
"Sial! kenapa bisa jadi begini?" teriak Liliana saat menerima surat dari Babel jika pertuangan mereka akan dibatalkan.
"Ini semua salah Regina dan ayah lalu kenapa aku juga kena, aku telah berusaha sekuat tenaga untuk sampai di tahap ini dan bagaimana bisa ini direnggut dariku," kesal Liliana.
"Aku akan pergi membuat perhitungan dengan wanita bodoh itu." Liliana beranjak meninggalkan kamarnya menuju kamar Regina.
Ternyata di kamarnya juga Regina saat ini sedang mengamuk sebab setelah membatalkan pertunangan mereka, Regina mengirim surat kepada Charlize lalu bukannya datang menemuinya Charlize malah sibuk dengan hilangnya Vanessa. Padahal ia juga telah mengirim orang untuk melukai Charlize. Tapi bukannya berbaring di atas ranjang Charlize malah baik-baik saja, Regina semakin yakin jika saat ini Charlize pasti telah bertemu dengan Isabella, usahanya membuat Charlize sibuk agar tidak bisa pergi ke kediaman Abraham selama ini ternyata sia-sia.
"Regina!" Liliana mendobrak pintu kamar Regina membuat raut wajah Regina semakin tidak senang.
"Ada apa lagi kali ini? kau masih belum puas memarahi aku?" tanya Regina pada Liliana.
"Puas? kenapa aku harus puas sementara pertunanganku sedang di ambang kehancuran karena kau, kau dan ayahmu itu sama saja. Tidak bisa kah kalian berdua bertindak sedikit lebih pintar agar terhindar dari masalah, asal kau tahu saja karena ulahmu dan ayah itu aku dan Kak Leon kena imbasnya juga."
"Aku juga korban di sini. Ayah melakukan hal kotor itu sendirian, bahkan aku tidak tau. Kebenarannya terbongkar didepan kaisar saat itu, aku saja terkejut."
"Bohong. Kau pikir aku tidak tau jika dirimu senang ayah jadikan jaminan hutangnya agar bisa dekat dengan Duke Arsena."
"Masalahnya ayah di hukum bukan karena hutang. Karena ayah memeras uang lamaran dari Charlize lalu menggunakan uang itu untuk berjudi, awalnya kaisar ingin menikahkan kami di istana kaisar untuk menggantikan uang lamaran yang telah ayah ambil darinya. Tapi entah kenapa Nyonya Dara tidak setuju, dia membiarkan uang lamaran itu lalu memutuskan pertunangan kami dengan alasan karena tidak mau ada hubungan dengan lintah seperti ayah."
"Ini salahmu. Jika kau tidak bertunangan dengan Charlize maka ayah tidak akan memeras uang darinya, salahmu sendiri bergiur dengan tawaran ayah sebagai jaminan hutang."
"Cukup! jangan salahkan aku terus dari pada menyalahkan aku, kakak lebih baik pergi ke istana dan pertahankan posisimu sendiri," ejek Regina.
"Lihat saja kau nanti. Leon akan menghukummu," ancam Liliana sembari berlalu meninggalkan Regina, ia meminta pelayan menyiapkan kereta menuju ke istana permaisyuri.
*****
Di istananya Sera sedang melakukan pesta teh berdua saja dengan Elena, ia sengaja mengundang Elena untuk membicarakan perjodohan antara Babel dan Isabella yang telah ia impikan sejak 3 bulan lalu.
"Anda terlihat tidak sehat. Apa anda bail-baik saja?" tanya Sera melihat raut wajah Elena letih.
"Apa boleh buat permaisyuri. Siang malam saya semakin mengkhawatirkan Vanessa, sampai saat ini masih belum ada kabar di mana dia berada," jawab Elena dengan tangis yang di buat-buat.
"Baguslah jika dia hilang sampai tidak bisa di temukan dengan begitu Albert akan kehilangan tunangan sekaligus pendukung, lalu Babel akan bertunangan dengan Isabella yang akan menjadi duchess dan pendukung terbesarnya mewarisi tahta," batin Sera.
"Kasihan sekali yah nasib Vanessa. Albert juga sangat khawatir sampai tidak pulang ke istana selama 2 hari terakhir, bahkan kaisar juga ikut mengerahkan bayangan untuk mencari Vanessa. Semoga dia bisa cepat di temukan."
"Saya pun berharap demikian, saya tidak ingin terjadi hal buruk pada Vanessa."
"Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang perjodohan denganmu. Tapi sepertinya waktu tidak terlalu tepat, bagaimana bisa aku membicarakan perjodohan ini saat kau sendiri sedang dalam keadaan khawatir. Hanya saja Babel terus memaksa ingin bertunangan dengan putrimu." Sera mulai masuk ke inti pembicaraan.
"Putriku? mungkin saja pangeran tertarik pada Charlotte. Yah pasti Charlotte, selain pintar anak itu sangat cantik dan beretiket bagus. Dasar anak bodoh ternyata kau telah memikat hati pangeran," Elena bersorak gembira di dalam hatinya.
"Pintar juga wanita ini. Tidak sia-sia aku mendukung pernikahannya dengan duke saat itu," batin Sera merasa ada titik terang dalam perjodohan ini.
"Tapi perjodohan ini bukankah sedikit aneh, setahu saya pangeran Babel telah bertunangan dengan Nona Liliana Lugia," sindir Elena. Mau bagaimana pun juga ia tidak mau putrinya jadi selir.
"Hiks …." Sera tiba-tiba meneteskan airmata palsu, "Apa yang harus aku katakan. Babel ternyata tidak mencintai wanita yang ku jodohkan dengannya, siang malam dia selalu melamun entah memikirkan apa. Lalu kemarin aku menbaca buku harian yang menjadi tempat ia mencurahkan isi hatinya untuk putrimu, jadi aku bertekad membatalkan pertunangan Babel dan Liliana agar Babel bahagia."
"Wah! dasar Charlotte bodoh! kau seharusnya sadar dengan cinta pangeran yang begitu besar padamu. Kau benar-benar anak yang bodoh," batin Elena gregetan.
"Itu tidak benar!" sela Liliana, ia tidak tahan lagi mendengarkan semua pembicaraan mereka lebih lanjut.
"Liliana?" Sera terkejut dengan kedatangan Liliana yang mendadak.
Liliana berjalan mendekati mereka berdua sambil berkata, "Jelas-jelas permaisyuri tau jika saya dan Pangeran Babel saling mencintai sejak kecil. Tapi kenapa permaisyuri berbohong? apa salah saya pada anda?"
"Wanita bodoh ini akan merusak semua rencanaku, sial!" batin Sera yang tidak bisa menjawab pertanyaan Liliana.
"Jawab saya!" ulang Liliana.
"Tolong jaga sopan santu anda nona, apa begini cara anda bicara pada seorang permaisyuri?" tanya Elena ingin membuat kesan baik didepan Sera.
"Ini bukan urusan anda. Lagi pula wanita macam apa anda ini sampai mau menjodohkan putri anda dengan tunangan wanita lain?" tanya Liliana dengan nada mengejek.
Plak!
Elena menampar Liliana hal itu membuat Sera terkagum, ia tidak menduga akan ada yang memberikan gadis kurang ajar itu tamparan saat dirinya sendiri tidak berani.
"Justru yang harus di pertanyakan itu adalah sikapmu. Mau setinggi apa pun gelar bangsawan kau tetap tidak bisa menghilangkan rasa hormatmu kepada seseorang yang lebih tua darimu, lagi pula perjodohan itu bisa dibicarakan oleh siapa saja," tegas Elena.
"Jangan sampai Liliana membuat keributan dan menghancurkan perjodohanku," batin Babel. Ia berlari menuju istana permaisyuri.
"Berani sekali anda menampar saya yang bahkan permaisyuri sendiri tidak pernah melalukannya. Apa pikir siapa anda? saya adalah tunangan Pangeran Babel dan jika saya melaporkan tindakan anda ini pada kaisar, coba pikir apa yang akan kaisar lakukan?" tanya Liliana
"Yah. Pergi pada kaisar dan katakan pada beliau jika kau ditampar oleh Duchess Elena Abraham, lihat apa yang akan kaisar katakan padamu. Semoga kau baik-baik saja setelah mengatakan ini, karena jika aku mengatakan tindakanmu ini pada duke maka kau dan keluargamu akan hilang dari ibukota," ancam Elena. Pertengkaran mereka menjadi hiburan tersendiri bagi Sera
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘