The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 42 Selamat datang



Jovan berdiri lalu meraih tangan Callix, dengan tatapan berbinar ia berkata, "Bisakah saya melihat peralatan yang lain? seperti koleksi milik Nona Isabella, Bisa?"


Callix tersenyum kecil lalu menatap kepada yang lain, mereka mengangguk sebagai tanda jika mereka setuju. Callix pun dengan senang hati membawa Jovan menuju ke ruang penyimpanan, di sana ada banyak ramuan tingkat tertinggi buatan Luca, racun paling mematikan buat Ainsley, senjata yang di buat secara langsung oleh pandai besi terbaik dari kota titan, dan tanaman yang dibuat dari kekuatan elemental Fil serta peralatan dapur yang dibawa oleh Fil mau pun yang diberikan oleh penduduk desa elf saat Isabella berkunjung ke sana.


Jovan tidak berhenti mengungkapan rasa kagumnya saat melihat barang-barang langka yang begitu banyak di ruangan ini, semua keburukan tentang Isabella yang ada di pikirannya seketika lenyap tidak bersisa. Karena baginya orang yang bisa mendapatkan banyak sesuatu yang langka tidak mungkin orang jahat.


"Semuanya aku pulang … oh! Jaguar kecilku yang manis, apa kau merindukan aku? Audrey ku yang baik hati apa kau juga? perkenalkan ini Selina, kadal cantik yang akan menjadi teman baru kita." Suara Isabella terdengar jelas oleh Callix. Ia pun langsung berlari keluar untuk melihat wanita yang baru saja kembali setelah hampir setahun tidak pulang.


"Isabella, selamat datang." Callix memeluknya dengan erat, bukan hanya Callix melainkan mereka semua berpelukan untuk melepas rindu yang terpendam. 


"Apa kalian ada tamu?" tanya Isabella melihat ada camilan yang terhidang diatas meja.


"Ya," jawab Jovan dari di belakang Isabella. Spontan Isabella langsung berbalik melihat siapa pemilik dari suara tersebut.


"Salam Nona Isabella Abraham. Saya adalah Viscount Jovan Oriel, saya diminta datang oleh Duke Cedric Abraham khusus untuk menbawa anda kembali ke kediaman Abraham." Jovan memberikan salam khas seorang bangsawan tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Isabella.


"Lupakan saja. Katakan pada pria itu bahkan dalam mimpinya pun aku tidak akan kembali ke sana, jadi kau pergilah dari sini," tegas Isabella.


"Ini bukan keinginan duke melainkan Nona Vanessa," jawab Jovan.


"Atas dasar apa dia memintaku untuk kembali? dia tidak pantas melakukan itu."


"Duke sudah setuju bahkan saya rasa anda harus kembali, saat ini duchess sedang berusaha menguasai kediaman duke. Setelah menikah lagi duke jarang ada di kediaman, mungkin saja duchess bisa menyakiti nona karena saya pernah melihat 2 putri duchess menindas nona. Namun tidak ada yang berani membantu nona, kalau pun ada duchess akan mengusir orang itu dari kediaman Abraham setelah ia mengetahuinya."


Deg!


Isabella terkejut karena sesuatu yang tidak pernah di ceritakan dalam novel terjadi, Isabella berpikir apa mungkin duchess dan kedua putrinya itu adalah tokoh antagonis yang telah menggantikan dirinya. Saat ini Isabella tidak punya pilihan selain ikut bersama Jovan kembali ke kediaman Abraham, awalnya ia tidak ingin kembali agar Vanessa bisa hidup bahagia. Namun mungkin saja karena pemikirannya itu alur cerita dari novel ini berubah, seperti takdir yang telah ditetapkan.


"Kita akan pergi. Tapi … dengan satu syarat dan kau harus memenuhi syarat itu. Aku akan memberikanmu imbalan sebanyak yang kau mau," ucap Isabella kepada Jovan.


"Baiklah. Katakan apa itu?"


"Aku akan membawa semua barang-barang berhargaku, jadi aku akan memintamu mencarikan aku kediaman yang baru. Tapi, Kediaman dengan sebuah toko didepannya."


"Toko?"


"Ya. Kediaman untuk khusus untuk 3 saudaraku ini, dan toko itu untuk melanjutkan bisnis toko kue milik kami. Bagaimana? apa kau bisa?"


"Serahkan pada saya. Tapi sebagai imbalannya, saya ingin meminta satu set cangkir teh dari desa elf."


"Itu saja?"


"Ya, hanya itu saja yang saya mau."


"Callix, berikan dia satu set cangkir yang ada di ruang penyimpanan. Dan berikan juga padanya 25 botol ramuan tingkat tertinggi sebagai bonus," perintah Isabella.


Jovan sangat kagum dengan kemurahan hati Isabella, ia menerima pemberian itu dengan senang hati. Tidak lupa Jovan membantu Isabella membawa semua barang berharganya dengan cara mengisi semuanya ke dalam kantong penyimpanan, kantong itu dilengkapi kekuatan magis yang bisa menampung barang-barang sebanyak apapun. Berkat kantong itu Isabella merasa sangat tertolong.


Malamnya mereka semua berangkat ke ibukota kekaisaran, Isabella merasa berat hati meninggalkan desa tersebut. Namun ia janji akan kembali ke desa itu saat ia berhasil melindungi Vanessa hingga hari di mana ia hidup bahagia, lagi pula semua anggota tim akan berkumpul kembali 2 bulan kemudian setelah libur panjang dari pekerjaan yang berat.


"Aku bisa merasakan kesedihanmu," telepati dari Selina, Isabella hanya tersenyum lalu mengelus Selina yang ada dipangkuannya.


"Apa kita akan berpisah jika sampai di ibukota?" tanya Jasper kepada Isabella. Mereka berempat ada di dalam kereta kuda yang sama.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja di sana? pria yang dulu pernah melukaimu, kau bilang berasal dari kediaman itu," tambah Audrey.


"Tenang saja. Di sana aku akan menjadi tuan dari pria itu, jadi aku akan membuat perhitungan dengan pria itu nanti," balas Isabella.


"Apa kadal itu ikut denganmu?" tanya Callix.


"Ya, aku memutuskan untuk menjadikan dia temanku. Oh iya tentang janji ku dulu, walau pun kita tidak pindah ke desa lain. Tapi sekarang kita juga sudah pindah kan, aku memang tidak mau ke kediaman itu hanya saja aku sepertinya harus ke sana. Dan untuk kalian, sesuai janjiku kalian bisa membuka cabang baru suatu saat nanti.  Aku tidak melarangnya lagi," ucap Isabella.


Mereka semua tersenyum bahagia dan berkata serempak, "Tentu saja. Serahkan saja pada kami, kita akan membuka 1.000 cabang dalam waktu dekat."


Suara tawa dari kereta Isabella membuat Jovan sedikit iri, mereka naik bersama sambil bercanda sedangkan dirinya hanya sendiri di kereta yang besar, tidak ada yang bisa diajak bercanda.


******


15 hari Kemudian Isabella harus berpisah dengan Callix, Audrey, dan Jasper. Mereka bertukar kereta saat berada tidak jauh dari gerbang masuk ibukota, Isabella pergi bersama Jovan ke kediaman Abraham sedangkan ketiga pria itu pergi bersama pelayan Jovan ke kediamannya.


Sepanjang perjalanan ke kediaman Abraham Isabella dan Jovan tidak saling bicara, Isabella fokus melihat suasana ibukota dari dalam kereta sedangkan Jovan duduk menulis sesuatu.


"Kita sudah sampai." Jovan menyimpan kembali peralatan tulisnya tersebut ke dalam tas saat kereta kuda berbelok memasuki kediaman Abraham.


"Saya akan turun lebih dulu." Jovan turun lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Isabella untuk membantu Isabella turun.


"Terima kasih." Isabella tersenyum kecil menyambut uluran tangan Jovan.


Saat pertama kali melihat Isabella, para pelayan dan kesatria Duke Abraham langsung terpesona. Isabella yang memakai gaun berwarna hitam, dengan rambut hitam panjang yang terurai dan senyum kecil diwajahnya membuat Isabella terlihat sangat elegan, ia seperti nona bangsawan yang terhormat.


"Selamat datang Nona besar Isabella." Sambut semua pelayan yang ada diluar kediaman.


"Kaka …." 


Charlotte dan Carolina sengaja menyenggol Vanessa saat ia hendak berjalan mendekati Isabella dan melangkah lebih dulu darinya untuk menghampiri Isabella, anak kembar itu tidak akan memberikan Vanessa peluang dekat dengan Isabella malah keduanya ingin membuat hubungan mereka menjauh.


Sih kembar berjalan mendekat dan langsung memeluk Isabella, mereka terlihat sangat ramah bahkan sulit dipercaya jika mereka adalah toko antagonis karena mereka sangat ahli menyembunyikan niat jahatnya.


"Selamat datang kakak, kami senang melihat kakak untuk yang pertama kalinya. Mohon bantuannya untuk ke depannya yah kakak," ucap sih kembar serempak.


"Bagaimana jika kami akan mengantarkan kakak ke kamar kakak?" tawar sih kembar.


"Aduh kalian ini. Ibu kan sudah bilang dari awal kalau kalian harus menjaga sikap di depan kakak kalian, jangan buat dia merasa tidak nyaman dihari pertamanya tinggal di sini sebagai seorang bangsawan," sindir Elena yang baru saja datang bersama 5 pelayan pribadinya.


Isabella tidak tertarik dengan keramahan yang palsu mereka, perhatiannya hanya tertuju pada gadis manis yang saat ini berdiri dengan raut wajah sedih. Isabella tidak mengatakan apa-apa dan langsung berjalan mendekati Vanessa, entah ini karena aura pemeran utama atau tidak. Tapi menurut Isabella, Vanessa sangat bersinar dalam pandangannya.


"Kau Vanessa kan?" tanya Isabella. Sponta Vanessa langsung mendongkak menatap wajah Isabella yang tersenyum manis, "Kau adalah alasan aku datang ke mari. Apa kau tidak mau memeluk kakakmu ini, adikku?"


Vanessa meneteskan airmata bahagia dan langsung memeluk Isabella, sih kembar bersama Elena tau bahwa sikap ramah Isabella pada Vanessa hanya karena mereka ada ditempat umum lalu mereka yakin Isabella akan membuat Vanessa menderita nanti.  Orang jahat memang selalu berpikir semua orang itu jahat seperti mereka.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘