The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 96 Akhir dari Zelene



"Apa kalian ada di dalam?" Isabella mengetuk pintu kediaman Oswald, tidak lama Bara membukakan pintu untuk Isabella.


"Kau? ada apa malam-malam begini?" tanya Bara.


"Mana Luca? aku perlu bertemu dengannya? dia belum tidur kan?" tanya Isabella berusaha melihat ke dalam kediaman.


"Luca dan Fil sedang keluar saat ini. Mereka …."


"Mereka ke mana? Fil tidak suka keramaian dan Luca paling benci kelelahan. Ke mana orang-orang dengan sikap seperti itu bisa pergi berdua? ke mana pun kalian pergi selalu mengabari aku dan Aisnley. Kalian menyembunyikan sesuatu dariku? jika sampai aku tau sendiri dari orang lain maka tidak ada maaf untuk kalian," ancam Isabella saat ini emosinya tidak stabil.


"Apa yang kau katakan? bagaimana bisa kau mengancam? ini tidak seperti kau yang biasanya."


"Aku sedang buru-buru dan tidak punya waktu dengan basa-basimu itu. Katakan saja di mana mereka berdua atau akibatnya tidak akan baik."


"Ada apa Paman tua?" tanya Audrey berlari keluar bersama Callix serta Jasper.


"Gawat! suasana hati Isabella sedang buruk sekali, apa yang terjadi?" bisik Callix pada Bara, mereka sangat mengenali tatapan Isabella jika emosinya sedang kacau.


"Jawab aku Bara! kenapa kau malah diam?" kesal Isabella.


"Mereka ke bukit itu untuk bertemu Zelene. Luca tidak ingin kau ikut campur dalam masalah ini jadi mereka tidak mengatakan apapun padamu," jawab Bara menunjuk kearah bukti yang jauh.


"Jasper, antar aku ke sana," perintah Isabella. Jasper berubah ke wujud aslinya lalu Isabella menungganginya menuju bukit yang Bara maksudkan.


"Dia seperti bukan Isabella, ada apa yah?" Bara masih merinding mengingat tatapan tajam Isabella.


"Saat emosinya tidak stabil dia akan menjadi sangat pemarah. Mungkin telah terjadi sesuatu pada penghuni kediaman Abraham, dulu dia juga pernah sekesal itu saat Callix terluka," jawab Audrey, jika mengingat saat itu dia juga merinding.


*****


"Racunnya semakin menyebar keatas, bagaimana ini?" Luca sangat panik sekaligus bingung, di saat seperti ini kekuatannya malah tidak bisa di gunakan karena ia kehilangan banyak tenaga bahkan ramuan tidak akan membantu untuk saat ini.


"Allred, apa susahnya membawa Allred kemari? cepatlah! hari akan semakin malam nanti untuk melangsungkan pernikahan," ucap Zelene, ia masih sempat memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan.


"Baiklah! aku akan pergi membawa Allred ke mari. Tapi kau harus pastikan semua racun dalam tubuh Fil menghilang tanpa sisa," balas Luca.


"Tentu. Apapun untuk Allred aku rela, aku jadi tidak sabar." Zelene tersenyum dengan tatapan menjijikan.


Jleb!


Fil bertindak dengan memotong tangannya agar racunnya tidak menyebar lagi, melihat itu kaki Luca mendadak lemas dan terduduk di tanah.


"Woah! kau sangat hebat. Tapi malang sekali nasibmu, ini salahmu Luca. Kau yang bertanggung jawab atas hal ini." Zelene berusaha meracuni pikiran Luca.


"Omong kosong," teriak Isabella melompat turun dari Jasper, lalu Jasper menerkam tubuh Zelene dan melempar tubuh Zelene ke sembarangan arah.


"I-Isabella?" Luca dan Fil terkejut melihatnya.


"Siapa kalian? kenapa kalian menggangguku? dasar wanita kurang ajar dan hewan menjijikan. Kalian mau mati?" Zelene bangkit lagi walau pun cedera di tubuhnya sangat parah.


Kini Isabella bisa tenang karena Zelene menjadi urusan Jasper, ia melangkah mendekati Luca bersama Fil. 


"Terima kasih dan maaf, kami ingin mencoba untuk tidak melibatkanmu. Tapi kau malah terlibat juga, maaf sudah banyak merepotkanmu," sesal Fil. Dia dan Luca tidak berani menatap Isabella.


"Kalian itu adalah keluargaku sendiri. Aku mau terlibat atau tidak itu adalah keputusanku, setidaknya katakan apa masalah kalian denganku barulah kita buat keputusan. Jika sudah seperti ini apa lagi yang harus di bicarakan? kalian yang seperti ini malah merepotkan," ucap Isabella meneteskan airmata.


"Maafkan kami. Tapi ini salahku, Fil hanya terseret olehku saja. Maafkan aku karena terlalu ceroboh, aku tadi sangat takut dengan kondisi Fil." Tangis Luca pecah, Isabella memeluknya agar ia tenang.


Isabella membungkus luka Fil lalu meminta dia minum ramuan agar pendarahan dari lukanya berhenti, lalu Isabella meminta Luca dan Fil kembali lebih dulu.


"Siapa kau? kenapa kau menghalangiku? Allred dan aku saling mencintai. Kami telah ditakdirkan," ucap Zelene yang telah tidak berdaya di mulut Jasper.


"Saling nencintai kau dan aku? konyol. Aku tidak mencintai sesama jenis, jadi hentikan obsesimu itu," balas Isabella.


"Tidak mungkin. Allred tidak mungkin adalah wanita, dia pria dan aku yakin. Jangan …." Zelene tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi, obsesinya akan Isabella membuat dia tiada.


"Nona." Jasper membawa kembali mayat Zelene, Isabella hanya menatapnya sesaat dan meminta Jasper membakarnya bersama dengan pondok Zelene.


"Akibat dari menyentuh keluargaku adalah kematian. Jangan salahkan aku, jika ada kehidupan selanjutnya jadilah orang yang lebih baik," batin Isabella menatap api yang berkobar, setelah puas ia langsung meninggalkan lokasi tersebut. Cepat atau lambat asap dari api itu akan mengundang utusan kaisar datang, jika sampai tertangkap maka akhirnya akan buruk.


Isabella tidak bisa meminta Luca mengobati Vanessa dengan kondisi mereka yang sedang buruk, Fil terlelap karena ramuannya sementara Luca sendiri terlelap karena kelelahan. Kini kondisi Vanessa semakin buruk, Isabella paling tidak suka saat dirinya tidak bisa berbuat apapun.


*****


Sementara itu di sisi lain Charlize terus memegang liontin dari Isabella, tidak lama seorang pelayan wanita masuk membawakan makan malam.


"Terima kasih untuk makan malamnya, letakan saja di meja. Aku akan makan nanti," ucap Charlize, saat dirinya sedang memikirkan Isabella rasa lapar pun tidak bisa ia rasakan.


"Peralatan makan di sini kurang jadi semua orang harus makan tepat waktu agar yang lainnya juga bisa makan tepat waktu," ucap pelayan itu.


"Baiklah!" Charlize terpaksa harus menunda rasa rindunya dan menyantap makan malamnya.


"Sele … akh! kepalaku pusing." Charlize merasakan kepalanya sedikit pusing, dan ia merasakan suhu tubuhnya mendadak naik.


"Ada apa ini?" Charlize merasa tidak nyaman di tubuhnya, rasanya gerah sekali.


"Obatnya cepat sekali bereaksi, mungkin karena terlalu banyak. Apa kau suka?" Samantha menunjukan wajahnya, ia menyamar sebagai pelayan kapal.


"Kau … menjauh egh! huft huft huft." Nafas Charlize menjadi semakin tidak teratur, rasa panas itu menyiksanya.


"Malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya, patuhlah dan jangan melawan atau kau akan tersiksa hingga nyawamu melayang. Tidak ada orang lain selain aku yang bisa menolongmu, Isabella bodoh itu juga tidak bisa. Isabella di takdirkan bukan untukmu selamanya, Babel akan menjaga Isabella untukmu karena mereka adalah pasangan yang telah ditakdirkan." Samantha menyeringai, tangannya menyentuh wajah Charlize yang menatapnya dengan tatapan tajam.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karen dukungan kalian sangatlah berarti😘