
Isabella duduk ditepi ranjang Martini lalu ia menggenggam erat tangan Martini dan mengecup tangan itu berkali-kali.
"Apa kau takut akan kematian?" tanya Isabella. Martini tersenyum seraya menggeleng.
"Kenapa? kematian itu menyakitkan. Seluruhnya nampak gelap bahkan tidak ada bedanya saat membuka atau menutup mata, dan kita akan sendirian di tempat yang dingin bagiku itu sangat menakutkan," ucap Isabella lagi, ia berusaha keras menahan airmatanya agar tidak menetes.
"Aku telah berada diambang kematian beberapa kali, takut pun tidak akan ada gunanya. Ta-tapi entah kenapa dari ucapanmu, aku merasa ka-kau seolah pernah merasakan kematian itu."
"Mana mungkin aku sudah pernah merasakannya jika aku sendiri masih hidup saat ini. Tapi Nyonya … jika anda merasa kesepian di alam sana kembalilah karena di sini selalu ramai, atau jika makanannya di sana tidak enak anda juga harus kembali karena masakan Tuan March jauh lebih enak, dan jika anda tidak suka tempat tidur di sana maka kembalilah di sini tempat tidurnya empuk. Pokoknya kembali kapan pun anda mau hiks …." Isabella menunduk guna menyembunyikan airmatanya yang menetes.
Sementara itu keadaan Martini semakin buruk, nafasnya mulai berhembus satu persatu bahkan tangannya yang berada dalam genggaman Isabella mulai terasa dingin.
"Nyonya, terima kasih sudah bersikap baik padaku selama ini. Bertemu denganmu membuatku merasa bertemu dengan keluargaku sendiri, anda mungkin kurang ramah saat pertama kali bertemu bahkan sampai saat ini anda sangat menakutkan jika marah. Akan tetapi sikap itu tidak menutupi sikap ramah anda, tolong ingat kata-kata saya tadi. Anda harus kembali jika di sana tidak menyenangkan jika tidak, saya akan menjodohkan Yuna dengan pria yang sangat jelek dan …." Isabella tidak sanggup meneruskan ucapannya.
Luca meletakan tangannya dipundak Isabella sebagai isyarat jika Martini telah menghembuskan nafas terakhirnya. Namun ia tetap setia pada tempatnya, jangankan beranjak Isabella bahkan tidak bergerak sama sekali.
"Pada akhirnya semua sia-sia. Apa gunanya aku tau alur dari novel ini jika aku tidak bisa menyelamatkannya, aku tidak berguna. Aku benci perasaan aneh yang ku rasakan saat ini, dan aku sangat benci perpisahan," batin Isabella menggigit bibirnya agar isak tangisnya tidak keluar.
Pasukan suku barian berhasil dipukul mundur lagi kali ini. Saat hari telah gelap tenda medis Martini mulai ramai kedatangan kesatria yang ingin mengucapkan perpisahan, Isabella keluar dari tenda dan pergi jauh ke dalam hutan.
Semua orang sibuk menangani March yang mengamuk, dan bersiap untuk pemakaman Martini. Tidak ada satu pun orang yang sadar jika Isabella tidak bersama mereka.
"Utusan suci apanya? menyebalkan. Aku bahkan tidak berguna padahal aku tau semua alurnya," batin Isabella tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Isabella tidak tau sudah berapa lama ia berjalan dan seberapa jauh ia melangkah, kini ia telah berada di tepi danau yang mematulkan cahaya rembulan. Di sana dia duduk menatap ke langit yang indah, sambil terus mempertanyakan untuk apa keberadaan dirinya saat ini.
"Mungkin ini hanya mimpi. Saat aku bangun besok, pasti Martini telah menyiapkan sarapan sama seperti biasa. Yah itu pasti benar, aku hanya perlu tidur malam ini dan bangun besok pagi lalu semuanya akan kembali normal," gumam Isabella. Ia memejamkan mata dan masih tidak mau menerima kenyataan pahit sebesar ini.
Tidur Isabella terganggu saat ada tangan yang besar membelai rambutnya dengan lembut, dan saat ia membuka mata ternyata itu adalah March.
"Kau sudah bangun? apa orang tua ini membangunkanmu?" tanya March. Ia tersenyum pilu kepada Isabella.
Isabella bangun dan duduk disamping March lalu bertanya, "Kenapa anda ada di sini? anda meninggalkan nyonya sendirian?"
"Keberadaanku di sini sama denganmu. Apa aku terlihat seperti orang yang bisa meninggalkan seseorang? lagi pula pemakamannya sudah selesai, dia telah pergi dan tidak akan kembali lagi jadi dia yang meninggalkan aku bukan sebaliknya."
"Nyonya tidak takut kematian. Padahal saya sudah memintanya untuk kembali jika di sana tidak menyenangkan, tapi lihatlah! dia tidak kembali, apa di sana sangat menyenangkan? apa di sana ada makanan yang jauh lebih enak? apa di sana dia punya teman baru? atau apa di sana tempat tidurnya bagus?"
"Mungkin saja dia tidak mau merasakan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya, kasihan juga jika dia harus merasakan sakit agar bisa kembali, tertusuk tombak itu rasanya sangat menyakitkan jadi kita tidak bisa bersikap egois dengan meminta dirinya kembali. Cukup sekali saja rasa sakit itu ia rasakan."
"Padahal aku berharap ini hanya mimpi, padahal baru tadi pagi ia berjanji akan membuatkan saya sarapan yang spesial besok," tutur Isabella mencengkram pakaiannya.
Melihat hal itu March langsung menarik Isabella ke dalam pelukannya, tidak ada isak tangis terdengar dari keduanya hanya ada airmata yang terus menetes. Tidak ada yang mengerti luka Isabella selain March begitu juga sebaliknya.
*****
Hari ini sama seperti hari-hari biasanya bagi Vanessa, ia menjadi pelayan untuk sih kembar bukan karena keinginannya. Namun karena keluguanya yang mudah di bodohi oleh mereka.
"Aduh, kepalaku sakit sekali," gumam Vanessa memijat kepalanya sambil berjalan menuju ke kamar. Tanpa sengaja ia melihat ada tukang jahit ke masuk ke ruang tamu.
"Tukang jahit datang? kenapa tidak ada yang bilang padaku?" batin Vanessa.
Ia pun bergegas masuk ke ruangan yang di masuki oleh tukang jahit tersebut, dan di sana sudah berkumpul para gadis penghuni rumah.
"Apa ini? kenapa ada tukang jahit dan tidak bilang padaku?" tanya Isabella.
"Hah? serakah sekali kau, sudah memiliki banyak gaun mewah yang seharusnya milik putri asli sekarang mau menambah gaun lagi. Apa kau tidak punya urat malu?" sinis Charlotte.
"Bukan begitu maksudku. Tapi urusan ini memang telah menjadi tanggung jawabk, urusan kediaman sudah di serahkan pada ibu kecuali urusan ini, jadi semuanya harus aku ketahui agar bisa aku laporkan pada ayah," sanggah Vanessa.
"Ibu? siapa yang ibumu? kau harus panggil ibu kami dengan sebutan duchess, sudah berapa kali kami ingatkan dia bukan ibumu. Kau tidak pantas jadi anak ibu atau pun saudari kami," tegas Carolina.
"Baiklah terserah kalian saja. Tapi aku harus mengawasi kalian, maksimal memesan gaun itu hanya 10 gaun setiap minggu. Jangan lebih karena ayah tidak suka ka …."
"Pesan saja sebanyak yang kalian mau, ayah kalian tidak mempermasalahkannya," potong Elena yang tiba-tiba masuk. Ia sengaja mampir setelah mendengar perdebatan putrinya.
"Tapi ibu …." Vanessa ingin mengatakan pada Elena peraturan yang telah Cedric tetapkan sejak Penelope masih hidup.
Elena mengangkat wajah Vanessa dengan kipasnya, tatapannya sangat tajam saking tajamnya serasa ia ingin menusuk Vanessa dengan tatapannya itu.
"Dasar orang rendahan. Hanya karena kau di angkat sebagai anak jangan mengira kau bisa memanggilku ibu, satu hal lagi kata-kata ku adalah perintah mutlak di kediaman ini. Kau keluarlah, dan jangan berani mengadu kalau tidak … ku bunuh kakak tercintamu itu," ancam Elena telah menunjukan sifat aslinya.
"Tunggu ibu." Charlotte menyentuh pundak Vanessa, "Karena dia sudah masuk maka jangan biarkan dia keluar dengan mudah, setidaknya kita harus memberinya pelajaran agar nanti ia tidak lancang masuk ke ruangan milik kita atau menegur kita lagi."
"Lakukan saja sesukamu," ucap Elena. Ia beralih duduk di samping Carolina yang sedang asik melihat model gaun-gaun terbaru.
Sementara itu Charlotte menyiksa Vanessa, para pelayan seolah menjadi buta. Mereka tidak ada yang peduli dengan Vanessa, bahkan penjahit yang telah menjalin hubungan lama dengan Vanessa terlihat cuek saat Vanessa menderita.
Mereka hanya akan mendekati orang-orang yang berpengaruh besar, dulu keberadaan Vanessa sangat berpengaruh di Kediaman Abraham. Namun sekarang tidak sama lagi, kini ia telah menjadi mainan orang lain jadi bagi mereka tidak ada untungnya dekat atau memiliki hubungan dengan Vanessa lagi. Mereka adalah orang pandai yang tau pada siapa mereka harus berpihak, dan di mana kaki mereka berpijak.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘