Isabella mengelus rambut Vanessa.
"Di mana Vanessa? dia bilang tadi harus bergegas. Anak itu benar-benar aneh," batin Cedric tersenyum kala mengingat bagaimana antusiasnya Vanessa beberapa saat lalu.
"Tapi aku ingin pergi dengan kakak, kita kan bisa bersandiwara agar kita bisa naik kereta yang sama."
Cedric menghentikan langkahnya yang ingin berbelok ke arah kamar Vanessa, ia mendengar suara Vanessa dari arah kamar Isabella.
Karena penasaran Cedric berjalan pelan-pelan ke kamar Isabella, di sana ia melihat pintu kamar Isabella sedikit terbuka.
"Kali ini menurutlah dan pergi dengan ayah. Ayah akan kecewa jika kau batal pergi dengannya, apa kau mau ayah kecewa dan semakin benci pada kakak lagi?" nada lembut dari kata-kata Isabella membuat Cedric tersentak, karena masalahnya Isabella yang ia kenal selalu menggunakan nada tinggi kapan saja dan di mana saja.
"Tentu saja aku tidak mau. Kakak menggunakan ayah lagi sebagai alasan agar tidak pergi bersamaku, aku benci kakak," rengek Vanessa.
"Nanti yang akan pulang dari istana kaisar hanya kau kan? bagaimana jika besok kita pergi ke toko kue kakak lagi? itu waktu bagus untuk pergi karena ayah tidak ada. Malam ini kakak juga tidak akan pulang. Tapi, tenang saja karena besok kakak sendiri yang akan menjemputmu.""
"Baiklah. Sampai jumpa nanti besok pagi." Vanessa mengecup kening Isabella membuat Isabella tertawa geli, ia selalu merasa jika manjanya Vanessa memang sangat nyata.
Kaki Cedirc mendadak lemas setelah mendengar perbincangan kedua putrinya, ia tidak akan menyangka jika selama ini Isabella adalah gadis yang lembut, terutama pada Vanessa. Dengan langkah tertatih-tatih Cedric berjalan menuruni tangga menuju kereta kuda yang telah menunggu mereka
"Kakak itu tidak jahat ayah. Ku mohon ayah percaya padaku, hati kakak itu sangat lembut dan dia juga penyayang," ucap Vanessa.
"Nona Isabella tidak seperti yang dirumorkan atau pun yang anda pikirkan. Sekali saja anda lihat nona dari sudut pandang berbeda, dengan begitu anda akan lihat sosok asli dari nona," ucap Jeremy.
"Nona Isabella itu walau pun sering membuat keributan. Namun nona tidak pernah melukai para pelayan, bahkan ada banyak pelayan yang menyukai nona," ucap Viola.
"Masakan nona sangat enak. Saya sulit percaya orang se jahat nona sangat ahli dalam memasak," ucap koki utama kediaman Abraham.
Cedric tidak habis pikir kenapa dulu ia tidak bisa menyadari sikap asli dari putri kandungnya sendiri, ia mengabaikan begitu banyak kebenaran dengan bersikap egois dan bertahan pada pemikirannya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan? maafkan aku Penelope," batin Cedric yang terus memikirkan kebodohannya.
Tidak lama kemudian Vanessa masuk ke dalam kereta, Cedric berpura-pura terlihat tenang didepan Vanessa agar putri kesayangannya itu tidak khawatir. Walau pun demikian rasanya terlalu sulit bagi Cedric.
"Kau lihat itu kak? dia berlari dengan sangat bahagia naik ke kereta lalu pergi bersama ayah. Aku benar-benar kesal padanya," geram Charlotte melihat Vanessa.
"Apa kau pikir hanya kau yang kesal? aku juga kesal. Ibu bahkan mengabaikan kita dan pergi ke pesta teh permaisyuri tanpa mengajak kita," balas Carolina.
"Bagaimana jika kita membuat perhitungan dengan dia?"
"Kau gila yah. Terakhir kali kita memberikan anak itu pelajaran, kakak malah membalas kita dengan kesakitan 10 kali lipat bahkan kita tidak bisa keluar dari kamar selama 2 minggu. Yang lebih menyebalkan lagi kakak menggunakan alasan hanya dia yang bisa menindas Vanessa untuk memukul kita. Apa kau mau sakit lagi?"
"Bodoh! malam ini ayah, ibu, dan kakak tidak akan pulang. Jadi ini kesempatan kita memberikan dia pelajaran, tanpa bukti dan saksi bahkan ayah sekali pun bisa apa pada kita? kan kita masih dalam masa penyembuhan juga jadi posisi kita akan aman."
"Kau hebat Charlotte. Aku akan buat rencana yang bagus," ucap Carolina. Ia dengan cepat berlari ke dalam kamar mereka.
"Aku akan membalas perbuatanmu. Siapa suruh kau tidak patuh dan mulai menunjukan cakarmu pada kami," batin Charlotte tidak sabar menantikan malam tiba.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti 😘