
March kembali ke camp dengan Isabella digendongannya, kebetulan Charlize melihat hal tersebut. Ia cemas sepanjang malam sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Isabella menghilang, ia malah tidak cemas pada March menghilang setelah mengacaukan banyak hal.
"Berikan dia padaku!" perintah Charlize menghalangi jalan March. Entah ada apa dengan Charlize, dia merasa kesal karena Isabella ada digendongan March.
"Dia adalah bagian dari guildku jadi …."
"Ini perintah, March. Di sini aku adalah hukumnya, aku tidak akan mempermasalahkan dirimu yang melarikan diri, jadi berikan anak itu padaku."
"Anda tidak berhak atas … Hei, tunggu."
March tidak dapat berbuat apa-apa saat Charlize merebut Isabella darinya, "Apa susahnya menyerahkan anak ini, huh? hubunganmu dengannya hanya sebatas guild saja. Tapi hubunganku dengan anak ini, lebih dari itu."
Charlize berbalik dan masuk ke dalam tendanya, March terlalu lelah untuk berdebat atau pun mengejarnya.
Charlize meletakan Isabella dengan lembut ke atas ranjangnya, ia sudah bertekad tidak akan melepaskan Isabella sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Isabella begitu berarti untukku, jadi apa pun hubunganmu dengannya aku tidak akan melepaskanmu. Jika kau punya hubungan spesial dengannya maka aku akan merebut gadis itu darimu, dari awal dia memang sudah menjadi milikku bukan milikmu," batin Charlize meninggalkan Isabella dan pergi untuk mandi.
"Ukh! aku di mana ini," batin Isabella terbangun dari tidurnya.
Isabella pun bangun dari ranjang dan berjalan melihat-lihat apa saja yang ada di dalam tenda ini, sehingga tanpa sadar ia tidak sengaja menyibak tirai yang menjadi pembatas antara bagian utama dan tempat mandi.
"Woah! apa yang anda lakukan di sini? dasar pria mesum!" teriak Isabella saat melihat Charlize baru saja selesai memakai baju mandi.
Kedatangan Isabella spontan membuat Charlize terkejut, sehingga tanpa sadar ia masuk lagi ke dalam bak mandi, "Mesum katamu? jelas-jelas kau sendiri yang masuk tanpa izin, apa matamu tidak melihat pembatas itu? lihatlah! karena terkejut dengan teriakanmu aku jadi basah."
Wajah Isabella memerah saat melihat tirai yang tadi ia buka, "Aku tidak melihatnya tadi. Lagi pula kau basah juga bukan salahku, siapa yang menyuruhmu masuk lagi ke dalam bak mandi."
Charlize menghela nafas berat lalu keluar dari dalam bak mandi, spontan Isabella langsung berbalik membelakanginya. Charlize tersenyum kecil seraya bertanya, "Kenapa kau berbalik? apa kau tidak tau jika perilaku mu saat ini sangat mirip dengan seorang wanita."
"Apa kau malu?" bisik Charlize tepat di belakang Isabella.
"Aku malu?" Karena merasa tertantang, Isabella langsung langsung berbalik menghadap Charlize yang sekarang wajahnya tepat di depan wajah Isabella.
"Untuk apa aku malu? seperti katamu kita ini sama-sama pria, lagi pula aku berbalik karena aku malas melihat tubuhmu. Kau bahkan tidak punya otot sama sekali," ejek Isabella.
"Tidak punya otot?" Charlize yang merasa sangat terhina langsung menarik tangan Isabella untuk menyentuh otot perutnya. "Lalu apa ini kalau bukan otot?"
Tatapan Isabella langsung berbinar saat tangannya menyentuh otot perut Charlize, "Wow. Apa ini namanya roti sobek? ini pertama kalinya aku menyentuhnya, ini sangat lembut."
Ucapan Isabella membuat wajah Charlize memerah karena malu, ia terlalu kesal sampai lupa jika dirinya telah melalukan kesalahan besar.
Isabella mendongkak menatap Charlize seraya bertanya, "Bagaimana caramu mendapatkan ini? aku juga mau."
"Sial! bagaimana bisa ada pria yang wajahnya seindah ini," batin Charlize. Jantungnya berdetak tidak karuan, wajahnya memerah, dan seluruh tubuhnya terasa panas hanya karena menatap wajah Isabella.
"Aku pria normal, sadarlah jangan sampai terlena," batin Charlize menyadarkan dirinya dari pesona Isabella.
Karena merasa diabaikan Isabella merasa kesal lalu berteriak, "Jawab aku!"
"Ah … itu … aku …." Charlize menjadi gugup karena jarak diantara mereka dekat, ia semakin gelisah saat aroma jasmine dari tubuh Isabella tercium olehnya.
"Lupakan saja." Charlize mendorong Isabella menjauh darinya, "Kau akan mendapatkan itu nanti, semua pria bisa mendapatkannya selama mereka tau menjaga tubuhnya dengan baik."
"Kau pergilah dari sini, ini adalah medan perang jadi jangan membuang-buang waktu." Charlize bergegas meninggalkan Isabella.
Karena diusir Isabella pun terpaksa keluar, padahal ia masih penasaran bagaimana bisa ada pria yang memiliki otot perut sekeren itu. Sebab selama ia menyamar menjadi pria, tubuhnya tetap kecil bahkan sedikit otot saja tidak ada. Isabella juga ingin mendapatkan tubuh kekar seperti itu walau pun hanya dalam tubuh samarannya saja.
"Sial! ini salah pria itu, aku lupa menanyakan tentang Isabella karena dia menggangguku. Lagi pula untuk apa dia pergi ke pemandianku? tapi pria itu … sangat cantik, bahkan tanganya terlalu lembut. Dia pasti tidak menjaga tubuhnya dengan baik, bahkan tidak ada kepalan ditangannya padahal dia seorang ahli senjata," batin Charlize. Ia tidak bisa melepaskan Isabella dari kepalanya.
*****
Prang!
Prang!
Prang!
Zelene melempar semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya, sudah hampir satu tahun ia mencari keberadaan Isabella dan adiknya.
"Kenapa kalian tidak bisa menemukan Luca? dia sudah jadi pengemis di luar sana dan kalian tidak bisa menemukan dia, itu adalah hal yang mustahil. Ke mana seorang pengemis bisa pergi, huh?" bentak Zelene kepada bawahannya.
"Saya sudah mencari sampai ke kota-kota lain. Tapi saya tidak bisa menemukan tuan muda, seolah-olah tuan muda tidak pernah ada di dunia ini," sanggahnya.
"Pandai, kau pandai mencari alasan. Kenapa kau tidak punya sedikit saja kepandaian dalam otakmu itu untuk mencari keberadaan Luca, pikirkan segala kemungkinan yang bisa membawamu pada anak itu."
"Saya harus bagaimana lagi? saya benar-benar sudah berusaha sampai batas saya countess."
"Maka kau lewati batasanmu itu, mungkin saja kau bisa menemukan sih bodoh itu nanti."
"Bagaimana jika ternyata tuan muda diculik lalu dijual sebagai budak ke kekaisaran lain?"
"Cukup! keluar kau sekarang juga!" kesabaran Zelene benar-benar sudah habis karena bawahannya tersebut.
"Lalu kau, apa kau sudah tau di mana alamat tempat Tuan Allred tinggal?" tanya Zelene beralih pada bawahan yang satunya lagi.
"Tidak tau, countess. Saya sudah pergi ke banyak guild. Tapi mereka tidak punya nama anggota seperti itu, bahkan saya tidak bisa menemukan tuan itu setelah mencari sekian … akh!" pria itu meringis kesakitan saat vas bunga mengenai kepalanya.
"Keluar kau!" teriak Zelene, pria itu pun mengangguk dan pergi.
Zelene mengempaskan tubuhnya ke atas kursi dengan nafas yang tidak teratur, kesabarannya benar-benar diuji karena kebodohan bawahannya.
"Countess Alfie, apa anda tidak mau bertanya padaku?" tanya Adrian, dia adalah asisten Zelene.
"Untuk apa jika hasilnya tetap sama," sinis Zelene.
"Anda salah besar. Saya telah menemukan tuan muda dan Tuan Allred, apa anda pernah mendengar nama Achlys?"
"Jangan berteka-teki denganku, katakan saja langsung pada intinya atau kau akan ku lempar keluar jendela."
"Anda menakuti saya, apa salahnya jika saya bertanya terlebih dahulu? kalau anda tidak tau jadi wajar jika anda tidak bisa menemukan kedua orang itu."
"Apa aku terlihat sangat penyabar dimata mu? jika kau masih punya basa-basi maka lebih baik kau keluar atau …."
"Tuan muda telah menjadi anggota kesatria bayaran, mereka memiliki tim bernama Achlys. Dan Tuan Allred anda berada di tim yang sama," ucap Adrian memotong kata-kata Zelene.
"Apa?" Zelene tidak percaya dengan ucapan Adrian, ia tau Adrian saat ini pasti hanya membual saja.
****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘