The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 75 Memberikan dia keadilan.



Albert berangkat bersama Charlize serta pasukan kesatria kekaisaran unit 3 menuju lokasi menara penjaga disebelah selatan, setibanya mereka di sana situasi menara aman-aman saja bahkan para kesatria penjaga di sana terlihat biasa saja memantau sekeliling menara dengan teropong.


"Apa ini? kalian hanya diam di sini saja?" tanya Albert kepada para kesatria penjaga.


"Kemarin kami mengajukan permintaan ke guild petualang karena banyak kesatria yang terluka lalu terkena racun dari monster itu, lalu ada kesatria bayaran yang menerima permintaan itu. Mereka sudah pergi melakukan pembasmian dan kami di minta untuk tetap di sini," jawab ketua kesatria di menara penjaga tersebut.


"Apa? kalian menyewa kesatria bayaran dan kalian diam disini saja. Kesatria bayaran itu tidak setia, mereka bisa mengkhianati siapa saja hanya karena uang. Kalian telah mempermalukan nama kesatria kekaisaran, apa kalian takut mati? jika kalian takut mati seharusnya kalian sejak awal jangan jadi kesatria," ucap Albert dengan amarah yang tidak bisa ia tahan lagi.


"Dari pada diam di sini, lebih baik kita pergi menyusul para kesatria bayaran itu untuk memastikannya sendiri. Ayo!" ajak Charlize. 


Albert mengiyakan ajakan Charlize dan bergegas ke dalam hutan, sepanjang perjalanan mereka mendapati banyak sekali bangkai monster.


*****


"Kekuatan waktu, pembekuan waktu." Cahaya emas dari tubuh Isabella membuat para monster membeku ditempat mereka, saat monster itu membeku Bara mengayunkan pedangnya memenggal kepala monster tersebut. Tidak mau kalah Fil juga menggunakan kekuatan Elemennya menghancurkan tubuh monster-monster itu.


Pembasmian mereka berjalan dengan lancar, Bara dan Fil juga aman dari racun karena perisai yang telah dilengkapi dengan kekuatan anti racun dari Luca.


"Selesai!" Bara menancapkan pedangnya ke tanah saat para monster itu telah berhasil mereka lenyapkan.


"Ini telah melebihi batasanku. Setelah ini aku pasti naik level," ucap Fil berbaring diatas tanah dengan nafas memburu.


"Apa Isabella belum kembali? dia sudah pergi selama 30 menit bahkan lebih lambat 10 menit dari yang dia janjikan. Apa kau tau dia ke mana?" tanya Bara.


"Jika aku tau pun, aku tidak punya tenaga untuk menyusulnya. Dia pasti akan kembali dengan sendirinya," jawab Fil


Beberapa saat kemudian pasukan Albert dan Charlize telah tiba di lokasi tempat  Bara dan Fil terakhir menyerang, melihat bangkai monster sepanjang perjalanan membuat Albert yakin jika ia telah salah menilai kesatria bayaran itu.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Albert menghampiri Fil dan Bara.


"Apa kita terlihat seperti baik-baik saja?" Fil dan Bara serempak balik bertanya.


"Bukankah kalian Achlys? kenapa hanya berdua? di mana yang lainnya?" tanya Charlize. Ia mengenali tim Isabella.


"Oh duke." Bara tersenyum ramah pada Charlize, "Lama tidak bertemu, anggota kami yang lain punya misi sendiri jadi kami hanya berdua saja. Sebenarnya bertiga hanya saja Allred tiba-tiba pergi entah ke mana di 30 menit terakhir."


"Kalian saling kenal?" tanya Albert menatap Charlize dan Bara bergantian.


"Ya. Mereka adalah Tim Achlys yang aku ceritakan padamu itu, jika sejak awal aku tau kesatria bayaran yang menerima misi adalah mereka maka aku tidak akan khawatir. Walau pun mereka hanya berlima. Tapi kekuatan mereka membuat perang perbatasan selesai lebih cepat, mereka mendapatkan julukan iblis medan perang," jawab Charlize.


"Kalian tidak hadir saat perayaan kemenangan. Hadiah kalian di donasikan kepada para pengemis sesuai arahan dari Komandan pasukan kelinci, jika kalian ada waktu luang mampirlah di kerajaan sebagai tamu kehormatanku," tambah Albert.


Tidak lama Isabella kembali membawa seorang pria tua bersamanya, ia mengempaskan pria itu ke tanah tepat di dekat Fil yang sedang berbaring.


"Dia adalah orang yang menaburkan racun itu disekitar hutan sebelah selatan, racun itu terhirup oleh para hewan sehingga membuat mereka menjadi monster. Pria itu mengendalikan monster itu untuk menyerang ke bagian selatan. Tapi sebagian dari hewan-hewan itu pergi kearah lain, butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya," ungkap Isabella.


"Allred, tanganmu menghitam." Fil menunjuk tangan kiri Isabella.


"Ini tidak apa-apa, aku kebal terhadap racun. Racun ini hanya akan membuatku kesemutan sampai besok pagi, racun ini tidak akan mengenai kalian asal kalian jangan sentuh aku atau pun pria itu. Pria itu juga tidak bisa bergerak karena aku mengikatnya dengan rantai waktu," ucap Isabella menutupi tangannya dengan sarung tangan.


"Ampuni aku! aku hanya melakukan apa yang wanita itu perintahkan. Aku berhutang padanya untuk tetap bertahan hidup, tolong ampuni nyawaku," pinta pria tua itu menangis ketakutan.


"Kalau begitu katakan padaku siapa wanita yang kau maksud? di mana dia tinggal? dan apa alasannya melakukan ini semua?" tanya Albert ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin.


"Aku tidak tau siapa dia. Dia seorang bangsawan yang selalu memakai tudung, dan bawahannya bukan hanya aku saja. Aku juga tidak tau di mana wanita itu tinggal karena dia bisa datang menemui kami kapan saja dan di mana saja, sungguh aku tidak bohong," jawab pria tersebut.


"Wanita itu bukan orang biasa. Dia menanamkan racun parasit pada tubuh pria ini." Isabella memperlihatkan parasit yang ia keluarkan dari tubuh pria itu, "Wanita itu menggunakan ini untuk mengendalikan semua bawahannya, dan jika ada bawahannya yang mencoba mengkhianatinya parasit ini akan membunuh orang itu dengan merusak organ dalam mereka."


"Lalu bagaimana bisa kau mengeluarkannya?" tanya Albert sedikit merinding.


"Saat pria ini melakukan apa yang wanita itu perintahkan parasitnya diam di bagian tubuh tempat parasit itu ditanamkan, dia hanya perlu membuat luka di tempat parasit itu berada lalu menariknya keluar. Barulah kita bisa mendapatkan informasi dari pria ini dengan baik," jawab Charlize. Racun seperti itu juga pernah muncul di tubuh Edmund, dan Charlize sendirilah yang mengeluarkannya.


"Benar. Masing-masing bawahan memiliki parasit itu di bagian tubuh yang berbeda, bahkan ada anak yang berusia 10 tahun diantara kami," ucap pria tua itu.


"Bisakah aku meminta tolong padamu, tolong bawa dia ke penjara istana karena kami tidak bisa bersentuhan dengannya jadi susah untuk membawanya pergi," pinta Albert pada Isabella.


"Tentu saja. Tapi pria ini juga telah terkena racun maka cepat atau lambat dia juga akan tiada, apa pusat penelitian telah menemukan penawarnya?" tanya Isabella.


"Racunnya sudah menyebar hampir ke seluruh tubuhnya, aku takut kita tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Albert.


"Aku tidak ingin tiada, ku mohon tuan tolong aku. Aku janji akan memberikan informasi sebanyak mungkin," pinta pria itu.


"Penjahat sepertimu tidak akan diampuni, jika kau tidak tiada karena racun ini maka kau akan tiada karena kejahatanmu. Aku …."


"Kau putra mahkota bukan? apa begini caramu memperlakukan rakyatmu? dia melakukan kejahatan bukan karena dia ingin, semua itu ia lakukan untuk bertahan hidup. Dia punya keluarganya sendiri yang membuatnya mau tidak mau harus berjuang untuk menghidupi mereka. Jika kau ada posisinya, apa kau hanya akan diam saja melihat keluargamu tiada karena kelaparan atau sakit? mudah bagimu mengatakan dia penjahat dan akan tiada karena kejahatannya, sebab kau hidup dengan nyaman tanpa merasakan kekuarangan uang atau makanan. Daripada menghukumnya kau seharusnya memberikan dia keadilan," Isabella memotong ucapan Allred.


Isabella memikul pria tua itu dipundaknya, lalu bergegas pergi meninggalkan hutan bersama yang lainnya. Sementara itu Allred tidak bisa fokus selama perjalanan karena terus memikirkan ucapan Isabella.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘