
Saat melihat Isabella memasuki toko, Bara langsung berjalan mendekatinya dan bersujud di depan Isabella seraya berkata, "Terimalah aku sebagai budakmu, wahai utusan suci."
Spontan Isabella terkejut bahkan dirinya menjadi pusat perhatian semua orang. Dengan wajah memerah menahan malu Isabella berkata, "Usir pria gila ini, dia adalah pemabuk yang tersesat."
Mendengar ucapan Isabella, Bara langsung memeluk erat kakinya. Melihat hal itu Aisnley dan Fil terbakar amarah karena Bara telah menyentuh Isabella tanpa izin.
"Kekuatan elemental, hempasan ombak." Fil menggunakan kekuatannya untuk mengusir Bara keluar dari toko.
"Jarum beracun." Aisnley juga ikut-ikutan melemparkan jarumnya ke arah Bara, dan berhasil menusuk tubuh Bara yang terbawa arus air Fil keluar dari toko.
"Ka-kalian berdua …." Isabella terkejut karena kekuatan mereka mampu menyerang Bara.
Bukan hanya mereka berdua yang marah. Audrey, Jasper, dan Callix juga telah bersiap sedia untuk mengusir Bara dengan cara mereka sendiri, mereka tidak ingin ada yang membuat keributan di toko Isabella. Beruntung Ainsley bersama Fil telah lebih dulu melakukan hal tersebut
Isabella berjalan menghampiri Yuna lalu ia duduk tepat di sampingnya. Dengan wajah lesu Isabella bertanya, "Orang seperti apa yang kau bawa ke mari, Yuna? dia membuatku terkejut."
"Dia bilang dia itu kenalanmu, karena aku tau kau tinggal di tempat adikmu jadi aku membawanya ke mari. Kakak dan Kakak ipar juga tidak ada di guild jadi aku tidak punya pilihan lain selain membawanya kemari." Yuna merasa bersalah karena telah menyusahkan Isabella.
Tidak lama kemudian Bara masuk lagi ke dalam, kali ini ia memeluk tubuh Isabella sambil menangis. Racun dari Ainsley membuat Bara jadi bertingkah aneh.
"Kau …." Fil dan Aisnley sekarang benar-benar kesal. Mereka sampai menarik Bara untuk menjauh dari Isabella.
"Hen-hentikan! pinggangku bisa patah," teriakan Isabella. Bara memeluknya dengan erat dan saat mereka menariknya, pelukannya malah semakin erat.
"Tolong terimalah aku sebagai budakmu! aku akan patuh, huwaaaa." Bara tidak berhenti menangis sambil memohon hal yang tidak jelas. Isabella berpikir ini pasti ada hubungannya dengan kekuatan waktu yang ia gunakan waktu itu.
"Baiklah, kau ikut denganku dulu, kau juga Yuna." Isabella mengajak Bara dan Yuna ikut dengannya ke kediaman, dari pada nanti Audrey, Callix, dan Jasper semakin jengkel karena tingkah Bara.
"Aku juga ikut," ucap Aisnley dan Fil melepaskan celemek mereka dan berlari mengejar Isabella.
Sesampainya di kediaman, Bara langsung pingsan. Racun Aisnley sudah sepenuhnya bereaksi, namun racun itu tidak mematikan hanya akan membuat orang jadi aneh selama 5 menit sebelum ia pingsan.
"Dia hanya akan pingsan selama 3 jam. Maafkan aku karena menggunakan racun tanpa izinmu, tapi itu semua salahnya karena membuat keributan. Lagi pula siapa dia ini?" tanya Aisnley.
"Bukankah kau yang membawanya ke mari?" Aisnley bertanya pada Yuna, "Kenapa kau membawa dia ke mari? kau bukan hanya mengganggu …."
"Kenapa kau yang marah saat Allred diam saja?" Yuna memotong ucapan Aisnley, "Lagi pula apa hubunganmu dengan Allred sampai kau bisa bertindak sesukamu, huh? apa kau tidak tau seberapa berbahayanya sebuah racun? bagaimana jika kau menggunakan ra … Umph."
Fil menyumbat mulut Yuna dengan Apel dan berkata, "Dia adalah master ahli racun, dia sudah bermain dengan racun saat kau sendiri masih menangis dalam gendongan ibumu. Jadi jangan berani kau mempertanyakan keahliannya dalam bidang itu."
Melihat Fil yang membela Aisnley membuat Isabella tersenyum kecil, dulu pada kehidupan sebelumnya ia juga memiliki rekan tim yang saling membela satu sama lain. Rasanya sullit bagi Isabella untuk melupakan kenangan indah saat dirinya masih bersama mereka.
"Aku berharap mendapatkan rekan tim seperti mereka nanti," batin Isabella menikmati pertengkaran orang-orang di hadapannya.
*****
Setelah 4 jam kemudian, kini mereka duduk bersama, Isabella, Bara, Aisnley, Fil, dan Yuna.
"Maafkan aku karena telah bertindak konyol di depan banyak orang. Aku hanya terkejut setelah melihat kekuatan suci, bagiku kekuatan suci itu hanyalah sebuah legenda. Dulu kata ibu leluhur keluarga kami pernah melayani pemilik dari kekuatan suci, melayani pemilik kekuatan suci adalah kehormatan terbesar di keluargaku. Sayangnya kehormatan itu telah hilang untuk waktu yang lama, aku benar-benar minta maaf. Tapi tolong terima aku untuk berada disisimu, sebagai budak pun tidak masalah," pinta Bara.
"Enak saja. Kau tidak tau bagaimana susahnya aku berjuang untuk menjadi pengikut Tuan Allred, aku harus mengikutinya untuk waktu yang lama bahkan setelah ketahuan aku malah mendapatkan hukuman," protes Fil.
"Benar itu benar. Aku juga merasakan hal yang sama, sulit sekali bagiku untuk mengikuti Allred bahkan aku terlihat seperti pengutit yang mesum agar tidak ketahuan, dan setelah ketahuan aku malah dihukum," lanjut Aisnley.
"Tapi kita kan beda, aku ingin jadi budak bukan pengikut jadi aku berbeda dengan kalian," balas Bara.
"Allred, apa kau baik-baik saja? wajahmu pucat," bisik Yuna.
"Tolong terima aku." Bara menggoyangkan kaki Isabella.
"Jangan sentuh dia." Aisnley menepis tangan Bara dari kaki Isabella.
"Urusi urusanmu wanita beracun jelek," hina Bara.
"Kau adalah urusanku, dasar pria tanpa otak," balas Aisnley.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa memperlakukan kalian seperti itu, tidak ada budak dan tidak ada pengikut. Kalian itu sudah menjadi teman berharga bagiku jadi aku tidak bisa …."
"Kalau begitu kenapa tidak membentuk tim saja? kalian bisa bersama karena kalian adalah tim. Dengan begitu kalian bisa berada di dekat Allred, dan Allred pun tidak perlu menyakiti hati kalian atau pun dirinya," usul Yuna.
"Dia benar. Kali ini aku setuju dengan nenek cerewet itu," ucap Aisnley berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Yuna.
"Kalian semua kembalilah, aku perlu waktu untuk berpikir," ucap Isabella. Ia berdiri dari tempatnya dan bergegas menuju lantai atas.
"Tim? apa aku bisa membentuk tim seperti dulu? rasanya itu terlalu berat," batin Isabella.
Keesokan harinya Isabella melanjutkan rutinitasnya seperti biasa yakni bermalas-malasan di kursi goyangnya, ia tidak tau jika Bara telah resmi menjadi karyawan tokonya sama seperti Aisnley dan Fil.
"Anda mau sampai kapan di sini?" tanya Callix. Ia datang membawa nampan berisi secangkir teh dan beberapa jenis kue.
"Apa kau sudah bosan melihatku di sini?" Isabella balik bertanya.
"Bukan begitu. Isabella belum juga kembali, apa pekerjaannya banyak? sebelumnya ia bekerja untuk anda kan?"
"Dia masih ingin mengumpulkan banyak uang dan memintaku menunggunya pulang di sini."
"Jadi anda akan terus di sini sampai hari itu?"
"Tidak. Seminggu lagi aku harus pergi, karena keuanganku menipis."
"Baiklah, nikmati hidangan anda." Callix membawa kembali nampannya ke toko, hari ini pengunjung sangat banyak jadi ia tidak bisa terlalu lama diluar.
"Hah." Isabella menghelas nafas berat, karena sudah waktunya ia harus lanjut mengumpulkan uang. Ia tidak bisa menunda lebih lama lagi karena waktu berjalan tidak mengikutnya, justru malah sebaliknya ia berjalan mengikuti waktu.
"Pergilah! bawa pengemis ini jauh dari sini, dia telah mencuri roti dari toko ku," teriakan seorang pria pemilik toko di depan kediaman Isabella.
"Dasar orang pelit!" gumam Isabella. Ia merasa ternganggu sampai harus beranjak keluar kediaman untuk melihat keributan yang berani mengganggunya.
"Ada keributan apa ini? tidak bisakah anda mengecilkan suara anda?" kesal Isabella berjalan menghampiri pemilik toko tersebut.
"Pria ini mencuri satu roti dari toko ku jadi aku …."
"Dia hanya mencuri satu roti bukan satu toko jadi jangan berlebihan, lagi pula kalian berikan saja itu untuk dia. Apa kau akan serugi itu karena satu potong roti?" tanya Isabella memotong ucapan pria tersebut.
"Hei! berdirilah aku …." Ucapan Isabella terhenti saat melihat wajah pencuri tersebut.
*****
Bersambung.
Silakan tinggal jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘