The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 63 Upacara pernikahan Vanessa



Charlize bersama dengan beberapa tim penyidik terus berusaha mencari lokasi tujuan dari kertas yang di lengkapi kekuatan teleportasi tersebut, mereka sudah bekerja selama 2 hari. Tapi belum ada titik terang sama sekali, Charlize dan Albert sampai kelelahan karena tidak bisa istirahat dengan baik.


"Tuan! kami menemukan lokasinya, tujuan teleportasi itu di hutan dekat Kota Hujan biru," ucap Edmund setelah berhasil melacak lokasi teleportasi tersebut.


"Seingatku orang yang paling berpengaruh di sana adalah Baron Martin Kalandra, ia adalah pria gemuk yang suka mengoleksi wanita cantik sebagai selirnya. Apa mungkin Vanessa di culik olehnya?" tanya Charlize.


"Apa pun itu aku tidak peduli. Mari kita pergi ke kediaman pria itu untuk memastikannya," jawab Albert.


"Daniel, buka gerbang teleportasi ke gerbang Kota Hujan biru!" perintah Charlize ke pada bawahannya.


Sementara itu Charlize bersiap bersama Albert, tidak lupa mereka mengerahkan sebagian pasukan kesatria Arsena untuk ikut bersama mereka. Setelah semuanya bersiap sedia, Daniel menggunakan kekuatannya untuk membuka gerbang teleportasi menuju gerbang Kota Hujan biru. Setelah gerbang teleportasi terbuka, Charlize dan Albert memacu kuda mereka masuk ke dalam gerbang tersebut diikuti oleh pasukan kesatria Arsena di belakang mereka.


Setelah semuanya berhasil masuk Daniel dengan cepat menutup gerbang teleportasi itu sebelum tenaganya terkuras habis.


"Bergerak sekarang!" perintah Charlize pada pasukannya. Namun tiba-tiba saja ada naga melintas diatas kepala mereka, melihat naga itu mereka tercengang.


"Naga itu naga yang sama dengan naga di malam Vanessa menghilang. Siapa sebenarnya pemilik dari naga itu?" batin Albert.


"Ayo!" Albert memacu kudanya dengan kecepatan tinggi bersama Charlize dan pasukan kesatria Arsena.


Beberapa saat yang lalu ….


Isabella membawa Fil menuju kediamannya, karena kediamannya sedang sepi jadi Isabella bisa membawa masuk siapa saja tanpa takut ketahuan oleh siapa pun.


Isabella membawa Fil menuju kamar Vanessa, Fil membutuhkan salah satu barang milik Vanessa dengan begitu kekuatannya bisa menuntun mereka ke tempat Vanessa berada.


"Ini!" Isabella menyerahkan pita kesukaan Vanessa, ia selalu memakai pita itu jika berada di kediaman.


"Sekarang masalahnya tinggal satu yaitu kendaraan, kita butuh kendaraan yang cepat agar bisa mengikuti ke mana pergi pita ini. Kau sendiri tahu kan angin itu bertiup sangat kencang," ucap Fil.


"Aku saja!" Selina yang sedari tadi diam kini menawarkan diri.


"Ka-kadalnya bisa bicara?" tanya Fil terkejut setengah mati.


"Terkejutnya nanti saja. Ayo!" Isabella menarik Fil menuju halaman belakang. 


Di halaman belakang yang luas, Selina bisa berubah tanpa takut terjepit. Melihat kadal yang bisa bicara saja Fil terkejut, dan lebih terkejut sampai hampir pingsan saat melihat kadal itu berubah menjadi naga.


"Naiklah!" Isabella harus menarik Fil naik ke atas kepala Selina, lalu Selina dengan cepat naik ke udara.


"Baiklah sekarang giliranku." Fil memegang pita Vanessa dengan mata terpejam.


"Kekuatan Elemen, angin jadilah penuntun jalanku dan bawalah pita ini ke tempat pemiliknya berada," ucap Fil. Seketika pita tersebut terbang dengan cepat dari tangan Fil, Selina juga tidak mau kalah. Ia terbang dengan kecepatan tinggi agar tidak tertinggal oleh pita tersebut.


*****


"Aku bisa mendengarmu," telepati Isabella berhasil mencapai Vanessa. Vanessa merasa sangat senang sampai menesteskan airmata. Namun saat ia hendak membalas telepati itu lagi, Martin gemuk itu tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Vanessa.


"Calon istriku, sedang apa kau duduk di lantai?" tanya Martin dengan nada  lembut.


Vanessa langsung berdiri dari lantai, ia jadi tidak bisa fokus untuk membalas telepati Isabella karena pria ini.


"Kemarilah!" Martin berniat meraih tangan Vanessa. Tapi Vanessa spontan menghindar, ia merasa jijik jika ada pria lain yang menyentuhnya.


"Ada apa? kau baru saja menghindar dari calon suamimu?" tanya Martin gemuk. Spontan Vanessa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Pengantinku harus sangat cantik, walau pun sekarang dia telah cantik," perintah Martin kepada para pelayan, para pelayan pun mengangguk.


Sementara Vanessa akan di rias Martin juga pergi ke kamarnya untuk di rias, hari ini adalah hari upacara pernikahan mereka akan di adakan.


Sementara dirinya di rias Vanessa tidak bisa tenang, ia terus memainkan jarinya sembari berdoa agar Isabella berhasil menemukan dirinya. Ia ingin melakukan telepati lagi, sayangnya ia tidak bisa fokus karena upacara pernikahan akan segera berlangsung saat waktu merias selesai.


"Tolong aku tuhan. Tolong kirimkan siapa saja ke mari," pinta Vanessa.


"Selesai." Para pelayan tersenyum bahagia melihat kerja keras mereka merias Vanessa menjadi secantik mungkin.


Setelah itu para pelayan meninggalkan Vanessa sendirian di dalam kamar yang ia duga adalah kamar pengantin, setelah beberapa menit kemudian para pelayan itu kembali lagi. Mereka menuntun Vanessa ke tempat di mana upacara pernikahan berlangsung, Vanessa di tuntun duduk dibalik tirai sambil menunggu pria gemuk itu selesai melakukan sumpah pernikahan dan menghampiri Vanessa untuk mengikat benang merah di jari manis sebagai bukti janji suci.


"Pasangkan benang merah ini ke jari manis pengantin wanita, barulah kalian sah menjadi pasangan suami istri," ucap penghulu kepada pria gemuk tersebut.


"Oh tidak. Aku harus bagaimana sekarang?" batin Vanessa.


"Kyaaaa." Para tamu undangan berteriak histeris saat atap tempat mereka berteduh seketika runtuh, semua orang berlarian menyelamatkan diri mereka sendiri.


"Buat kediaman ini tidak punya atap lagi," perintah Isabella pada Selina, Selina pun dengan senang hati menyapu bersih atap kediaman Martin sih pria gemuk itu tanpa sisa.


"Itu Vanessa," batin Isabella saat tatapan tertuju pada wanita cantik dibalik tirai merah yang memakai gaun pengantin.


"Fil, tolong tarik wanita itu ke mari," pinta Isabella menunjuk Vanesaa.


"Baik." Fil mengangguk, "Kekuatan elemen, akar pengikat."


Akar tumbuhan yang sangat panjang muncul entah dari balik lengan baju Fil, akar itu memajang lalu melilit tubuh Vanessa. Setelah itu Vanessa langsung ditarik ke atas oleh Fil.


"Jangan harap! kekuatan elemen, bola api." Martin melemparkan api ke akar milik Fil, akar itu terbakar dan putus. Vanessa pun jatuh ke tanah beruntung Martini berhasil menangkapnya.


"Kalian semua keluar!" teriak Martin, lalu munculah para kesatria keluarga Kalandra.


"Gunakan kekuatan kalian, panah naga jelek itu bersama orang diatasnya." Perintahnya.


"Tidak! jangan lukai kakakku, ku mohon jangan sakiti kakakku." Vanessa memberontak dalam pelukan Martini.


"Kekuatan elemen, panah api. Tembak!" Para kesatria itu melepaskan tembakan mereka secara bersamaan kepada Selina.


Selina menghindari ratusan tembakan panah api itu dengan terbang sedikit lebih tinggi lagi.


"Jangan! lepaskan itu dariku," tolak Vanessa saat Martin berusaha memasangkan benang merah itu di tangannya.


"Beraninya kau!" Isabella mengeluarkan belatinya lalu turun dari atas naga.


"Jauhkan tangan kotormu dari Vanessa," cemoh Isabella.


Martin tersenyum bahagia melihat wanita cantik dengan tatapan membunuh didepannya, baginya kencatikan Isabella lebih menark dari pada Vanesaa dan itu membuatnya menggila.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘