
Setelah berjuang sepanjang malam dipusat penelitian akhirnya Aisnley menemukan masalah dari racun tersebut, Aisnley merasa pembuat racun ini sangat hebat karena dia bisa membuat racun yang sangat berbahaya. Aisnley tidak akan menduga jika pembuat racun ini menggabungkan beberapa herbal yang tidak bisa di gabungkan hingga menjadi racun, ia yakin jika pembuat racun ini adalah seorang ahli ramuan juga.
Sama halnya dengan Luca setelah bahan-bahan dari racun itu berhasil Aisnley dapat, ia juga membuat ramuan secepatnya bahkan ramuan buatannya sudah sangat bagus dan menjadi lebih bagus dengan kekuatan pemurnian dari Samantha.
Sementara itu di sisi lain Isabella baru kembali ke kediamannya setelah matahari terbit, sepanjang malam ia bersama yang lainnya melewati malam panjang dan sulit.
Tidak lama setelah itu Aisnley juga kembali ke kediaman bahkan karena kelelahan Aisnley tidak sampai ke kamar, ia tertidur didepan pintu kamar Isabella.
"Kakak bangun! bangunlah!" Vanessa menggoyangkan tubuh Isabella sekuat tenaga, wanita yang baru saja terlelap selama 2 jam itu terpaksa harus membuka matanya mendengar suara sang adik.
"Ada apa?" tanya Isabella mengucek kedua matanya.
"Lihat ini!" Vanessa melemparkan surat kabar ke Isabella, Isabella mengambil surat kabar tersebut lalu membaca.
Mata Isabella langsung terbelalak hingga spontan ia bangun dari ranjang, Isabella benar-benar malu melihat berita tersebut.
"Nona besar keluarga Abraham berpelukan dengan Duke Arsena, apa hubungan diantara keduanya? apakah Nona besar Abraham adalah alasan tersembunyi dari batalnya pertunangan duke Arsena?" Isabella membaca berita tersebut.
"Apa ini? ak-aku tidak tahu apapun tentang ini, aku tau kemarin itu aku pergi ke istana jadi ini tidak mungkin aku. Aku …."
"Kakak lihat!" Vanessa menunjuk gambar istana Albert di belakang mereka, "Ini lokasinya di istana."
"Aku-aku tidak tau apapun Vanesaa, aku bersumpah. Kemarin setelah aku minum racun aku … aku tidak ingat apapun lagi, lalu kata pekerja di pusat penelitian aku hanya pingsan setelah minum racun, itu saja. Aku …."
"Kakak." Vanessa memegang pundak Isabella, "Tenanglah. Aku tau kakak tidak mungkin melakukan kesalahan, aku tau kakak pasti tidak melakukan ini secara tidak sengaja."
"Ayah, apa ayah sudah lihat berita ini?" tanya Isabella dan Vanessa mengangguk.
"Sial!" Isabella berlari meninggalkan Vanessa menuju ruang kerja Cedric.
"Ayah." Panggil Isabella membuka pintu ruang kerja Cedric, "Ayah berita hari ini …."
"Lupakan tentang berita hari ini," potong Cedric. Ia tidak menatap Isabella, "Kau harus menemui Charlize dan bicarakan hal ini dengannya."
"Tapi ayah aku sungguh …."
Cedric berbalik menatap Isabella lalu ia berjalan mendekati Isabella dan mengelus kepalanya, "Ayah percaya padamu. Ayah sekarang sudah tau kau bukanlah wanita jahat seperti yang ayah pikirkan, jadi ayah percaya padamu kalau kau tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja."
Isabella tersenyum lalu ia memeluk Cedric setelah itu ia bergegas mempersiapkan dirinya untuk pergi menemui Charlize, ia harus meluruskan masalah ini.
"Charlize benar-benar merepotkan. Semoga saja kau berhasil memanfaatkan berita itu dengan baik, kedepannya tolong jaga Isabella ku," batin Cedric menatap surat dari Charlize yang baru saja ia baca.
*****
"Akhirnya setelah sekian lama aku bisa berkumpul dengan orang-orang berkelas lagi, tinggal di tempat suci membuatku menjadi pelayan para pengemis. Menyebalkan!" gerutu Samantha yang baru saja selesai berendam.
Samantha tidak sengaja melihat surat kabar diatas meja riasnya, "Ini pasti ulah Taylor lagi. Kenapa dia itu sembarangan meletakan barang-barang kotor di meja riasku."
Samantha mengambil surat kabar tersebut lalu ia membaca berita yang ada di halaman depannya, melihat berita itu amarah Samantha membara.
"Aku harus menemui Albert." Samantha melempar surat kabar tersebut lalu memanggil para pelayannya, para pelayannya merias Samantha secepat mungkin tanpa mengurangi ecantikannya.
"Kau pasti mau menemui Albert bukan?" tanya Babel.
"Apa urusanmu dengan itu? menyingkarlah dari jalanku!" Samantha mendorong Babel. Namun tenaganya tidak cukup kuat, Babel bahkan tidak bergerak sedikit saja.
"Berita siang ini membuatmu ingin menemui Albert kan? sayang sekali usahamu itu sia-sia. Albert sahabat Charlize lalu mereka sangat dekat, dan saling mendukung. Jika Charlize mencintai Isabella maka dia akan mendukungnya."
"Omong kosong. Albert sudah mengatakan padaku secara langsung jika dia akan menjodohkan aku bersama Charlize, dia tidak akan menarik kata-katanya lagi."
"Wow, kenapa kau bisa seyakin itu? kalian bertiga adalah sahabat. Tapi dia lebih mendukung ucapan Charlize dan membenci mu sampai kau harus pergi ke tempat suci, lalu apa kau pikir dia akan memindahkan dukungannya?"
"Kau jangan menghasutku untuk berpindah pihak. Aku tidak akan pernah memihakmu."
"Benarkah? aku mencintai Isabella dan kau mencintai Charlize. Kenapa kita tidak bekerja sama membuat dua orang itu menjauh?" tanya Babel membuat Samantha teringat kejadian kemarin, ia melihat dengan jelas bagaimana cara Charlize menatap Isabella.
Tapi Samantha tidak menjawab pertanyaan Babel, ia berpikir tidak mungkin bekerja sama dengan Babel karena Albert ada di pihaknya.
"Aku akan menbuatmu memihakku nanti," batin Babel yang telah merencanakan sesuatu.
Tok tok tok
Samantha mengetuk ruang kerja Albert, setelah beberapa saat barulah ada jawaban dari Albert yang mengizinkan Samantha masuk.
"Ada apa Samantha? raut wajahmu tidak terlihat baik," tanya Albert bersandiwara seolah tidak tau apa-apa.
"Kau belum baca berita pagi ini?" tanya Samantha, Albert tersenyum lalu mengangguk.
"Lalu kau hanya akan diam saja?" tanya Samantha lagi.
"Tentu saja tidak. Aku akan membuat perjamuan itu malam ini dengan kau sebagai pasangan Charlize. Bagaimana?" tanya Albert.
"Bagaimana jika Charlize telah memilih pasangannya sendiri?"
"Tidak mungkin. Karena aku belum memberitahu Charlize, akan ku beri tahu 3 jam sebelum itu perjamuan akan dimulai. Saat itu Isabella pasti sudah punya pasangan karena Vanessa pasti akan mencari pasangan untuknya, dengan begitu aku akan mengajukan dirimu."
"Apa kau yakin itu akan berhasil? bagaimana jika Charlize marah padamu dan semuanya hancur? aku tidak ingin menjadi jauh dari Charlize."
"Selama ini kami tidak pernah bermusuhan walau pun Charlize sangat marah padaku. Jadi jangan khawatir, aku tidak akan pernah membuat wanita jahat itu bersama dengan Charlize."
"Baiklah." Senyum Samantha kembali lagi, "Aku akan pergi ke butik lalu membeli gaun paling bagus, dan pergi ke salon untuk mempercantik diriku. Malam ini adalah langkah pertama Charlize menjadi milikku."
Setelah itu Samantha pergi untuk memiringkaan pusat pertokoan, sementara itu Albert juga kembali dengan kesibukannya memilih baju pasangan yang akan ia pakai bersama dengan Vanessa malam ini.
"Setelah malam ini aku akan memastikan Vanessa menjauh dari Isabella agar di masa depan ia tidak akan di manfaatkan oleh wanita itu, selamanya aku tidak mengakui wanita itu kakak dari Vanessa sekaligus wanita yang Charlize sukai. Aku akan membuat Charlize menjadi suami Samantha sekali pun harus membuat persahabatan kami hancur," batin Albert menatap lukisan potret dirinya bersama Charlize.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘