The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 57 Kakak ku yang polos.



"Kakak, kadalmu telah merusak gaun kami. Jadi kami tidak salah bukan jika ingin menghukum kadal itu, lagi pula kakak seharusnya menjaga kadal itu agar tidak berkeliaran dan membuat kekacauan," ucap Carolina memberanikan diri.


Isabella mengelus kepala Selina dengan lembut seraya berkata, "Jadi kalian ingin menghukum kadalku kesayanganku hanya karena sebuah gaun?  apa kalian yakin?"


"Hanya sebuah gaun? kakak mengatakan itu karena kakak tidak tau semahal apa gaun ini. Apalagi gaun ini adalah hadiah dari ibu kami, jadi bagi kami ini sangat berharga."


"Ayolah itu hanya gaun jadi jangan berlebihan. Apa susahnya minta untuk dibelikan gaun baru yang lebih bagus dan lebih mahal, hum?"


"Sudahlah Carolina. Tidak ada gunanya bicara dengan kakak karena dia tidak akan mengerti, bagaimana bisa dia mengerti sementara dirinya tidak pernah menerima hadiah dari seorang ibu," sela Charlotte.


Ucapan itu melukai hati Isabella, harus ia akui jika dirinya tidak pernah menerima hal seperti itu di kehidupan sebelum atau pun kehidupannya sekarang. Namun ia tidak bisa diam saja, ia harus membuat mereka menjadi lebih kesal lagi.


"Kau … apa yang kau katakan? apa kau lupa kata ibu jika telah mengatakan kita tidak bisa membuat wanita ini marah," bisik Charlotte.


"Aku minta maaf. Lagi pula dia yang salah kan," balas Carolina.


Walau pun mereka berbisik-bisik, Isabella masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Untuk saat ini Isabella tidak bisa bermusuhan dengan mereka, ia harus menyimpan rasa kesalnya agar mereka tidak pergi ke kamar Vanessa. Baginya mengalah sekali untuk rencana yang sempurna itu sama sekali bukan masalah.


"Kau benar Carolina. Aku sudah menyakiti hati kalian hanya karena aku tidak pernah menerima hadiah dari seorang ibu, bagaimana jika kalian ambil satu gaun dari gaun-gaunku dan dua kotak perhiasan dari semua perhiasan milkku. Kalian mau kan?" tanya Isabella. Ia berusaha menunjukan rasa bersalah didalam hatinya.


Mata Charlotte dan Carolina langsung berbinar, masalahnya gaun serta perhiasan yang dibeli oleh Vanessa untuk Isabella sangat mahal. Semua gaunnya dibuat langsung oleh desainer muda yang diakui oleh permaisyuri serta perhiasan mewah yang hanya bisa dibeli oleh bangsawan kelas atas contohnya seperti Duke Abraham dan keluarga kerajaan. 


Melihat antusias mereka dalam memilih gaun serta perhiasan, Isabella merasa tenang sebab ia yakin kedua wanita itu pasti telah melupakan tujuan awal mereka yakni menarik perhatian Albert. Dan karena hal ini juga rencana Isabella untuk jalan-jalan di taman bersama Selina terpaksa harus dibatalkan.


"Orang serakah memang sangat menyukai barang mahal," sindir Selina menatap sih kembar dengan tatapan merendah.


"Setidaknya aku sudah tau cara menangani para wanita kecil ini," balas Isabella. 


*****


"Lalalala." Isabella bersandung bahagia sambil mengeringkan rambutnya didepan cermin.  Sih kembar terlalu memakan waktu lama untuk memilih apa yang ingin mereka ambil, saking lamanya sampai tidak terasa waktu telah petang.  


Suasana hati Isabella sejak tadi juga tidak baik, ia ingin menjenguk Vanessa. Namun Albert tidak kunjung pulang dan terus berada di kamar Vanessa. Ia tidak memberi izin siapa pun selain pelayan pribadi Vanessa untuk masuk ke dalam kamar, dan Isabella mendapatkan kembali suasana hatinya yang baik setelah ia mandi.


"Marry, tolong bawakan baju tidurku. Baju mandi ini …." Ucapan Isabella terhenti saat ia mendengar ada suara gaduh dari luar.


"Ada apa di luar, Marry?" tanya Isabella. Namun pelayan itu hanya menggeleng, ia juga tidak tau karena ia sendiri belum keluar dari kamar.


Brak!


Jennie mendadak mendobrak pintu kamar Isabella, dengan nafas yang tidak teratur ia langsung terduduk di lantai.


"Du-duke sedang menuju ke mari. Beliau marah besar setelah melihat …."


"Isabella. Keluar kau sekarang!" teriakan Cedric dari kejauhan terdengar sangat jelas sampai di kamar Isabella. Jennie terlihat semakin takut setelah mendengar itu.


Isabella merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi, ia langsung meninggalkan kedua pelayannya lalu keluar dari kamar. Tidak lupa Isabella menutup pintu kamar agar kedua pelayannya tidak bisa keluar atau mereka juga bisa kena amarah Cedric.


"Ayah tenanglah dulu. Ayah membuat semua orang di sini takut," ucap Vanessa berusaha menenangkan Cedric, sayang sekali usahanya sia-sia karena amarah Cedric saat ini tidak bisa ditahan lagi.


Dengan raut wajah kesal dan memerah menahan amarah, Cedric melangkah semakin cepat mendekati Isabella lalu melayangkan dua kali tamparan keras ke wajah Isabella.


Vanessa yang menyaksikan hal itu sangat terkejut. Spontan ia langsung mendorong Cedric menjauh dari Isabella serta menghadang Cedirc untuk mendekat pada Isabella lagi.


"Kau ingin menghalangi ayahmu memberi hukuman pada wanita kejam itu? apa yang kau pikirkan? ayah tau kau itu wanita berhati baik. Tapi kau tidak harus bertingkah bodoh dengan melakukan ini, wanita yang tega melukaimu bahkan tidak peduli sama sekali dengan keadaanmu. Dia sama sekali tidak pantas mendapatkan kasih sayang darimu," bentak Cedric.


"Ayah salah menilai kakak. Selama ini …."


"Cukup," potong Isabella. Isabella mengusap darah yang keluar dari mulutnya lalu ia mendorong Vanesaa dengan keras, dengan cepat  Cedric langsung menangkap tubuh Vanessa jika tidak kepala Vanessa bisa saja terluka parah saat membentur lantai.


"Kau lihat itu! dia mendorongmu. Dia sama sekali tidak peduli jika kepalamu membentur lantai lalu pecah, kakak seperti itu yang ingin kau lindungi," ucap Cedric.


"Ya. Kau benar ayah, aku tidak akan peduli bahkan jika dia mati. Aku tidak akan peduli. Apa hubungannya denganku? toh aku sudah melukai dahinya sekali, aku akan mengulangi hal itu dan mungkin lain kali akan lebih parah," balas Isabella.


"Wow, anak ini benar-benar kejam. Aku suka dia," batin Elena. Ia ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Elena membuat airmata palsu lalu dengan raut wajah sedih ia berlari mendekati Isabella dan menarik  Isabella dalam pelukannya seraya berkata, "Cukup.  Isabella baru saja kembali ke kediaman ini, aku sendiri tau dia memang memiliki reputasi yang buruk. Tapi bukan berarti anda harus menghukum Isabella sampai seperti ini, anda menampar wajah Isabella sangat keras hanya karena luka gores didahi Vanessa. Apa itu setimpal? tidak duke. Anda menyakiti Isabella 10 kali lebih sakit dari Vanessa karena Vanessa adalah anak kesayangan anda. Tapi Isabella adalah anak kandung anda, anda harus adil pada mereka berdua."


"Elena kau …." Cedric menatap tajam Elena yang berani-beraninya membela Isabella.


"Cih! wanita ini cukup pintar juga, biarkan aku ajak kau ke dalam sandiwaraku. Tidak perlu berterima kasih padaku," batin Isabella.


Isabella membalas pelukan Elena lalu menangis dalam pelukannya, "Hanya ibu yang mengerti aku di kediaman ini. Ibu bukan ibu kandungku. Tapi ibu mengerti dengan perasaanku, padahal ayah kandungku sendiri yang punya hubungan darah denganku sama sekali tidak mengerti aku."


"Apa ini? kakak … kenapa kau memeluk wanita itu? dia bukan wanita baik, kakak. Kau jangan salah menilainya. Wanita itu sudah mempermainkan perasaan kakakku yang polos, kasihan sekali kakak," batin Vanessa mengepalkan tangannya melihat akting jelek Elena.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘