
Seorang anak kecil berusia kisaran 10 tahun berdiri sambil membawa keranjang berisi roti, ia berteriak menjual rotinya kepada siapa yang lewat.
"Kenapa kau menjual roti?" tanya seorang anak laki-laki yang tidak tau datang dari mana, tiba-tiba saja ia telah berdiri di samping gadis kecil tersebut.
Gadis itu terkejut lalu dengan tatapan datar ia menjawab, "Aku menjual roti agar aku bisa makan, kau mau beli tidak?"
"Tidak. Tapi kau sangat aneh, kenapa tidak kau makan saja roti ini daripada kau susah-susah menjualnya?"
"Kalau tidak mau beli maka pergi saja sana, jangan mengganggu aku sedang berjualan."
"Aku akan menemanimu berjualan. Tapi kau jawab dulu pertanyaanku, bagaimana?"
"Kau mau bernegosiasi denganku?"
"Tentu saja."
"Hhhmmm, boleh. Tapi kau harus menjual semua roti di keranjang ini dulu, sepotong roti harganya 1 keping emas. Apa kau berani?"
"Kenapa aku tidak berani, kau tunggu dan lihat saja." Pria kecil itu mengambil keranjang tersebut dan pergi.
"Cih! dasar anak baru," batin gadis tersebut seraya duduk di tepi jalan menunggu pria kecil itu kembali.
Tidak lama kemudian pria kecil itu kembali membawa keranjang yang telah berisi kepingan emas, tidak ada satu pun roti yang tersisa di keranjang itu.
"Kau … bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya gadis tersebut merasa kagum.
"Tentu saja karena aku hebat. Masalah seperti ini bagiku sangat mudah," jawab pria itu dengan angkuhnya. Padahal ia diam-diam pulang ke rumah dan memaksa para kesatria di rumahnya untuk membeli semua roti dalam keranjang itu.
"Kecil yah? bagaimana jika kau berjualan setiap hari? sepertinya kau itu berbakat dibidang ini, kata pamanku hanya orang dengan kekuatan dewa yang bisa menghabiskan jualan secepat ini."
"Sungguh? jika benar maka aku akan menjual semua rotimu setiap hari, siapa tau nanti dewa akan memberikan aku lebih banyak kekuatan. Tapi sekarang kau harud menjawab pertanyaanku dulu, kenapa kau menjual roti untuk makan padahal kau bisa memakan roti itu daripada susah-susah menjualnya."
"Karena aku akan mendapatkan keuntungan jika menjual rotinya, roti ini modal membuatnya hanya 20 keping emas dan aku bisa membuat 40 potong roti yang nanti akan menjadi 40 keping emas, jadi aku dapat untung uang makan setiap hari dan uang untuk membuat roti lagi. Ini namanya bisnis, apa kau sungguh mau berjualan denganku besok?"
"Tentu saja aku mau, ini kan bisnismu nanti aku bisa dapat untung juga. Tapi ngomong-ngomong Siapa namamu?
" Baiklah. Uangnya kita bagi 2 banding 8, untuk kedepannya kau panggil saja aku Isabella."
"Namaku Charlize. Baiklah Isabella, sampai jumpa besok di sini," ucap Charlize yang langsung beranjak pergi.
"Bagaimana caramu melakukan ini, aku tidak peduli. Besok aku akan dapat untung besar lagi, dia berjualan dan aku juga akan berjualan. Aku harus memanfaatkan anak polos itu sebaik mungkin," batin Isabella. Ia kembali dengan perasaan senang.
Setelah kejadian itu sabella dan Charlize selalu berjualan roti bersama, mereka akan membagi keuntungannya walau pun pembagiannya tidak seimbang. Tiba-tiba pada suatu hari terjadi hal buruk pada Charlize, Charlize di culik oleh pedagang budak bersandiwara ingin membeli roti. Hilangnya Charlize saat itu membuat Isabella tau identitas Charlize yang ternyata adalah putra seorang Duke.
Isabella yang ketakutan akan dihukum oleh Duke Arsena langsung pergi mencari keberadaan Charlize, ia tau betul di mana harus mencari pria kecil itu sebab Isabella adalah gadis gila yang terkenal di tempat persembunyian banyak pedagang budak. Ia pernah di culik beberapa kali, tapi Isabella selalu lepas dari mereka sebab dirinya akan membuat keributan dengan cara memukul semua pedagang budak tersebut. Oleh karena itu, banyak pedagang budak tidak mau berurusan dengan dia.
Setelah mencari untuk waktu yang cukup lama akhirnya Isabella menemukan Charlize diikat dan disembunyikan pada gudang, gudang itu dijaga oleh beberapa pria. Namun Isabella berhasil masuk ke dalam melalui jendela yang terbuka, kedatangan Isabella membuat Charlize merasa senang selalu tenang.
"Sssttt, diamlah!" bisik Isabella. Ia melepaskan ikatan pada tubuh Charlize.
"Isabella." Saat ikatannya lepas Charlize langsung memeluk Isabella dengan tubuh gemetar, "Aku takut, syukurlah kau datang."
"Sudah, lepaskan aku dulu!" Isabella melepaskan pelukan Charlize secara paksa.
"Kau keluarlah dari jendela itu dan lari lurus ke depan, jangan melihat ke belakang sampai kau tiba di alun-alun," tambah Isabella.
"Lalu kau? kita akan pergi bersama kan?" tanya Charlize.
"Tidak mau. Aku akan pergi bersa …."
Ucapan Charlize terhenti saat Isabella mengecup keningnya, "Percayalah padaku, aku akan menyusulmu."
Charlize yang tersipu malu hanya bisa mengangguk, beberapa saat kemudian Charlize berhasil melarikan diri dengan bantuan Isabella, ia berlari dengan cepat sampai ke alun-alun. Setiba Charlize di sana, ternyata ada beberapa pasukan kesatria keluarga Arsena. Mereka membawa Charlize kembali ke kediaman, Duke dan Duchess Arsena menangis bahagia seraya memeluk putra semata wayang mereka yang akhirnya kembali dalam keadaan baik-baik saja. Sayangnya setelah hari itu Charlize tidak pernah bertemu lagi dengan Isabella, sampai akhirnya keluarga Duke Arsena kembali ke Ibukota Kekaisaran.
Tidak perduli bagaimana Charlize mencari, ia tidak bisa menemukan cinta pertamanya. Kecupan Isabella saat itu berhasil merebut hati kecil Charlize, bahkan sampai dewasa Charlize tidak bisa melupakan sosok Isabella.
"Huft … aku memimpikan hal itu lagi," batin Charlize tersadar dari tidurnya. Ia mimpikan kejadian dimasa kecil itu karena ia terlalu memikirkan Allred.
"Semoga aku bisa menemukanmu Isabella. Dulu petunjuk untuk menemukanmu hanya aroma jasmine dan sekarang pria itu juga sudah menjadi petunjuknya," gumam Charlize menatap jauh keluar jendela, menikmati pemandangan dari tanaman yang disirami oleh air hujan.
*****
Kereta keluarga duke akhirnya tiba di kediaman Isabella, Cedric mengutus Viscount Jovan Oriel untuk menjemput putri kandungnya tersebut. Cedric sengaja mengirim Jovan ke tempat Isabella karena Jovan adalah pria lajang yang sangat mencintai keindahan dan kebersihan, Isabella hanyalah bangsawan rendah yang sangat mungkin tidak tau etika jadi saat bertemu nanti Jovan bertemu denganya, Cedric sangat yakin kata-kata pedas dari mulut Jovan mampu membuat Isabella terluka dan menolak untuk kembali ke kediamannya.
Kedatangan Jovan di sambut ramah oleh Callix, dan Audrey. Namun tidak dengan Jasper, karena dulu Isabella pernah menceritakan jika dirinya tidak menyukai siapa saja dari keluarga pihak ayahnya. Padahal itu hanya omong kosong dari Isabella agar Jasper tidak terlalu mempertanyakan keluarganya.
"Silakan duduk." Callix mempersilakan Jovan yang bermuka datar duduk dengan ramah.
"Kalian sangat ramah. Apa Isabella mendidik kalian para selirnya dengan baik? kalian lu …."
Brak!
Jasper meletakan mangkuk dengan kasar di atas meja, kemudian dengan wajah tersenyum ia memotong ucapan Jovan, "Kami bukan selirnya. Nona menganggap kami sebagai keluarganya, tapi bukan selirnya jadi tolong jangan berkata seperti itu."
"Benar. Nona membantu kami dari kesulitan dan bermurah hati menjadikan kami keluarganya, jadi tolong jangan berkata seperti itu," tambah Callix.
"Bukan selir? apa informasi dari duke salah? tapi bagaimana bisa?" batin Jovan kebingungan. Ia tidak mau percaya ucapan Jasper dan Callix, hanya saja ia melihat tidak ada kebohongan dari tatapan Jasper dan Callix.
"Lagi pula jika melihat kediaman ini … rasanya aku tidak percaya jika Nona Isabella adalah wanita yang tidak benar, buktinya kediaman ini sangat bersih bahkan semua perabotan tertata dengan rapi. Sederhana, tapi elegan. Sangat bagus," batin Jovan mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kediaman Isabella.
Kemudian Audrey datang dari dapur membawa secangkir teh dan sepotong kue buatannya, mereka tidak membuka toko selama 7 hari terakhir. Kue ini bisa disajikan oleh Audrey hanya karena ia beruntung sebab tadi Jasper merengek ingin dibuatkan kue.
"Selamat menikmati. Hanya ini hidangan sederhana yang bisa saya buat," ucap Audrey.
Jovan terpesona melihat kue kering yang cantik dan sepotong kue keju, ini pertama kalinya ia melihat kue yang dibuat dari keju. Namun yang lebih menarik perhatiannya adalah cangkir tehnya, itu adalah cangkir teh yang sangat mahal dengan motif bunga dandelion. Itu adalah cangkir teh yang hanya dibuat oleh ras elf, dan tidak banyak bangsawan bisa membeli cangkir itu termasuk Cedric.
"In-ini … dari mana kalian membeli ini?" tanya Jovan seraya menyantap sesuap kue keju tersebut.
"Ummm, ini sangat enak dan teksturnya lembut." Jovan terkejut karena kue yang ia makan langsung meleleh di dalam mulutnya, "Kue keringnya juga sangat enak. Rasa cokelatnya sama sekali tidak ada rasa pahit sedikit pun, padahal kue cokelat di ibukota rasanya sedikit pahit tidak seperti ini."
"Saya sangat senang anda menyukai kue tersebut. Saya membuatnya dengan resep dari Nona Isabella, dan untuk cangkirnya …." Audrey menatap Callix. Karena ia tidak tahu menahu soal cangkir itu.
"Itu di berikan oleh salah satu teman Nona Isabella sebagai hadiah," jawab Callix.
"Te-teman?" Jovan terkejut sampai tangannya gemetar menyentuh cangkir tersebut. Mendengar cangkir ini diberikan oleh seorang teman rasanya tidak mungkin, karena teman Jovan yang memiliki cangkir seperti ini jangankan diberikan temannya itu bahkan tidak mengizinkan Jovan untuk sekedar menyentuh cangkir itu sedikit saja.
*****
Bersambung.
Silahkan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘