The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 68 Hadiah untuk Ayana



Di tengah kekesalan yang belum mereda Samantha malah kedatangan tamu tak undang, apalagi tamu kali ini adalah orang yang Samantha tidak suka.


"Kau datang lagi, Azar? kenapa? bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku tidak akan memberikan kau ramuan. Jika kau punya uang berikan maka aku akan berikan ramuan dengan tingkat sesuai bayarannya," ucap Samantha dengan nada jengkel.


Azar dengan cepat berlutut di kaki Samantha seraya memohon, "Tolong berikan ramuan tingkat rendah pun tidak masalah, setelah aku punya uang akan aku bayar. Gaji ku bulan ini sudah aku kirim pada nenek, ku mohon."


"Ck! aku ini memang mendapatkan kekuatan wanita suci. Tapi aku adalah bangsawan kelas atas, untuk menolong oramg kelas rendah seperti mu aku harus mendapatkan balasan yang setimpal. Bagaimana jika kau membunuh orang untukku lalu ku berikan ramuannya?"


"Aku … pedangku rusak, aku harus mengganti pedang maka dari itu aku meminta ramuan secara gratis darimu. Ku mohon aku akan …."


"Pergi sana!" Samantha menendang Azar menjauh darinya, "Tidak berguna. Jangan datang padaku lagi nanti, jika kau sangat ingin dapat ramuan maka  mengantri bersama para pengemis besok."


"Berani sekali dia datang kemari. Apa dia lupa karena kebodohannya dulu aku gagal menjalin hubungan dengan Master ahli ramuan, dasar tidak tau diri," batin Samantha menatap tajam Azar.


Setelah mengatakan itu Samantha langsung pergi begitu saja, ia sama sekali tidak peduli pada apa yang terjadi dengan Azar. Para pelayan yang melihat adegan itu merasa kasihan pada Azar. Tapi mereka bisa apa, mereka sendiri sedang berusaha keras untuk bertahan hidup bahkan harus bekerja pada wanita sekejam Samantha.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Azar. Ia tidak punya tempat lain untuk meminjam uang. Hutangnya pada Cedric sudah terlalu banyak sampai ia harus menjadi pembunuh untuk Samantha demi beberapa botol ramuan tingkat rendah, siapa yang akan menyangka hidup seorang komandan kesatria sangatlah miris.


*****


"Kau minta gaji di muka untuk 2 bulan? bagaimana bisa aku memberimu gaji untuk 2 bulan sementara aku hanya pegang gaji dan bonus untuk 1 bulan saja. Maafkan aku Ayana. Tapi aku tidak membantumu," ucap Viola kepada salah satu pelayannya.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Isabella menghampiri mereka berdua. Dia tidak sengaja mendengar kedua sedang bicara.


"Ayana meminta gaji untuk 2 bulan. Tapi saya tidak memberikannya, katanya dia ingin membelikan kekasihnya pedang baru dan ramuan penyembuhan penyakit. Kekasihnya itu tidak sanggup membeli pedang baru karena uangnya harus kekasihnya kirim kepada keluarganya di desa yang jauh untuk membeli ramuan penyembuhan penyakit," jawab Viola.


"Ayana, dorongkan kursi rodaku dan temani aku menemui seseorang. Cepat!" perintah Isabella.


Ayana tidak membantah, ia dengan patuh mengambil alih kendali kursi roda Isabella sampai ke kereta. Bahkan Ayana tidak bertanya kemana mereka akan pergi, Isabella senang dengan sikapnya yang penuh sopan santun itu.


"Isabella? ada angin apa kau datang kemari?" tanya Bara saat Isabella memasuki kediaman Oswlad.


"Kenapa kau ada di sini?" ketus Isabella.


"Kami akan tinggal disini. Tenang saja karena kami membayar sewa," jawab Fil.


"Kalian menguasai kediaman ini saat ketiga tuan rumah tidak ada rupanya. Dasar kalian," goda Isabella.


Ayana mendorong kursi roda Isabella sampai ke dekat sofa, di sana duduk Bara, Fil, dan Aisnley. Mereka sedang bersantai sambil memakan camilan.


"Pasti kakimu sakit. Setelah Luca habis mandi kau mintalah dia untuk menyembuhkan kakimu," ucap Bara. Ia tidak senang melihat kondisi Isabella saat ini.


"Hei, duduklah! kenapa kau berdiri di sana? kemarilah!" ajak Aisnley pada Ayana. Ayana menatap Isabella untuk meminta jawaban, Isabella mengangguk membiarkan Ayana duduk di samping Aisnley.


Aisnley meletakan kepalanya di pundak Ayana lalu mengeluh pada Isabella, "Aku mau ikut denganmu Isabella. Di sini sama sekali tidak menyenangkan, mereka semua diurus oleh pelayan lalu aku tidak. Semua pelayan di rumah ini pria."


Melihat Aisnley tidak punya sopan santun pada tamu, Fil pun bertindak dengan menariknya menjauh dari Ayana, "Menjauhlah dari tamu. Kau membuatnya tidak nyaman."


"Ppffttt." Ayana tertawa kecil melihat tingkah mereka, ia tidak sadar jika tawanya itu mengundang semua perhatian. Saat ia sadar wajahnya malah memerah seperti tomat.


"Aku akan pergi sebentar!" Isabella mendorong kursi rodanya menuju ruang bawah tanah.


Isabella harus berjalan tertatih-tatih karena kursi roda tidak bisa di pakai diatas tangga, di ruang bawah tanah ia mengambil banyak ramuan tingkat tertinggi dan sebuah pedang seharga 100.000 koin emas.


Setelah itu kembali lagi keruang tamu, ia tidak sadar jika luka berdarah karena terlalu banyak bergerak.


"Ya tuhan, Nona kaki anda." Ayana menjadi panik melihat banyak darah mengalir dari luka Isabella.


Luca yang baru saja datang ikut panik melihat luka tersebut, dengan cepat ia membuka perban luka Isabella lalu menggunakan kekuatannya untuk mengobati luka di kaki Isabella sampai sembuh dalam sekejab.


"Aku tidak menduga lukanya akan seburuk itu. Kau membuatku merinding," ucap Aisnley merasa geli dengan luka Isabella.


"Lalu ini apa?" tanya Luca menyentuh kantung yang ada di pangkuan Isabella.


Isabella berdiri dari kursi roda lalu menyerahkan kantung besar itu pada Ayana, "Hadiah untukmu karena sudah mengantarku kemari."


"Hadiah saya?" Ayana yang kebingungan pun langsung membuka kantung tersebut. Saat melihat apa isi dari kantung itu Ayana malah menangis sekencang-kencangnya.


"Te-terima kasih nona," ucap Ayana tidak bisa menahan airmatanya.


Setelah itu mereka akhirnya kembali ke kediaman Abraham tidak lupa bersama Aisnley dan Luca juga, ia membawa Luca untuk mengobati luka Vanessa dan membawa Aisnley sebagai pelayan pribadinya yang baru.


Sesampainya di kediaman Ayana langsung pergi menemui Azar, ia ingin memberikan semuah hadiah ini pada Azar.


"Sa-sayang ini …." Azar sangat terkejut melihat apa isi dari kantung itu, ia langsung memeluk Ayana dan menangis sejadi-jadinya.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini? kau meminjam uang lagi?" tanya Azar. Ia tau gaji Ayana sangat besar. Tapi masih tidak masuk akal, jika dengan gaji itu ia bisa membeli banyak sekali ramuan tingkat tertinggi.


Azar lalu melihat pedang yang juga ada di dalam kantung itu. Mata Azar langsung tercengang motif kelopak bunga tulip di pedang itu membuat Azar, motif yang sama dengan yang ada pada pedang milik Cedric.


"Ini pedang Pak tua Jordan. Apa yang memberikan pedang dan semua ramuan ini adalah Nona Isabella?" tanya Azar.


"Iya, nona bilang itu hadiah untukku. Nona sangat baik bahkan semua teman-temannya nona sangat ramah, mereka memberikan ini tanpa memandang siapa aku. Entah bagaimana aku harus berterima kasih pada nona atas semua ini, aku merasa bersalah karena telah membenci nona dulu," jawab Ayana.


Azar meningglkan Ayana sendirian lalu ia berlari menuju kamar, tidak lupa ia membawa pedang itu bersamanya. Ia akan memgucapkan rasa terima kasihnya secara langsung.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, kare a dukungan kalian sangatlah berarti 😘