
Tidak seperti biasanya hari ini Vanessa bangun lebih awal, lalu ia pergi menemui Jeremy langsung ke kamarnya. Kedatangan Vanessa tentu membuat Jeremy terkejut, karena Cedric pasti akan marah besar jika sampai ia mengetahui hal ini.
"Maaf karena aku datang menganggumu. Tapi maksud kedatanganku ini sebenarnya ingin mengetahui hasil penyelidikan lebih lanjut tentang kakak, apa ada kabar terbaru?" tanya Vanessa.
Jeremy menghela nafas dan menjawab, "Duke telah memerintahkan pada saya untuk berhenti melakukan semua penyelidikan tentang Nona Isabella. Bagi duke Nona Isabella bukanlah putrinya, jika dia datang ke kediaman ini maka Nona Vanessa akan menderita, sebab Nona Isabella adalah wanita yang memiliki sikap sangat buruk."
"Ini tidak adil. Aku akan bicara pada ayah." Vanessa langsung beranjak dari hadapan Jeremy, ia tidak setuju dengan keputusan egois dari sang ayah.
Vanessa datang terlalu pagi ke kamar Cedric, karena saat itu Cedric baru saja selesai mandi bahkan belum sempat mengganti baju mandinya.
"Ada apa, sayang? kemarin kau marah sampai tidak mau bertemu, makan, dan bicara dengan ayahmu ini. Ayah pikir kau tidak mau bertemu ayah lagi, duduklah dulu." Cedric mempersilakan Vanessa duduk, dan Vanessa tidak mau menolak keramahan ayahnya.
"Bicaralah!" pinta Cedric.
Vanessa sangat gugup bahkan tangannya tidak berhenti gemetar. Ini pertama kalinya ia menentang keputusan sang ayah, tapi ia harus memberanikan diri demi bertemu dengan sabella.
"Vanessa ingin mengatakan sesuatu pada ayah. Vanessa ingin ayah menjemput kakak untuk pulang ke kediaman ini," ucap Vanessa sambil memejamkan mata.
"Keinginan ditolak. Ayah tidak bisa," tolak Cedric.
"Ta-tapi kenapa? kakak adalah putri ayah dan Nyonya Penelope. Ayah tidak tau sebaik apa nyonya pada Vanessa dan Vanessa yakin kakak juga memiliki kebaikan yang sama."
"Kau tidak mengerti, sayang. Isabella tumbuh di lingkungan yang buruk, sikapnya buruk bahkan dia menikahi 3 pria sekaligus. Apa itu bisa disebut wanita yang baik?"
"Lingkungan yang buruk tidak selamanya bisa membuat orang lain menjadi buruk, ayah. Ayah, telah salah paham pada kakak karena adalah anak ayah jadi tidak mungkin rasanya jika kakak menikahi 3 pria sekaligus."
"Rumor yang beredar tentangnya semuanya buruk, dia sering keluar masuk rumah bunga, melakukan pelecehan pada pria, dan suka mencuri pakaian pria. Ayah mungkin tidak akan percaya jika itu hanya ucapan dari 1 atau 2 orang, tapi itu adalah ucapan dari semua penduduk desa."
"Itu kan hanya rumor. Semua orang bisa membuat rumor, atau jangan-jangan ayah juga percaya tentang rumor yang beredar dikalangan bangsawan jika Vanessa adalah wanita penggoda?" tanya Vanessa.
Cedric terdiam seketika. Ia memang pernah mendengar rumor itu, bahkan ia sampai menghukum bangsawan yang membuat rumor palsu itu beredar sampai akhirnya rumor itu tidak terdengar lagi.
"Karena ayah sangat percaya rumor maka jawabannya sudah pasti, ayah percaya bahwa Vanessa adalah wanita penggoda. Maka Vanessa akan pergi dari kediaman ini dan tinggal dilingkungan yang pantas untuk wanita penggoda. Tapi ayah jangan lupa, siapa yang membuat kakak sampai tinggal di lingkungan buruk seperti itu," lanjut Vanessa.
"Saya pamit ayah." Vanessa membungkuk lalu melangkah keluar dari kamar Cedric.
Kini tinggallah sendirian yang membisu sambil berpikir keras. Ia tidak percaya rumor tentang Vanessa karena ada bukti yang kuat akan hal itu, dan dia percaya dengan rumor Isabella karena semuanya sudah dibuktikan oleh Azar. Cedric saat ini dilanda kebingungan, ia tidak tau harus berbuat apa lagi karena telah menyakiti hati putri kesayanganya. Apa dia harus membawa Isabella ke kediamannya? pikir Cedric.
******
Zelene memejamkan mata dan pasrah jika ia harus tiada. Namun seseorang berhasil menangkap tubuh Zelene, orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Isabella.
Zelena membuka mata melihat wajah tampan pria yang berhasil menyelamatkannya, saat itulah jantung Zelene berdetak tidak karuan bahkan tubuh terasa panas.
"Tunggulah sebentar, saya akan membawa anda menemui dokter." Isabella berlari dengan cepat menuju pavilliun tempat dokter pribadi keluarga Alfie tinggal. Ia berfikir Zelene mengalami syok berat karena wanita ini tidak berhenti menatapnya. Isabella yang polos hanya tidak sadar jika dirinya telah berhasil mencuri hati satu wanita lagi.
Setiba Isabella di pavilliun, para pelayan wanita langsung mengambil alih Zelene darinya. Isabela tidak diizinkan masuk karena identitasnya sebagai pria, para pria diharamkan oleh pemilik pavilliun untuk masuk ke dalam. Bahkan para kesatria penjaga hanya bisa berada di luar pavilliun.
Isabella tidak keberatan akan hal itu, malah semuanya menjadi jauh lebih baik bagi Isabella. Lagi pula ia harus kembali dan istirahat lebih awal karena besok ia harus bangun lebih awal juga, Isabella dan Bara sudah membuat janji untuk berlatih untuk mengisi waktu luang.
Keesokan harinya Luca membuat keributan di pavilliun sang dokter karena ia ingin menjenguk Zelene, sayangnya peraturan tetaplah peraturan walau pun yang datang adalah kaisar hasilnya akan tetap sama. Pria diharamkan masuk ke pavilliun milik sang dokter.
Saat hari telah petang kondisi Zelene akhirnya membaik, ia diizinkan kembali ke kediaman utama oleh sang dokter jika tidak Luca akan terus membuat keributan sampai besok.
"Kenapa kakak bisa jatuh? katakan padaku siapa yang membuat kakak jatuh, aku tidak akan mengampuni orang yang berani menyakiti kakak sampai seperti ini. Bagiku keselamatan kakak adalah …."
"Cukup!" Zelene mengangkat tangannya membuat Luca terdiam, "Aku tidak bisa beristirahat dan menerima pengobatan dengan benar karena kau membuat keributan dari pagi sampai petang. Tidak ada yang menyakitiku, aku yang menumpah anggur ku sendiri lalu terpeleset karena itu."
Raut wajah Luca berubah menjadi sedih, ini pertama kalinya Zelene menggunakan nada suara yang tinggi saat berbicara dengannnya.
"Maafkan aku. Aku hanya mengkhawatirkan kakak, sekali lagi maafkan aku." Luca mengusap airmatanya kemudian berlari meninggalkan Zelene.
"Ya tuhan, tolong selamatkan aku dari anak bodoh itu secepatnya atau aku akan melenyapkannya," batin Zelene yang telah berada dibatas kesabarannya.
"Terima kasih untuk makan siangnya," ucap Isabella kepada seorang pelayan wanita.
Senyum manis terukir di bibir Zelene saat ia melihat Isabella. Mulai dari senyum manis Isabella, baju yang basah karena keringat, serta rambutnya yang acak mampu membuat Zelene terpana. Namun pelayan wanita didekat Isabella menganggu pemandangan Zelene, ia merasa pelayan itu tidak pantas ada di samping Isabella.
"Sampai jumpa nanti malam." Isabella melambaikan tangannya kepada kepada pelayan wanita tersebut, saat pelayan itu telah berjalan menjauh darinya.
Ketika Zelene melihat Isabella berjalan kearahnya, ia langsung bersandiwara dengan pura-pura tersandung. Isabella yang melihat itu spontan ingin menangkap tubuh Zelene, namun Luca yang entah datang dari mana justru lebih cepat darinya.
"Lu-Luca sialan! apa yang kau lakukan di sini? berani … berani sekali kau mengganggu momen romantisku, tunggu dan lihat saja kau nanti," Jeritan Zelene dalam hati. Gagal sudah rencananya agar dapat dipeluk oleh tangan kekar Isabella.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘
Maaf jika kali ini banyak sekali kesalahan dalam pengetikan😢 karena kondisi kesehatan author kurang baik, jadi tidak bisa mengetik dengan benar😷