The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 88 Cemburu



Saat Charlize bersama dengan ibunya memasuki aula, semua tamu yang tingkatnya berada dibawah mereka langsung berdiri dan memberikan salam hormat khas seorang bangsawan.


"Salam Duke Arsena, Salam Viscountess Dara." Isabella menundukan kepalanya saat memberi salam.


"Kelak kita adalah keluarga jadi jangan bertindak seperti orang asing, angkatlah kepalamu," ucap Dara mengangkat kepala Isabella agar menatapnya.


"Ah! bukankah dia wanita tua yang hampir jatuh dari kereta? jadi dia akan menjadi mertua … akh!" Aisnley meringis kesakitan saat Isabella menginjak kakinya.


"Hahahah, wanita tua yah. Aku memang sudah tua bahkan sangat ceroboh, siapa yang tau wanita kuat saat itu adalah calon menantuku. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu Isabella," ucap Dara mengecup kening Isabella.


Setelah itu acara pertunangan pun di mulai dari Cedric yang menyerahkan putrinya pada Charlize, sampai memasangkan cincin pertunangan sebagai bukti mereka telah terikat sampai hari pernikahan tiba.


"Nona sudah direbut dari kita, huwaaaa. Pria itu tidak baik, nona." Jasper menangis melihat Isabella mengangkat tangan untuk memperlihatkan cincinnya.


"Apa kau pikir yang sedih hanya kau? diamlah! kita di sini untuk memberikan dia dukungan," ucap Audrey menutup mulut Jasper agar isak tangisnya tidak terdengar oleh tamu yang lain.


"Tunggu saat hari pernikahan selesai, kita akan merebut Isabella darinya lalu kita akan lihat apa dia punya kekuatan untuk mengambil Isabella kembali. Jika tidak maka pernikahannya batal," timpal Callix menyeringai.


"Jangan meracuni pikiran Jasper dengan niat busukmu itu," kesal Audrey memukul kepala Callix.


Tim Achlys tidak berhenti tersenyum melihat tingkah Jasper bersama yang lain, namun memang benar melihat Isabella telah bertunangan membuat mereka merasa sedikit sedih. Entah masih bisa sedekat dulu atau tidak dengannya.


"Aku ingin ke kamar kecil, permisi." Luca berdiri dan pergi ke arah belakang, diikuti oleh Callix.


Callix juga berniat ingin ke kamar kecil. Tapi ada bau harum dari makanan yang menggodanya untuk pergi ke arah lain, ternyata bau itu berasal dari masakan Vanessa.


"Baunya enak. Kau yang membuatnya?" tanya Callix berjalan menghampiri Vanessa.


"Ah! Kak Callix. Kau membuatku terkejut. Aku yang membuatnya, pelayan sedang sibuk dengan pesta jadi membuat makanan ini sendirian. Ini makanan khas untuk kakak," jawab Vanessa.


"Kau adik yang sangat baik. Apa masih ada menu yang lain?"


"Ya, aku masih harus membuat ayam panggang, sup tahu, dan ikan bakar dengan saus asam manis. Itu makanan yang kakak suka. Tapi aku hanya sendirian, rasanya sulit. Tadi Kak Aisnley mau membantu hanya saja kata kakak dia tidak bisa memasak, karena banyak racun ada di kuku jarinya. Aku takut karena itu tidak jadi mengajak dia."


"Aku akan membantumu. Aku cukup ahli membuat hidangan itu, Audrey biasanya yang memasak di kediaman saat kami tinggal bersama. Tapi aku juga sudah terlatih. Ayo!"


"Kau di kirim tuhan untuk datang membantuku, terima kasih." Vanessa merasa sangat senang lalu keduanya membagi tugas dan mulai bekerja.


Albert sudah lama duduk dan Vanessa masih belum kembali akhirnya ia memutuskan untuk pergi menyusul, sesampainya di sana ia melihat Callix sedang menyuapi sesuatu pada Vanessa.


"Apa rasanya pas? aku kurang suka saus asam manis. Tapi sering membuatnya," ucap Callix.


Vanessa nampak berpikir lalu berkata, "Mungkin kurang asam sedikit, kakak sangat suka yang asam."


"Ya ampun dia seperti orang hamil saja suka yang asam-asam."


"Hahahah …." Vanessa memukul pelan lengan Callix, "Sekarang belum. Tapi nanti pasti hamil, saat itu Kak Callix akan menjadi paman."


"Jangan bercanda! aku setampan ini nama paman tidak cocok denganku. Aku tidak mau," tolak Callix membuat tawa Vanessa semakin keras.


"Ah! ini ikan untuk Kak Isabella. Kak Callix kau merusaknya," teriak Vanessa. Namun Callix bertingkah seolah tidak mendengarnya, membuat Vanessa kesal.


"Apa ini? Vanessa tidak pernah bicara informal denganku belakngan ini, dia jarang tertawa lepas seperti itu. Kenapa bersama pria ini dia seperti menjadi orang lain, perasaan macam apa ini?" batin Albert, ia tidak tahan melihat kedekatan Vanessa dengan Callix dan langsung pergi begitu saja.


Luca ke sana ke mari mencari keberadaan Callix, ia tau tadi mereka ke arah kamar kecil bersama.


"Tuan Luca, sungguh kebetulan kita bertemu di sini. Apa kabar anda? kenapa anda datang ke acara ini?" tanya Samantha, ia sengaja mengikuti Luca.


"Nona Samantha. Kabarku baik, aku datang ke acara ini karena Isabella sudah seperti kakakku sendiri. Apa kau melihat seorang pria di sini?"


"Tidak saya tidak melihat siapa pun. Bisakah saya bertanya, apa anda berpikir Isabella senang anda menganggap dirinya sebagai kakak? dia bukanlah wanita yang baik, selama ini Isabella telah membuat banyak kejahatan. Dia mempermainkan pria sesuka hatinya."


"Benarkah? kau sepertinya tau banyak hal tentang Isabella."


"Ini sudah bukan hal yang tertutup. Di hari pertama ia datang ke sini, dia telah mendorong adiknya sendiri dari lantai 3 lalu ia hampir mengambil nyawa seorang pelayan, begitu banyak catatan kejahatannya sampai tidak terhitung lagi. Apa anda berpikir dia tidak akan menyakiti anda saat dia sendiri tanpa ragu menyakiti Vanessa?"


"Hahahah. Aku mungkin lebih mudah dari mu. Tapi aku tidak sebodoh dirimu, aku bukan baru kemarin mengenal Isabella. Aku sudah mengenalnya jauh sebelum dia datang ke kediaman ini, kami sangat dekat bahkan dia sangat baik."


"Jangan menipu diri anda sendiri. Kedekatan dan kebaikkan Isabella tidak akan bertahan lama, dia …."


Plak!


Aisnley tiba-tiba saja datang lalu menampar Samantha, "Berani sekali kau mencoba menjelekan Isabella pada adiknya sendiri, kami dan Isabella adalah keluarga."


"Berani sekali pelayan rendahan sepertimu menyentuhku, apa kau pikir Isabella yang seorang bangsawan itu mau menganggap kalian yang rakyat biasa sebagai keluarga? cih! bermimpi saja," ejek Samantha.


"Ada apa ini?" tanya Isabella mendekati mereka bertiga.


"Dia mencoba meracuni Luca dengan omong kosongnya," jawab Aisnley menunjuk Samantha.


Isabella menatap Samantha dengan tatapan tajam, lalu ia melangkah mendekati Samantha.


"Kesempatan!" batin Samantha melihat Charlize berjalan mendekati mereka.


"Akh!" Samantha bersandiwara seolah Isabella mendorongnya sampai ia terjatuh ke lantai.


"Saya tau saya salah Nona Isabella. Tapi apa perlu anda bertindak sampai seperti ini? saya datang hanya untuk minta maaf saja. Kenapa anda malah menampar dan mendorong saya?" Samantha meneteskan airmata untuk menarik simpati Charlize, Charlize langsung berlari mendekati Isabella saat mendengar suara teriakan.


"Kau mendorongnya? apa pipinya merah juga karena aku menamparnya?" tanya Charlize pada Isabella.


"Matilah kau Isabella, kau akan menjadi wanita yang buruk di mata Charlize lalu dia akan meninggalkanmu dan kembali padaku. Aku akan lihat bagaimana kau menangani hal ini," batin Samantha.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘