The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 79 Jangan sampai terjadi apapun



"Kenapa? kenapa bisa jadi begini? kenapa aku kehilangan kendali pada pak tua itu? apa dia sudah tertangkap?" Zelene meremas rambutnya sendiri karena ia kehilangan kendali pada salah satu orang yang ia tanamkan parasit.


"Tidak bisa. Allred belum muncul dan aku sudah kehilangan satu peliharaanku, tidak bisa begini. Aku harus mencipatkan lebih banyak monster untuk menarik Tim Achlys keluar lalu aku bisa berjumpa dengan Allred, kami akan saling jatuh cinta lalu menikah setelah itu aku akan menghukum anggota timnya yang tidak sopan padaku," batin Zelene.


"Aku harus buat racun itu lagi … pokoknya harus," ucap Zelene memulai pekerjaan memperbanyak serbuk racun itu. Ia kehilangan akal sehatnya karena tergila-gila pada Isabella, entah bagaimana cara Isabella menangani ahli ramuan yang telah ternoda seperti Zelene.


Sementara Zelene sedang membuat racun tambahan, Isabella di sisi lain dengan waktu yang sama sedang berdansa bersama dengan Charlize. Setelah dansa selesai Isabella pergi ke teras balkon untuk beristirahat sekaligus menghindari para tuan muda yang ingin mengajaknya berdansa.


"Jus anggur." Vanessa memberikan jus pada Isabella, Isabella dengan senang hati menerimanya.


"Dansa kalian sangat memukau. Aku tidak tau jika kakak bisa berdansa sebagus itu, siapa yang mengajari kakak?" tanya Vanessa.


Isabella jadi teringat dulu dia pernah menjalankan misi membunuh seseorang pada sebuah pesta, Allred memaksanya untuk belajar berdansa karena di sana mungkin akan ada banyak pria yang meminta dirinya untuk berdansa. Isabella belajar dansa dari seorang wanita yang sangat pandai berdansa, dia tidak lain adalah istri dari Allred sendiri.


"Aku diajari oleh seorang wanita yang dingin dan berwajah datar. Dia sangat cantik namanya Camelia, Nyonya Camelia," jawab Isabella tersenyum sambil menatap ke langit, ia mengingat wajah wanita paru baya yang kecantikannya tidak ditelan oleh waktu.


"Kakak, pasti sangat merindukan orang itu. Kata ibu kakak jika ada seseorang membicarakan orang lain sambil menatap langit itu artinya dia sangat merindukan orang yang dia bicarakan, apa benar?"


"Merindukannya yah? mungkin. Kakak sudah melupakan sosoknya karena di sinilah kehidupan kakak sekarang, sekali pun kakak memohon dengan bersungguh-sungguh kakak tetap tidak bisa menemui wanita itu lagi."


"Kata siapa tidak bisa? jika kakak mau maka aku akan tememani kakak ke sana, aku penasaran seperti apa wanita yang kakak rindukan itu."


"Itulah masalahnya, kakak mau cuma kakak tidak bisa karena wanita itu berada ditempat yang sangat jauh dan letaknya ada di sisi lain dunia ini."


"Di sisi lain dunia ini?"


"Maksud kakak tempatnya sangat jauh, kita tidak akan pernah sampai ke tempat itu."


Vanessa memeluk Isabella seraya berkata, "Aku akan berdoa semoga kakak bisa bertemu dengan mereka lagi."


"Sebenarnya kau sepolos apa? dasar Vanessa," batin Isabella berusaha menaham tawanya.


"Kakak akan pergi sebentar mengambil kue, tunggulah kakak di sini." Isabella melepasakan pelukan Vanessa dan berjalan masuk ke aula.


"Bergerak sekarang." Samantha mengirim telepati pada Taylor setelah ia memastikan Isabella benar-benar pergi, ia memantau mereka dari teras yang ada di samping teras Vanessa berada.


Tayrlor yang berada di bawah teras Vanessa berdiri telah bersiap menjalan tugas dari Samantha, ia menghela nafas pelan lalu ia mengangkat tangannya keatas.


"Maafkan saya nona, setelah ini saya akan menghilang dari ibukota dan menjalani hidup saya sebagai pengemis untuk menebus dosa ini. Tolong maafkan saya," batin Taylor meneteskan airmatanya.


Isabella menghentikan langkahnya karena teringat sesuatu, "Sial! aku lupa menanyakan pada Vanessa dia ingin makan apa, dia suka kue rasa apa yah? aku tanyakan saja dulu."


Isabella pun berbalik kembali ke teras tempat Vanessa berada, begitu banyak kue yang Vanessa suka sampai ia bingung Vanessa paling suka kue apa.


Duaarr!


"Kyaaaa."


"Kakak!" teriak Vanessa seraya bangkit sayangnya kaki Vanessa terkilir saat Isabella melempar tubuhnya tadi.


"Vanessa." Cedric yang baru saja datang langsung memeluknya, "Apa yang terjadi? kau baik-baik saja?"


"Ayah, kakak jatuh dari sini saat menyelamatkan aku. Tolong cepat ayah!" ucap Vanessa gemetar ketakutan.


"Isabella?" Charlize sangat terkejut, dengan cepat ia langsung berlari menuju tempat Isabella berada, "Ku mohon jangan sampai terjadi apapun  padamu, ku mohon."


"Aku ingin menghukum adikmu. Tapi kau telah membantuku dengan membuat dirimu sendiri dalam bahaya, ini tidak terlalu buruk. Semoga kau tidak bangun lagi," batin Samantha tersenyum kecil.


*****


"Selina, makan malam mu sudah siap. Ayo makan bersama!" ajak Aisnley pada Selina.


"Aku tidak nafsu makan. Gara-gara gagal membeli gaun setelah melihatnya aku jadi kehilangan keinginanku untuk melakukan apapun, kau saja yang … akh!" Selina menjerit saat Aisnley menariknya turun dari atas lemari.


"Jangan berlebihan hanya karena sebuah gaun. Dasar konyol! makan makananmu atau kau akan ku beri kau makan rumput agar jadi kadal sungguhan," ancam Aisnley.


Selina seketika langsung menurut karena ia tau Aisnley jika berkata seperti itu bukanlah sekedar ancaman, dia akan membuktikan itu semua dengan bertindak.


Saat Aisnley sedang menyajikan makanan tiba-tiba saja gelang pelindung yang dipakainya putus, Isabella memberikan gelang itu sebagai bukti kedekatan mereka. Tapi iut gelang bukan sembarangan gelang, kekuatan dalam gelang ini mampu melindungi pemiliknya dari bahaya besar, sayangnya saat kekuatan gelang ini terpakai maka gelang itu akan patah. Jika ada gelang milik salah satu anggota patah, maka gelang semua anggota akan ikut patah sebagai tanda jika salah satu anggota mereka dalam bahaya.


"Bahaya besar. Aku harus pergi Selina." Aisnley bergegas meninggalkan kediaman Abraham menuju kediaman Oswald, ia takut sesuatu telah terjadi pada ketiga anggotanya di sana. Namun sesampainya di sana, mereka bertiga baik-baik saja.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Aisnley.


"Ya, kami baik-baik saja justru kau dan Isabella bagaimana? apa kalian baik-baik saja?" tanya Luca, ia khawatir karena Aisnley datang sendirian.


"Kenapa? apa yang terjadi pada Isabella?" tanya Audrey, ia datang bersama dengan Callix dan Jasper.


"Aku tidak tau, dia pergi ke perjamuan dan gelang kita patah. Apa …." Aisnley berhenti bicara, ia merasakan hal yang sama dengan ketiga anggota tim yang lain.


"Kekuatan elemen, perahu angin." Fil menggunakan kekuatannya lalu mereka semua mengambang di udara, mereka berpegangan tangan dan Fil mengendarai perahu angin dengan kecepatan tinggi menuju kerajaan.


"Kenapa dengan mereka? mereka sangat khawatir dengan Isabella seolah mereka dekat dengannya, padahal Isabella baik pada mereka  karena mereka itu sahabat kakaknya," ucap Callix.


"Benar. Mereka itu berlebihan, Aisnley juga. Isabella salah memilih pelayan untuk dirinya, master ahli racun jadi pelayan. Padahal yang patah hanya gelang pemberian Isabella saja mereka langsung berpikir Isabella dalam bahaya," tambah Audrey. Kedua pria itu kembali lagi ke dalam kediaman.


"Bodoh! kalian tidak tau nona sekarang sedang dalam bahaya besar, aku akan pergi melihatnya." Jasper berubah kewujud jaguar. Dengan wujud ini ia bisa berlari sangat cepat sampai ke tempat tujuannya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘