
Bab 46
Edmund membawakan surat kabar hari ini untuk Charlize, walau pun ia tau majikannya itu tidak suka membaca berita. Namun ia tetap melakukan hal itu setiap hari, padahal hal seperti itu hanya akan menyusahkannya.
Seusai sarapan Charlize langsung pergi ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen penting, sebelum jam latihan pagi di mulai.
"Apa ini? surat kabar lagi," batin Charlize melirik surat kabar di atas mejanya.
Ia tidak memperdulikan surat kabar tersebut dan memulai pekerjaannya, tiba-tiba saja angin bertiup kencang dari arah jendela membuat beberapa lembar kertas terbang bersamaan dengan surat kabar tersebut.
"Ck! Kebiasaan Edmund selalu lupa menutup jendela, aku akan memperingtakan dia nanti," batin Charlize bangkit dari tempat duduknya lalu memungut kertas yang terbang tersebut.
"Berita mengguncang?" gumam Charlize tidak sengaja membaca judul berita hari ini karena halaman surat kabar tersebut terbuka setelah di tiup angin.
Charlize mengambil surat kabar tersebut lalu membaca berita tersebut, dan saat itulah Charlize tercengang selama beberapa saat lalu ia tertawa sambil meneteskan airmata.
"Duke saya mem …." ucapan Edmudn terpotong saat Charlize langsung berlari keluar dari ruang kerjanya.
"Duke, anda mau ke mana?" teriak Edmund. Namun sayangnya tidak ada jawaban, saat Charlize melalui tadi sekejab ia melihat ada senyuman di wajah Charlize yang tidak ketahui apa alasan dibalik senyuman tersebut.
Charlize rupanya ingin bergegas ke kediaman ibunya. Ia sampai pergi dengan menunggangi kuda, karena ia ingin cepat-cepat mengatakan kabar baik ini pada ibunya. Ia tidak sabar lagi melihat seperti apa reaksi ibunya jika beliau tau tentang hal tersebut.
Sesampainya di sana wajah ceria Charlize berubah saat melihat sang ibu sedang minum teh bersama dengan Regina, keduanya terlihat sangat bahagia.
"Charlize? kapan kau datang?" tanya Regina saat pandanganya tidak sengaja tertuju pada Charlize yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Baru saja, aku datang khusus untuk menemui ibu," jawab Charlize seraya mendekati kedua wanita itu, "Bisakah kau tinggal kami dulu, Regina? aku ingin berdua saja dengan ibu."
"Loh kenapa? dulu saat kecil kau selalu mengajak aku untuk bicara bersama ibu dan sekarang kau ingin aku pergi. Aku juga ingin tau apa yang ingin kau bicarakan, atau jangan-jangan kau ingin membicarakan sesuatu tentang ku? jika iya maka kau curang," balas Regina yang bersikap manja.
"Regina benar. Regina bukan orang luar lagi, ibu sudah menganggap dia seperti putri ibu sendiri. Lagi pula tidak sopan meminta orang yang tiba lebih dulu untuk pergi," tambah Dara
"Ini tentang Isabella bu, aku sudah menemukannya," timpal Cedric.
Ibunya sangat terkejut. Ia tersenyum bahagia karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan orang yang telah menyelamatkan nyawa putranya, penantiannya selama bertahun-tahun kini terbalaskan.
"Siapa Isabella, ibu? kenapa aku tidak tau tentang wanita itu?" tanya Regina berpura-pura bodoh, "Apa dia sahabat Charlize juga? jika itu benar maka kita bisa mengundangnya ke acara pernikahan aku dan Charlize."
Deg!
"Pernikahan? jangan konyol! aku akan menikah dengan Isabella bukan denganmu, jangan pernah berharap kau bisa merebut posisi Isbaella," tegas Charlize.
"Yang bertunangan denganmu adalah aku, lalu kenapa kau malah ingin menikah dengan Isabella. Kau sebaiknya tidak lupa jika pertunangan kita telah disetujui secara langsung oleh kaisar."
"Jika sudah disetujui oleh kaisar lalu kenapa? yang akan menikah adalah aku jadi aku berhak memutuskan pernikahan ini kapan saja aku mau, apa kau lupa alasan dibalik pertunangan kita?"
"Pertunangan ini bukan tentang dirimu saja. Kau tidak berhak memutuskan pertunangan ini secara sepihak, kaisar tidak akan tinggal diam dan membiarkan dirimu bertindak seenaknya. Masa bodoh dengan alasan dibalik hubungan kita, karena mau bagaimana pun juga aku adalah putri seorang marquesss."
"Kita lihat saja nanti apa jawaban dari kaisar, sekali pun kaisar tidak setuju aku juga tidak perduli. Aku hanya perlu menikah denganmu lalu setelah itu aku akan mengasingkanmu ke tempat terpencil, di sana kau akan hidup seorang diri menyaksikan kebahagianku dengan Isabella. Kau ingin melenyapkan Isabella kan? maka lenyapkanlah dia! aku akan lihat apa kau berani atau tidak," tantang Charlize memicu amarah Regina.
Dara berdiri dari tempat duduknya lalu menarik Charlize pergi dari hadapan Regina, ia tidak bisa tinggal diam melihat pertengkaran putra dan calon menantuannya.
Dara membawa Charlize ke kamarnya. Tidak lupa ia mengunci pintu kamar agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam, "Apa kau sadar dengan apa yang telah kau katakan? kau telah menyakiti hati wanita itu. Kenapa kau bisa melakukan hal seperti itu padanya? caramu yang seperti itu memperlihatkan jika ibu telah mendidikmu dengan cara yang salah."
"Pertunangan ini seharusnya tidak terjadi. Ini juga salah ibu, kenapa ibu langsung setuju dengan ucapan paman saat itu? padahal ibu tau betul untuk siapa semua cinta yang ada dihatiku," balas Charlize.
"Tapi saat itu pamanmu mengatakan kau mencintai Regina, lagi pula dia adalah sahabatmu sejak kecil. Dan ayahmu sudah berharap sejak kau lahir kau akan menikah dengan Regina, apa …."
"Ibu tidak akan mengerti. Paman telah menguras banyak uang dariku karena hubungan ini, dan Regina telah melukai banyak wanita yang dekat denganku. Bagaimana bisa aku menikah dengannya, hum? bagaimana? wanita kejam itu sampai berniat melenyapkan Isabella, dia bersandiwara tidak mengenal Isabella padahal selama ini ia juga mencari Isabella untuk dilenyapkan," jelas Charlize memotong ucapan Dara.
"Paman berhutang banyak padaku lalu menyerahkan putrinya sebagai jaminan, dan diam-diam mengatakan kebohongan pada ibu dan kaisar. Pria itu adalah sahabat ayah, tapi dia malah mengkhianati ayah setelah ayah meninggal. Ibu tidak tau saja jika dia berniat menikahi ibu untuk dijadikan selirnya, pria kurang ajar itu menyukai ibu sejak ayah masih hidup. Aku tau semua itu saat mendengar perbincangan paman dengan putranya," lanjut Charlize.
Dara terduduk dilantai setelah mendengar penjelasan dari Charlize, ia tidak menyangka jika pria yang telah suaminya anggap sebagai saudara malah berhati busuk. Ia merasa sangat bersalah pada Charlize karena tidak bisa memahaminya isi hati putranya dengan baik, ia hampir membuat kesalahan besar dengan menikahkan Regina bersama Charlize. Dara tidak mau wanita kejam, gila, dan egois seperti Regina menjadi menantunya.
"Maafkan ibu karena telah bertindak ceroboh. Tapi kau jangan khawatir lagi, ibu akan pergi menemui kaisar dan memutuskan langsung pertunangan ini. Kau tidak akan menikahi wanita itu, selamanya tidak akan pernah. Jadi tenanglah dan percayakan ini semua pada ibu," pinta Charlize.
Charlize sangat marah. Namun amarah langsung hilang dalam sekejab, ia sadar telah bertindak kelewatan pada ibunya kali ini.
"Maafkan aku ibu. Maafkan aku telah menyakiti hati ibu," sesal Charlize memberikan pelukan hangat pada wanita yang sangat ia sayangi.
"Beraninya kau Regina. Aku akan membalas perbuatanmu pada Charlize, kau harus membayar dengan bayaran besar atas apa yang kau lakukan pada Charlize. Kau telah membuat anakku sangat marah. Aku akan membuatmu memohon kematianmu sendiri, atau jangan panggil aku Dara jika aku tidak membuatmu merasakan apa itu arti dari kata menderita," batin Dara. Jiwa pembunuhnya meronta-ronta ingin sekali memenggal kepala Regina.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘