
Isabella merasa ada yang aneh dengan tangannya, Isabella terus menggerakan tangannya selama dalam perjalanan menuju toko.
Tidak lama kemudian kereta kuda milik Isabella berhenti tidak jauh dari toko kue, Isabella dan Aisnley pun turun dari kereta. Azar yang juga sedang menuju ke toko tidak sengaja melihat Isabella.
"Nona, anda mau ke toko kue ini juga?" tanya Azar membuat Isabella mengalihkan tatapannya dari Isabella.
"Iya, kami ingin ke toko itu," jawab Aisnley.
"Bagaimana jika biarkan saya membayar kue yang ingin nona beli? kebetulan saya punya sedikit uang," tawar Azar.
Aisnley tertawa kecil seraya berkata, "Kau ingin membayar kue nona di toko kue milik nona sendiri? apa kau bodoh?"
"Apa? toko ini milik nona?" Azar terkejut. Ia tidak menduga toko yang terkenal hanya dalam 2 hari setelah resmi di buka ternyata adalah milik Isabella.
"Kau sungguh tidak tau? kau tidak kenal pria-pria yang menjalankan toko kue itu? bukankah kau pernah melihat mereka di toko kue yang ada di Kota Batu hitam?" Isabella melontarkan begitu banyak pertanyaan.
"Ah! nona benar. Kepala pelayan di toko ini adalah pria yang pernah membuatku tertekan, sial! kenapa aku bisa lupa?" batin Azar mengingat wajah Jasper.
"Salam Nona Isabella," sapa Charlize. Ia sama seperti Azar, tidak sengaja melihat Isabella.
"Salam Duke Arsena," jawab Azar dan Isabella.
"Apa nona juga ingin ke toko kue ini? bagaimana jika kita masuk bersama?" tawar Charlize. Ia tidak menghiraukan Azar dan Aisnley di samping Isabella.
"Jika duke sudah berkata demikian maka saya tidak punya alasan untuk menolak, suatu kehormatan untuk saya. Bagaimana jika saya membayarkan kue yang duke inginkan? saya berkata seperti ini karena saya belum membalas kebaikan duke karena telah menolong saya pada kejadian buruk di hari itu," ucap Isabella. Bertemu dengan Charlize adalah sebuah keberuntungan, ia ingin memastikan sesuatu seperti apa hubungan antara Isabella asli dan Charlize memang istimewa atau tidak.
"Bagaimana bisa saya meminta nona membayar kue saya, justru yang seharusnya membayar itu adalah saya. Dan untuk kejadian kemarin itu nona tidak perlu memikirkannya karena selain saya siapa saja yang ada di sana akan melakukan hal yang sama," jawab Charlize.
"Nona, saya lapar. Kapan kita akan makan?" celetuk Aisnley membuat Charlize merasa terganggu.
"Bukankan dia master ahli racun Aisnley? kenapa dia ada bersama Isabella?" batin Edmund. Ia mampu mengenali wajah Aisnley sementara Charlize tidak, saat ada Isabella didepan matanya maka semua orang yang ada disekitar diperlakukan seakan tidak ada oleh Charlize.
"Kemarin Fil sekarang Aisnley, satu persatu anggota tim itu muncul dan sekarang mereka muncul di sisi Isabella. Aku harus menyelidiki ini," batin Edmund. Ia mengirim telepati pada salah satu rekannya untuk menyelidik keberadaan tim Achlys.
*****
Mereka masuk bersama dan Jasper mengantarkan mereka ke tempat duduk di lantai 2, di sana Isabella duduk bersama Charlize sementara Azar duduk bersama Aisnley.
Setelah menghindangkan pesanan mereka Jasper kembali ke dapur. Namum didepan toko terjadi keributan karena ada seorang anak pengemis datang ke toko yang telah dipasang papan tertulis tutup, Jasper meminta pelayan lain untuk memasang papan itu karena sekarang sudah waktunya jam makan siang.
"Ada apa ini?" tanya Jasper kepada 2 pelayan yang memarahi anak kecil tersebut.
"Dia memaksa ingin untuk masuk Tuan Jasper, katanya ia ingin bertemu wanita bangsawan yang baru saja masuk. Kami sudah katakan jika dia tidak bisa karena toko tutup selama 2 jam kedepan, tapi anak tidak mau menurut dan memaksa masuk," jelas salah satu pelayan.
"Ada bau racun dari anak ini. Bau dari racun yang berbahaya, di dalam masih ada pembeli lain membawa anak ini masuk sangat berisiko. Aku harus mengusir anak ini demi kebaikan banyak orang," batin Jasper.
"Usir dia dari sini jangan buat pembeli lain merasa terganggu," perintah Jasper.
"Tidak, aku tidak mau pergi sebelum bertemu kakak itu. Lepaskan aku!" anak itu terus memberontak dan memaksa untuk masuk.
2 pelayan itu berhasil mendorongnya menjauh lalu mereka dengan cepat masuk ke dalam toko dan memgunci pintu toko agar anak itu tidak bisa masuk, sementara anak itu terus mengetuk pintu toko.
"Anak itu membawa racun jika dibiarkan masuk akan membuat masalah besar. Selama nona tidak tau maka semua akan baik-baik saja," jelas Jasper.
"Aku harus menemui kakak itu atau racunnya akan menyebar, kakak itu akan tiada malam ini," batin anak itu.
"Malam ini akan masak apa yah?" pikir Taylor. Ia baru saja selesai membeli sayuran dari toko. Dan saat ia melintas di depan toko ia melihat adiknya Kesha mengetuk pintu toko yang telah tertutup.
"Kesha." Taylor menarik Kesha agar adiknya itu menjauh dari sana.
"Kakak lepaskan aku!" Kesha berusaha melepaskan tangannya dari cekalan sang kakak.
Taylor menghentikan langkahnya lalu ia berbalik menatap sang adik, "Apa yang kau lakukan di toko kue itu? apa kau punya uang untuk membeli kue dari sana? sekali pun kau punya uang kau tetap tidak bisa masuk. Matamu tidak buta kan? toko itu masih tutup."
Kesha melepaskan tangannya dari genggaman Taylor dengan kasar, "Ini bukan urusan kakak, aku akan kembali ke sana."
"Tidak! aku ikut kakak pulang." Taylor menarik tangan Kesha secara paksa menuju kereta kuda sewaannya.
"Lepaskan aku kakak! lepaskan!" Kesha berusaha melepaskan cengkraman Taylor.
"Masuk!" Taylor mengempaskan Kesha kedalam kereta. Kesha tidak bisa keluar lagi karena kereta telah berlari menuju tempat tujuannya.
Dalam 30 menit Taylor akhirnya sampai di rumah mereka, Kesha mau tidak mau harus turun dari kereta dan masuk ke dalam rumah bersama dengan Taylor.
"Kakak sudah pulang. Cony senang melihat kakak pulang lebih awal." Adik bungsu Taylor berlari memeluk kaki Taylor saat ia melihat kakaknya masuk.
"Apel untukmu." Taylor tidak lupa memberikan buah kesukaan Cony.
Kesha hanya melirik mereka, ia membuka jubahnya lalu menggantung jubah itu begitu saja.
"Kesha, kau masih bekerja pada wanita jahat itu?" tanya Taylor saat ia melihat racun parasit yang ada di leher Kesha belum hilang.
"Seharusnya ini pekerjaan terakhirku. Tapi aku membuat kesalahan dan harus bekerja 5 kali lagi," jawab Kesha.
"Kan kakak sudah bilang ambil uang di tabungan dan tebus dirimu dari wanita itu, jika kau menunggu pekerjaan mu selesai maka sampai kau beruban pekerjaanmu itu tidak akan pernah selesai. Kau malah akan kena masalah besar karena ini."
"Kakak selalu mengoceh sejak tadi. Kenapa kakak sendiri tidak menebus kontrak diri kakak pada wanita suci jadi-jadian itu, jika kakak saja tidak bisa melakukannya maka aku pun tidak akan bisa."
"Kalau aku berhenti bekerja kita bisa makan apa? memangnya kau anak bangsawan? aku masih harus bekerja demi keluarga kita."
"Aku juga sama. Jika aku berhenti bekerja maka siapa yang akan membeli ramuan untuk Cony, aku lelah mengantri bersama para pengemis untuk mendapatkan ramuan yang sudah tidak mempan lagi untuk Cony," balas Kesha.
Taylor tidak berkata apa-apa lagi karena Cony memperhatikan mereka berdebat, jika mereka tidak berhenti berdebat maka Cony bisa merasa bersalah karena Kesha telah membahas masalah uang ramuan untuknya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berartiš